
Setelah Adrian meninggalkan mereka , terlihat mata Diah yang sudah mulai berkaca-kaca, hingga terlihat matanya mulai memerah karena menahan butiran itu agar tidak jatuh
“ada apa An...?” Diah menunduk
“aku sudah menceritakan semuanya pada Rani Di ...” Anwar tak bisa menyembunyikan raut wajah gundahnya
“untuk apa?” tanya Diah kaget dengan nada yang sedikit meninggi
“aku tak mau membohonginya terlalu jauh ....” memang benar yang di katakan Anwar, ia tidak mau Dr Rani mengetahuinya dari orang lain, pasti itu akan lebih menyakitkan
“kau menyakitinya An ...” tiba-tiba air mta yang coba iya tahan tak bisa terbendung lagi, melihat tubuh Diah yang bergetar karena tangisan itu, dengan cepat Anwar memeluk Diah
Ada rasa nyaman dan menghangat di hati Diah saat mendapat pelukan dari Anwar, rasanya ia tak ingin melepaskan pelukan , pelukan yang telah ia rindukan untuk beberapa tahun terakhir ini
Bayangan-bayangan masa lalu kini kembali hadir, saat –saat indah yang mereka lalui bersama, berboncengan, hujan-hujanan, memanen lele, bekkejaran di tengah sawah sambil bermain layangan, saat harus belajar bersama menjelang ujian, rasanya sayang untuk di lupakan
“aku mohon An ..., jangan sakiti dia, dia gadis yang baik” suara serak Diah di balik pelukan Anwar
__ADS_1
“aku harus bagaimana Di ...?” Anwar bingung dengan sikap Diah
“lupakan aku An ..., lanjutkan hidup kamu , biarkan semua berjalan semestinya, jangan membuat kecewa orang-orang yang menyayangimu , kita masih bisa bersahabat seperti dulu , aku harap tidak ada kecanggungan setelah ini.” Diah begitu dewasa menyikapi hidupnya
“rasa ini terlalu dalam Di ..., jangan suruh aku menghilangkannya ...” Anwar terlihat frustasi
“jangan di hilangkan, aku tidak memaksamu, tapi aku mohon tempatkan rasa itu di tempat semestinya, kau juga akan tetap di hatiku, kita tidak akan mungkin pernah bersama, jika kau ingin aku bahagia, jangan pernah hadir lagi di hidupku, menikahlah dengan dr Rani, bahagiakan dia ...” ucap Diah sambil melepaskan pelukan Anwar sambil berlalu meninggalkan Anwar yang masih mematung
“aku akan menikah jika kamu yang menikah terlebih dahulu” Diah langsung menghentikan langkahnya saat mendengar pengakuannya
“baiklah aku akan menikah sebelum mu ...” ucap Diah tanpa melihat kebelakang, tapi tiba-tiba tubuhnya di peluk dari belakang
“aku tidak mencintaimu ...” jawab Diah lirih
“jangan bohong Di ...., aku mohon ...” Anwar semakin mengeratkan pelukannya
“ya .... aku mencintaimu An ..., aku mencintaimu ...” seketika Anwar membalikkan tubuh Diah menghadap padanya dan memeluknya kembali setelah berhasil menguasai hatinya kembali Diah segera melepaskan pelukannya
__ADS_1
“tapi berjanjilah An ....”
“apa Di ..., aku pasti melakukan semua untukmu “
“menikahlah dengan dr Rani, bahagiakan dia ....” mendengar itu, rasanya hati Anwar yang sudah mulai mekar kini hancur seketika menjadi butiran pasir
“baiklah jika itu maumu ..., tapi syaratku masih tetap, aku tidak akan menikah sebelum kamu menikah” Anwar dengan wajah marahnya segera meninggalkan Diah yang masih memaku
Setelah Anwar pergi, rasanya Diah tak mampu menopang berat tubuhnya kembali, seketika tubuhnya terhempas di tanah, tubuhnya bergetar keras air matanya tak mampu terbendung,
‘’disini rasany sakit , rasanya sakit sekali saat melepaskannya untuk orang lain ...” tangisnya tak kunjung habis sambil terus memukuli dadanya sendiri yang terasa sangat sesak hingga sebuah tangan menghentikan pukulannya
"hentika Wulan, kau bisa menyakiti dirimu sendiri" ternyata Adrian yang menghampirinya dan memegang kedua tangannya
“hapus air matamu, kamu benar benar jelek jika seperti itu ...” Adrian pun menghapus air mata Diah
“dasar bos menyebalkan ..., tak punya perasaan” tanpa sadar Wulan memukuli dada bidang Bosnya sambil mengumpat tapi Adrian tampak membiarkan saja
__ADS_1
“seandainya aku yang akan menikah denganmu apakah boleh ...”
Mendengarkan pernyataan bosnya, tangis Wulan yang masih tersedu itu seketika terhenti dengan mata melotot tak percaya