
sebenarnya saya kesini ingin melamar anak Diah” jawab Adrian pasti
“maksud nak Adrian?” jawab buk kasih sedikit terkejut
“iya buk saya serius tadi saya juga sudah membicarakan pada pak RT dan bapak ”
“semuanya kami serahkan pada Diah, kalau Diah mau, kami sebagai orang tua akan menyetujuinya” jawab pak Darman mengulang seperti apa yang sudah di jelaskan tadi
“kalau gitu besok biar saya bicara pada Diah pak”
“baiklah istirahatlah dulu, besok kita bicarakan lagi” pak Darman menghentikan pembicaraan karena sudah terlalu larut
"tadi Diah sudah membersihkan kamarnya, kamu bisa tidur di sana, Diah biar tidur di kamar adeknya" bu kasih menunjukkan sebuah kamar dengan pintu warna pink
"terimakasih buk, kalau begitu saya permisi dulu" Adrian pun memohon ijin yang di jawab dengan anggukan dari pak Darman dan bu Kasih
setelah Pembicaraan itu akhirnya berakhir dan Adrian berpamitan ke kamar,
di dalam kamar kecil itu yang katanya kamar Diah, ia mengamati seisi kamar sebelum memejamkan mata,
di sana masih sama, dengan kasur spon dengan lebar 120 cm tanpa dipan
meja kecil di sampingnya dan sebuah lemari kecil, lantai itu beralaskan tikar karakter, seprei bermotif bunga menambah kesan cewek di kamar itu
“jadi setiap hari ia tidur di lantai seperti ini, luar biasa” Adrian sambil duduk di kasur spon itu
“tapi ini nyaman juga sih” sambil menjatuhkan tubuhnya di kasur spon itu,
ia pun merebahkan tubuhnya, tapi matanya masih enggan tertutup
saat matanya masih terus berkelilin, matanya tertuju pada foto-foto yang terpajang di dinding dengan rapi
__ADS_1
“dia ternyata sudah manis ya dari kecil, lucu sekali dia” saat melihat foto kecil Diah mulai dari TK hingga SMA
setelah mengamati satu per satu kemudian matanya terpusat pada satu tujuan pada Foto Diah dengan seragam SMA,
di foto itu tampak Diah yang tertawa bahagia dengan pundak yang di rangkul seorang cowok yang juga mengenakan seragam SMA, mereka tampak begitu dekat, rambut gelombangnya yang khas mengingatkan Adrian pada seseorang
Adrian lalu bangkit dan mendekat ke Foto itu, dia merasa kenal dengan pria di foto itu,
kemudian ia ambil foto itu, dan benar saja saat membalik foto itu , ada tulisan di belakangnya
Love Anwar
Deg
Rasa cemburu kembali menjalar di hati Adrian, tangannya seketika terkepal, rahangnya mengeras
untung saja ia tidak kehilangan kendali, hampir saja figora itu melayang di udara, tapi ia urungkan niatnya, ia tidak mau membuat keributan di malam hari
Setelah mengembalikan foto ke tempatnya, Adrian kembali membaringkan tubuhnya di kasur,
.karena seharian tak beristirahat, membuatnya kecapkan hingga matanya tak mampu bertahan, ia terlelap di kamar itu
Pagi hari pukul 05.00 saat Adrian keluar dari kamar Diah dengan handuk yang di kalungkan di bahunya, ia tampak kebingungan,
untungnya ia melihat Diah dengan mukena tergantung di tangannya
“pak ..., mau mandi ya?” tanya Diah yang melihat wajah bingung atasannya itu
“iya, aku bingung nih ...., kamar mandinya di mana ya ....?”
Adrian sudah terbiasa bangun tidur langsung mandi walaupun hawa di kampung Diah dingin tidak menyurutkan niat Adrian untuk mandi
__ADS_1
“mari pak saya antar ...." ," bentar biar aku taruh dulu mukena ku “
Diah pun tampak menaruh mukenanya di bahu kursi di ruang TV
“ayo pak ...” Diah pun berjalan di depan Adrian yang mengikutinya di belakangnya,
"saya mau mandi bukan mau masak" protes Adrian
saat Diah mengajaknya menuju ke dapur
"cerewet sekali bapak ini ...." gerutu Diah,
"ini loh pak kamar mandinya, tapi maaf ya nggak seluas kamar mandi bapak di kota" saat sampai di samping dapur itu
.
dan ternyata kamar mandi berukuran 1,5 meter kali 2 meter itu berda di samping dapur
“ini pak kamar mandinya, kamar mandi di sini Cuma ada satu, jadi kalau mandi harus bergantian pak” jelas Diah pada Adrian,
Adrian pun akhirnya masuk kedalam kamar mandi, tapi belum sampek pintu tertutup sempurna , Adrian sudah keluar kembali,
“kenapa pak, kok nggak jadi?” Diah pun bingung melihat kelakuan bosnya
“kok nggak ada showernya ya, mandinya pakek apa?”
tanya Adrian dengan wajah polosnya tapi malah di sambut tawa keras oleh Diah
“kenapa kau malah tertawa, memang ada yang lucu?”
“wajah bapak yang lucu” Diahpun masih terus tertawa
__ADS_1