
“Diah, gadis impian akang”
Anwar menatap sendu pada tunangannya, setelah beberapa detik tatapan itu, dia mengalihkan pandangannya menerawang jauh ke sembarang arah
“hahhhh” Anwar melepas nafasnya berat, seakan beban berat itu juga akan ikut terlepas
“mungkin memang dia bukan jodohku”
“tapi bagaimana jika dia datang kembali ke kehidupan akang?”
“kenapa kamu ngomong kayak gitu?”
“karena aku butuh kejelasan”
Mendengarkan pengakuan Rani, Anwar tampak melihat jam yang melingkar di tangannya
“aku harus pergi, aku ada operasi sekarang, sampai ketemu lagi nanti” Anwar pun segera meninggalkan Rani seorang diri, Rani pun hanya bisa melihat punggung laki-laki yang ia cintai
“aku tau kamu masih sangat mencintainya, tapi aku akan tetap berusaha untuk menggantikannya di hatimu”
Hari pun mulai gelap, Anwar berjalan menyusuri lorong rumah sakit hendak menuju ke tempat mobilnya terparkir, tbanyak para dokter dan perawat yang berlalu lalang, mereka menundukkan kepala hormat kepada Anwar, karena sebagian besar dari mereka tahu jika Anwar adalah calon pemilik rumah sakit itu karena akan menikahi putri tunggal pemilik rumah sakit
Brrrttt brrrtttt
Anwar tampak sedang mencari\-cari benda pipih yang sedang bergetar di tas pinggangnya, setelah berhasil menemukannya, ia menggeser ke tombol hijau, panggilan pun tersambung
__ADS_1
“hallo”
“hallo kang, aku tunggu di parkiran ya” dari seberang sana terdengar suara yang sangat dia kenal
“iya, aku segera sampa”
Tut tut tut
Anwar segera menutup panggilan telponnya dan memasukkan kembali ke dalam tas pinggangnya, penampilan anwar dengan kaca matanya menambah kesan dewasa padanya, rambut bergelombangnya yang sedikit panjang di kuncir atas separoh menambah kesan maskulin
Di samping mobilnya tampak Rani, gadis cantik itu melambaikan tangannya pada pemilik mobil. Anwar memberikan kecupan di kening tunangannya dan segera membukakan pintu mobilnya, setelah memastikan tunangannya masuk kedalam mobil, ia segera berlari mengitari mobil menuju pintu yang lainnya
“kang”
“hemmm” Anwar berdehem tanpa melihat pemilik suara
“papa menyuruh kita menemui kliyen nya besok, katanya perusahaan pemenang tender yang akan memasok keperluan rumah sakit kita”
“di mana?”
“di hotel xxx”
Mereka pun terus mengobrol hingga tak terasa mobilnya telah sampai di depan rumah besar keluarga Rani, Rani pun segera turun dari mobil
__ADS_1
“selamat malam kang, hati-hati di jalan ya “
Anwar mengganggukkan kepalanya dengan senyum manisnya dan segera menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah keluarga Rani, Rani masih setia melambaikan tangan dan tak bergerak dari tempatnya hingga mobil Anwar menghilang dari pandangannya
Di hotel xxx
Kini jam telah menunjuk ke angka 10 , di restaurant hotel tanpak sepasang pemuda yang sedang duduk di salah satu meja yang sedikit privasi, tak berapa lama datang menghampiri mereka seorang pemuda dengan setelan jas rapi
“selamat pagi” pemuda itu menyapa sepasang muda mudi itu “benar dengan dokter Anwar dan dokter rani?”
“iya” Anwar dan Rani pun segera berdiri menyambut tamunya dan menyodorkan tangannya , pemuda itu pun menyambut tangan Anwar dan rani dengan sangat ramah
“silahlkan duduk “ Anwar tampak menggerakkan tangannya menyuruh tamunya untuk duduk
“terima kasih” pemuda itu pun duduk berhadapan dengan Anwar
“perkenalkan nama saya Adrian, Adrian Diwantara “
“senang bertemu dengan anda tuan Adrian” Anwar menyambutnya dengan ramah
“ngomong-ngomong panggil saya Adrian saja, agar lebih akrab”
“baiklah ...”
“sebelum kita mulai meetingnya lebih baik saya pesankan minim dulu ya” Rani segera memanggil pelayan
__ADS_1