Jodohkah Kita(Mungkin)

Jodohkah Kita(Mungkin)
aku nggak mau menghancurkan hidupmu


__ADS_3

Kini tangan Anwar sudah menangkup kedua pipi Diah, pandangan mereka saling bertemu, rasanya Diah tak mampu berkata-kata lagi, dia hanya ingin mendengarkan Anwar bicara


“ aku besok harus berangkat ke bandung” dengan masih menatap wajah Diah , kini tangan Anwar sudah memegang kedua tangan Diah


“besok?” kali ini Diah benar-benar bersuara dengan nafas tertahan, rasanya elum siap menerima kenyataan ini, ini terlalu cepat untuk mereka berdua


“iya, kamu ikut aku ya, aku akan sambil kerja di sana, aku akan mencari biaya untuk kuliahmu, biar kita masih tetap bersama-sama, kamu mau ya ....”


Walaupun usia mereka sama-sama 18 tahun , tapi memang kedewasaan tidak diukur dari sebuah usia, kadang memang kehidupan yang menempa mereka untuk tumbuh menjadi sosok yang dewasa, perjuangan hidup yang di alami Diah selama ini yang membuatnya lebih dewasa dibandingkan Anwar yang memang dari kecil sudah hidup dalam kecukupan.


Pemikiran yang ingin hidup bersama Diah, membuatnya tak memikirkan yang akan terjadi selanjutnya “bagaimana? Apa kau mau?” melihat Diah yang masih terdiam, Anwar kembali bertanya

__ADS_1


Heehhhhhh


Setelah melepaskan nafas yang begitu berat, Diah mulai membuka suaranya kembali dengan perasaan yang campur aduk, memang tidak bisa di pungkiri kini perasaannya bahagia dengan pernyataan Anwar, walaupun tak pernah berani membalas pernyataan cinta dari Anwar karena status keluarganya yang sangat berbeda jauh dengan Anwar, tapi jauh di lubuk hatinya dia juga memendam perasaan yang sama.


“aku nggak bisa Anwar” jawab Diah “kenapa?” sangat jelas terlihat raut kecewa dari wajah Anwar dengan penuh tanda tanya “aku nggak mau menghancurkan hidupmu” lagi-lagi jawaban singkat itu yang keluar “he .... kenapa kamu bisa bicara seperti itu? Kamu sangat berarti bagiku”


Lagi-lagi air mata yang dari tadi ingin sekali di tahan oleh Diah untuk tidak jatuh, akhirnya mendarat juga di pipinya yang cubby, dengan tatapan sendunya menatap ke arah Anwar


“biarkan jika takdir yang akan menuntun dan mempertemukan kita kembali, jika memang kita jodoh, aku mohon ....!” air mata kembali membanjiri pipinya “apa kau akan menyerah ?” tanya Anwar “aku tidak akan menyerah, kamu dengan jalanmu dan aku dengan jalanku, aku tidak akan menyerah dengan keadaanku, kamu tahu aku kan?” “iya...., aku mengenalmu jauh dari aku mengenal diriku sendiri”


Mendengar penjelasan panjang lebar Diah, kini Anwar lebih bisa menerima keputusannya, dia cukup tau dengan keputusan Diah “aku bangga padamu, dan selamanya akan selalu bangga, aku hanya bisa berharap kita memang di takdirkan untuk berjodoh Di ...” Di adalah panggilan akrab Anwar untuk Diah

__ADS_1


Akhirnya dua anak manusia itu berjalan dengan keputusannya masing-masing, mereka hanya bisa berharap adanya takdir yang akan mempertemukan mereka kembali suatu saat nanti menjadi sepasang kekasih atau bahkan lebih dengan keadaan yang lebih baik


Tak bisa di pungkiri jika status keluarga selalu di jadikan topik utama untuk menyatukan dua keluarga, apalagi Anwar dan Diah tinggal di Jawa yang syarak dengan berbagai adat istiadat .



visual Anwar



visual diah

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YA


KASIH VOTE JUGA .....


__ADS_2