
dia masih ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal, nanti kalau pekerjaannya sudah selesai dia janji akan datang,(Anwar menghembuskan nafasnya berat) trus kapan rencananya akan nikah?” Diah yang dari tadi hanya sebagai pendengar tersedak oleh Saliva nya sendiri
Lain dengan Adrian , dia malah terlihat tersenyum santai dengan kaki yang di silangkan sebelah, tampak cool dan berwibawa, Diah yang melihat ekspresi Adrian bertambah geram
“nggak lama lagi, tinggal ngurus surat-suratnya saja, ya kan sayang?” Diah yang mendapatkan panggilan tak biasa itu membuatnya kembali tersedak
“kamu kenapa sayang ...?” Adrian segera menepuk punggung Diah, untung saja bu Ani kembali sambil membawa nampan berisi minuman , Adrian langsung meraih segelas teh hangat itu dan meminumkannya ke pada Diah
“wah nak Adrian ini perhatian sekali sama calon istri” puji bu Ani,
Adrian membalasnya dengan senyum ramah dan masih belum beranjak dari tempatnya jongkok di hadapan Diah
Ternya bu Ani tidak sendiri di belakangnya ada pak Antok yang duduk di kursi roda, pak antok tampak senang melihat kedatangan Diah,
memang sejak kecil keluarga ini sudah menganggap Diah seperti putrinya sendiri, sangat tersirat kerinduan yang besar dari kedua orang tua Dr Anwar untuk Diah
Mereka kembali berbincang-bincang, walaupun pak Antok terlihat kesulitan berbicara tapi ia tak mau kalah,
suasana semakin hangat dengan candaan –candaan kecil yang di lontarkan Adrian, sesekali mereka terlihat tertawa
“mudah-mudahan keputusanku tidak salah Diah untuk melepaskan mu, dia sepertinya memang pria yang baik” batin Anwar sambil terus memperhatikan perhatian perhatian kecil yang di berikan Adrian pada Diah sepanjang obrolan mereka
Karena hari semakin sore, akhirnya Diah dan Adrian pun berpamitan,
sebelum sampai di halaman rumahnya Diah langsung menarik tangan Adrian, membuat langkah kaki Adrian terhenti
__ADS_1
“ada apa sayang ...?” Adrian mengulang panggilannya yang sempat membuat Diah tersedak, sebenarnya ada rasa tak biasa mengalir di hati Diah,
"hentikan Diah, hilangkan perasaan GeEr ini, dia cuma bos kamu, dia memang suka becanda" batin Diah meyakinkan hatinya sendiri
“kamu hutang penjelasan padaku” Diah mencoba untuk tidak gugup di hadapan Adrian
“aku akan dengan senang hati sayang menjelaskannya padamu” lagi-lagi kata sayang itu yang buat Diah merinding
“ayo ikut aku” Diah pun menarik tangan Adrian menjauh dari rumahnya
mereka menuju ke pinggir sawah yang di sana ada tempat duduk , udara di sore itu begitu sejuk apalagi dengan di suguhi hamparan sawah yang luas, angin sore yang menerpa dan anak-anak yang sedang bermain layang-layang, sungguh suasana yang tidak pernah di dapatkan di perkotaan
“wah kamu romantis juga ya sayang, mengajak calon suami kamu ketempat yang indah ini” goda Adrian yang membuat wajah Diah langsung memerah
“aku suka ini, manis” batin Adrian melihat wajah memerah Diah
“hentikan bersikap seperti itu pak, kau bisa menimbulkan kesalah pahaman pada orang-orang kampung dan ....." Diah menggantungkan ucapannya
"dan ......?" Adrian penasaran dengan kelanjutannya
"dan .... dan ... , kau bisa buat aku juga salah paham" jawab Diah yang sudah tak sanggup menatap mata Adrian
“kesalah pahaman apa?”
“berhenti bilang kalau bapak calon suami saya, aku akan berharap lebih” Diah sedikit mengeraskan suaranya
__ADS_1
“memang aku sudah melamar mu, dan kau juga boleh berharap lebih kepadaku” sontak membuat Diah melotot tak percaya
“what ...?” kini Diah benar-benar tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya
“aku serius babby ...” lagi-lagi Diah hanya melongo mendengar pengakuan Adrian
“huttts ..., jangan terlalu lebar ntar lalatnya masuk” Adrian memegang dagu Diah dan menutup mulutnya yang menganga
“apaan sih ...” Diah yang sadar segera mengalihkan wajahnya lagi-lagi dengan wajah memerahnya “sungguh menyebalkan”
Adrian beranjak dari duduknya dan menghampiri anak-anak yang sedang bermain layang-layang, ia tampak asyik ikut menarik ulur layang-layang, kadang ia juga terlihat lari-lari bersama anak –anak menerbangkan layang –layang,
tanpa sadar Diah mengembangkan senyumnya ketika melihat tingkah bosnya yang baru iya ketahui, ternyata ia suka dengan anak kecil
Diah melirik jam tangan warna merah yang melingkar indah di tangannya, sangat serasi dengan baju yang di kenakan, ia melihat jarum jam sudah menunjuk ke angka 4,
“ini sudah waktunya untuk pulang” Diah pun beranjak dari duduknya
“pak ...., sudah sore, mari pulang” Diah berteriak memanggil Adrian, tampak dari kejauhan Adrian menoleh ke sumber suara dan berlalu mendekati Diah
“wah kelihatannya bapak senang sekali ya tinggal di sini?’ goda Diah sambil berjalan dengan senyum mengejeknya
“yah aku harap seperti itu” sontak kata-kata itu berhasil menghentikan langkah Diah
“???”
__ADS_1