JOMBLO FII SABILILLAH

JOMBLO FII SABILILLAH
11. MAHASISWA ABADI


__ADS_3

..."Jika kamu mencintai seseorang, biarkanlah dia pergi. Jika ia kembali, maka ia milikmu. Namun jika tidak kembali, ketahuilah maka dia bukanlah milikmu."...


...(Ali bin Abi Thalib)...


………………………………………………………………………………


Bukan maksud Nada tidak sopan, tapi ya begitulah Nada yang tidak mau .berlama-lama bertatap muka terhadap lawan jenisnya.


"Oh... begitu," Ucap Devan sambil manggut-manggut tanda paham.


"Emang kenapa pulang kampung? Kangen papa mama ya?" Tanya Devan lagi.


"Bukan, tapi karena nenek saya sedang sakit jadi saya pulang kampung." Jelas Nada singkat.


"Oh... Astaga! Maaf ya Nad, aku telah buat kamu sedih mengingat nenek kamu!" Ucap Devan menyesal.


"Ya kak, nggak apa-apa kok!" Sergah Nada sambil tersenyum tipis.


"Aduh, aku jadi tidak enak nih sama kamu Nada. Beneran deh, sorry...." Ucap Devan lagi.


Karena tidak tahu harus bilang apa, Nada hanya menganggukkan kepala saja. Suasana kembali menjadi hening sejenak.


"Kak Devan kok...disini? Gak ada kelas emangnya?" Tanya Nada basa-basi. Pertanyaan Nada membuat Devan terkekeh.


"Kenapa kak? Kok ketawa?" Tanya Nada heran.


"Lucu aja, aku kan mahasiswa abadi Nad, otomatis semua mata kuliah sudah aku lewatin, jadi untuk apa aku ngikuti kelas lagi." Jelas Devan.


"Emang kenapa kak Devan memutuskan jadi mahasiswa abadi, setahu saya bukankah Kak Devan itu pintar ya?" Tanya Nada sedikit penasaran.


Mendengar pertanyaan Nada, Devan semakin menatap Wajah Nada lekat.


"Apa mungkin sudah saatnya aku sampaikan pada Nada perasaanku ini..." Pikir Devan Dalam hati.


"Kamu mau tahu kenapa alasannya aku gak kelar-kelar kuliahnya?". Nada hanya mengangguk mendengar pertanyaan Deva.


"Alasannya adalah ka..."


"Devan, ternyata lo disini?" Ucap seorang perempuan yang tiba-tiba sudah di dekat Devan dan memotong ucapan Devan. Ya kehadiran perempuan yang berpenampilan agak seksi itu membuat ucapan Devan terpotong dan urung menyampaikan sesuatu pada Nada.

__ADS_1


"Oh, ternyata waktunya tidak tepat." Gumam Devan dalam hati.


"Hey Devan..." Gadis itu bersuara lagi.


"Ah, ya Vel, ada apa?" Tanya Devan basa-basi pada perempuan seksi yang bernama Vello itu.


"Kok Ada apa sih, lagi ngapain sih disini?" Tanya Vello sambil menatap tajam pada Nada.


"Oh, nggak. Gue hanya ngobrol biasa aja sama Nada, ya kan Nad?" Jawab Devan lalu melirik sebentar pada Nada. Nada hanya mengangguk sambil tersenyum tipis sebagai jawaban persetujuan perkataan Devan.


Tatapan Vello semakin tajam pada Nada. Vello menjadi semakin tidak suka pada Nada karena Vello tahu kalau Devan menaruh hati pada gadis berhijab yang menurutnya sangat kampungan itu.


Sudah lama Vello memendam rasa pada Devan. Sudah beberapa kali Vello ingin mengutarakan perasaannya pada Devan. Tapi karena Devan selalu paham maksud dan tujuan Vello, Devan selalu menggagalkan niat Vello tiap kali Vello ada niat untuk bicara soal hatinya.


Situasi itu membuat Nada tidak nyaman. Akhirnya ia memutuskan untuk hengkang dari perpustakaan.


"Em... Kak Devan, mbak Vello, maaf saya permisi dulu." Pamit Nada sambil beranjak dari duduknya membuat Devan tidak rela. Sedangkan Vello tersenyum sumringah.


"Oh, ya udah. Bagus dong kalo lo mau pergi!" Sahut Vello spontan. Membuat


Devan menoleh pada Vello.


"Vello!" Protes Devan pada Vello.


"Ya udah kalo gitu, Assalamu'alaikum, kak Devan, mbak Vello." Secepat kilat Nada melangkah menuju rak buku untuk mengembalikan buku tadi pada tempatnya. Secepat kilat juga Nada melangkah keluar dari ruangan itu.


Vello duduk di kursi yang tadi Nada tempati dan memulai obrolan dengan Devan.


Sebenarnya Devan tidak ada niat untuk ngobrol bersama Vello. Ingin rasanya ia menyusul Nada, tapi ia urungkan niatnya karena tidak enak pada Vello. Akhirnya ia pun memilih menemani Vello saja. Urusan Nada entar saja. Masih banyak waktu. Pikirnya dalam hati.


***


Selesai dengan kajiannya, ke empat sahabat fillah itu berniat untuk beranjak dari tempatnya. Namun urung karena ada salah seorang pemuda yang mengucapkan salam kepada mereka berempat. Seorang pemuda yang usianya lebih muda dari mereka berempat.


Ternyata pemuda itu adalah ketua BEM dari fakultas Agama Islam disalah satu kampus swasta di kota itu.


Dia berniat untuk mengundang ke empat sahabat itu untuk mengisi kegiatan Islami yang akan mereka adakan beberapa hari lagi oleh anggota BEM FAI tersebut di kampusnya.


"Jadi gimana ustadz?" Tanya pemuda si ketua BEM yang bernama Fikri itu untuk memastikan jawaban ke empatnya.

__ADS_1


"Ah, jangan panggil kami ustadz dong, rasanya gimana gitu, ya... masih belum pantas saja. Lagian ini bukan di area pesantren juga kan." Sergah Athar lembut sambil tersenyum teduh. Fikri ikut tersenyum dan mengangguk mengerti ucapan Athar.


"Ya sudah, kalo gitu saya panggil apa ya, kakak atau abang gimana?" Ujar Fikri pada Athar.


"Kakak saja, biar lebih akrab." Sahut Raka menimpali dan diangguki oleh Athar, Fadhil dan Zidan tanda menyetujui ucapan Raka. Fikri kembali mengangguk.


"Siap kakak-kakak!" Ucapan Fikri membuat ke empat sahabat fillah itu tertawa.


"Trus gimana kak?" Tanya Fikri kembali.


"Emangnya gak ada orang lain gitu, yang lebih berpengalaman dari kita misalnya?" Tanya Zidan balik.


"Yang lebih berpengalaman banyak, tapi yang lebih humoris seperti kakak-kakak ini yang sulit dicari." Kelakar Fikri membuat ke empat sahabat itu kembali tertawa.


"Ada-ada saja ente!" Sahut Fadhil disela-sela tawanya.


"Lagian personil kalian lebih lengkap, ada yang qori, sholawat dan ceramah. Suara kalian juga sangat keren. Saya yakin seyakin yakinnya hati para cewek di kampus akan meleleh dan klepek-klepek mendengar suara-suara kalian yang sangat merdu itu." Untuk kesekian kalinya mereka dibuat tertawa oleh kelakar Fikri. Benar-benar humoris ni anak. Pikir mereka dalam hati.


"Ya udah Thar, diterima aja, toh niat baik bisa nambah pahala buat kita ini." Bujuk Raka pada Athar.


"Ya ane setuju!" Timpal Zidan.


"Ane juga!" Sambung Fadhil.


"Ok lah kalau gitu insya Allah kami siap!" Putus Athar menyetujui undangan si ketua BEM itu, Fikri.


Senyum sumringah Fikri membuat wajahnya berbinar cerah. Senang hati ia mendapat persetujuan dari ke empat sahabat fillah itu.


Akhirnya setelah mereka bertukar nomor ponsel Fikri undur diri dari hadapan mereka berempat. Ia secepatnya menghubungi anggota BEM yang lainnya dan memberi tahu mereka kalau ia sudah mendapatkan orang yang pas untuk mengisi kajian atau ceramah pada acara mereka nanti.


sementara ke empat sahabat fillah itu juga ikut senang bisa membantu Fikri dan kawan-kawannya apalagi membantu dalam kebaikan. Hitung-hitung nambah pahala lah. Begitu pikir mereka.


To be continue


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamu'alaikum...


Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...

__ADS_1


Salam sayang dari author.


Terima kasih kakak 💗


__ADS_2