JOMBLO FII SABILILLAH

JOMBLO FII SABILILLAH
20. MENGHITUNG HARI


__ADS_3

..."Jangan takut jatuh, kerana yang tidak pernah manjatlah yang tidak pernah jatuh. Jangan takut gagal, kerana yang tak pernah gagal hanyalah orang-orang yang tak pernah melangkah. Jangan takut salah, kerana dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua."...


...(Buya Hamka)...


………………………………………………………………………………


Drt... drrt... drrtt...


Suara getar dari ponsel Raka memecahkan kesunyian di dalam kamar kosannya. Raka meraihnya. Sesaat ia tersenyum saat tahu nama yang tertera di layar ponselnya.


Bunda is calling...


Raka mengangkatnya dan dengan sigap ia menggeser logo icon yang berwarna hijau.


"Halo... Assalamu'alaikum Bunda...," sapa Raka langsung menyambut sang Bunda.


"Wa'alaikum salam putra Bunda yang paling tampan...." Bunda tersenyum di sebarang sana saat menjawab salam sang Anak.


"Ya iyalah paling tampan, wong putra Bunda cuma satu, Raka seorang!" seru Raka pada candaan sang Bunda. Mendengar ucapan Raka, Bunda jadi tertawa.


"Gimana kabar Bunda sekarang? Sehat, kan Bunda?" tanya Raka pada Bunda Rahma.


"Sehat dong, Nak ... dan Bunda yakin kalau putra Bunda yang tampan dan sholeh ini disana juga sehat wal afiat. Benar, kan?" jawab Bunda yang diselingi dengan candaannya.


"Bundaku memang selalu tepat dalam tebakannya." Seloroh Raka menyambut candaan sang Bunda, sehingga membuat Bunda Rahma terkekeh-kekeh.


"Bunda jaga kesehatan ya, di sana. Jangan kerja lagi. Cukup Raka saja yang kerja cari uang untuk Bunda. Bunda gak boleh capek ataupun lelah. Bunda cukup duduk manis, diam di rumah tinggal nunggu transferan dari putramu yang kata Bunda paling ganteng ini." ucap Raka berpesan pada Bunda Rahma yang diakhiri dengan ucapan narsis.


"Ciyeeee yang udah punya penghasilan sendiri.... Alhamdulillah, berarti sudah siap nikah dong ... Gimana? Mau cari calon sendiri atau biar Bunda yang bantu cari nih ...." Ledek Bunda Rahma pada Raka. Mendengar ledekan Bunda Rahma, Raka malah terkekeh-kekeh.


"Lho... kok ketawa?" Lanjut Bunda Rahma.


"Raka masih belum kepikiran kesana, Bun. Saat ini prioritas utama Raka adalah Bunda, Raka ingin membahagiakan Bunda terlebih dahulu." jelas Raka yang membuat hati Bunda Rahma terharu.


"Masya Allah... sholehnya anak Bunda yang satu ini...." Puji Bunda Rahma terharu.


"Ah, Bunda bisa aja!" cicit Raka. Bunda tertawa.


"Oh ya, Bunda jadi lupa dari tadi mau ngomong sesuatu sama kamu, Nak," ucap Bunda Rahma setelah mengingat sesuatu.


"Mau ngomong apa apa Bun?" tanya Raka penasaran.


"Itu, Nak Kevin...,"

__ADS_1


"Kevin? Emangnya ada apa dengan Kevin, Bun?" Malas rasanya Raka bila membahas tentang Kevin dan keluarganya yang sebenarnya juga termasuk keluarganya sendiri.


"Kevin sebentar lagi mau nikah dengan tunangannya, Nak. Apa kamu tidak mau hadir di acara pernikahan mereka nanti?" Suara Bunda Rahma terdengar bergetar.


"Untuk apa Bun kita hadir kesana, apa untuk mendengar hinaan mereka lagi?!" tukas Raka menahan emosi. Raka memang selalu berusaha menahan emosinya bila mengingat semua perkataan dan perlakuan dari keluarga Kevin yang selalu menghina Bunda Rahma.


"E e eh ... Astaghfirullahal Adzim ... kenapa putra Bunda bicaranya seperti itu? Gak boleh sayang ...." Tegur sang Bunda mengingatkan.


"Astaghfirullahal 'Adzim ... maaf Bunda!" Sesal Raka menghela nafas panjang.


"Jangan gitu lagi ya Nak, gak baik." Nasehat Bunda.


"Ya, insya Allah, Bunda." Raka tersenyum.


"Gimana? Kamu mau hadir, kan? Wajib lho sayang menyambung tali silaturrahmi." Sambung Bunda Rahma lagi.


"Insya Allah Raka hadir Bun, tapi jangan lama-lama disana ya Bun ...." Rengekan Raka membuat Bunda Rahma terkekeh-kekeh.


"Ya, sayang. Yang penting kita hadir memenuhi undangan mereka." jawaban Bunda Rahma membuat hati Raka tenang.


"Bunda kapan kesininya dan mau Raka jemput dimana?" tanya Raka kemudian.


"Pas hari H-nya aja ya, jemput Bunda di stasiun dan langsung kita menuju ke tempat acaranya." ujar Bunda Rahma.


"Ok lah kalau gitu maunya Bunda." Raka menyetujui.


"Harusnya kamu yang ada di posisi itu, Raka ...." Lirih Bunda Rahma dengan pandangannya yang menerawang ke masa silam.


"Tapi ... sudahlah, mungkin ini memang yang terbaik buat semuanya ...." Pasrah Bunda Rahma kemudian.


***


Hari pernikahan Athifa dan Kevin tinggal menghitung hari. Sudah beberapa hari ini Athifa cuti sementara dari segala macam kegiatan kampus karena disibukkan dengan persiapan acara pernikahannya dengan Kevin.


Serasa sepi bagi ketiga sahabatnya yang tak lain adalah Nada, Kayra dan Nury karena tidak adanya Athifa diantara mereka.


"Sepi banget ya gak ada Athifa ...." Cicit Nury memecahkan keheningan yang dari tadi tercipta diantara mereka bertiga.


"Ya, apalagi setelah menikah pasti nanti juga diperpanjang cutinya ...." Sambung Kayra cemberut.


"Dan setelah menikah nanti pasti Athifa akan jarang lagi bersama kita soalnya waktunya akan terkuras bersama suaminya," ucap Nury lagi.


Mendengar keluhan Kayra dan Nury, Nada hanya tersenyum.

__ADS_1


"Ya ... namanya juga sudah punya suami, pastilah waktunya akan lebih banyak bersama dengan suaminya. Suami kan harus diurus olah istri." ujar Nada sambil tersenyum.


"Ya juga sih," sahut Nury lemas.


"Aaaah, tapi tetep saja nggak enak ... serasa kurang satu lho personil kita .... " Rengek Kayra yang diangguki setuju oleh Nury. Nada tersenyum kembali.


"Ya ... mau gimana lagi, emang gitu kan seharusnya ... udah, nanti kamu dan kita semua juga pasti akan mengalami hal yang sama kok, kita tunggu saja waktu itu pasti akan tiba." ucap Nada lagi.


Mendengar ucapan Nada, Kayra jadi terbayang-bayang jika ia nanti akan menikah dengan Zidan. Kayra jadi senyum-senyum sendiri membayangkannya. Hal itu membuat Nada dan Nury saling pandang karena heran.


"Wooii!" seru Nury seraya menepuk bahu Kayra, membuat Kayra kaget.


"Nury apaan sih, kaget tahu ...." Sungut Kayra kesal pada Nury.


"Habisnya ngelamun sambil senyum-senyum gak jelas gitu, hayoo pasti lo lagi ngebayangin yang nggak-nggak. Ya, kan. Ngaku deh lo ...." Cerca Nury pada Kayra.


"Emang iya, masalah buat lo, wleekk ...." Ketus Kayra sambil menjulurkan lidahnya pada Nury.


"Memangnya kamu lagi membayangkan apa sih Kay, kok sampai senyum-senyum gitu?" tanya Nada ikut penasaran.


"Hehehe," Kayra malah cengengesan.


"Dih, ditanya bukannya ngejawab malah cengengesan gitu." Sungut Nury.


"Gue lagi ngebayangin nikah sama Kak Zidan dan kami berdua bersanding diatas pelaminan, hehehe." ujar Kayra seraya tertawa kikuk.


"Astaghfirullahal Adzim ... Lo bener-bener ya kay, sampai segitunya ngebayangin hal itu. Bucin lo!" seru Nury tak habis pikir.


"Emang kenapa, terserah gue dong ...." Protes Kayra.


Nada malah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat perdebatan Kayra dan Nury.


"Ya Allah ... lancarkanlah acara pernikahan Athifa sahabat kami, berikanlah kebahagiaan dalam pernikahannya bersama suaminya nanti. Semoga pernikahannya menjadi Sakinah Mawaddah wa Rohmah." Lirih Nada dalam hati.


To be continue


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamu'alaikum...


Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...


Salam sayang dari author.

__ADS_1


Terima kasih kakak 💗


Jangan lupa dijadikan favorit ya😘


__ADS_2