
..."Kau bisa saja kehilangan seseorang dalam semalam. Seluruh hidupmu bisa berputar 360 derajat. Hidup begitu pendek. Semuanya bisa datang dan pergi seperti sebuah bulu dibawa terbang angin."...
...(Shania Twain)...
………………………………………………………………………………
Di hadapan gundukan tanah yang masih basah itu Nada menatap papan nama bertuliskan nama FATIMAH di sebelah ujungnya dengan tatapan kosong. Sesekali ia menyeka air matanya yang terus mengalir di wajahnya.
Nenek Fatimah, keluarga satu-satunya kini telah pergi meninggalkan ia sendirian di dunia. Kini ia hanyalah insan sebatang kara. Ke depannya ia harus menjalani hari-harinya yang akan semakin sepi.
Sentuhan tangan seseorang menyadarkannya dari lamunannya. Nada menyeka air matanya lalu menoleh pada sosok wanita paruh baya yang masih terlihat muda dan cantik yang sedari tadi menemaninya meski yang lainnya sudah pergi dari area pemakaman setelah proses pemakaman Nenek Fatimah selesai.
Wanita paruh baya berhijab itu tersenyum pada Nada dan dibalas senyuman tulus oleh Nada.
"Kita pulang dulu yuk. Sudah sore, besok kamu bisa kesini lagi." ajak wanita paruh baya itu. Nada mengangguk patuh. Ia beranjak dari duduknya mengikuti wanita baik hati itu hingga masuk ke dalam sebuah mobil.
Dalam perjalanan tak henti-hentinya Nada mengusap air matanya yang terus jatuh membasahi wajah ayunya. Hal itu membuat wanita di sampingnya menatap iba pada Nada.
"Sabar ya sayang, nenek sudah tenang sekarang. Ummi tahu perasaan kamu. Boleh bersedih dan menangis tapi jangan sampai terlalu meratapi kepergian nenek, itu sangat dilarang oleh agama kita. Selain itu juga akan menghambat perjalanan nenek nantinya. Jadi ikhlasin nenek ya sayang!" ucap wanita paruh baya yang ternyata adalah Ummi Khayra. Nada tersenyum mendengar nasehat Ummi khayra .
"Nada sudah ikhlas kok Ummi, hanya saja Nada sedih karena sekarang Nada hidup sendirian dan sebatang kara. Nenek adalah keluarga Nada satu-satunya setelah abah dan ummah pergi, kini sudah pergi juga ninggalin Nada. Pasti hidup Nada nantinya akan sepi." ucap Nada sendu meski ada senyum yang dipaksakan.
"Siapa bilang Nada sendirian? Nada tidak sendirian kok. Kan masih ada Ummi yang bakal nemenin kamu sayang. Kamu jangan khawatir dan bersedih lagi ya, Nak." ucapan Ummy Kayra yang lembut membuat hati Nada tersentuh. Nada tersenyum dan menatap haru pada wanita lembut baik hati yang baru ia kenal beberapa jam yang lalu.
"Ummi Khayra, makasih ya Ummi. Ummi baik banget sama Nada, padahal kita baru kenal tapi Ummi sudah menganggap Nada seperti, keluarga Ummi sendiri." ucap Nada haru. Ummi Khayra terkekeh.
"Nada. Ummi kenal kamu itu sejak masih bayi, bahkan satu jam setelah kamu lahir." tutur Ummi Khayra membuat Nada mengernyitkan keningnya.
"Sejak bayi? Masa sih, Ummi?" tanya Nada tak percaya.
"Ya. Ummi itu sahabat baik Ummah kamu. Bukan cuma Ummi, tapi ada beberapa lagi. Bahkan nih ya, tiap kali Ummi main ke rumahmu putra Ummi selalu gendong-gendong kamu waktu umur kamu baru satu tahun." cerita Ummi Khayra
__ADS_1
"Oh ya? Masya Allah ...." Nada masih tak percaya.
"Ya, meskipun putra Ummi itu gak kuat lho gendong kamu yang gemoi tapi menggemaskan, tetap saja ngotot pengen gendong-gendong kamu terus. Dulu tubuh putra Ummi itu kecil meskipun sudah berumur lima tahun. Jangankan kamu, putra Ummi aja pasti juga sudah lupa masa kecil kalian."
Ummi Khayra terus bercerita tentang masa kecil mereka, hal itu membuat hati Nada jadi sedikit terhibur.
***
"Ini serius pesan dari bibi Fatima, Ra?" Tanya Rahma pada Khayra sambil memegang secarik kertas yang dari tadi ia terus membaca isi kertas itu. Meski sudah selesai dibaca namun Rahma mengulang-ngulang kembali bacaannya pada kertas itu.
"Ya, mbak. Kertas itu aku terima dari Nada kemarin. Katanya Nada menemukannya di bawah bantal bibi Fatimah saat dia membersihkan kamar bibi Fatimah. Aku harus gimana ya, Mbak?" ucap Khayra bingung.
"Yang aku tahu putramu itu adalah anak yang penurut. Coba kamu bicara dulu sama putramu, bicarakan ini dari hati ke hati. Tunjukkan juga surat dari bibi Fatimah ini. Siapa tahu putramu itu bisa mengerti." ucap Rahma mengusulkan.
"Gitu ya, Mbak?"
"Ya, bukannya apa-apa, tapi ini sudah termasuk wasiat juga lho, Ra. Dan wasiat itu wajib dilaksanakan, apalagi pesan bibi Fatima adalah wasiat yang baik. Bicarakan pelan-pelan sama putramu nanti ya." tutur Rahma. Khayra tersenyum lalu mengangguk.
"Aamiin." Rahma mengamini ucapan Khayra sambil merangkul sahabatnya itu.
***
Khaira mondar-mandir di ruang keluarga di rumahnya. Ia memikirkan bagaimana caranya ia bicara dengan putra semata wayangnya. Apakah nanti putranya itu akan mengerti dan mau menuruti permintaannya, sementara sang putra sudah mempunyai impian sendiri bersama seseorang. Membuatnya pusing memikirkannya.
Khayra memutuskan untuk istirahat dalam kamarnya, namun saat melewati depan kamar putranya ia berhenti melangkah. Ia mengurungkan niatnya untuk ke kamarnya malah justru membuka lalu masuk ke dalam kamar putranya.
Masih terasa aroma khas putranya dalam kamar itu menyeruak di indra pencium Khayra meski sudah beberapa bulan tidak ditempati.
Khayra memperhatikan setiap sudut kamar putranya. Beberapa foto masa kecil putranya hingga sampai sekarang terpajang dan berjejer rapi pada sebuah rak lemari di sudut kamar. Ada juga beberapa piala serta foto-foto saat menerima penghargaan sebagai juara tahfidz dan da'i terbaik mulai dari kecil hingga sewaktu mondok.
Rasa haru dan bangga menyelimuti hati Khayra memandangi semua hasil prestasi sang putra tercinta yang tersuguh dalam bingkai-bingkai foto.
__ADS_1
Khayra melangkahkan kakinya ke tempat tidur sang putra. Ia meraih figura yang ada di atas foto. Dimana foto itu diambil saat sang putra masih menempuh studynya di Universitas Ummul Quro kota Mekkah.
"Masya Allah, gantengnya putra Ummi ini, sama gantengnya dengan almarhum abi. Hmmm jadi rindu sama kalian berdua." ucap Khayra tersenyum sambil mengusap-usap wajah putranya dalam foto.
"Eh, tapi kayaknya kotor ya, kaca figuranya juga ada yang retak, merusak pemandangan aja nih. Sebaiknya aku ganti aja figuranya. Tak ambil dulu lah di kamar." Khayra beranjak dari duduknya lalu keluar dari kamar putranya dan selang beberapa menit ia kembali dengan membawa sebuah figura yan baru.
Saat melepas foto putranya dari figura lama tiba-tiba ada benda yang jatuh dengan posisi terbalik dari balik foto itu.
"Eh, apa itu yang jatuh? Kok seperti kertas foto ...." Khayra memungutnya dan tak sengaja membaca tulisan di balik kertas foto itu. Khayra mengernyitkan dahinya.
"Khumaira kecil calon bidadari surga, insya Allah." Khaira terkekeh setelah membaca tulisan putranya yang seperti tulisan anak SD.
"Ada-ada saja kamu le, masih kecil sudah ngerti sama bidadari surga." ucap Khayra sambil geleng-geleng kepala.
Khayra membalik kertas foto itu.
Deg!
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
Terima kasih kakak 💗
Jangan lupa dijadikan favorit ya😘
__ADS_1