JOMBLO FII SABILILLAH

JOMBLO FII SABILILLAH
49. HARI PERNIKAHAN


__ADS_3

..."Perolehlah kesabaran dan ketabahan dengan iman yang sejati, seperti hubungan antara kepala dengan tubuh. Tubuh tidak ada gunanya tanpa kepala, demikian pula iman yang benar tidak akan berguna tanpa sifat kepasrahan, ketabahan, dan kesabaran."...


...(Ali bin Abi Thalib)...


………………………………………………………………………………


"Berkas persyaratan untuk daftar ke KUA kamu ada disini kan, Nak?" tanya Khayra pada Athar.


"Alhamdulillah punya Athar ada, Mi. Tapi masalahnya yang punyanya Nada yang kita gak punya. Terus ini acaranya kan besok, apa ini tidak kepepet ya, apa pihak KUA akan bersedia mengurusnya dalam jangka waktu kurang dari 24 jam?" perkataan dan pertanyaan Athar membuat kedua wanita paruh baya yang masih terlihat garis kecantikannya itu terdiam bingung. Mereka sama-sama berfikir mencari sebuah solusi.


"Biar kami yang melakukannya!" ucap seseorang yang tiba-tiba menyela diantara kebingungan mereka.


Athar, Khayra dan Rahma menoleh ke arah datangnya suara tadi. Nampak tiga orang perempuan beda usia berdiri di ambang pintu. Mereka mulai melangkah mendekat.


"Bu Retno, Bu Wanda, Rosa? Kalian kenapa di sini?" tanya Khayra heran.


Retno, Wanda dan Rosa adalah para istri juragan Karta. Kenapa Khayra tidak memanggil Rosa dengan embel-embel ibu, karena usia Rosa masih terbilang muda, yaitu dua tahun lebih tua dari usia Athar.


"Kami kesini karna ingin membantu kalian dan juga Nada. Kami turut prihatin sama gadis malang itu. Usianya masih belia, tak sepantasnya dia menikah dengan kang Karta yang usianya sudah kakek-kakek." ujar Bu Retno, istri pertama juragan Karta.


"Ya, Bu Khayra. Apalagi Nada sekarang masih dalam masa kuliah. Sangat disayangkan jika ia harus putus kuliah hanya karna dijadikan istri keempat kang Karta, bahkan dipaksa." sambung Bu Wanda istri kedua juragan Karta yang usianya sama dengan usia Khayra dan Rahma.


"Dan jangan sampai nasib Nada akan sama seperti nasibku. Maka dari itu kami akan membantu kalian." Rosa, istri ketiga dan termuda juragan Karta ikut nimbrung.


"Masya Allah ... kalian beneran ingin membantu kami, terutama Nada?" tanya Khayra memastikan.


"Ya Nak Khayra. Jadi Athar, tolong serahkan berkas persyaratan nikahmu padaku, biar nanti aku yang mengurusnya ke KUA, soal berkasnya Nada biar Wanda yang mengurusnya. Sementara Rosa akan mengatur acara pernikahan kamu dengan Nada." jelas Bu Retno dengan tutur kata yang lembut dan penuh wibawa.


"Masya Allah ... betapa baiknya hati kalian. Terima kasih ya sudah mau menolong kami, semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan berlipat-lipat." ucap Khayra tulus dengan binar mata kebahagiaan.


"Athar, ayo Nak, cepat ambil berkas-berkasmu dan kasih ke Bu Retno. Waktu kita tidak banyak, Nak!" seru Rahma pada Athar.


Athar mengangguk. Ia bergegas menuju kamarnya lalu kembali lagi dengan membawa sebuah map yang berisi berkas pendaftaran nikahannya lalu menyerahkannya pada Bu Retno.


***

__ADS_1


Athar menatap wajah mungil gadis kecil yang berbalut kain hijab dalam foto itu. Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa jika itu menyangkut keinginan ibunya. Yang bisa ia lakukan ialah melupakan, merelakan serta mengikhlaskan segala kenangan dan impiannya yang akan ia rajut bersama humairah kecilnya.


"Maafkan aku jika aku harus melupakan janjiku padamu. Semua ini aku lakukan karena baktiku pada ummiku. Aku tak mau sedikitpun menggores hati ummi. Dia ibuku, dia segalanya bagiku. Semoga suatu saat kau akan mengerti. Mungkin kita memang ditakdirkan tidak berjodoh. Kita hanya ditakdirkan menjadi saudara seagama. Rencana Allah itu jauh lebih indah daripada harapan semu kita." ucap Athar berusaha mengikhlaskan semuanya. Ia mencoba untuk berlapang dada. Ia juga percaya bahwa Allah Swt. pasti telah merencanakan yang terbaik untuk dirinya dan kehidupan barunya bersama istrinya nanti.


Athar menyimpan foto gadis kecil itu ke dalam lacinya. lalu beranjak melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu.


Sepanjang malam Athar berdo'a dan berdzikir agar hatinya menjadi lebih tenang. Hal itu tak luput dari perhatian sang ibunda yang saat ini ia tersenyum menyaksikan kekhusyukan putranya dalam ibadahnya.


"Athar putraku, hatimu begitu mulia, persis seperti almarhum abimu. Percayalah nak, kelak hidupmu akan berkah dan bahagia hidup bersama Nada. Karena Nada adalah gadis yang baik dan juga shalihah. Insya Allah akan jadi istri shalihah juga untukmu. Ummi akan sekalu berdo'a dan berharap semoga pernikahan kalian diberi keberkahan dan kebahagiaan serta penuh limpahan kasih sayang dari Allah Swt. Aamiin." Do'a harapan Khayra untuk putranya.


***


Wajah cantik berseri terbalut hijab putih. Namun tentu ada kesedihan dibalik wajah sendunya itu. Setengah jam lagi kehidupannya akan berubah. Setengah jam lagi statusnya akan berubah menjadi seorang istri. Seorang istri dari seorang laki-laki yang lebih pantas ia sebut kakek.


"Ya Allah, inikah takdirku harus menikah dengan seorang laki-laki yang sama sekali tidak aku cintai? Bahkan lelaki itu sudah beristri tiga. Apakah aku ini termasuk seorang pelakor?" gumam Nada dalam hati. Nada menggeleng-gelengkan kepalanya menepis segala pikiran yang tak seharusnya.


"Astaghfirullahal 'adzim ya Allah, tolonglah hamba agar bisa terlepas dari pernikahan tak wajar ini. Hamba tidak mau dicap sebagai seorang pelakor. Hamba tak ingin merebut kebahagiaan wanita-wanita lain. Tolonglah hamba yang lemah ini ya Robb. Sekiranya ada orang yang bisa melepas hamba dari masalah ini, tolong hadirkan siapapun dia. Hamba berserah diri kepada Engkau ya Ilahi. Laa hawla walaa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adzim ...." Do'a Nada dalam kepasrahannya.


"Nada ...." panggil seseorang yang suaranya sangat familiar nagi Nada. Nada mendongak dan menoleh ke arah suara itu. Senyum Nada mengembang menghiasi wajah cantiknya.


"Ummi Khayra ...." Nada berhambur kepelukan Khayra. Ya. Khayra datang ke kamar Nada ditemani oleh Rosa.


"Nada. Hanya ada satu cara agar kamu bisa lepas dari kejaran kang Karta." tutur Rosa yang membuat Nada mengernyitkan keningnya.


"Satu cara? Maksudnya?" Nada minta penjelasan.


"Kamu harus menikah dengan laki-laki lain."


"Menikah dengan laki-laki lain?" suara Nada tercegat dalam tenggorokannya.


"Ya, dengan kamu menikah dengan laki-laki lain maka aku pastikan Karta tidak akan lagi mengganggu kamu." jelas Rosa.


"Ilahi ... apalagi ini ya Robb?" lirih Nada dalam hati. "Terus dengan siapa Nada harus menikah, Ummi, Mbak Rosa? A–aku bingung." ucap Nad dengan suara yang gemetar.


"Dengan Ustadz Athar, putra Ummi Khayra!" jawab Rosa tegas.

__ADS_1


"Apa? Pu–putra Ummi?" Reflek Nada menoleh ke arah Ummi Khayra di sampingnya. Khayra mengangguk sambil tersenyum.


"Tapi gimana ceritanya Ummi? Memangnya putra Ummi mau sama Nada yang hanya perempuan biasa? Nada hanyalah perempuan sebatang kara, rasanya Nada tidak pantas bersanding dengan putra Ummi yang terlalu sempurna apalagi dengan gelarnya yang seorang ustadz." ucap Nada dengan merendah. Seolah dirinya merasa minder.


Khayra tersenyum. Ia mengelus-elus tangan Nada yang sedari tadi ia genggam. Ummi Khayra menceritakan semua yang telah ia susun bersama Athar, Rahma dan ketiga istri juragan Karta. Ia juga menceritakan wasiat dari almarhumah nenek Fatimah melalui surat terakhirnya untuk Khayra. Bahkan Khayra juga menunjukkan surat yang berisi pesan sekaligus wasiat dari neneknya yang pernah ia temukan di bawah bantal neneknya lalu ia berikan pada Khayra karena surat itu memang ditujukan pada Khayra.


"Gimana Nada? Apa keputusanmu? Kita tidak punya waktu lebih banyak lagi. Dua puluh lima menit lagi rombongan kang Karta akan tiba di sini." ucap Rosa setelah Nada selesai membaca tulisan neneknya.


"Nada, putra Ummi saat ini ada di ruang depan bersama pak penghulu dan para saksi. Semuanya telah dipersiapkan oleh para istri juragan Karta. Jika kamu setuju maka Ummi akan keluar dan bilang pada pak penghulunya agar segera memulai prosesi akadnya." ucap Khayra dengan senyum teduhnya.


Nada memejamkan matanya, menghela nafas lalu membuangnya perlahan. Nada membuka mata lalu memandang wajah seorang ibu yang sedang tersenyum hangat di hadapannya.


"Bismillahirrohmanirrohim ... Nada bersedia, Ummi!" jawab Nada tegas.


"Nada Ikhlas?"


"Sangat ikhlas, Ummi!"


"Alhamdulillahirobbil 'alamiin ..." ucap Khayra dan Rosa.


"Ya udah, sekarang Ummi ke ruang depan dulu ya, mau kasih tahu semuanya." ucap Khayra dengan antusias. Aura kebahagiaan terpancar di wajah yang masih memperlihatkan garis kecantikannya.


Nada dan Rosa hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Khayra segera keluar berbarengan dengan masuknya Bu Retno dan Bu Wanda ke kamar Nada.


To be continue


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamu'alaikum...


Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...


Salam sayang dari author.

__ADS_1


Terima kasih kakak 💗


Jangan lupa dijadikan favorit ya😘


__ADS_2