JOMBLO FII SABILILLAH

JOMBLO FII SABILILLAH
57. ANTARA CEMBURU DAN RINDU


__ADS_3

... “Sedikit kecemburuan membangkitkan cinta bahagia yang tertidur.”...


...(Antoinette Deshoulieres)...


………………………………………………………………………………


"Nada tunggu!" cegat Athar membuat langkah Nada mendadak berhenti. Athar melangkah kembali menghampiri Nada.


"Kamu kenapa lari tadi?" tanya Athar setelah menghentikan langkahnya tepat di samping Nada. Tak ada jawaban dari Nada. Athar menghela nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.


"Oya, kamu beneran sakit? Kamu sakit apa? Dan kenapa kamu tidak bilang sama aku kalo kamu lagi sakit?" Athar mencerca Nada dengan beberapa pertanyaan dan itu sukses membuat mata Nada mulai mengembun.


Nada mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak tumpah, lalu berpaling muka kembali dari pandangan Athar.


"Maaf." lirih Nada singkat dengan suara yang gemetar namun masih di dengar oleh Athar.


"Nada ...."


"Maaf, saya hanya tidak ingin mengganggu Ustadz saja!" suara Nada masih bergetar menahan tangisnya supaya tidak pecah.


Mendengar kata ustadz dari mulut Nada membuat hati Athar teriris.


"Ustadz? Ya Allah, kenapa Nada jadi kembali memanggilku ustadz? Kenapa suasana menjadi canggung kembali setelah beberapa minggu tak bertemu?" pikir Athar dalam hati. Ia terus memandang istrinya yang sedari tadi berpaling muka darinya.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Apa maksud kamu? Kamu itu istri aku, jadi aku wajib tahu keadaan kamu dan kamu sama sekali tidak mengganggu aku, Nada." ucap Athar dengan suara yang tetap lembut.


"Istri? Pantaskah saya menyandang predikat istri seorang ustadz seperti anda? Istri yang seperti apa? Istri yang terabaikan gitu ya?"


Deg!


Perkataan Nada sungguh membuat hati Athar tercubit. Athar memejamkan mata diiringi dengan ucapan kalimat istighfar berkali-kali dalam hatinya.


"Ustadz kan sibuk, jadi saya tidak berani mengganggu. Bukankah ustadz sendiri yang bilang kalo ustadz itu sedang sibuk? Aku pikir Ustadz sibuk dengan kegiatan kajian-kajiannya, tapi ternyata ...." Nada tak meneruskan ucapannya yang menurutnya akan kembali membuat hatinya tergores.


"Ternyata apa?" tanya Athar dengan hati berdebar.


"Maaf, saya harus pergi. Saya cuma mengingatkan agar Ustadz tidak sering berkhalwat dengan perempuan yang bukan mahram Ustadz!"

__ADS_1


"Ber–khalwat ...?" suara Athar tercekat di tenggorokannya setelah mengerti kemana arah pembicaraan istrinya. "Astaghfirullahal 'adzim, Nada ... itu ti–"


"Maaf saya permisi, assalamu'alaikum!" salam Nada memotong ucapan Athar. Nada bergegas pergi dari hadapan Athar sebelum air matanya tumpah.


Athar tertegun dengan kepergian Nada. "Ya Allah ... Nada istriku, kamu sudah salah paham sama aku." ucap Athar pelan sambil memejamkan mata.


***


"Eh, by the way, si Nada kok lama ya ke toiletnya?" tanya Nury setelah menyadari Nada yang sedari tadi ke toilet tapi tidak kembali juga.


"Ya juga ya, atau jangan-jangan–" Kayra tidak meneruskan ucapannya lalu saling tatap dengan Nury dengan wajah yang tegang.


"Iiih, kalian berdua jangan nakut-nakutin gitu dong ah, jadi ikutan khawatir nih gue." gerutu Athifa pada kedua sahabatnya.


"Kenapa tidak disusul aja?" usul Raka pada istrinya.


"Nada sudah pulang." ucap Ummi Hanum yang baru saja bergabung kembali dan berbarengan dengan Athar yang juga baru kembali.


"Hah, pulang?" tanya Nury, Kayra dan Athifa serempak.


"Ya, tadi dia pamit sama Ummi dan suruh sampaikan pada kalian kalo dia pulang duluan." ujar Ummi Hanum menjelaskan. Setelah itu Ummi Hanum kembali meninggalkan mereka mengurus anak-anak panti lagi.


"Ck, ini pasti karena efek sakit kemarin, Nada pasti belum sembuh betul." tutur Kayra.


"Apa iya?" Athifa memastikan.


"Lagian si Nada aneh-aneh saja, belum juga sembuh betul tetap aja ngeyel pengen ngampus segala. kalo sakitnya tambah parah gimana coba?" gerutu Nury yang tak habis pikir dengan Nada.


"Kayak gak tahu Nada aja lo, dia kan emang gitu anaknya, agak sedikit keras kepala apalagi kalo soal kuliah." sahut Kayra.


"Udah lah, lagian dia begitu karena ingin mempertahankan nilai IPK–nya doang, kalo IPK–nya menurun beasiswanya pasti akan dicabut sama pihak kampus, dan kalo sampai dicabut trus gimana dong dengan kuliahnya? Sementara tuh anak pasti gak mau menerima bantuan dari kita.Ya kalian tahu sendiri lah Una itu tipe cewek seperti apa?" ucap Athifa panjang lebar.


"Gak mau merepotkan orang lain!" sahut keduanya kompak.


"Nah, itu tahu."


"Astaghfirullahal 'adzim ... rupanya banyak yang tidak ku ketahui tentang istriku sendiri. Suami macam apa aku ini? Ampuni hamba ya Allah." ucap Athar dalam hati. Ia semakin merasa bersalah pada Nada.

__ADS_1


"Sudah-sudah, dari pada kalian ghibahin temen kalian sendiri, mending kalian susul aja tuh temen kalian. Siapa tahu dia lagi butuh kalian." ucap Raka menghentikan obrolan istri dan teman-temanya.


"Nah, betul itu. Good ide Ustadz Raka." celetuk Nury dengan antusias dan dibalas senyuman tipis oleh Raka.


"Emang boleh, Mas?" tanya Athifa pada suaminya.


"Ya boleh dong, kan buat hibur teman kamu juga. Aku setelah ini juga ada kajian, jadi mungkin pulangnya agak malem dikit nanti." ujar Raka tulus.


Athifa tersenyum pada suaminya. "Makasih ya, Mas."


"Ya, sana gih berangkat biar gak kelamaan nyampenya!"


"Ya udah, aku pamit dulu ya, Mas." Athifa mencium punggung tangan Raka. "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Setelah pamitan dengan Ummi Hanum, Athifa, Kayra dan Nury pergi meninggalkan panti asuhan itu.


"Alhamdulillah, setidaknya ada mereka bertiga untuk menghibur dan menemani Nada. Maafkan suamimu ini Nada, sebagai seorang suami seharusnya aku yang bertanggung jawab dan menghiburmu serta menemanimu disaat-saat seperti ini, apalagi saat kamu sedang sakit. Tapi aku berharap kamu bersabar dulu. Setelah rumah kita selesai aku janji aku pasti akan mengajakmu untuk tinggal bersama denganku, dan kita mulai lagi dari awal mengukir kisah cinta kita yang sebenarnya. Semoga Allah melimpahkan rasa cinta dan kasih sayangnya untuk kita di dalam rumah tangga kita. Aamiin." ucap Athar dalam hati.


Sementara di dalam sebuah taksi, Nada menumpahkan air mata yang sedari tadi ia tahan. Nada kini sudah tidak mampu lagi untuk menahan tangisnya.


Tanpa ia sadari, rasa cemburu kini telah menguasai hatinya. Rasa rindu yang ia rasakan melebur bersama rasa cemburu yang mendominasi. Sehingga ia tak bisa berpikir dengan jernih.


"Kenapa ya, akhir-akhir ini aku jadi cengeng banget? Mas Athar juga, kenapa harus berduaan segala sama gadis lain? Gak inget apa kalo udah punya istri. Lihat aja kalo mas Athar ada hubungi aku, aku gak akan jawab." Nada bermonolog dalam hati. Sesekali ia seka air matanya.


Sopir taksi yang sedari tadi memperhatikannya lewat kaca spion tersenyum dan geleng-geleng kepala seolah ia mengerti apa masalah penumpangnya itu. Apalagi kalau bukan bermasalah dengan pasangannya. Batin pak sopir.


To be continue


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamu'alaikum...


Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...


Salam sayang dari author.

__ADS_1


Terima kasih kakak 💗


Jangan lupa dijadikan favorit ya😘


__ADS_2