JOMBLO FII SABILILLAH

JOMBLO FII SABILILLAH
58. HUBUNGAN YANG KEMBALI MERENGGANG


__ADS_3

..."Kekecewaan sebenarnya adalah penolakan kita untuk melihat ke sisi lain yang lebih cerah."...


...(Quote of the day)...


………………………………………………………………………………


Satu minggu dari kejadian di panti, hubungan Nada dan Athar semakin merenggang dan kembali canggung seperti semula. Segala chat dan telepon dari Athar tak pernah Nada tanggapi. Selama itu juga Nada menyibukkan diri dengan beberapa kegiatan di kampus karena ia tidak ingin stres memikirkan suaminya.


Dari pada pikirannya kemana-mana Nada mencoba untuk fokus dalam penggarapan skripsinya. Ia ingin segera lulus dan ingin membanggakan almarhumah neneknya yang selama ini mendukungnya walau sang nenek kini telah tiada.


Karena segala chat dan telephone–nya tak pernah ada respond dari Nada membuat hati Athar gelisah. Tapi Athar tentu tidak akan mau menyerah untuk membujuk dan meluluhkan hati istrinya itu. Dia akan bersabar dan akan selalu ber–positive thinking terhadap istrinya itu.


Seperti saat ini, senyum mengembang di bibirnya yang selalu basah dengan dzikir. Binar bahagia terlihat dari wajah tampan nan teduh itu saat memandang bangunan yang ada di hadapannya itu.


"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya rumah ini selesai juga. Nada pasti senang kalo dia tahu kita sudah punya tempat berteduh sendiri. Ah, mendingan aku kasih dia surprise aja deh nanti. Mudah-mudahan dia suka dengan interior dan design–nya." ucap Athar sambil terus memandang bangunan di depannya itu. Bangunan dua lantai yang sebenarnya sudah siap dihuni dengan segala furniture yang ada di dalamnya.


Sementara Nada saat ini juga sedang bergembira hati lantaran pengajuan bab tiga skripsinya di–ACC oleh dosbingnya. Hal itu menjadi semangatnya makin berkobar.


Keluar dari ruang dosen pembimbingnya Nada mencoba untuk mencari para sahabatnya. Ia berniat akan bercerita pada mereka. Berbagi kebahagiaan pada mereka, sahabat-sahabatnya yang selama ini ada untuknya baik suka maupun duka.


Namun langkahnya terhenti karena seseorang yang tiba-tiba ada di hadapannya.


"M–mbak V–Vello ... a–ada apa, Mbak?" tanya Nada gugup. Ia masih ingat dengan perlakuan Vello terhadapnya di hari itu.


"Nggak ada apa-apa kok Nad. Gue cuma mau minta maaf sama lo." jawab Vello seraya tersenyum manis pada Nada. Nada yang mendengar permintaan maaf dari Vello tertegun seolah tidak percaya karena selama ini sikap Vello tidak semanis dan seramah ini terhadap dirinya. Tapi hari ini kenapa Vello tiba-tiba minta maaf padanya.


"Kenapa lo diem, Nad? Atau ... jangan-jangan lo gak mau ya maafin gue? Gue tahu kesalahan gue ke lo banyak banget, pasti sangat susah untuk dimaafin." ucap Vello dengan wajah sedihnya sehingga membuat


Nada tidak tega.


"Mbak Vello, bukan gitu. Emmm ...."


"Tolong maafin gue ya Nad, gue udah nyesel banget. Please!"


Nada tersenyum lalu mengangguk. Vello tersenyum senang.


"Lo beneran mau maafin gue, Nad?" tanya Vello memastikan.


"Ya, Mbak. Aku udah maafin Mbak Vello kok." jawab Nada tulus.


"Ya ampun O–M–G ... Nada lo baik banget sih, hati lo bener-bener mulia." puji Vello pada Nada.


"Apa sih Mbak, biasa aja kok. Sudah kewajiban kita untuk saling memaafkan, kan?" ucap Nada seraya tersenyum dan direspon anggukan oleh Vello.


"Ya udah, sebagai tanda terima kasih gue ke lo, kalo gitu gimana kalo gue traktir lo dinner ntar malem." ucap Vello mengajak Nada makan malam.


"Di–dinner?"


"Ya, dinner. Lo gue traktir dinner di restoran nanti malem, lo mau kan, Nad ...." ucap Vello penuh harap.


"Sebenarnya aku mau Mbak, tapi masalahnya aku tidak pernah keluar malam-malam apalagi cuma makan malem doang." tutur Nada dengan perasaan tidak enak pada Vello.


"Ayolah Nada, please ... masa lo tega sih nolak ajakan gue? Atau jangan-jangan lo belum sepenuhnya maafin gue ya?" tanya Vello dengan menunjukkan wajah sedihnya.

__ADS_1


"Nggak kok, aku sudah memaafkan Mbak Vello sepenuhnya." jawab Nada cepat.


"Terus kenapa lo gak mau dengan ajakan dinner gue? Kalo lo emang sudah benar-benar maafin gue, lo pasti mau gue ajak dinner. Tapi ...." Vello semakin menunjukkan wajah sedihnya sehingga Nada merasa tidak enak hati dan tidak tega sehingga Nada mengangguk mengiyakan ajakan Vello meski dengan perasaan yang agak ragu.


"Ya udah, aku mau kok sama ajakan dinner Mbak Vello." putus Nada ragu-ragu.


"Beneran nih? Wah thanks ya, Nad. Sekarang gue udah percaya kalo lo benar-benar sudah maafin gue." ucap Vello girang dan antusias.


"Ya, Mbak. Sama-sama."


"Lo gak usah kuatir, ntar gue kirim taksi ke tempat lo biar lo cepat nyampenya."


Nada mengangguk seraya tersenyum. Setelah itu Nada pamit untuk menemui para sahabatnya.


Sementara Vello tengah menelpon seseorang.


"Hallo, siapkan semuanya!" serunya pada seseorang di seberang sana.


"....."


"Ok, good job." ucapnya lagi lalu menutup sambungan teleponnya. Senyum seringai ia terbitkan di dibibir seksinya.


***


Malam harinya setelah menyelesaikan ibadah sholat isya–nya Nada mulai bersiap-siap untuk pergi memenuhi ajakan makan malam Vello.


Malam ini Nada hanya memakai gamis biasa dan sederhana berwarna hitam dan dipadukan dengan hijab segi empat yang berwarna senada dengan gamisnya. Namun meskipun berpakaian yang sangat sederhana itu tidak mengurangi aura kecantikan Nada yang alami.



Duduk santai di sofa sambil menunggu taksi datang, Nada malah melamun. Bayang-bayang suaminya tiba-tiba bermunculan di benaknya.


"Mas Athar, gimana ya kabarnya sekarang? Apa aku terlalu tega mengabaikan telepon serta pesan chat darinya? Apa aku pamit duluan ya sama dia kalo aku mau dinner malam ini?" pikir Nada sambil meraih ponselnya dari saku gamisnya. "Tapi kan aku masih kesal sama mas Athar, meskipun aku udah nggak marah lagi sih, tapi tetep aja aku masih kesel dan kecewa sama dia, di tambah seharian ini dia gak ada hubungi aku atau sekedar chat doang, tambah kesel kan jadinya." sungut Nada lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku gamisnya.


Nada memang tidak membawa tas karena dia pikir hanya makan malam biasa dan sebentar. Yang penting dia sudah memenuhi dan menghargai ajakan Vello.


Lima belas menit menunggu akhirnya taksi yang dipesan Vello untuk Nada datang. Nada berangkat dengan taksi itu menuju tempat yang telah Vello tentukan.


***


Vello melambai-lambaikan tangannya pada Nada yang baru saja masuk ke dalam restoran. Nada yang melihatnya tersenyum lalu melangkah menghampiri perempuan yang berpenampilan seksi itu yang tak lain adalah Vello.


"Assalamu'alaikum Mbak Vello." sapa Nada saat sudah di hadapan Vello. Lalu mengulurkan tangannya pada Vello.


"Wa'alaikum salam Nada." sambut Vello sambil tersenyum manis. Ia menyambut uluran tangan Nada lalu mempersilahkan Nada untuk duduk.


"Mbak Vello sudah pesan makanan ya?" tanya Nada setelah melihat beberapa macam makanan yang tersaji di hadapannya.


"Ya, soalnya kata lo kan lo gak bisa lama-lama, jadinya pas nyampe sini gue langsung deh pesan makanan dan minuman." jelas Vello sambil tersenyum. Nada hanya ber'oh ria sambil mengangguk mengerti.


"Maaf ya Mbak, kalo tidak sesuai yang Mbak Vello harapkan, aku bener-bener gak bisa lama-lama di luar, apa lagi malam-malam kayak gini, sendirian pula perginya." ucap Nada dengan rasa sesal dan tidak enak hati.


"Nggak papa Nada. Tapi lo suka kan sama makanannya? Sorry, gue gak tahu makanan kesukaan lo, jadi gue pesan asal deh."

__ADS_1


"Suka kok, yang penting kan halal, Mbak."


"Ya udah, kita langsung makan aja yuk, mumpung masih hangat nih." Nada mengangguk. Lalu mereka mulai memakan makanan yang telah dihidangkan di hadapannya.


Sekitar lima belas menit Nada sudah menyelesaikan makannya.


"Lho udah selesai aja? Kok dikit banget makannya? Kenapa? Gak enak ya?" tanya Vello heran.


"Enak kok, Mbak. Cuma akunya aja yang udah kenyang." ujar Nada apa adanya.


"Oh gitu? Ya udah, diminum lagi dong orange juice–nya, masih banyak tuh!"


Nada mengangguk menuruti ucapan Vello yaitu meminum cairan berwarna orange itu hingga sisa separuh gelas.


"Yes!" seru Vello dalam hati saat Nada menghabiskan minumannya meski separuh.


"Maaf Mbak, boleh aku ke toilet sebentar? Kebelet." tanya Nada pada Vello.


"Boleh, sana cepat nanti malah keluar


di sini lagi." ucap Vello bercanda.


Nada menanggapi candaan Vello dengan tawa sedikit.


"Hallo, saatnya sudah tiba, persiapkan dirimu!" perintah Vello pada seseorang di seberang sana lewat sambungan seluler. Tentunya setelah Nada berlalu ke toilet.


Setelah selesai buang hajatnya, Nada merapikan kembali hijabnya dan bersiap keluar dari toilet.


Namun saat tangannya hendak memutar knop pintu, tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing. Dan tiba-tiba juga ia merasakan sesuatu yang aneh dari dalam tubuhnya yang tentunya tidak ia mengerti.


"Astaghfirullahal 'adzim, kenapa kepalaku pusing sekali? Dan ... tubuhku ... ada apa dengan tubuhku ini? Kenapa rasanya ...." lirih Nada sambil memeluk tubuhnya sendiri.


Dan saat itu juga bayang-bayang suaminya hadir dalam benaknya. Ia mulai menangis ketakutan.


"Mas Athar, a–aku takut mas, kamu dimana mas? tolong aku, aku butuh mas Athar, aku benar-benar takut." lirih Nada dalam tangisnya.


Nada membuka pintu toilet. Dengan sekuat tenaga dan dalam keadaan tubuhnya yang gemetar Nada mencoba menyeret kakinya hingga tiba-tiba ....


Bruukk...


To be continue


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamu'alaikum...


Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...


Salam sayang dari author.


Terima kasih kakak 💗


Jangan lupa dijadikan favorit ya😘

__ADS_1


__ADS_2