
..."Allah tidak pernah salah dalam menciptakan sebuah takdir untuk hambanya. Percayalah, takdir Allah itu indah."...
...(Abidzar Mukhtar Al-Hariz)...
………………………………………………………………………………
Huft!
Athifa menghela nafas panjang. Dipejamkannya kedua matanya sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa ruang tengah. Laptop pun masih menyala di pangkuannya.
Raka yang baru saja tiba di ruang tengah berhenti sejenak. Ia heran melihat Athifa yang seperti tertidur dengan posisi seperti itu namun laptopnya masih menyala. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju sang istri, lalu duduk di samping istrinya sambil memperhatikan istrinya yang masih memejamkan matanya.
Athifa membuka matanya kala ia merasakan belaian lembut pada bagian wajahnya.
"Eh, kok kebangun? Maaf ya kalo tidurmu terganggu karena Mas." sesal Raka.
"Ih, siapa juga yang tidur?" cebik Athifa cemberut.
"Lha, itu tadi apa merem-merem? Udah gitu laptop masih nyala lagi." tukas Raka bingung.
"Iiiiih, udah dibilangin juga aku nggak lagi tidur, Maaas ...!" pekik Athifa semakin cemberut. Ia mematikan laptopnya lalu meletakkannya di atas meja di depannya.
"Ok-ok, kamu gak lagi tidur. Trus kenapa kamu, ada apa dengan kamu? Kok sepertinya lagi gak mood gitu, kenapa sayang? Hum?" tanya Raka hati-hati dan selembut mungkin sambil mengelus-elus punggung tangan sang istri agar mood istrinya tidak semakin rusak.
"Aku itu lagi suntuk banget tahu nggak sih, saat ini. Gak tahu kenapa? Gak mood juga jadinya gak fokus ngerjain skripsinya!" keluh Athifa sambil merebahkan kepalanya pada dada bidang Raka. Tak lupa Raka mendekap tubuh Athifa sambil mengelus sayang kepala Athifa yang saat ini tidak memakai hijab.
"Terus, sekarang kamu maunya apa? hum?"
"Nggak tahu, bosen Mas ...." rengek Athifa dengan mode manjanya pada Raka.
"Bosen ya?"
Athifa hanya mengangguk.
"Emmm, ya udah, gimana kalo kita jalan-jalan aja, siapa tahu kamu nggak suntuk lagi." tawar Raka yang membuat Athifa mendongak seketika.
"Hah? Jalan-jalan?" Raka mengangguk sambil tersenyum geli pada istrinya.
__ADS_1
"Mau, mau, mau!" ucap Athifa antusias.
"Excited banget sih, kamu yank." ucap Raka sambil terkekeh.
"Jelas dong, kapan lagi coba ...."
"Emangnya kamu pengennya mau diajak jalan-jalan kemana?
"Emmm, kemana ya ...? Ke pantai aja kali ya, udah lama banget lho, aku gak ke pantai. Terakhir ke pantainya itu rame-rame sama sahabat-sahabat aku sebelum kita menikah." ujar Athifa pada sang suami.
"Sebelum kita menikah ...? Maksudnya sebelum kamu menikah dengan Kevin kali." tukas Raka sambil tersenyum jahil.
"Iiih, apaan sih ngomong kayak gitu, aku nggak suka ya Mas ngomong gitu." Athifa mulai cemberut. Hal itu membuat Raka⁰ terkekeh kembali karena gemas melihat wajah cemberut istrinya.
"Afwan sayang, Mas cuma bercanda. Ya udah sekarang kamu ganti baju gih, biar cepet kita perginya!" ucap Raka sambil tergelak kecil.
Athifa menurut. Dia beranjak menuju kamarnya untuk ganti baju. Setelahnya mereka berangkat ke tempat tujuan yang telah mereka rencanakan secara dadakan.
***
Athifa merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan kedua matanya. Bibirnya tak luput dari senyuman menikmati segarnya udara pantai di hari yang hampir beranjak siang ini.
"Aih, kok pake cium-cium segala sih, Mas?" protes Athifa tapi bibir pink-nya terus tersenyum.
"Kenapa? Gak suka kalo dicium sama Mas?"
"Ya, bukan gitu Mamas sayang, ini kan tempat umum, malu dong kalo dilihat orang-orang."
"Lho, kok malu? Ngapain harus malu, lah wong ini suami sendiri kok yang cium, seratus persen udah halal ini lho, yang." Raka balik protes.
"Tapi kan–"
"Udah, gak usah dengerin omongan orang-orang. Biarin aja mereka ngomong apa, paling mereka itu pada iri melihat kemesraan dan keromantisan kita berdua, yang penting kamu suka dan kita happy. Udah, gitu aja lah."
"Huft, terserah Mamas ustadz aja deh kalo gitu." ucap Athifa pasrah membuat Raka tersenyum lebar.
"By the way ... gak mau balas nih?" tanya Raka tiba-tiba yang menurut Athifa tidak jelas.
__ADS_1
"Balas apanya? Yang jelas dong!"
"Ya gak mau balas cium Mas juga gitu lho sayangnya Mas ..." jelas Raka gemas terhadap istrinya.
Mendengar ucapan sang suami, wajah cantik Athifa kembali merona sekaligus salting. Karena sang istri tak kunjung merespon, Raka pun kembali berucap.
"Eh, kok malah diem aja, ayo dong yang!" kekeh Raka sambil menggoyang-goyangkan bahu Athifa pelan.
"M–malu Mas, banyak orang disini. Ntar aja deh di rumah yah yah." tawar Athifa namun di balas gelengan kepala oleh Raka.
"Yaaah, kok gitu ...." Athifa protes kembali.
"Pokoknya aku bilang sekarang ya sekarang, zaujati!" kekeh Raka.
Pasrah saja Athifa sebelum sang suami mengeluarkan ceramahnya yang bertajuk "dosa istri yang tidak menuruti kata suami" . Alhasil, setelah toleh kanan dan toleh kiri untuk memastikan apakah orang-orang di sekitar mereka berdua ada yang memperhatikan ke arah mereka berdua.
Setelah menurutnya aman, barulah Athifa membalas dan memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri sang suami secara kilat dengan wajah yang kembali bersemu merah.
Raka tersenyum senang serta gemas setelah ia mendapatkan apa yang dia mau dari sang istri.
"Nah gitu dong ... ini baru istriku yang sholihah!" ucap Raka yang tak henti-hentinya tersenyum bahagia. Sementara Athifa, ia memalingkan wajahnya karena malu. Namun bibirnya tetap ikut tersenyum.
Setelah itu mereka berdua main kejar-kejaran. Sesekali keduanya juga main air dan saling mencipratkan air satu sama lain ke wajah mereka. Gelak tawa bahagia mewarnai wajah mereka berdua.
Di saat mereka berdua sedang menikmati moment bahagia di pantai , ternyata tanpa mereka sadari sepasang mata tengah memperhatikan mereka tak jauh dari tempat mereka berdua berada. Tangan kanannya terkepal dan ada rasa yang entah perasaan apa yang ia rasakan di hatinya. Yang jelas ia tidak suka melihat kebahagiaan yang kini tengah dinikmati oleh sepasang kekasih halal itu.
"Nggak, ini nggak mungkin. Kenapa mereka berdua sebahagia itu? Seharusnya mereka tidak bahagia dalam pernikahan mereka. Karena mereka menikah tanpa adanya cinta. Mereka tidak saling mencintai, tapi kenapa mereka bahagia seolah-olah mereka begitu menikmati pernikahan mereka yang terbilang dadakan?" berbagai macam pertanyaan ia lontarkan dala hatinya.
Karena tidak tahan menyaksikan kebersamaan dan kebahagiaan mereka, ia pun lantas pergi meninggalkan tempat dan bahkan meninggalkan pantai.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
__ADS_1
Salam sayang dari author.
Terima kasih kakak 💗