JOMBLO FII SABILILLAH

JOMBLO FII SABILILLAH
30. PERDEBATAN


__ADS_3

..."Sebaik-baik istri shalilah, ialah yang senantiasa bersabar atas suaminya. Senantiasa mendukung suaminya dalam kondisi apapun."...


...(Pearl of Islam)...


………………………………………………………………………………


Athifa terbangun dari tidurnya kala mendengar suara beberapa orang sedang berbicara. Mungkin ada tamu pikirnya.


Sementara di ruang depan, Raka dan bunda Rahma sedang kedatangan tamu yang tak lain adalah Tuan Surya, Nyonya Dewi Arum, Tuan Dhamar dan istrinya, Nyonya Marisa. Mereka tampak serius membicarakan sesuatu.


Terlihat Tuan Surya menyodorkan sesuatu di atas meja tepat di hadapan Raka. Raka yang tak mengerti hanya mengerutkan keningnya namun tak ada niat untuk mengambilnya.


"Itu adalah file dan aset anak perusahaan cabang yang ada di bandung." jelas Tuan Surya setelah mengerti kebingungan Raka yang nampak pada raut wajahnya.


"Maaf. Untuk apa Tuan memberikannya pada saya?" tanya Raka dengan hati yang tenang.


"Ya untuk kamu lah, bukankah itu maksud dan tujuan kamu setelah menikahi Athifa?" sahut Nyonya Marisa tiba-tiba mewakili Tuan Surya.


"Maaf maksud anda apa ya, nyonya Marisa?" tanya Raka sambil tersenyum tipis.


"Kamu memungut Athifa setelah putraku membuangnya lalu menjadikan Athifa sebagai istri kamu karena kamu tahu bahwa Athifa itu sangat berharga bagi ayah dan ibu mertuaku, terus kamu mengharapkan sesuatu dari kami, ya kan? Itu kan yang kamu harapkan?" Tuding Nyonya Marisa pada Raka. Mendengar tudingan itu Raka hanya tersenyum tipis menanggapinya. Lalu beralih menatap pada sang kakek yang selama ini tak menganggapnya ada.


"Ambillah! Kelola anak cabang perusahaan Dirgantara Group yang ada di Bandung. Saya hanya tidak ingin Athifa menderita karena kekurangan. Dengan itu semua maka kamu bisa menjaga Athifa dan menjamin Athifa agar tidak akan kekurangan apapun serta hidup dengan layak." jelas Tuan Surya sambil menatap Raka sejenak. Mendengar ucapan Tuan Surya, Raka kembali tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Raka menggerakkan tangannya kearah berkas-berkas yang terbungkus dalam sebuah map biru. Namun bukannya mengambil malah ia menyodorkannya kembali kearah Tuan Surya. Hal itu membuat semua orang yang ada di ruangan depan rumah Athifa heran. Kecuali Bunda Rahma yang malah tersenyum. Ia sangat mengerti akan sifat putra semata wayangnya itu


"Maaf, saya tidak bisa menerimanya, Tuan!" ucap Raka tegas. Semua dibuat terkejut atas penolakan Raka termasuk Tuan Surya. Namun bukan Tuan Surya namanya kalau tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Apa maksudmu anak muda? Terlalu lancang kamu menolak pemberianku! Itu bukan untukmu, tapi itu untuk Athifa!" Bentak tuan Surya namun masih dalam nada rendah.


"Maaf saya tidak bisa menerima sesuatu yang bukan dari hasil jerih payah serta keringat saya sendiri. Itu bukan hak saya, itu adalah hak cucu kesayangan yang selama ini anda banggakan. TUAN MUDA KEVIN DHAMARASH DIRGANTARA. Bukan hak saya yang hanya seorang cucu yang terbuang yang terlahir dari seorang wanita yang selama ini kalian anggap hina tapi sangat mulia dan berharga bagi saya dan almarhum ayah saya!" ucapan Raka yang jelas dan tegas.


"Mas Alvian, putramu sangat mirip denganmu. Aku merindukanmu. Maafkan aku yang tidak bisa membelamu karena aku tak seperti dirimu yang bisa melawan papa kita." ucap Tuan Dhamar dalam hati dengan pandangannya yang sedari tadi tak luput dari sosok Raka yang wajahnya sangat mirip dengan sang kakak ketika masih muda


"Lancang sekali kau berbicara seperti itu di hadapanku anak muda!!!" Teriak Tuan Surya seolah tidak terima atas setiap perkataan yang Raka lontarkan.


"AYUNDA!!! Beginikah caramu mendidik putramu ini? Inikah hasil dari didikan dari wanita seperti kamu?! Sungguh sangat disayangkan!" ucap Tuan Surya yang tiba-tiba menuding Bunda Rahma.

__ADS_1


"JANGAN MENYALAHKAN DIDIKAN DARI IBU SAYA! Selama ini ibu saya sudah mendidik saya seorang diri dengan caranya yang sangat luar biasa, baik moral maupun agama dengan penuh kasih sayang yang tulus. Bukankah itu didikan yang sangat mulia, TUAN SURYA DIRGANTARA? Jadi tolong kalian JANGAN HINA LAGI IBU SAYA!!!" Setiap kata penuh dengan penekanan. Hampir saja Raka kehilangan kendali jika tidak ada Bunda Rahma yang mencoba meredam emosi Raka yang mulai menguasai hatinya. Bunda Rahma menggenggam tangan Raka lalu mengelus-elus punggung putra semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang.


Anak mana yang bisa menerima jika orang tuanya dihina-hina, terlebih seorang ibu yang selama ini mendidiknya dan mengurusnya seorang diri setelah kepergian sang ayah untuk selamanya. Buat Raka, Bunda Rahma sangat berharga dari apapun.


"Dan masalah Athifa, bukankah waktu itu saya sudah bilang bahwa rejeki seseorang itu sudah ada yang ngatur. Ada Allah yang maha Pemberi Rizki. Insya Allah saya masih bisa dan sanggup menafkahi istri saya. Anda tidak perlu khawatir, Athifa adalah istri saya jadi saya lah yang bertanggung jawab atas diri istri saya sendiri. Bukan orang lain bahkan anda!" Lanjut Raka lagi, membuat semuanya bungkam.


"Sederhana, cerdas, tegas dan berani. Itulah sifat almarhum suami saya yang diturunkan kepada putarnya. Semua kesederhanaannya ada pada diri putraku. Dan semua sifat itulah yang selama ini menjadi pengobat rinduku pada almarhum suami saya sehingga saya bisa kuat menjalani kehidupan setelah kepergian almarhum suami saya ...." suara Bunda Rahma terdengar bergetar . Entah mengapa wajah almarhum suaminya seolah ada di depan matanya.


"Tidakkah diantara kalian merindukan sosok yang penuh kesederhanaan itu, tidakkah diantara kalian merindukan sosok yang penuh kasih sayang itu?" Pandangan Bunda Rahma menerawang dengan mata yang berkaca-kaca.


Nyonya Dewi Arum kini meneteskan air mata. Teringat akan sang putra sulung yang kini telah tiada. Bohong jika wanita sepuh itu tidak merindukan putra sulungnya. Bertahun-tahun lamanya semenjak almarhum Alvian diusir bahkan dicoret dari Kartu Keluarga Dirgantara karena lebih memilih menikah dengan Rahma, Nyonya Dewi Arum menyimpan rasa rindunya terhadap almarhum putra sulungnya.


"Aku pun juga merindukan kakakku ..." lirih Tuan Dhamar dalam hati


"Halah sok drama sekali." cibir Nyonya Marisa.


"Baiklah jika kamu menolak aset itu, berarti kamu juga tidak boleh tinggal di sini, kamu harus keluar dari rumah ini. Karena ini bukan rumah kamu, dan rumah ini dulunya saya yang membelinya buat keluarga Irfan." ucap Tuan Surya membuat Nyonya Dewi Arum dan Tuan Dhamar terkejut.


"Pa—"


"Jangan coba-coba membantahku, ma!" ucap Tuan Surya memotong ucapan istrinya.


"Jangan mimpi kamu bisa membawa Athifa dari sini, dia pasti tidak akan bisa untuk meninggalkan rumah yang penuh kenangan bersama kedua orang tuanya." cibir Tuan Surya pada Raka.


Semua perdebatan mereka dari tadi tak luput dari perhatian sepasang mata yang sedari tadi melihat semua perdebatan mereka.


To be continue


Bonus visual



Rahma Ayunda Sekar (Ibunda Raka)



__ADS_1



Marisa





Dhamar Dirgantara





Surya Willy Dirgantara





Dewi Arum




\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamu'alaikum...


Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...

__ADS_1


Salam sayang dari author.


Terima kasih kakak 💗


__ADS_2