
..."Tak perlu mencari seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuatmu merasa bahagia dan membuatmu berarti dari siapapun."...
...(Baharuddin Jusuf Habibie)...
………………………………………………………………………………
Raka dan Athifa sedang berada di sebuah mall. Dari baru sampai hingga masuk ke dalam mall mereka berdua tak ingin melepas tautan tangan mereka. Mereka selalu bergandengan tangan. Raut wajah keduanya terpancar kebahagiaan.
"Mas, aku ke sana dulu ya." ucap Athifa sambil menunjuk ke arah toko busana muslim.
"Ya, sayang. Ntar aku nyusul ke sana." sahut Raka sambil tersenyum lalu kembali fokus pada beberapa jam tangan yang berjejer di hadapannya setelah Athifa melangkah ke arah tujuannya.
"Wah wah wah, lihat deh Vin, ternyata selera anak haram ini tinggi juga ya sampe jam tangan bermerk saja diperhatiin dari tadi." ucap seseorang dari belakang Raka membuat aktivitas tangan Raka berhenti memilih jam tangan.
Raka menoleh ke belakang. Setelah tahu siapa orang itu, Raka kembali pada aktivitasnya tadi dan mengacuhkan pria di belakangnya.
"Kenapa hanya di perhatiin, kenapa gak diambil saja? Gak sanggup bayar ya?"cibirnya pada Raka.
"Ya jelas gak sanggup lah, orang miskin kayak dia tuh mana mampu beli jam bermerk disini, it's impossible! Udah ambil saja tuh salah satunya atau mau lebih. Tenang aja, nanti Kevin kok yang bayar. Ya kan, Kevin sayang." ucap Winda yang mencibir bahkan menghina Raka. Kevin yang ada di sampingnya hanya terdiam membisu.
"Astaghfirullahal 'adzim .... Ya Allah, sabar sabar." gumam Raka sambil mengelus dadanya.
"Eh, by the way dimana tuh istri murahan lo yang kampungan itu?"
Sungguh demi apapun ucapan Winda yang terakhir membuat emosi Raka mulai terpancing. Raka yang awalnya cuek dan tak menggubris segala omongan Winda, namun kini mulai terpancing karena omongan Winda yang menghina istrinya.
Raka menatap tajam sosok perempuan berpakaian seksi yang kini tengah menggandeng lengan sepupunya itu.
"Maaf ya, Mbak. Dari tadi mbak menghina saya terus saya tidak keberatan, saya membiarkan Mbak ini menghina, menjelek-jelekkan saya, saya diam saja, padahal kita nggak kenal lho. Tapi kali ini saya tidak akan membiarkan Mbak menghina istri saya. Istri saya itu perempuan baik-baik, dia tidak seperti apa yang Mbak dan yang lainnya tuduhkan!"
Suara Raka yang dengan nada tinggi membuat Athifa yang tengah memilih-milih gamis mendengarnya. Athifa menoleh ke arah suaminya berada. Ia mengernyitkan keningnya lalu menghela nafas dan membuangnya kasar setelah tahu dengan siapa suaminya bicara.
__ADS_1
"Pantas saja mas Raka emosi, ternyata ada duo pengganggu di sini. Pasti mereka bikin ulah lagi sama suami gue. Gue harus kasih pelajaran nih mereka biar kapok." ucap Athifa pelan-pelan. yang kemudian melangkah menghampiri Raka.
"Wooow, segitunyakah lo membela istri kampungan lo itu? Ilmu pelet dan guna-guna jenis apa yang dia gunakan sehingga membuat lo bertekuk lutut sampe segitu parahnya." ejek Winda membuat Raka semakin emosi. Namun Raka tetap berusaha mengendalikannya karena ia saat ini berada di tempat umum.
"Astaghfirullahal 'adzim!" seru Raka sambil geleng-geleng kepala. "Jangan asal ngomong, Mbak. Ilmu pelet dan guna-guna itu adalah perbuatan yang musyrik yang sudah jelas dilarang dalam agamaku. Jadi sangat tidak mungkin jika istriku akan melakukan dosa besar itu." elak Raka dengan emosi tertahan.
"OMG, malah ceramah lagi nih anak. Heh ... jangan mentang-mentang lo itu seorang ustadz lo ceramah seenak jidat lo, kalo mau ceramah tuh bukan disini, tuh di mesjid sana!" ucap Winda sambil membentak Raka.
"Astaghfirullahal 'adzim, ya Allah ...."
"Mas, kok masih di sini sih, katanya tadi mau nyusul Ifa?" sahut Athifa dengan nada manja ala-ala Athifa.
Semua atensi tertuju pada Athifa yang kini sudah ada di samping Raka. Termasuk Kevin yang kini tertegun melihat keberadaan Athifa. Ia menatap lekat pada mantan calon istrinya yang kini semakin cantik mempesona itu.
"A–athifa ..." lirih Kevin namun masih bisa didengar oleh Winda sehingga membuat Winda kesal.
"Eh, Sayang ... sudah selesai milih gamisnya?" tanya Raka dengan nada lembut ia tersenyum menyambut istrinya.
"Gak papa, Sayang. Uangku uangmu juga. Suami yang membelanjakan uangnya untuk istrinya akan bertambah pula barokah uang yang di dapat serta Allah semakin memperlancar suami dalam mencari rezeki." tutur Raka sambil tersenyum pada Athifa.
"Aamiin ya Allah ...." Athifa mengamini setiap ucapan suaminya.
"Ck, hadeeeh, sok dramastis banget sih lo berdua." ucap Winda yang mulai jengah terhadap sepasang suami istri di hadapannya.
"Kayak ada suara deh, Yang, tapi suara siapa ya? Masa suara mbak kunti sih, kan masih siang bolong gini." celetuk Athifa sambil celingak-celinguk.
Sumpah demi apa celetukan Athifa membuat Raka membelalakkan mata dan bahkan hampir saja ia tertawa.
Sementara Winda melotot tak percaya mendengar ucapan Athifa sehingga membuatnya geram.
__ADS_1
"Heh, maksud lo apa ngomong gitu? Lo pikir gue kuntilanak apa?!" bentak Winda keras dan kasar membuat Athifa reflek menoleh ke arah Winda.
"Ups ada para disturbers di sini rupanya. O-M-G hellooow ... kalian ngapain disini? Mau belanja atau mau ganggu suamiku atau mau ngebully suami tampanku lagi? Iya? Astaghfirullahal 'adzim ... mbok ya kok ndak ada kapok-kapoknya juga ya kalian semua, kerjaannya mengganggu ketentraman hidup orang lain terus." semprot Athifa pada dua orang berbeda jenis kelamin di hadapannya itu.
"Sayang, istighfar jangan kasar-kasar kalo bicara. Sayang seorang Muslimah lho!" tegur Raka pada istrinya namun tetap dengan nada rendah serta lembut.
"Pak Ustadz mending diem dulu deh, biarkan Ifa mengeluarkan uneg-uneg Ifa dulu ya," ucap Athifa dengan suara lemesnya pada sang suami.
"Siap Istrinya ustadz!"
Ingin rasanya Athifa tertawa mendengar ucapan suaminya. Apalagi dengan suara lemes juga mengikuti dirinya.
"Ck, eneg banget gue sama lo berdua. Emang ya kalian itu adalah pasangan yang klop, sama-sama KAMPUNGAN tahu nggak. Yang cowok sok alim, yang cewek sok suci padahal gak bisa menjaga kesuciaanya sebelum menikah. Dasar cewek MURAHAN!" ucapan Winda membuat emosi Raka kembali terpancing.
"Sudah aku bilang istriku bukan perempuan murahan. Dia perempuan suci bahkan sangat suci. Karena aku adalah laki-laki pertama untuk Athifa istriku. Akulah laki-laki pertama yang telah mengambil mahkota istriku di malam pertama setelah kami sah menjadi suami istri!!!" ucapan tegas Raka membuat Winda bungkam.
"Dan untuk anda TUAN MUDA DIRGANTARA ...." tunjuknya pada Kevin. "Terimakasih untuk anda yang telah melepaskan berlian berharga ini, sehingga ia jatuh ke tangan orang yang semestinya, terimakasih telah memberikan aku kesempatan untuk memilikinya. Terimakasih juga karena anda telah mengembalikan berlian berharga ini pada pemilik yang sebenarnya. Jangan pernah menyesal setelah anda tahu kebenarannya suatu saat nanti!" ucap Raka tegas pada saudara sepupunya itu. Membuat Kevin terdiam mematung seolah mencerna apa-apa yang telah Raka ucapkan tadi. Dan membuat kegelisahan dan kekhawatiran menyerang hati Winda.
"Sayang, ayo kita pergi dari sini!" ajak Raka pada istrinya. Raka meraih tangan Athifa lalu menariknya agar mengikuti dirinya meninggalkan Kevin yang termangu dan Winda yang tampak gelisah raut wajahnya.
Athifa hanya mengangguk mengiyakan karena sedari tadi ia menatap haru suaminya. Sungguh demi apapun membuat hati meleleh, membuat athifa semakin terkagum-kagum dan terpesona serta semakin jatuh cinta pada suaminya itu.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
__ADS_1
Terima kasih kakak 💗
Jangan lupa dijadikan favorit ya😘