
..."Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."...
...(Q.S. Az Zumar : 10)...
………………………………………………………………………………
Jam di kelas pagi sudah usai. Semua penghuni ruang kelas Nada berhambur keluar kelas. Tinggal Nada dan kawan-kawannya serta beberapa teman sekelas mereka yang masih betah di kelas.
Ya. Sudah hampir dua minggu Nada dan Athar kembali ke kota Jogja. Namun untuk sementara waktu mereka berdua memutuskan untuk tidak tinggal satu atap dulu. Athar belum bisa mengajak Nada tinggal bersama karena rumah yang ia bangun belum seratus persen selesai. Sementara Nada belum siap karena belum memberi tahu tiga sahabatnya tentang pernikahan mereka.
Athifa tengah senyum-senyum menerima telephon dari suaminya. Nury menekuk wajahnya karena chat–nya yang ia kirim pada Derry tadi malam belum ada balasan satu pun dari kekasihnya itu hingga sekarang. Sementara Kayra menatap heran pada Nada yang tengah melamun di sampingnya.
"Kenapa akhir-akhir ini aku kepikiran ustadz Athar terus ya? Kira-kira sedang apa dia sekarang? Mau chat duluan sekedar tanya kabarnya, malu!" monolog Nada dalam hati.
Nada terperanjat kaget saat Kayra menepuk-nepuk bahunya. Nada menoleh pada Kayra.
"Kenapa, Kay?" tanya Nada pada Kayra.
"Harusnya gue yang nanya, lo kenapa? Kok gue perhatiin lo lagi ngelamun dari tadi? Lagi mikirin almarhumah nenek, ya?" tanya Kayra dengan nada sedih.
Semua sahabat Nada sudah tahu soal kematian nenek Fatimah karena Nada sudah menceritakan semuanya pada mereka setibanya di Jogja kecuali soal pernikahannya. Nada bukannya mau merahasiakan pernikahannya dengan Athar dari mereka, namun dia malu. Malu karena dia merasa dirinya adalah seorang wanita biasa sangat tidak pantas disebut sebagai istri dari seorang laki-laki sholih yang menyandang gelar seorang ustadz seperti Athar. Jadi dia belum siap untuk bercerita. Namun ia berjanji jika saatnya sudah tiba dia pasti akan memberi tahu ketiga sahabatnya tentang pernikahannya dengan Athar.
"Aku bukannya mikirin nenek, Kay. Nenek sudah tenang di alam sana. Insya Allah aku sudah ikhlas. Tapi aku lagi mikirin suamiku. sudah dua hari dia gak ada kabarin aku sama sekali." ucap Nada dalam hati.
"Tuh kan, bukannya ngejawab malah bengong." gerutu Kayra sambil manyun membuat Nada gemas melihatnya. Nada ingin berucap tapi tidak jadi karena suara getaran dari ponselnya menandakan ada pesan whatsApp masuk.
Wajah Nada berbinar saat ia tahu siapa yang mengirimnya pesan.
📥Ustadz
Assalamu'alaikum Nada,
gimana kabar kamu? Maaf ya, lama
gak ngabarin kamu soalnya handphone
aku rusak sehingga harus diperbaiki.
Ini baru saja selesai aku ambil di konter.
Kini Nada bisa bernafas lega setelah tahu alasan kenapa suaminya tidak memberi kabar selama dua hari. Nada ingin membalasnya namun satu pesan kembali masuk dan dari orang yang sama.
📥Ustadz
Aku mau ngajak kamu makan siang
di kafe Safil sekarang, mau ya. Aku tunggu lho. Klo kamu tidak datang aku tetap
tunggu kamu sampai kamu datang!
Nada tersenyum saat membaca pesan kedua dari suaminya. Kayra yang melihatnya mengerutkan keningnya heran.
__ADS_1
"Kenapa nih anak? Tadi melamun, sekarang senyum-senyum gak jelas. Aneh!" ucap Kayra dalam hati.
📤Anda
Wa'alaikum salam, ya Ustadz.
📥Ustadz
Kok cuma dijawab singkat?
"NADAAA!!!" teriak seorang perempuan yang baru saja masuk membuat seisi kelas kaget termasuk Nada dan tiga sahabatnya. Mereka semua menoleh ke arah suara teriakan yang ternyata dia adalah Vello. Begitu juga dengan Athifa yang sedari tadi sedang telephonan sama suaminya terpaksa menoleh, padahal disana suaminya sedang berbicara padanya.
Vello and the geng menghampiri bangku dimana Nada duduk bersama Kayra. Di depannya ada Athifa dan Nury.
"Ada apa lo teriak-teriak gitu? Di sini tuh kelas bukan hutan." Kayra berdiri mencoba menghalangi Vello yang mau menyerang Nada.
"Minggir gak lo! Gue gak ada urusan sama lo, urusan gue sama tuh cewek sok alim." tunjuk Vello pada Nada.
"Kalo lo punya urusan sama Nada, berarti lo juga punya urusan sama gue!" ucap Kayra dengan tegas.
Ucapan Kayra membuat Vello emosi. Dia menarik paksa dan menyingkirkan Kayra yang sedari tadi menghalanginya.
"Awww"
Vello menjambak hijab Nada dengan keras membuat kepala Nada mendongak.
"Mbak Vello, lepasin, Mbak. Sakit ...." rintih Nada kesakitan.
"Vello lepasin Nada!" teriak Nury tidak terima. Kayra yang kembali ingin menolong Nada dihalangi oleh teman-teman Vello.
"Ya Allah ... lepasin, Mbak Vello, sebenarnya saya salah apa sama Mbak Vello? Kenapa saya diserang begini?" tanya Nada seraya meringis menahan sakit di kepalanya akibat jambakan keras Vello pada hijabnya.
"Salah lo tuh banyak! Lo kuliah di kampus ini saja udah salah, apalagi lo sampai merebut perhatian dan menggoda Devan! Udah berkali-kali gue peringatin lo jangan coba-coba deketin apalagi merebut Devan dari gue!!" bentak Vello sambil memperkuat jambakannya pada hijab Nada membuat Nada semakin merintih kesakitan di area kepalanya.
"Dari awal saya sudah menjauhi kak Devan dan saya tidak ada hubungan apa-apa sama kak Devan, Mbak Vello." ucap Nada seadanya.
"Pembohong lo!!!" bentak Vello lagi diiringi dengan tamparan keras di pipi kanan Nada sehingga sakin kerasnya tamparan Vello membuat Nada terjatuh ke lantai.
"Ilahi ...." lirih Nada mencoba menahan sakit yang luar biasa di pipi kanannya.
"Ya Allah ... Nada!" pekik Nury, Kayra dan Athifa.
Sementara di sebrang sana Raka yang masih bersama Sahabat Fillah keheranan campur panik mendengar pekikan istrinya. Raka yang bertanya-tanya dengan suara panik membuat atensi ketiga sahabatnya terpusat padanya.
"Mas, udah dulu ya. A–aku mau nolong Nada dulu, assalamu'alaikum." tanpa menunggu jawaban dari Raka Athifa langsung memutus sambungan telephonnya.
Athifa dan Nury menghampiri Nada lalu membantu Nada untuk berdiri.
"Jahat banget sih lo!" bentak Kayra pada Vello. Vello yang ingin menyerang Nada lagi terhenti saat suara seseorang menggelegar.
"Vello, STOP!!!"
__ADS_1
Semua atensi tertuju ke arah suara yang menggelegar itu.
Deg!
"De–Devan?!" Vello tercegat melihat Devan yang tiba-tiba ada di kelas itu juga.
"Keterlaluan lo Vel, gue gak nyangka lo sejahat itu memperlakukan Nada seperti ini!" ucap Devan dengan menatap tajam pada Vello.
"Van, i–ini tidak seperti yang lo lihat, gu–gue bisa jelasin sama lo, gu–"
"Keluar!"
"Tapi Dev–"
"Gue bilang KELUAR!!!"
Vello mengepalkan tangannya seraya menatap tajam pada Nada.
"Awas kamu Nada, ini belum berakhir. Gue balas lo nanti!" ucap Vello dalam hati. Dengan penuh amarah Vello pergi meninggalkan kelas Nada dan diikuti para cecunguknya.
Devan menatap sendu pada Nada yang tampak berantakan dalam pelukan
athifa. Ia pun mendekati Nada.
"Nada, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Devan dengan rasa khawatir.
"Nggak apa-apa gimana? Coba lihat baik-baik kondisi Nada sekarang akibat perbuatan mak lampir itu!" sahut Nury emosi.
"Lebih baik Kak Devan pergi dari sini, biarkan Nada tenang dulu!" imbuh Kayra tanpa melihat ke arah Devan.
"Tapi Kay–"
"Kak Devan, please ..." Kayra memotong ucapan Devan.
"Benar apa yang dikatakan Kayra, mending Kak Devan keluar dan untuk sementara waktu tolong jangan temuin Nada dulu!" ucap Athifa menimpali. "Demi ketenangan Nada!" imbuhnya lagi.
Devan mengangguk pasrah. Devan kembali menatap Nada, lalu dengan terpaksa Devan pergi keluar meninggalkan kelas Nada.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
Terima kasih kakak 💗
Jangan lupa dijadikan favorit ya😘
__ADS_1