
..."Di tengah-tengah sesaknya nafas yang disebabkan oleh tumpuan masalah hidupku, cintamu datang sebagai angin segar pengobat duka dan luka hati . Aku mencintaimu, Suamiku. ”...
...(Athifa Kamelia)...
………………………………………………………………………………
"RAPA CAR RENTAL." gumam Athifa membaca papan nama sebuah gedung yang lumayan besar. Hampir 20 mobil berjejer rapi di dalam.
"Mas, kamu ngajak aku kesini buat apa? Mas mau nyewa mobil disini? Emang kita mau kemana sampai pake sewa mobil segala?" tanya Athifa heran. Sedangkan Raka tersenyum mendapat pertanyaan beruntun dari istrinya.
"Kita masuk dulu yuk ke dalam." ajak Raka pada Athifa. Raka meraih lalu menarik tangan Athifa perlahan. Mau tidak mau Athifa mengikuti langkah suaminya.
Di dalam gedung itu, Athifa dibuat heran karena banyak orang-orang yang berpakaian formal menyapa ramah pada Raka dan Athifa.
"Eh, ini ruangan siapa kok malah main nyelonong gini sih? Kan gak sopan, Mas." tanya sekaligus protes Athifa.
"Ini ruanganku, Fa." jawab Raka singkat.
"Ruangan Mas?" tanya Athifa memastikan. Raka mengangguk sebagai jawabannya.
"Wah, ruangan Mas berarti Mas kerja disini dong, masya Allah suamiku hebat, punya ruangan sebagus ini, kereeen ...." ucap Athifa takjub.
"Mas disini bukan hanya kerja saja, Fa. Tapi Mas juga sebagai owner rental ini." ujar Raka membuat Athifa membelalakkan matanya.
"Masya Allah ... rental mobil ini milik Mas sendiri?" tanya Athifa tak percaya. Raka tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Ini beneran gak sih? atau aku lagi mimpi? Mas coba deh, cubit aku!" pinta Athifa sambil mengulurkan tangannya pada Raka agar mencubitnya. Bukannya mencubit tapi Raka menarik tangan Athifa agar mendekat lalu mencium lembut pipi Athifa sambil tersenyum. Athifa menjadi terkesiap dibuatnya.
"Gimana? Terasa tidak ciumanku?" goda Raka tersenyum jahil.
Athifa menyentuh pipi bekas ciuman Raka. Perlahan dia mengangguk malu-malu.
"Kalau terasa berarti tidak sedang bermimpi dong ...." ucap Raka lagi. Athifa kembali mengangguk pelan.
"Masih belum percaya?"
__ADS_1
"Percaya aja deh, aku cuma gak nyangka aja aku punya suami sesukses Mas. Tapi kok nama rentalnya RAPA? Bukan RAKA?" sahut Athifa sambil memandang wajah Raka.
"RAPA itu nama panjangku yang di singkat. Raka Aditya Putra Alvian. Awalnya tempat ini hanyalah sebuah bengkel kecil milik almarhum ayahku. Dari tahun ke tahun akhirnya akupun merubahnya menjadi rental mobil ya meskipun prosesnya tidaklah mudah, tapi Alhamdulillah dengan tekad dan berkat doa dan dukungan bunda aku bisa membuatnya ya ... seperti yang kamu lihat ini." jelas Raka membuat Athifa semakin kagum pada suaminya itu.
"Sedari kecil aku punya impian untuk sukses agar mereka tidak menghina bunda lagi, aku juga ingin membuktikan pada keluarga almarhum ayahku, bahwa atas izin Allah aku juga bisa sukses walau tanpa campur tangan dari mereka, dan sekarang Alhamdulillah aku bisa punya rental sendiri." sambung Raka.
Demi apa Athifa semakin terkagum-kagum pada sosok suaminya itu yang masa kecilnya penuh dengan liku. Suaminya yang penyayang, suaminya yang pekerja keras, suaminya yang pandai dan paham soal agama.
Dihina, dicampakkan bahkan dibuang oleh keluarga ayahnya sendiri tak membuat suaminya menyerah dan patah semangat, malah membuat semangatnya semakin berlipat-lipat untuk meraih sukses agar bisa menaikkan derajat sang ibunda tercinta. Sungguh mulia hati suaminya. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan?
Athifa berhambur kepelukan suaminya membuat Raka terkesiap namun sedetik kemudian ia tersenyum dan membalas pelukan istrinya.
"Hatimu begitu mulia, Mas. Bunda dan almarhum ayahmu pasti sangat bangga punya anak yang berbakti sepertimu. Aku pun bangga dan bersyukur mempunyai suami sepertimu, Mas." ungkap Athifa terharu dalam pelukan Raka. Raka mengecup sayang ubun-ubun Athifa yang terbalut hijab itu.
***
Week end ini, Zidan ada janji untuk menemani Kayra membeli beberapa buku masalah keagamaan. Sebenarnya Kayra yang minta ditemani Zidan ke toko buku.
Awalnya Zidan keberatan, alasannya tahu sendirilah, mana mungkin laki-laki alim seperti Zidan yang paham agama mau jalan berduaan sama seorang gadis yang tidak halal baginya. Bukan mahram katanya.
Hingga pada akhirnya Kayra mengajak kedua orang tuanya untuk ikut serta. Jadilah mereka perginya rame-rame. Niat awal beli di toko buku biasa. Namun mereka berubah pikiran. Karena perginya rame-rame mama Ridha mengusulkan beli bukunya di mall saja, sekalian belanja bulanan katanya.
"Saya pamit ke toilet dulu ya sebentar," pamit Zidan pada Kayra. Kayra mengangguk sambil tersenyum. Jadilah Kayra sendirian di sana.
Saat Kayra berjalan menuju toko buku yang ada di mall itu, tak sengaja seorang gadis menyenggolnya.
"Astaghfirullah ...." seru Kayra kaget.
"Aduh, gimana sih lo, jalan tuh pake mata, sakit tahu bahu gue!" bentak gadis itu membuat Kayra membelalakkan matanya.
"Walaah, yang nyenggol gue kan situ duluan, kenapa lo yang marah, harusnya gue dong yang marah sama situ." protes Kayra.
"Eh, malah nyalahin gue lagi. Dasar cewek sialan, kampungan." umpat gadis itu pada Kayra.
"Astaghfirullah ... jaga tuh mulut lo, lo tuh yang kampungan. Situ yang nyenggol duluan, malah nyalahin gue." gerutu Kayra.
__ADS_1
"E e eh, ada apa ini kok ribut-ribut disini? Debby sayang kamu kenapa, Sayang? Kenapa mukanya kusut begitu?" tanya seorang wanita paruh baya yang baru datang.
"Mami, bahu Debby sakit nih gara-gara cewek kampungan ini." rengek gadis yang bernama Debby itu.
"Eh, nggak kok tante, dia duluan yang nyenggol bahu saya tadi," protes Kayra.
"Tuh kan mami, dia malah nyalahin Debby, Mami ...." Sungguh demi apa Kayra malah melongo dan bergidik ngeri melihat sikap Debby yang menurutnya terlalu manja bin lebay.
"Astaghfirullah, manjanya lebay bingit." gumam Kayra pelan.
"Heh, anak sialan, kenapa kamu malah nyalahin anak kesayangan saya, jelas-jelas kamu yang salah duluan!" bentak wanita paruh baya itu yang ternyata adalah ibunya Debby.
"Ya Allah, Tante ... saya kan tadi sudah bilang kalo anak Tante ini yang nyenggol saya duluan, berarti anak Tante dong yang salah, bukan saya." jelas Kayra pada wanita paruh baya itu. Namun tetap saja wanita paruh baya itu tidak mau menerima penjelasan Kayra. Dia tetap membela putri manjanya dan menyalahkan Kayra. Hingga datanglah seorang laki-laki paruh baya menghampiri mereka.
"Anita, ada apa ini? Kenapa kalian ribut-ribut disini? malu dilihat orang banyak. Dan kenapa itu si Debby mukanya cemberut seperti itu.?"
"Ini lho Pi, anak sialan ini yang sudah bikin putri kita kesakitan di bahunya." adu Bu Anita pada suaminya.
"Ya nih Pi, sakit jadinya bahu Debby, untung saja nggak sampe lecet, coba aja kalo sampe lecet, pasti Debby akan diketawain sama temen-temen Debby, kan malu Pi" rengek Debby yang juga mengadu pada sang ayah.
Ayah Debby menoleh pada Kayra.
Deg!
"Mata itu ... mata itu kenapa seperti tidak asing, seperti aku pernah melihat bahkan memilikinya."
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
__ADS_1
Terima kasih kakak 💗
Jangan lupa dijadikan favorit ya😘