
..."Wanita itu ibarat bunga, mereka harus diperlakukan dengan lembut, baik hati, dan dengan penuh kasih sayang.”...
...(Ali bin Abi Thalib)...
………………………………………………………………………………
Hari ini Athar sudah diperbolehkan pulang oleh dokter karena memang kondisinya sudah membaik.
Senyum manis nan indah selalu menghiasi wajah teduh Athar sedari tadi, sesekali ia bersenandung kecil. Sementara Nada yang sedari tadi memperhatikannya menjadi terheran-heran dengan tingkah sang suami.
"Ehemm, Mas Athar kayaknya lagi senang ya?" tanya Nada yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya, membuat Athar reflek menoleh kearahnya.
"Hah? Oh, ya? Emang kelihatan banget ya?" tanya Athar balik pada Nada.
Nada mengangguk pelan. "Kerasa sih, banget malah ...." lirih Nada dalam hati.
Nada berpaling muka karena salah tingkah dengan wajah tampan dan teduh sang suami yang membuatnya semakin terpesona. Apalagi posisinya sedekat itu. Sungguh Nada tak sanggup menatap lama-lama wajah sang suami yang selalu menggetarkan hatinya dan membuat jantungnya selalu dan semakin berpacu. Sedangkan Athar yang mengetahui hal itu malah gemes melihatnya.
"Kamu gak mau tanya kenapa aku sesenang ini?" tanya Athar memancing Nada agar bertanya padanya.
"Emang kenapa?" tanya Nada sambil terus berpaling dari pandangan Athar.
Athar menghela nafas sambil tersenyum. " Aku semalem habis mimpi indah ..." ujar Athar. Nada menoleh pada suaminya.
"Mi–mimpi?"
"Ya, dan mimpi itu terasa nyata banget. Ya ... seperti bukan mimpi aja gitu. Soalnya kerasa banget." ujar Athar lagi membuat Nada semakin penasaran.
"E–emangnya mimpi ap–apa?" pertanyaan Nada membuat Athar tersenyum jahil.
"Aku tadi malam mimpi ..." Athar menjeda sebentar ucapannya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Nada lalu berbisik. " dicium sama kamu." Mendengar bisikan Athar sontak Nada membulatkan kedua matanya. Hatinya pun semakin berdegup sangat kencang.
"Masya Allah, mas Athar ... itu bukan mimpi mas, tapi memang nyata. Aku betul-betul habis curi cium kamu tadi malam, cuma kamunya aja yang gak menyadari ... tapi ada untungnya juga sih mas Athar menganggapnya mimpi, kalo nggak ... duh, gak kebayang deh, betapa malunya aku ini terhadap mas Athar." gumam Nada dalam hati.
Dalam hati Athar terkekeh geli melihat raut wajah Nada.
"Ternyata seasik ini ya menggoda istri sendiri." gumam Athar dalam hati.
__ADS_1
Setelah itu Athar mengajak Nada untuk pulang. Ia ingin mengantar Nada ke kostannya terlebih dahulu.
***
Nada terkejut setelah sampai di depan kost–nya, begitu juga dengan Athar. Bagaimana tidak terkejut melihat semua barang-barang pribadi miliknya berserakan di luar kamar kostannya.
"Astaghfirullahal adzim ... Mas, ke–kenapa barang-barangku ada diluar semua?" tanya Nada pada Athar.
"Mas juga gak tahu, Nada." jawab Athar yang memang juga tidak tahu.
Mereka terdiam beberapa saat hingga seorang wanita paruh baya gembul dengan penampilannya yang menor dan gayanya yang super glamour melangkah melewati keduanya. Tapi langkahnya terhenti saat Nada memanggilnya.
"Bu Mayang!"
Wanita paruh baya yang ternyata bernama Mayang itu pun menoleh serta membalikkan badannya. Belum sempat Nada bicara Bu Mayang berkata lebih dulu.
"Kamu pasti mau nanya kenapa barang-barang milik kamu ada di luar? Dan kamu pasti mau bertanya siap yang melakukannya?" ucap Bu Mayang yang membuat Nada hanya terdiam.
"Yang pasti anak buahku lah yang melakukannya dan semua atas perintahku, you know?" pernyataan Bu Mayang membuat Nada dan Athar saling pandang karena heran dan tidak mengerti.
"Tapi kenapa, Bu? Bukankah saya selalu membayar uang kontrakan tepat waktu tiap bulannya? Bahkan kadang saya membayar double buat bulan berikutnya?" tanya Nada heran.
"Halah sudahlah, intinya saya gak mau dan gak sudi rumah kost saya dihuni oleh perempuan murahan dan gak bener seperti kamu, ntar malah saya yang ketiban sial lagi!" ucap Bu Mayang sambil menunjuk-nunjuk Nada.
Deg.
"Astaghfirullahal adzim ...."
"Astaghfirullahal adzim ...."
Nada dan Athar mengucap kalimat istighfar hampir berbarengan. Mereka berdua sama-sama terkejut mendengar ucapan Bu Mayang.
"Bu Mayang, apa maksud ucapan Ibu tadi? Kenapa Bu Mayang bi–"
"Udah-udah, kamu gak usah banyak bicara lagi, mendingan kamu cepet-cepet pergi deh dari sini, nih bawa semua barang-barang kamu sekalian, jangan sampai ada yang ketinggalan!" usir Bu Mayang pada Nada sambil menendang-nendang barang-barang Nada. Terakhir mendorong Nada hingga tubuh Nada terhuyung ke belakang. Untung saja dengan sigap Athar menangkap tubuh sang istri sehingga tak jadi jatuh.
"Kamu nggak papa?" tanya Athar lembut sambil membantu Nada supaya tegak kembali.
__ADS_1
"Aku nggak papa kok, Mas." jawab Nada sambil tersenyum.
"Segera pergi dari sini dan ingat, JANGAN SAMPAI ADA YANG TERTINGGAL!" ucap Bu Mayang penuh penekanan. setelah itu ia pergi meninggalkan Nada dan Athar berdua.
"Ya udah yuk, kita pergi aja dari sini!" ajak Athar pada Nada sambil meraih tas ransel yang berisi pakaian Nada dan juga sebuah kardus agak besar yang isinya seperti barang-barang Nada yang lainnya. Nada hanya mengangguk pasrah dan mulai mengikuti langkah Athar yang tengah membawa barang-barangnya menuju mobilnya.
Ya, semenjak Athar menikah Ummi Khaira menyuruhnya untuk membawa mobilnya sendiri yang selama ini ia tinggalkan di Surabaya agar ketika jalan bersama istrinya tidak perlu lagi naik angkutan umum ataupun taksi.
Athar meletakkan semua barang milik Nada di jok belakang. Untungnya barang-barang milik Nada tidaklah banyak sehingga Athar tidak terlalu kerepotan membawanya.
Athar membukakan pintu untuk untuk Nada. Hal itu membuat Nada senang dan terharu diperlakukan semanis itu oleh suaminya sendiri.
Kini keduanya sudah berada dalam mobil, barulah Athar menjalankan mobilnya meninggalkan tempat kostannya Nada.
Dalam perjalanan keduanya larut dalam keheningan, hanyut dalam pikiran masing-masing.
Athar yang tak tahu harus bicara apa terhadap Nada pun memilih fokus untuk mengemudi saja. Sementara Nada sedang berpikir dimana ia akan tinggal setelah ini? Rasanya tidak mungkin ia tinggal di kontrakan Athar karena kontrakan Athar adalah tempat khusus laki-laki. Pasti terdapat banyak laki-laki di sana dan itu membuat Nada tidak nyaman sehingga membuatnya tidak akan betah tinggal di sana.
Mendapati istrinya yang sepertinya sedang dalam pikiran, Athar pun memberanikan bicara.
"Kamu sedang mikirin apa?"
Namun tidak ada respond sama sekali dari Nada. Athar kembali bersuara lagi bahkan berkali-kali tapi tetap saja Nada tak kunjung merespond.
Karena Nada yang tak kunjung merespond, Athar pun menepuk-nepuk bahu kanan Nada, sehingga Nada tersadar dari lamunannya.
"Eh, ya Mas, kenapa?" tanya Nada seperti orang yang gelagapan. Athar pun tersenyum teduh.
"Nggak, aku tadi cuma nanya kamu lagi mikirin apa? Dan dari tadi aku manggil-manggil kamu, tapi kamu gak ngejawab sama sekali. Sepertinya kamu lagi mikirin sesuatu yang sulit ... boleh aku tahu?" terang Athar sekaligus bertanya.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang . Minta like n sarannya ya...
__ADS_1
Salam sayang dari author.
Terima kasih kakak 💗