
..."Kepergianmu membuatku mengerti bahwa rindu paling menyakitkan adalah merindukan seseorang yang telah tiada. Namun, kepergianmu pun mengajarkan bahwa Tuhan selalu ada untuk mendengarkan segala doa dan harapan"....
...(Athifa Kamelia)...
………………………………………………………………………………
Kini kedua mempelai itu sungkeman dengan Ayah Irfan dan Bunda Rahma.
Saat keduanya melakukan sungkeman terhadap Bunda Rahma, tiba-tiba Pak Irfan merasakan sesak di dadanya. Sedetik kemudian Pak Irfan ambruk membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut.
"AYAH!!!" jerit Athifa lalu segera menghampiri ayahnya dan diikuti oleh Raka.
"Astaghfirullahal 'adzim, Ayah Irfan ...." Teriak Nada, Nury dan Kayra serempak.
"Ya Allah, Pak Irfan!" seru Bunda Rahma
"A—A—thi—fa ... ma—af—kan ... A—yah, N— Nak." suara Pak Irfan tersendat-sendat. Athifa menggeleng sambil menangis tersedu-sedu. Tangannya menggenggam erat tangan sang ayah.
"Nak Ra—ka— ti—tip— put—tri —Ayah ya, Nak ..." suara yang semakin melemah membuat Pak Irfan lunglai dan tak sadarkan diri. Athifa semakin menjerit memanggil nama sang ayah.
Raka membantu para Dokter dan Suster untuk mengangkat tubuh sang ayah mertua ke atas brangkar. Dokter mengintrupsi agar semua orang keluar termasuk Athifa karena pasien akan segera ditangani.
Tak henti-hentinya Athifa menangis tersedu dalam dekapan Bunda Rahma. Rasa takut dan khawatir memenuhi hati dan pikirannya akan kondisi sang ayah.
Nada, Nury dan Kayra ikut-ikutan menangis. Sedangkan Athar, Fadhil dan Zidan menemani Raka yang juga diliputi kecemasan. Cemas akan kondisi sang ayah mertua dan juga sang istri.
Ceklek ....
Terdengar suara pintu terbuka dan muncullah Dokter yang menangani Pak Irfan. Semua beranjak dari duduknya lalu menghampiri Dokter tersebut.
"Gimana keadaan ayah saya, Dok?" tanya Athifa lemah.
Sang Dokter menghela nafas dan menghembusnya perlahan lalu menggelengkan kepalanya.
"Kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi mohon maaf, pasien tidak bisa kami selamatkan." ucapan sang Dokter membuat semuanya terkejut. Apalagi Athifa yang lebih shock lagi.
"Innalillahi wainna ilaihi roji'un ...." ucap semuanya. .
"Nggak, itu nggak mungkin, dokter pasti bercanda, kan. Ayah saya pasti lagi istirahat di dalam. Ya kan, Dok?" ucap Athifa tersenyum miris sambil geleng-geleng kepalanya seolah tidak menerima kenyataan.
"Athifa, istighfar Athifa, sekarang Ayah Irfan sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi, ingat sama Allah ya, Fa ...." suara lembut Nada terdengar parau. Sebenarnya ia juga tak kuasa dan tidak tega melihat kondisi sahabatnya, namun ia berusaha tegar agar bisa menguatkan Athifa.
Sekilas sepasang mata memperhatikan gerak gerik Nada setelah mendengar ucapan lembut penuh nasehat untuk sang sahabat. Seulas senyum tipis menghiasi wajah teduhnya. Kagum? Mungkin.
__ADS_1
Namun segala apa yang dikatakan oleh Nada tak dihiraukan. Saking shocknya tiba-tiba tubuh Athifa merosot tak sadarkan diri. Untung saja Raka langsung menangkap tubuh Athifa sehingga tidak sampai jatuh ke lantai.
"Ya Allah, Athifa ...." lirih Nada.
"ATHIFA!" pekik Nury dan Kayra.
l
"Athifa, bangun Athifa!" seru Raka berusaha membangunkan Athifa.
"Raka, cepat angkat Athifa!" perintah Bunda Rahma yang dijawab anggukan oleh Raka.
Raka mengangkat tubuh istrinya lalu membawanya ke sebuah ruangan setelah memanggil seorang dokter.
***
Di hadapan gundukan tanah Athifa termangu. Tatapannya kosong kedepan dengan mata yang sembab. Tak ada air mata lagi yang ia teteskan.
Semua orang sudah berangsur pulang. Kini tinggal Athifa ditemani oleh Raka di sebelahnya. Di belakang mereka ada para sahabat mereka termasuk Sahabat Fillah.
"Athifa, sebaiknya kita segera pulang, langit sudah hampir gelap." tutur Raka memecahkan kesunyian.
"Saya masih mau di sini. Saya masih ingin menemani Ayah. Ayah sendirian ...." lirih Athifa yang masih menatap kosong pada gundukan tanah di hadapannya itu.
"Tapi—"
"Mana mungkin saya pulang sementara istri saya disini sendirian? Saya akan disini juga nungguin kamu..." lirih Raka yang masih dapat didengar oleh Athifa.
Athifa terhenyak kala mendengar kata "istri" dari suaminya. Ia baru sadar akan status barunya sebagai seorang istri.
Lama berdiam namun Athifa tetap tak bergeming. Raka ingin sekali lagi mengajak Athifa untuk pulang tapi ia takut Athifa menyuruhnya untuk pulang duluan.
"Emmm, Ustadz ... biar kami saja yang membujuk Athifa. Silahkan Ustadz menunggu di mobil Kayra dulu." usul Nada menawarkan.
Raka menoleh pada Nada lalu mengangguk.
"Ini Ustadz kunci mobilnya." Kayra menyerahkan kunci mobilnya pada Raka. Setelah menerima kunci mobil dari Kayra, Raka mengajak para Sahabat Fillah untuk pergi dari area pemakaman menuju dimana mobil Kayra berada.
"Fa, aku ngerti saat ini kamu sangat sedih ditinggal pergi Ayah, tapi kamu sadar nggak kalau dengan kamu yang seperti ini akan menghambat perjalanan Ayah di alam sana." ujar Nada perlahan sambil ikut menatap gundukan tanah di hadapannya.
Athifa tertegun mendengar ucapan Nada. Ia menoleh ke samping dimana Nada berada.
"Ikhlaskan Ayah Irfan agar beliau bisa tenang di sisi Allah .... ucapnya lagi. Nada terus menasehati dan memberi semangat pada sahabatnya itu serta membujuknya agar mau pulang bersamanya. Akhirnya Athifa mau ikut pulang bersama mereka setelah segala macam bujukan mereka bertiga lakukan.
__ADS_1
***
"Terimakasih ya, kalian sudah mau membujuk dan menemani Athifa hingga istirahat," ucap tulus dari Bunda Rahma kepada Nada, Kayra dan Nury. Mereka mengangguk dan tersenyum.
"Ya tante. Gak usah berterimakasih pada kami karena Athifa memang sahabat yang kami sayangi." ujar Kayra mewakili kedua sahabatnya.
"Tante, kami titip Athifa ya, kalau ada apa-apa dengannya tolong segera hubungi kami ya tante," sahut Nury menimpali.
"Tentu dong, sekarang kan Athifa juga anak tante jadi kalian jangan khawatir ya ...." ujar Bunda Rahma lagi.
"Ya udah tante, kami pamit dulu ya, takutnya kami telat pulang." Nada berpamitan.
"Kenapa kalian gak nginap saja di sini? Sepertinya masih ada satu kamar lagi deh buat kalian, Athifa pasti senang dan terhibur bila kalian di sini ...." tawar Bunda Rahma.
"Gak usah tante, biar kami pulang saja soalnya besok juga kami ada kelas pagi. Lagi pula sekarang kan Athifa sudah punya suami, jadi biar suaminya saja yang menemani dan menghiburnya." jawab Nada dengan suara lembutnya. Bunda Rahma tersenyum dan mengangguk mengerti.
Setelah mengucap salam mereka bertiga beranjak dari duduknya, melangkah keluar dan berlalu dari rumah kediaman almarhum Pak Irfan. Disusul juga para Sahabat Fillah yang juga ikut pamit setelahnya.
Bunda Rahma telah masuk ke dalam kamar. Raka juga masuk ke dalam kamar Athifa.
Ceklek ...
Raka masuk kedalam kamar sang istri lalu menutupnya lagi. Di lihatnya Athifa yang sedang meringkuk di atas tempat tidur sambil memeluk sebuah figura. Raka melangkah mendekati Athifa lalu secara perlahan mengambil figura itu. Dilihatnya foto sepasang suami istri yang tak lain adalah almarhum ayah dan ibu mertuanya yang sedang tersenyum sambil berpelukan.
Raka meletakkan figura itu di atas nakas samping tempat tidur. Raka membuka jilbab Athifa agar tidurnya terasa nyaman. Ia membukanya secara perlahan sekali karena takut mengganggu tidur sang istri.
Raka memperhatikan wajah cantik Athifa yang sendu lekat. Matanya yang lentik terlihat bengkak dan sembab.
"Istriku ... semoga Allah memberimu kekuatan serta ketabahan agar bisa melewati duka ini segera ...." lirih Raka dalam hati.
Setelah merapikan selimut sang Istri, Raka mencium kening Athifa lalu membaringkan badannya di samping Athifa.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
__ADS_1
Terima kasih kakak 💗
Jangan lupa jadikan favorit kakak😘