
..."Berikan perhatian dan bersikap baiklah kepada istrimu. Dia adalah bunga yang lembut, bukan budak rumah tanggamu."...
...(Ali bin Abi Thalib)...
………………………………………………………………………………
Kafe Safil...
Athar duduk gelisah menanti kedatangan istrinya yang tak kunjung tiba. Sesekali ia melirik ke arah pintu kafe. Rasa gelisah itu ia rasakan saat Raka sang sahabat menyebut-nyebut nama istrinya saat sedang menelpon Athifa dengan raut wajah yang panik.
Mendengar kabar buruk tentang istrinya Athar gelagapan. Ia mencoba menghubungi sang istri, tersambung namun tak diangkat. Pesan WhatsApp–nya pun tak kunjung ada jawaban. Akhirnya ia putuskan untuk menunggunya di kafe yang sesuai ia janjian tadi dengan istrinya, Nada.
Barulah ia lega saat sosok istri yang sedari tadi ia tunggu kini memasuki kafe. Athar melambai-lambaikan tangan ke arah Nada saat Nada celingukan mencari keberadaannya.
Nada menghampiri Athar sambil menundukkan kepalanya hingga ia tiba di hadapan suaminya.
"Assalamu'alaikum, Ustadz." sapa Nada pada suaminya dengan salam lalu mencium punggung tangan Athar sebagai rasa bakti dan hormatnya pada sang suami.
"Wa'alaikum salam." jawab salam Athar sambil memperhatikan gelagat Nada.
Bahkan hingga duduk pun Nada tetap menundukkan kepalanya. Ia mencoba menghindari tatapan Athar. Ia tidak mau Athar melihat keadaan wajahnya yang berantakan.
"Ma–maaf Ustadz, s–saya telat." lirih Nada tapi masih didengar oleh Athar. Athar membuang nafas pelan.
"Ada yang mau kamu ceritakan?" tanya Athar yang membuat Nada memejamkan mata. Nada cepat-cepat menggeleng dengan posisi yang sama. Menundukkan kepala.
"Beneran?"
Nada mengangguk cepat.
"Nggak bohong?"
Dengan ragu Nada menggeleng.
"Dosa lho kalo bohong, apalagi bohong sama suami sendiri." ucapan Athar kali ini membuat Nada gelagapan. Ia tak tahu harus bilang apa pada Athar.
"Nada ...." Dengan sabar Athar menunggu Nada bicara.
"Saya ... saya ... emmh, maaf." ucap Nada gugup.
"Kamu kenapa? Coba sekarang lihat aku!" pinta Athar.
__ADS_1
Nada menghembuskan nafas lalu secara perlahan Nada sedikit mendongakkan kepalanya dan hanya melirik pada Athar.
Athar mengernyitkan keningnya seraya menatap intens pada bagian pipi kanan istrinya. Athar menyentuh dan menarik dagu Nada sehingga terlihat jelas memar bekas tamparan disana.
"Astaghfirullahal 'adzim, wajah kamu kenapa ini? Siapa yang melakukan ini sama kamu, Nada?" pertanyaan yang diselingi rasa khawatir membuat mata Nada memanas dan berkaca-kaca.
"Ya udah, ayo ikut aku!" ajak Athar seraya berdiri lalu menarik lembut tangan Nada.
Mau tak mau Nada mengikuti langkah suaminya meski ia tak mengerti mau kemana suaminya itu.
"Mas Tio, saya minta air baskom dan handuk kecil bersih, trus tolong bawakan keruangan Safil ya!" pinta Athar pada seorang laki-laki yang umurnya lebih tua dua tahun dari Athar. Dilihat dari baju seragamnya mungkin dia adalah salah satu karyawan kafe ini.
"Siap Mas Ustadz!" ucap lelaki yang bernama Tio itu yang kini mulai menjauh menuju dapur.
Sementara Nada bingung dengan keakraban Athar dengan karyawan kafe itu. Ah mungkin suaminya langganan di kafe ini sehingga banyak yang mengenalinya. Batinnya.
Nada semakin bingung saat Athar membawanya ke sebuah ruangan hingga ia duduk di sofa. Mereka duduk berdampingan.
"Sebentar ya, kita tunggu mas Tio dulu!" ucap Athar dengan suara yang lembut Nada hanya mengangguk pelan.
Tak lama dari itu Tio datang dengan membawa apa yang telah di pesan oleh Athar. Tio segera kembali setelah Athar mengucapkan terimakasih.
Dengan pelan-pelan Athar mengompres memar di wajah Nada dengan handuk kecil yang sebelumnya telah ia celupkan ke air dalam baskom. Sesekali Nada meringis saat Athar mengompres pipinya.
Pertanyaan Athar membuat mata Nada kembali memanas dan mulai berkaca-kaca. Sedetik kemudian suara isak terdengar dari Nada hingga air mata menetes di wajahnya.
Reflek Athar meraih tubuh Nada ke dalam dekapannya, hingga tangis Nada pecah dalam dekapan suaminya yang penuh kasih sayang.
Dalam dekapan sang suami Nada menumpahkan tangisnya, ia juga menceritakan semuanya yang terjadi di kampus tadi tanpa ada yang ditutup-tutupi dari Athar.
Athar mencoba menenangkan Nada. Ia mengelus-elus bahu Nada. Hati Athar ikut sedih mendengar isak tangis istrinya dan juga cerita dari istrinya. Apakah selama ini istrinya itu sering mendapat bully–an dari teman-temannya di kampus? Sebagai seorang suami Athar merasa bersalah karena ia tak bisa menjaga istrinya
Setelah isak tangis Nada sedikit mereda dan sudah tenang, Athar melepas dekapannya lalu menghapus air mata istrinya.
"Jadi ... awal masalahnya gara-gara laki-laki ya?" tanya Athar yang sebenarnya berniat untuk menggoda Nada. Tapi Nada yang tidak peka dengan godaan Athar malah gelagapan dan risau.
"Ya, ta–tapi saya nggak ada apa-apa kok sama kak Devan." jawab Nada gugup.
"Oh ya?" Athar kembali menggoda Nada seolah ia tak percaya.
"Ya, Ustadz, beneran. Sumpah demi Allah demi Rosulullah saya sama sekali tidak ada hubungan apa-apa sama kak Devan. Lagian kami beda jurusan, beda fakultas dan bahkan beda angkatan. Dia itu sebenarnya dua angkatan di atas saya, tapi saya gak tahu kenapa dia gak lulus-lulus." Tanpa sadar Nada malah nyerocos menjelaskannya pada suaminya, membuat Athar bengong. Ia baru tahu sisi lain dari istrinya. Tapi ia tersenyum senang karena Nada kini kembali ceria.
__ADS_1
"Gak lulus-lulus? Mahasiswa abadi dong? Tapi sedetail itukah kamu tahu tentang laki-laki itu?" Entah kenapa Athar malah jadi ketagihan menggoda istrinya.
"Ya Allah, Ustadz percaya lah pada saya. Saya sudah bersumpah tadi." ucap Nada memelas.
"Ok, aku bakal percaya sama kamu tapi dengan satu syarat." Athar mulai tidak tega melihat rona wajah istrinya.
"Apa?"
"Mulai saat ini kamu jangan panggil aku ustadz!" pinta Athar membuat mata Nada membola.
"Tapi kan gak enak Ustadz, gak sopan kesannya." protes Nada.
"Kok gak sopan sih ... Nada, aku ini suami kamu bukan guru kamu, jadi gak usah formal."
"Terus, saya ... eh aku harus panggil apa sama Ustadz?" tanya Nada bingung.
"Ya, terserah kamu aja mau panggil aku apa, asal jangan ustadz, ok ...."
Nada mengangguk pasrah.
"Ya, Ust– eh M–Mas Athar." ucap Nada ragu-ragu. Athar tersenyum mendengar panggilan baru untuknya dari istrinya.
"Oh, ya ini sebenarnya kafe siapa? Kafe temannya Mas Athar ya?" tanya Nada penasaran.
"Kafe Safil itu kepanjangan dari Sahabat Fillah, jadi ini milik kami berempat. Kafe ini dibangun dan diresmikan satu tahun sebelum kami ditugaskan di kota ini. Dulu kita patungan untuk membangun kafe ini." jelas Athar sambil tersenyum mengingat awal-awal rencana pembuatan kafe Safil.
"Tapi kenapa dibangun disini? Kenapa tidak di kota asal kalian?" tanya Nada lagi.
"Itu idenya Raka. Karena tanah yang dibangun kafe ini adalah milik almarhum ayahnya Raka. Jadi daripada repot-repot mencari tempat lain yang bakal menghabiskan modal lebih banyak lagi, ya udah, dia berinisiatif untuk memanfaatkan tanah atau tempat yang ada saja." tambah Athar menjelaskan. Nada mengangguk-angguk dan ber'oh ria tanda mengerti.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
Terima kasih kakak 💗
__ADS_1
Jangan lupa dijadikan favorit ya😘