JOMBLO FII SABILILLAH

JOMBLO FII SABILILLAH
25. KEINGINAN AYAH IRFAN


__ADS_3

..."Ada saatnya kamu memperjuangkan dan diperjuangkan oleh seseorang. Bersabarlah dan fokuslah untuk memantaskan dirimu. Yakinlah Allah akan hadirkan dan tunjukkan penyempurna agamamu di saat yang tepat."...


...(Islamic Pearl)...


………………………………………………………………………………


Sementara di tempat lain, tiga orang gadis tertawa bahagia atas gagalnya pernikahan Kevin dengan Athifa. Mereka yang tak lain adalah Winda, Sintia dan Fera.


"Cheers ...."


Mereka bertiga bersulang ria dengan minuman yang ada di tangan mereka masing-masing. Lalu tertawa bersama.


"Gue gak nyangka rencana kita akan selancar ini," ucap Winda dengan senyum sumringah.


"Ya, gue juga gak nyangka lho, Win," sahut Fera.


"Padahal gue udah deg-degan lho takut ketahuan sama pacar gue, hampir aja gue keceplosan!" Sintia menimpali.


"Kudu dirayain ini Win," usul Fera.


"Betul itu," Sintia sambut usulan Fera.


"Okay ... Malam ini kita berpesta dan gue yang teraktir ...." putus Winda.


"Yes!" seru Fera dan Sintia kompak.


"Di tempat biasa kan, Win?" tanya Fera.


"Pastinya dong beb ...." Winda menyanggupi apa yang tengah menjadi keinginan Fera dan Sintia. Rupanya mood-nya kali ini benar-benar baik hanya karena Kevin tidak jadi nikah.


"Akhirnya, sebentar lagi Kevin akan kembali lagi ke pelukan gue. Setelah ini gue harus cari cara agar Kevin mau balikan sama gue, setelah itu gue juga bakal rayu Kevin agar mau menikah dengan gue," Gumam Winda dalam hati yang penuh intrik.


***


Di rumah sakit ...


Athifa terlihat mondar mandir di depan pintu ruang ICU dengan hati yang gelisah. Nada, Nury dan Kayra terlihat sesekali mengusap air mata menatap keadaan Athifa yang berantakan.


"Athifa, sayang ... duduk sini nak dekat Bunda." Bunda Rahma akhirnya menyuruh Athifa agar duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Ya Fa, dari tadi lo mondar mandir gak jelas gitu, masa lo gak capek sih ..." Nury berusaha menghibur Athifa meskipun itu tak mengurangi rasa kekhawatiran hatinya.


Nada menuntun Athifa supaya duduk di samping Bunda Rahma. Mau tidak mau Athifa menurut duduk di samping Bunda Rahma.


Bunda Rahma memeluk Athifa dan mengusap-usap kepala yang terbungkus hijab itu.


"Tenang ya sayang, ayah kamu pasti akan baik-baik saja. Serahkan semuanya sama Allah ya nak ...." Nasehat Bunda Rahma ingin menenangkan hati Athifa.


Athifa hanya menganggu dan menangis dalam pelukan Bunda Rahma.


"Ya Allah, beginikah rasanya dipeluk oleh seorang ibu di kala kita sedang bersedih? Rasanya sangat nyaman dan tenang." Lirih Athifa dalam hati sambil mengeratkan pelukannya pada wanita yang baru ia kenal. Setelah sekian lama Athifa tidak pernah lagi merasakan pelukan seorang ibu semenjak ibunya meninggal, kini ia rasakan kembali walau bukan ibu kandungnya.


Ceklek ...


Terdengar suara pintu ICU yg dibuka oleh seseorang. Mereka semua bangkit menghampiri Dokter. Termasuk Raka yang sedari tadi duduk terdiam


"Gimana keadaan ayah saya dok?" tanya Athifa yang sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui kondisi ayahnya.


"Mohon maaf, siapa di sini yang namanya Raka?" Bukannya menjawab, si dokter balik bertanya.


"Saya, Dok." ujar Raka.


"Saudara Raka, pasien ingi bertemu dengan anda." ujar Dokter.


Raka mengangguk pada Pak Dokter kemudian masuk ke ruangan dimana ada Pak Irfan di dalamnya. Tentu saja setelah memakai baju steril.


"Dokter, boleh saya juga masuk Dok?" ucap Athifa saat Dokter itu ingin melangkah.


"Mohon maaf, mbak. hanya satu orang yang boleh masuk." jelas Pak Dokter.


"Tapi saya anaknya, Dok. Saya juga ingin tahu keadaan ayah saya, saya mohon Dokter ...." Athifa memaksa.


"Dokter, izinkan saja nak Athifa masuk Dok," Bunda Rahma ikut memaksa Dokter.


Pak Dokter sejenak berpikir, lalu mengangguk.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya, sebab untuk saat ini kondisi pasien jauh dari kata baik." Akhirnya Pak Dokter mengizinkan Athifa masuk ke dalam. Athifa mengangguk antusias.


Setelah pamit pada Nada, Nury, Kayra dan Bunda Rahma, Athifa masuk ke dalam ruangan ICU setelah memakai baju steril.

__ADS_1


"Ayah ...." sapa Athifa pada Pak Irfan yang terlihat berbaring lemah di atas brangkar setelah berada dalam ruangan dengan baju steril. Raka menoleh ke arah Athifa. Raka menggeser tubuhnya ke sebelah kanan Pak Irfan, memberi ruang untuk Athifa supaya dekat dengan Pak Irfan.


"Ayah ..." ucap Athifa setelah berhambur ke pelukan Pak Irfan yang tengah berbaring lemah. Pak Irfan tersenyum lalu mengelus kepala Athifa yang terbalut jilbab.


"Ayah akan baik-baik saja, kan? Ayah tidak akan pergi ninggalin Athifa, kan Yah?" Pokoknya Ayah harus sembuh, Athifa mohon Yah ...." cerca Athifa sambil menggenggam tangan Pak Irfan dan menatap wajah pucat sang ayah.


"Fa, Ayah minta maaf ya nak, karena Ayah kamu jadi mengalami hal yang buruk seperti hari ini, kalau saja Ayah tahu akan begini jadinya, Ayah tidak akan mau memaksa kamu untuk menerima perjodohan itu. Ayah tidak akan menikahkan kamu dengan Kevin" suara Pak Irfan terdengar lemah dan terbata-bata.


"Tidak Ayah, Ayah tidak salah. Athifa tahu niat Ayah melakukan ini semua. Ayah hanya ingin ngasih yang terbaik buat Athifa, ya kan Yah ..." ucapan Athifa membuat Pak Irfan tersenyum. Pak Irfan menggenggam tangan Athifa lalu menoleh pada Raka yang ada di sebelah kanannya.


"Nak Raka ...." Pak Irfan juga menggenggam tangan Raka.


"Ya Paman," sahut Raka sambil tersenyum pada Pak Irfan.


"Nak Raka mau kan memenuhi keinginan Ayah untuk menjaga Putri Ayah ini," Pinta Pak Irfan penuh harap pada Raka.


"Maksud Ayah apa?" tanya Athifa yang memang tidak mengerti pada ucapan ayahnya.


"Nak, waktu Ayah semakin dekat, jadi Ayah tadi meminta Nak Raka untuk menjaga kamu dengan cara menikahi kamu, Nak. Kamu mau kan menikah dengan Nak Raka?" ujar Pak Irfan pada Athifa.


"Ayah jangan bilang seperti itu, Ayah pasti sembuh kok, terus Ayah pasti bisa lagi untuk menjaga Athifa. Ya kan, Yah ...."Athifa tidak sanggup mendengar ucapan ayahnya yang seolah akan pergi meninggalkannya.


"Athifa, Ayah mohon Nak, mau ya menikah dengan Nak Raka. Waktu Ayah sudah tidak banyak lagi, tolong penuhi keinginan Ayah yang terakhir kalinya ini, agar Ayah bisa tenang nanti saat menghadap Allah karena sudah ada pengganti Ayah untuk menjaga kamu, Nak ..." Pinta Pak Irfan penuh harap membuat Athifa tidak bisa menolak lagi keinginan ayahnya sehingga ia menganggukkan kepala sebagai tanda ia bisa memenuhi keinginan sang ayah. Pak Irfan bernafas lega dan tersenyum melihatnya.


"Bagaimana Nak Raka? Apa Nak Raka siap menikahi Athifa saat ini juga dan di tempat ini?" tanya Pak Irfan pada Raka


"Jika Athifa sudah setuju, baiklah Paman, saya bersedia untuk menikahi Athifa." jawab Raka mantap dan penuh keikhlasan. Sejenak ia melirik pada Athifa yang sedang termangu dalam tangis.


"Raka keluar dulu ya Paman, mau menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan." ucap Raka lagi lalu melangkahkan kakinya keluar setelah Pak Irfan menganggukkan kepala.


To be continue


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamu'alaikum...


Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...


Salam sayang dari author.

__ADS_1


Terima kasih kakak 💗


Jangan lupa jadikan favorit kakak😘


__ADS_2