
..."Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi."...
...(Q.S Al-Qashas: 77)...
………………………………………………………………………………
Nada duduk diatas sofa ruang keluarga. Ia sudah cukup kelelahan setelah melihat-lihat segala ruangan yang ada di dalam rumah barunya.
"Capek ya?" tanya Athar yang kini juga duduk di samping Nada. Nada mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Ya udah istirahat gih di kamar, biar capeknya hilang!" Nada mengangguk patuh.
Nada beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya begitu saja tanpa berkata apapun lagi. Melihat Nada yang melangkahkan kakinya Athar mengernyitkan keningnya lalu tersenyum.
"Nada, mau kemana?" pertanyaan Athar membuat Nada menghentikan langkahnya serta menoleh ke arah Athar.
"Ke kamar lah, katanya tadi disuruh istirahat di kamar." ujar Nada polos.
"Oh ya? Emang sudah tahu dimana letak kamar kita?" tanya Athar dengan senyuman mencibir. Menyadari hal itu Nada tersenyum kikuk lalu menggeleng.
"Emmm, emangnya dimana kamarnya?" tanya Nada pelan.
"Kamar kita itu di atas, di lantai dua. Sudah, ayo aku antar saja!" ucap Athar sambil lalu menaiki tangga dan diikuti oleh Nada dari belakang. Sampai depan pintu kamar Athar menghentikan langkahnya.
"Ini kamar kita, kamu masuk duluan aja ya, Mas masih mau ambil sisa barang kamu dulu di mobil." ucap Athar yang diangguki oleh Nada.
Setelah Athar pergi, dengan bacaan lafadz basmalah Nada mulai membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya.
"Masya Allah, indah banget kamarnya! Simple dan unik lagi!" seru Nada yang sangat takjub dengan seisi kamarnya.
Sebuah kamar sederhana bernuansa pastel. Meskipun terlihat sederhana namun ada kesan elegan, indah dan nyaman. Sebagian lantainya juga dilapisi karpet berbulu warna putih.
__ADS_1
Ada bagian dinding kamar yang berbahan kaca yang juga berfungsi sebagai pintu sehingga bisa dijadikan jendela sekaligus pintu yang mengarah ke arah balkon dengan pepohonan yang rimbun.
Nada suka dengan interior serta dekorasi kamarnya yang simple, tata ruangnya dan juga desain furniture–nya. Ah, si Nada tidak tahu saja kalau semua furniture yang ada di kamar tersebut adalah hasil karya sang suami sendiri yang dibantu oleh sebagian pekerja di rumah mebelnya.
Ya jelas tidak tahu lah, Nada saja tidak tahu kalau suaminya punya rumah mebel. Apalagi rumah mebel Athar dekat dengan toko roti miliknya. Lebih tepatnya di pojok sebrang dari toko roti miliknya. Ah bukan tidak, tapi masih belum.
Nada duduk di tepi ranjang yang empuk itu. Hem, sepertinya Nada merasa tergoda ingin merasakan berbaring disana sehingga ia pun berbaring di kasur yang empuk itu. Karena memang tubuhnya yang lelah dan matanya yang juga sudah mulai mengantuk akhirnya Nada pun tertidur di atas kasur itu.
Athar yang baru masuk kamar menghentikan langkahnya kala melihat Nada tertidur pulas diatas pembaringannya.
"Oalah, sudah tidur toh rupanya." gumam Athar sembari meletakkan kardus yang ia bawa di pojok kamar.
Athar menghampiri Nada yang sudah tertidur. Ia duduk di sisi ranjang yang kosong. Sambil tersenyum, dipandanginya wajah pulas istrinya yang masih tampak mempesona.
"Hemm saking capeknya kali ya, langsung tidur gitu aja tanpa bersih-bersih terlebih dulu dan tanpa lepas jilbabnya dulu. Mana posisinya tidak tepat lagi." ucap Athar sambil geleng-geleng kepala.
Athar membuka hijab Nada dengan pelan dan hati-hati. Ia tidak mau Nada terbangun karena terganggu olehnya. Setelah itu Athar juga membetulkan posisi tidur Nada agar tidur istrinya itu terasa nyaman dan tenang.
"Semoga tidurmu nyaman, istriku." bisik Athar sambil membelai rambut hitam sang istri.
"Sepertinya aku juga ngantuk deh. Mending tidur juga nyusul Nada." ucap Athar seraya merebahkan tubuhnya di samping Nada.
Athar tertegun saat tubuh Nada bergerak dan memeluknya secara tiba-tiba. Nada mendusel-duselkan kepalanya pada dada bidang Athar seolah mencari posisi ternyaman.
Athar tersenyum bahagia. Ia pun membalas pelukan Nada. Membawa tubuh Nada kedalam dekapannya. Dibelainya wajah sang istri lalu mengecup lama kening Nada. Perlahan ia pejamkan matanya, tertidur menyusul sang istri menuju alam mimpi.
***
Tiga hari setelah kepulangannya dari rumah sakit, Athar dan Nada mengadakan tasyakkuran kecil-kecilan di rumah baru mereka dengan mengundang para sahabat mereka masing-masing dan ditambah lagi semua anak-anak yatim piatu dari panti Raudhah al Jannah. Tak lupa juga dengan Ummi Hanum dan beberapa pengurus panti lainnya.
"Masya Allah, rumah kamu bagus banget ya, Nad. Interiornya juga bagus. By the way ... ini furniture–nya kamu pesan atau beli dimana?" ucap Athifa takjub yang diiringi dengan kalimat tanya ketika acara sudah selesai dan beberapa orang telah pulang semua. Memang tinggal para sahabat Nada dan Athar yang belum pulang. Mereka masih saja ngobrol santai membahas rumah baru Athar dan Nada.
"Mmm, gak tahu juga sih, aku." jawab Nada singkat.
__ADS_1
"Lha, kok gak tahu sih, Nad? Emang kamu gak ikut milih gitu?" tanya Nury heran.
Nada menggeleng. "Gimana aku mau ikut milih, aku aja gak tahu kalau mas Athar lagi bangun rumah. Bahkan aku tahunya tiga hari yang lalu pas pulang dari rumah sakit, mas Athar ngasih aku surprise berupa rumah ini. Ya intinya aku tinggal terima jadinya aja dan menempati doang." jelas Nada panjang lebar pada ketiga sahabatnya yang menanggapinya dengan anggukan paham.
"Waaah, so sweet banget sih ustadz Athar itu ... jadi pengen nikah juga deh gue ...." celetuk Nury sambil cengengesan.
Ketiga sahabatnya sontak melongo mendengar celetukan Nury. Langsung saja Kayra meraup wajah Nury dengan telapak tangan kanannya.
"Iiih, Kayra, lo apaan siiih ...." protes Nury kesal.
"Habisnya, bicara lo ngawur. Noh kebetulan ada ustadz Fadhil di sini kalo lo udah kebelet pengen nikah." ucap Kayra setengah bercanda.
Seseorang berhenti melangkah saat mendengar percakapan mereka. Ia mengulas senyum tipis lalu melanjutkan kembali langkahnya dan bergabung dengan yang lainnya.
Wajah Nury memberenggut mendengar candaan sahabat bar barnya yang satu itu.
"Candaan lo gak lucu tahu, Kay!" sungutnya kemudian.
"Lha, siapa yang bercanda, gue serius tahu, lo tuh emang cocok banget kalo sama ustadz Fadhil, ya nggak Fa, Nad?" ucap Kayra seraya meminta dukungan Athifa dan Nada yang sedari tadi hanya tersenyum menyaksikan perdebatan Nury dan Kayra.
"Gue sih yes!" sahut Athifa yang malah ikut-ikutan menggoda Nury.
"Kalo lo gimana, Nad?" tanya Kayra lagi yang kini tertuju pada Nada.
"Emmm, aku ... yes juga deh!" ucap Nada sambil tersenyum geli melihat wajah Nury yang semakin cemberut, mungkin karena tidak ada yang mau berpihak dengannya.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang . Minta like n sarannya ya...
__ADS_1
Salam sayang dari author.
Terima kasih kakak 💗