JOMBLO FII SABILILLAH

JOMBLO FII SABILILLAH
51. DRAMA MENGGEMASKAN DI MALAM PENGANTIN


__ADS_3

..."Sungguh ketetapan Allah itu jauh lebih indah dari setiap rencanamu. Yakin dan percayalah! Sebaik-baik rencana adalah rencana Allah. Allah memberikan yang benar-benar terbaik untuk kita. Percaya saja pada Allah sebab Allah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk kita."...


...(Quote Islami)...


………………………………………………………………………………


Hening dan sepi. Itulah suasana yang terasa dalam kamar Nada. Tak ada satu kata pun yang terucap dari bibir sepasang pengantin baru. Suasana canggung sangat mendominasi keduanya.


Nada memandang ke depan dengan pandangan kosong. Sementara Athar terdiam namun sesekali ia melirik pada gadis yang masih mengenakan hijab di sampingnya.


Ingin rasanya Athar menyapa istrinya itu, tapi ia tak tahu harus bicara apa dan mulai dari mana. Sekuat tenaga Athar memaksa. Saat ia sudah siap untuk memulai bicara, ia urungkan karena Nada beranjak dari kasur. Dan yang membuatnya mengernyitkan keningnya tingkah Nada yang tiba-tiba berlari kilat keluar dari kamarnya.


Athar bertambah heran kala Nada masuk kembali ke dalam kamar dengan langkah tergesa-gesa dan mengobrak-abrik sebuah laci di meja rias seperti sedang mencari sesuatu.


"Kamu sedang apa? Kok sepertinya sedang mencari sesuatu?" tanya Athar karena tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya.


Nada terperanjat dan reflek memutar tubuhnya. Jadilah mereka berdua berdiri berhadapan. Nada mendadak terdiam mematung. Sementara Athar mengernyitkan keningnya kembali saat melihat aura wajah Nada yang tampak sedikit memucat.


"Wajahmu pucat sekali, kamu sakit?" suara tanya Athar terdengar lembut namun terselip kesan rasa khawatir jika di dengar dengan seksama. Jika boleh jujur, hati Athar memang ada rasa khawatir melihat wajah pucat perempuan yang telah sah menjadi istrinya beberapa jam yang lalu.


Nada menggeleng cepat sebagai jawabannya. Athar ingin berucap lagi namun Nada secepat kilat berlalu dari hadapan suaminya. Membuat sang suami menjadi bingung.


Tak sengaja mata Athar melirik ke laci yang masih terbuka. Nampak sesuatu yang menyembul dari dalam laci itu. Athar merogohnya dan memperhatikan benda itu. Roti bersayap. Akhirnya kebingungannya terhadap tingkah istrinya terjawab sudah. Athar mengulum senyum mengingat tingkah Nada sedari tadi.


"Masya Allah, sungguh sangat menggemaskan. Istriku ternyata lucu juga ya!" seru Athar dalam hati sambil mengulum senyumnya.


Sementara Nada di dalam kamar mandi, tengah memeluk erat perutnya karena rasa nyeri yang melilit perutnya.


"Astaghfirullahal 'adzim, ya Allah!" seru Nada sambil menahan rada sakit dan nyeri di area perutnya.


Lima belas menit berlalu Nada masih betah berdiam diri di dalam kamar mandi, membuat Athar yang berada dalam kamarnya menjadi gelisah. Karena sang istri tak kunjung kembali, Athar memutuskan keluar kamar dan mencari istrinya. Ia bisa menebak bahwa pasti istrinya saat ini berada di dalam kamar mandi.


Dengan ragu-ragu Athar mengetuk pintu kamar mandi yang letaknya tak jauh dari dapur.


"Na–Nada, kamu di dalam, kan?" tanya Athar sambil mengetuk pintu kamar mandi. Nada yang masih di dalam kamar mandi tak lantas menjawabnya membuat Athar merasa khawatir. Kembali Athar kembali mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Nada, kamu dengar suaraku, kan? Apa kamu masih di dalam?" suara lembut dan khawatir Athar terdengar kembali oleh Nada. Dengan sekuat tenaga Nada menyeret kakinya melangkah menuju pintu kamar mandi.


"Na–"


Ceklek.


Pintu terbuka dan nampaklah sosok istri yang sedari tadi membuatnya khawatir dan gelisah. Athar tersenyum lega. Namun senyumnya surut saat melihat wajah Nada yang semakin memucat.


"Astaghfirullahal 'adzim, Nada. Wajah kamu semakin pucat, kamu sakit?" tanya Athar yang hatinya semakin di landa rasa khawatir terhadap keadaan istrinya. Nada memaksa tersenyum tipis lalu menggeleng lemah. Tapi gelengan Nada tak lantas membuat hati Athar lega.


Nada kembali menyeret kakinya menuju kamarnya meski sesekali ia berhenti melangkah saat rasa nyeri dalam perutnya riba-tiba kembali melanda.


Melihat istrinya seperti itu Athar semakin tidak tega. Tentu saja ia paham keadaan istrinya karena sudah sering ia melihat sang ibu yang juga mengalami hal tersebut di setiap bulannya. Athar keluar kamar. Entah mau kemana dia.


Nada membaringkan tubuhnya yang lemas. Kembali ia meremas perutnya yang nyeri. Mata Nada tiba-tiba memanas seakan-akan ada rasa yang timbul yang membuatnya ingin menangis.


Benar saja, tak selang beberapa detik air mata menetes di wajah pucatnya namun masih terlihat cantik. Entah mengapa ia merasa butuh seseorang saat ini. Sebelumnya ia tak pernah seperti ini di saat ia sedang kedatangan tamu bulanannya. Meski nyeri yang luar biasa itu selalu menyertai namun selalu ia bisa atasi dengan sendiri.


Akan tetapi, apa yang terjadi sekarang? Mengapa ia menangis? Mengapa hatinya merasa sedang membutuhkan seseorang? Seseorang yang bisa memberikan perhatian kepadanya.


Nada menyeka air matanya cepat setelah tahu Athar menghampirinya bahkan kini ada di hadapannya sedang meletakkan nampan. Nada reflek ingin duduk namun dicegah oleh Athar sehingga Nada merebahkan kembali tubuhnya.


Malu. Nada benar-benar malu pada suaminya yang berprofesi sebagai seorang ustadz itu. Sementara dirinya malah berbaring.


"I–itu apa, Ustadz?" tunjuk Nada pada isi nampan yang tadi dibawa Athar.


"Alhamdulillah, akhirnya dia mau bicara juga ...." lirih Athar dalam hati. "Oh, ini cuma teh hangat. Emmm ... diminum dulu ya, tehnya!" seru Athar seraya mengambil gelas yang berisi teh hangat itu lalu menyodorkannya pada Nada sekaligus membantu Nada untuk meminumnya. Dengan ragu dan canggung Nada menyambutnya.


Setelah itu Athar meraih botol berisi air itu. Nada mengerutkan keningnya tak mengerti. Athar yang paham hanya tersenyum.


"Ini air hangat buat kompres perutmu, insya Allah bisa mengurangi rasa nyeri di perutmu." ucap Athar menjelaskan.


Nada membelalakkan mata mendengar ucapan Athar.


"Dari mana dia tahu kalo aku lagi nyeri-nyeri perut? Apa dia tahu juga kalo aku lagi datang bulan? Oh tidak! Betapa malunya aku ini kalo ustadz Athar tahu soal itu!" Nada bermonolog dalam hati.

__ADS_1


"Emmm maaf, bisa disingkap dulu bajunya?" tanya Athar yang membuat Nada kaget dan gelagapan.


"Hah? nyi–nyingkap ..?"


"Kamu tenang aja, aku gak akan lihat kok, disingkap sedikit saja!" ucap Athar sambil tersenyum dan membuat wajah Nada merona. Dan hal itu sukses membuat Athar gemas.


"Masya Allah, kenapa istriku begitu menggemaskan sih ..." gumam Athar dalam hati.


Dengan ragu dan pelan Nada menyingkap sedikit bajunya sehingga Athar tidak melihat sama sekali warna kulit perut Nada. Athar menjulurkan botol yang berisi air hangat itu ke area perut Nada. Pelan-pelan ia mengompres perut Nada.


Nada memejamkan mata menerima perlakuan Athar yang menurutnya perhatian terhadap dirinya.


"Gimana? Udah mendingan nyeri-nyerinya?" tanya Athar di sela-sela ia mengompres perut Nada. Nada membuka matanya, ia sedikit melirik sejenak pada Athar lalu mengangguk.


"Ya udah, kamu tiduran aja, biar aku yang mengompresmu hingga tidur." suara lembut Athar membuat Nada menoleh pada Athar.


"Ya Allah, dia baik dan perhatian sekali padaku. Padahal kami baru kenal meski sering ketemu sebelumnya." pikir Nada dalam hati. Nada mengangguk menuruti perkataan suaminya. Nada mulai memejamkan mata dan Athar terus mengompres perut Nada hingga Nada benar-benar tidur baru ia menghentikan kegiatannya.


"Alhamdulillah, akhirnya dia tidur juga!" seru Athar sambil tersenyum. Ia pandangi wajah sang istri yang tengah terlelap itu. Entah mengapa ia tiba-tiba teringat seseorang hingga ia menghela nafas diiringi dengan kalimat istighfar beberapa kali.


"Kenapa disaat aku telah menemukan jejaknya, aku malah menghalalkan perempuan lain untuk ku jadikan istri? Maafkan aku ukhti kecil, aku tidak bisa menepati janjiku yang dulu aku ucapkan. Dan maafkan aku yang harus melupakanmu mulai detik ini, karna sudah ada yang lebih halal yang harus aku pikirkan. Allah tidak mentakdirkan kita untuk berjodoh. Sungguh aku tak berdaya atas ketetapan Allah. Aku tak kuasa melawan kehendak–Nya. Ya Allah, buatlah hati ini mejadi ridho dan ikhlas atas setiap yang telah engkau tetapkan padaku. Tumbuhkan rasa cinta dihatiku untuk istriku, dan tumbuhkan pula rasa cinta dihati istriku untukku. Semoga pernikahan kami dilimpahi berkah dan kasih sayangmu. Dan semoga pernikahan ini menjadi pernikahan sakinah mawaddah warohmah, Aamiin." ucap Athar dalam hati penuh pengharapan.


To be continue


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamu'alaikum...


Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...


Salam sayang dari author.


Terima kasih kakak 💗


Jangan lupa dijadikan favorit ya😘

__ADS_1


__ADS_2