JOMBLO FII SABILILLAH

JOMBLO FII SABILILLAH
34. UNGKAPAN CINTA


__ADS_3

..."Ketika seorang suami dan istri saling berpandangan dengan penuh cinta, Allah melihat mereka dengan belas kasih."...


...(HR. Bukhari)...


………………………………………………………………………………


"Wah, gak bener nih mereka bertiga, seru-seruan gak ngajak-ngajak aku!" seru Athifa sambil menggeser-geser layar ponselnya.


"Iiih, sebel deh ... kenapa coba kok gak ada yang ngabarin aku kalo lagi ngumpul di toko roti? Aku kan juga pengen kayak gitu, awas saja mereka kalo ketemu ntar, huuufft." Terus saja Athifa menggerutu tidak jelas dan protes sendiri sambil menatap dan menggeser layar ponselnya. Raka yang baru saja masuk ke kamarnya dibuat heran terhadap tingkah istrinya itu.


"Kamu sedang apa, Fa?" Tanya Raka setelah dekat di samping Athifa yang tengah duduk di sofa kamar mereka.


"Eh, Mas Raka. Nggak ini, aku lagi sebel aja sama temen-temen aku, kemaren mereka lagi ngumpul-ngumpul tapi gak bilang dan gak ngajak-ngajak aku, aku dilupain sama mereka bertiga. Kan aku juga pengen kayak gitu juga, iiih mereka kok jahat sih," cerecos Athifa sambil terus melihat-lihat foto-foto status story di akun whatsApp Kayra. Raka yang mendengarnya hanya melongo, entah apa yang ada di pikirannya tentang istrinya saat ini.


Tiba-tiba Athifa tertawa sambil memegang perutnya membuat Raka mengernyitkan keningnya tak mengerti.


"Kenapa lagi nih anak ... tadi cemberut, sekarang malah ketawa, aneh!" seru Raka dalam hati.


"Eh Mas, sini deh," Athifa menarik lengan kanan Raka secara tiba-tiba agar duduk di sebelahnya. Tentu saja Raka terkesiap kaget atas ulah istrinya itu.


"Lihat deh, muka si Kayra kok jadi lucu gini ya, wajahnya pada putih semua hingga ke rambutnya. hahaha." ucap Athifa sambil tertawa dan memperlihatkan foto Kayra yang wajahnya berubah menjadi putih semua karena penuh dengan tepung pada Raka. Kini Raka ikut tertawa setelah melihat foto Kayra.


Sejenak Raka berhenti tertawa. Ia menatap wajah istrinya yang masih tertawa. Tampak wajahnya sudah mulai ceria dan berseri kembali.



"Alhamdulillah ya Allah, sekarang istriku sudah tidak bersedih lagi. Semoga saja kebahagiaan terus menyertaimu istriku." Do'a Raka dalam hati.


Athifa menghentikan tawanya saat ia merasa Raka memperhatikannya. Mendapat tatapan seperti itu dari suaminya membuat Athifa jadi salah tingkah. Ia menundukkan kepalanya.


"Ke— kenapa Ustadz melihatku seperti itu?" tanya Athifa gugup. Raka tersenyum mendengarnya.


"Memangnya kenapa? Salah jika seorang suami menatap pada istrinya?" tanya Raka balik sambil tersenyum dan terus menatap wajah Athifa. Athifa hanya menggeleng.


"Seorang suami menatap istrinya itu dapat pahala lho, apa lagi ditatap dengan perasaan cinta, masya Allah ... tambah gede tuh pahalanya." sambung Raka lagi yang membuat Athifa reflek mendongakkan kepalanya dan memandang Raka dengan pandangan terperangah.


"Cinta ...? maksudnya Ustadz ..." Athifa tak meneruskan ucapannya. Raka tersenyum dan mengangguk. Athifa menundukkan wajahnya lagi.


"Se–sejak kapan?" tanya Athifa sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Sejak tanganku berjabat tangan ayahmu, sajak aku selesai mengucapkan janji suciku atas nama Allah di hadapan pak penghulu dan ayahmu dan di sahkan para saksi, sejak kamu sah menjadi istriku, sejak saat itulah aku mulai mencintaimu dan menyayangimu, istriku." jawaban dan pernyataan cinta Raka membuat Athifa senang dan bahagia.


Athifa kembali menatap haru pada wajah suaminya. Tak ada kebohongan saat ia tatap mata indah Raka, yang ada hanya cinta kasih sayang ketulusan yang ia dapatkan. Ada rasa yang berbeda di hati Athifa. Ia juga terharu hingga mata indahnya mulai berkaca-kaca.


"Ustadz—"


"Ssstt, jangan panggil aku Ustadz lagi! Aku suamimu, jadi panggillah selayaknya seorang istri memanggil suaminya pada umumnya!" seru Raka sambil menyentuh bibir Athifa dengan jari telunjuknya.


"Iya, Ust– eh, Mas Raka." sahut Athifa gugup membuat Raka tersenyum.


"Boleh aku memelukmu?" tanya Raka tanpa ragu. Athifa menundukkan wajahnya lalu dengan pelan dan malu-malu Athifa menganggukkan kepalanya tanda memperbolehkan Raka memeluk dirinya.


Raka tersenyum. Tanpa ragu lagi Raka memeluk istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Raka juga mengecup kening istrinya dengan lembut.


"Uhibbuki fillah, Zaujati" ungkap Raka seiring dirinya mengecup kening Athifa. Athifa membalas pelukan Raka dengan pelukan juga.


"“Ahabbakalladzi ahbabtani lahu (Semoga Allah mencintaimu karena kau telah mencintaiku karena-Nya)" jawab Athifa dalam tangis harunya. Raka tersenyum mendengar jawaban dari Athifa.


"Masya Allah ... rupanya istriku yang imut ini bisa juga ya jawabnya." puji Raka pada Athifa.


"Sebenarnya aku tahunya baru tadi malam," celetuk Athifa sambil mesem-mesem serta malu.


"Dari sahabatku, si Nada. Aku menemukan kertas kecil yang Nada selipkan dalam kadonya untukku." jawab Athifa sambil tersenyum malu.


"Nada? Yang mana?" tanya Raka penasaran. Walaupun tahu dengan ketiga sahabat istrinya, tapi tidak dengan nama-nama mereka.


"Itu yang pakek hijab." jawab Athifa singkat.


"Jadi namanya Nada ... tapi bukannya Una ya namanya yang pake hijab itu?" tanya Raka belum paham.


"Eh, tahu dari mana?" Athifa balik nanya.


"Tahu dari Athar." jawaban Raka membuat Athifa tertawa lepas.


"Lhaa kok malah ketawa sih!" protes Raka.


"Habisnya ustadz Athar lucu. Dia itu sebenarnya Nada. Tsabitah Qotrunnada, dipanggil Nada. Una itu panggilan sayang kami ke Nada yang memiliki kepanjangan Ustadzah Nada." jelas Athifa panjang.


"Oh, gitu ... " sahut Raka sambil manggut- manggut kepala.

__ADS_1


"Ya. Dan kalo yang gak pake hijab itu yang rambutnya agak panjang namanya Nury, kalo yang rambutnya pendek sebahu dan agak bar-bar itu baru namanya si centil Kayra." sambung Athifa lagi.


"Huss, sahabat sendiri kok dikata-katain sih, gak baik itu!" tegur Raka.


"Lhaa gimana gak bilang gitu, tuh anak gak ada malu-malunya sama sekali tiap kali ketemu sama siapa tuh namanya, temenmu Mas ...." ucap Athifa sambil mengingat-ingat nama Zidan.


"Yang mana? Sahabatku ada tiga lho ... Ada Athar, Fadhil, Zidan." Raka penasaran.


"Oh, ya Zidan. Namanya ustadz Zidan." jawab Athifa setelah mengingat lelaki yang ditaksir Kayra.


"Zidan?" tanya Raka melongo tak percaya.


"Ya, tahu nggak, Mas. Tuh anak kayaknya bucin banget deh sama tuh ustadz.Tiap hari yang diomongin ustadz Zidan terus." ucap


Athifa bercerita.


"Masak sih?"


"He'em. Katanya sih, Kayra jatuh cinta saat mendengar suara ustadz Zidan bersholawat di caffe dekat masjid itu." lanjut Athifa.


"Masya Allah ... jatuh cinta karena sholawat. Semoga saja Kayra memang berjodoh ya sama si Zidan." ucap Raka takjub.


"Aamiin. Aku juga berharap seperti itu, Mas. Aku yakin ustadz Zidan bisa dan mampu membimbing Kayra sampai Kayra kembali hijrah." Do'a harapan Athifa untuk Kayra.


"Aamiin ya Robb." Raka ikut mengamininya.


To be continue


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamu'alaikum...


Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...


Salam sayang dari author.


Terima kasih kakak 💗


Jangan lupa dijadikan favorit ya😘

__ADS_1


__ADS_2