
..."Orang-orang yang memelihara anak yatim di antara umat muslimin, memberikan mereka makan dan minum, pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali ia melakukan dosa yang tidak bisa diampuni."...
...(HR. Tirmidzi dari Ibnu Abbas)....
………………………………………………………………………………
"Masya Allah, rupanya kalian bener-bener kangen ya sama mereka, anak-anak panti." sahut Ummi Hanum yang diangguki keempat gadis itu.
"Mereka semua ada di ruang belajar lagi dibacain kisah para sahabat Nabi oleh para ustadz tampan." imbuhnya.
"Para ustadz?" tanya mereka serempak, bingung.
"Ya, mereka juga sering kok datang kesini buat menghibur anak-anak. Mereka juga donatur tetap di panti ini sama seperti kalian juga."
Reflek Nada memegang dadanya yang sejak tadi jantungnya berdegup.
"Astaghfirullah, kenapa sedari tadi saat masuk ke dalam panti ini aku merasakan kehadiran mas Athar ya? Masya Allah efek rindu mungkin ya?" batin Nada sambil tersenyum tipis sekali.
"Alhamdulillah deh kalo sudah banyak yang jadi donatur di panti ini, Ummi. Kami turut senang. Semoga saja kehidupan anak-anak panti semakin terjamin." ucap Athifa tulus dan diamini oleh semuanya.
"Eh, sepertinya mereka lagi sholawatan tuh, pasti anak-anak yang minta." ucap Ummi Hanum antusias
Sementara di ruang belajar semua anak-anak berkumpul dan ditemani oleh empat orang laki-laki yang tak lain adalah Sahabat Fillah.
Setelah bercerita tentang kisah para sahabat Nabi anak-anak meminta mereka untuk bersholawat jilbab ungu. Tentu saja mereka berempat melongo dengan permintaan mereka. Ingin menawar sholawat lain tapi anak-anak semakin merengek. Jadilah mereka pasrah dengan permintaan anak-anak panti.
"Siapa dulu nih yang mulai?" tanya Athar pada ketiga rekannya.
"Raka!" jawab Zidan dan Fadhil serentak.
"Lho kok aku?"
"Udah, Ka. Gak papa kamu aja duluan!" bujuk Athar pada Raka.
"Baiklah, tapi kira-kira istriku tadi pake kerudung apa ya?" Raka malah berpikir tentang istrinya yang memakai kerudung warna apa sehingga diam-diam Athar juga ikut-ikutan berpikir tentang warna apa jilbab yang dipakai Nada hari ini.
"Ah, mentang-mentang sudah punya istri, udah lah, sembarang aja, toh istri kamu gak ada disini juga, kan." ucap Zidan greget. Raka pun terkekeh dengan pikiran konyolnya. Sementara Athar senyum-senyum samar.
"Ok, adek-adek, kita sholawatan sama-sama ya ...." suara interupsi Raka agak keras sehingga terdengar ke ruang tamu dimana masih ada Ummi Hanum, Nada dan para sahabatnya.
"Lho, itu kok kayak suara mas Raka ya?" tanya Athifa saat mendengar suara Raka.
"Ya, itu memang suara ustadz Raka. Jadi kamu sudah kenal ustadz Raka dan Sahabat Fillah lainnya?" Ummi Hanum yang heran balik bertanya. Sontak keempat gadis itu saling pandang.
"Jadi itu beneran mas Raka, Ummi?" tanya Athifa lagi memastikan.
"Ya, itu ustadz Raka dan sahabat-sahabatnya." jawab Ummi Hanum semakin heran.
"Ya jelas kenal lah Ummi. Mas Raka itu kan suami saya." aku Athifa sambil tersenyum manis.
"Masya Allah ... sudah nikah toh. Selamat ya, semoga menjadi pernikahan yang sakinah mawaddah warohmah." Ummi Hanum memberi ucapan selamat pada Athifa yang menjawab anggukan sambil tersenyum.
"Berarti mas Athar ada disini juga dong ...." lirih Nada dalam hati sambil tersenyum samar persis Athar yang juga tersenyum samar tadi di ruang belajar sana.
Raka
Hey adek berjilbab biru
Cantik manis semanis madu
Dapat salam dari ayah ibu
Siapkah kau jadi menantu
__ADS_1
"Lha, kok mas Raka tahu ya kalo aku pake jilbab biru? Kan mas Raka tadi berangkat duluan, berangkat pagi malah." ucap Athifa tak percaya.
"Ikatan batin kali, kalian kan suami istri." ucap Ummi Hanum berkomentar.
"Ciyeeeee ...." ledek ketiga sahabatnya membuat wajah Athifa bersemu merah.
Athar
Hey adek berjilbab ungu
Lihat abang yang tak laku laku
Kalau adek serius mau
Besok kita pergi ke penghulu
Sontak Athifa, Nury dan Kayra menoleh ke arah Nada. Sementara Nada malah membelalakkan matanya.
"Padahal kita tidak saling bertemu bahkan sudah berminggu-minggu yang tidak bertemu, tapi kenapa mas Athar bisa tahu ya kalo aku pake jilbab ungu? Apa ini juga dinamakan ikatan batin?" pikir Nada dalam hati.
"Ustadz Athar bukan, sih?" tanya Kayra setengah bengong.
"Ma–mana aku tahu?" sahut Nada seraya mengkedikkan kedua bahunya sok cuek. Padahal dalam hatinya ia bersorak senang.
"Nada, kamu diajak ke penghulu tuh besok sama ustadz Athar." goda Nury membuat semuanya tertawa.
"Iiih apaan sih kalian ini ...." protes Nada sambil berpaling muka berusaha menahan pipinya yang yang pastinya sudah bersemu merah terasa panas. "Sudah kali ke penghulunya, kalian aja yang tidak tahu." sambung Nada yang tentunya dalam hati.
Zidan
Hey adek berjilbab cokelat
Hati abang sungguh terpikat
Ku pinang kau dengan sholawat
"Ehem ... ustadz Zidan sweet banget ya Kay, pake sholawat katanya buat minang lo." ledek Athifa pada Kayra. Kayra malah senyum-senyum malu.
Fadhil
Hey adek berjilbab hitam
Ayo langsung ke pelaminan
Menjalin cinta dalam islam
Setelah nikah kita pacaran
"ASTAGHFIRULLAHAL 'ADZIM!" pekik Nury membuat semua orang terperanjat kaget. Tapi seperdetik kemudian mereka tertawa kecuali Nury yang masih tercengang.
"Alhamdulillah dong Nury." ralat Nada sambil tersenyum.
"Wah, Nury ... gak nyangka ya, lo diajak pacaran setelah nikah sama ustadz Fadhil. Thoyyib, thoyyib ...." kini giliran Nury yang jadi bahan ledekan Athifa dan yang lainnya.
"Yeee mana ada, gue udah punya keles." elak Nury.
"Seribu kali bagusan ustadz Fadhil keleees ...." Nury hanya mendengus mendengar ucapan Kayra.
Athar, Raka
Hey adek cantik dan sopan
Carilah suami beriman
__ADS_1
Seperti akhi Fadhil yang tampan
Sahabat Fillah calon idaman
Fadhil
Ya allah yang maha besar
Hamba takut kalau melanggar
Tak akan ku cari pacar
Ada yang cocok langsung ku lamar
Zidan
Ya Allah yang maha tinggi
Hamba mohon sabarkan hati
Semoga jodoh menghampiri
Dan menjalankan sunnah Nabi
Sahabat Fillah dan anak-anak panti
Maulayaa sholli wasallimda iiman abadaa
'Ala habibika khoiril kholqiqullihimi.
Suara tepuk tangan serta sorak riuh anak-anak panti terdengar bahagia.
Ummi Hanum beranjak dari duduknya, melangkah menuju ruang belajar. Ummi Hanum ingin memberi tahukan kalau ada kakak bidadari cantik (begitu anak-anak panti menyebutnya mereka) di ruang.
Athifa ingin beranjak dari duduknya tapi dicegah oleh Nada.
"Mau kemana?" tanya Nada pada Athifa.
"Mau nyamperin mas Raka lah, Nad." jawab Athifa dengan wajah polos.
"Ih, jangan dong!"
"Lho, emang kenapa? Kan aku nyamperin suami sendiri." protes Athifa cemberut.
"Athifa, disana itu tak hanya ada suami kamu, tapi juga ada yang lainnya, emang kamu nggak segan apa sama mereka? Kalo aku sih segan banget pastinya." jelas Nada yang membuat Athifa terdiam dan memikirkan apa yang diucapkan Nada.
"Hehe, bener juga ya omonganmu, Nad." Athifa cengengesan.
"Huuu dasar bucin akut lo!" ledek Kayra.
"Biarin, bucin sama suami sendiri juga, bukan sama suami orang." bela Athifa pada dirinya sendiri. Nury dan Kayra memutar bola mata malas. Sementara Nada geleng-geleng kepala seraya tersenyum.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
Terima kasih kakak 💗
__ADS_1
Jangan lupa dijadikan favorit ya😘