
..."๐๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐๐ฒ๐๐ฒ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฑ๐ถ๐๐ฎ๐ธ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ป๐๐๐ธ ๐บ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐๐ต, ๐ถ๐ฎ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ป๐ฎ๐ต ๐บ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฎ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ถ ๐บ๐. ๐ก๐ฎ๐บ๐๐ป ๐ท๐ถ๐ธ๐ฎ ๐ถ๐ฎ ๐ฑ๐ถ๐๐ฎ๐ธ๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐๐ฎ๐บ๐ฎ, ๐บ๐ฎ๐ธ๐ฎ ๐ธ๐ฎ๐ ๐๐ฎ๐ธ ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฏ๐ถ๐๐ฎ ๐น๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฑ๐ฎ๐ฟ๐ถ๐ป๐๐ฎ."...
...(๐จ๐บ๐ฎ๐ฟ ๐๐ถ๐ป ๐๐ต๐ฎ๐๐๐ฎ๐ฏ)...
โฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆ
Dengan perasaan hati yang gemuruh, Athar memejamkan matanya guna menetralkan gemuruh yang menyelimuti hatinya lalu membuka kotak persegi itu secara perlahan.
Athar tertegun setelah melihat semua isi yang terdapat dalam kotak persegi tersebut.Matanya berkaca-kaca sedangkan hatinya terasa sesak sekali. Lama ia memandangnya, tangannya mulai bergerak menyentuh satu persatu benda dalam kotak persegi itu.
Sementara Nada yang melihat ekspresi suaminya seperti itu setelah melihat semua barang-barangnya menjadi semakin was-was dan gelisah. Ke khawatirannya pun semakin menjadi-jadi.
"MโMas, udah ya, lihat-lihatnya." ucap Nada dengan suara yang bergetar karena gugup sambil meraih kembali kotak itu.
"Kamu mau apakan semua benda-benda itu? Mau dibawa kemana?" tanya Athar yang tatapannya tak lepas dari kotak persegi yang kini sudah berada di genggaman Nada kembali.
Nada menoleh ke wajah suaminya beberapa saat, kemudian mengalihkannya lagi pada apa yang ada di tangannya.
"Aโaku .... aku akan membakarnya!" jawab Nada mantap sambil memejamkan matanya.
Mendengar jawaban Nada, Athar reflek menoleh ke arah istrinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak setuju akan keputusan sang istri.
"Tidak, jangan Nada! Jangan dibakar!" cegah Athar cepat.
"Nggak Mas, aku akan tetap membakarnya." kekeh Nada.
"Mas bilang jangan Nada!!"
"Buat apa Mas? Semua ini sudahlah tidak penting lagi buat akโ"
"TIDAK PENTING BUAT KAMU TAPI PENTING DAN SANGAT BERARTI BUAT AKU!!!" ucap Athar dengan cepat memotong ucapan Nada.
DEG.
Secara reflek Nada menoleh pada sang suami. Hening sejenak diantara keduanya. Sementara Nada tidak mengerti apa maksud ucapan suaminya tadi.
__ADS_1
"Maksud Mas Athar apa? Kenapa tadi Mas mengatakan kalo semua barang ini sangat penting dan bahkan sangat berarti buat Mas? Apa hubungannya semua ini sama kamu Mas?" Nada yang tak mengerti dengan ucapan suaminya pun memberondong kalimat tanya pada Athar.
Mendapatkan kalimat tanya beruntun dari sang istri, Athar menunduk sambil memejamkan matanya. Ia juga menghela nafas perlahan.
"Sini dulu!" Athar meraih tubuh Nada agar mendekat kearahnya. Kini posisi mereka berdua Athar memangku tubuh istrinya di pangkuannya sambil berselonjor kaki di atas sofa.
Athar memeluk pinggang Nada dari belakang yang duduk di pangkuannya. Sejenak ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya seraya menghirup aroma vanilla pada tubuh Nada yang kian menjadi candu untuknya.
Merasa ada yang aneh dengan sikap sang suami, Nada menyentuh dan mengelus perlahan kedua tangan suaminya yang masih setia melingkar di perutnya.
"Mas, kamu kenapa sebenarnya?" tanya Nada penasaran pada sikap Athar saat ini.
Athar menegakkan kepalanya namun ia membiarkan dagunya masih bertengger di pundak Nada.
"Kamu pasti pengen tahu kan, kenapa Mas bilang seperti tadi?" Nada yang tahu maksud suaminya langsung menganggukkan kepalanya karena ia memang ingin tahu.
"Ya, semua barang-barang yang ada di dalam kotak ini sebetulnya memang sangat berarti buat Mas dan tentunya juga buat kamu, karena ... karena semua ini adalah bagian dari masa lalu Mas ...."
Nada semakin tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Athar, sehingga ia semakin bingung. Sementara Athar mengerti akan kebingungan yang dialami oleh istrinya. Ia tersenyum lalu meraih kembali kotak persegi itu dan mengusap satu persatu barang yang ada di dalam kotak persegi itu pada pangkuan Nada.
"Hem? Ini?" tanya Nada memastikan sambil meraih sebuah gelang tasbih couple berliontin love separuh dan berwarna hitam itu.
Athar tersenyum lalu mengangguk. Sejenak keduanya kembali terdiam. Lalu Athar merogoh sesuatu di kantong celananya, lalu menunjukkannya di hadapan Nada.
Nada tertegun menatap apa yang ditunjukkan oleh Athar di hadapannya. Kini matanya mulai berkaca-kaca.
"MโMas ... iโini ...?" suara Nada mulai serak menahan tangis. Nada terus menatap benda yang ada di tangan Athar. Sebuah gelang tasbih couple berliontin love separuh yang sama persis dengan yang ia pegang.
Athar tersenyum lalu ia menyatukan dua buah gelang tasbih couple itu sehingga gelang tasbih yang tadinya hanya berliontin separuh itu kini membentuk sebuah liontin love utuh.
"Baโbagaimana bisa ...?" Nada geleng-geleng kepala masih bingung.
"Bisa! Karena gelang tasbih ini Mas sendiri yang desain dan yang membuatnya juga Mas sendiri untuk kita, yang sepasang untuk Mas simpan sendiri, dan yang satunya lagi untuk humairah kecilku." ucap Athar dengan suara pelan dan lembut.
__ADS_1
"Huโhumairah kecil ...?" cicit Nada diiringi dengan air matanya yang kini telah luruh pada kedua pipi halusnya. Athar mengangguk sambil tersenyum.
"Jadi ... Mas itu ... Mas adalah ...."
"Ya, tebakan kamu benar sayang, Mas adalah akhi kecilmu, dan kamu ... kamu adalah ukhti kecilku, humairah kecilku!" jawab Athar yang semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri yang kini tubuhnya mulai bergetar karena tangisannya yang sudah pecah.
Mendapatkan tubuh Nada yang bereaksi seperti itu, Athar melepaskan pelukannya pada pinggang Nada. Ia membalikkan tubuh sang istri agar menghadap kepadanya, lalu membawanya ke dalam dekapannya.
Sementara Nada membalas pelukan Athar tak kalah eratnya. Dalam dekapan suaminya, ia menangis tersedu-sedu. Dalam pelukan penuh kasih sayang suaminya itu ia luapkan segala rasa yang ada di hatinya. Rasa sesal, haru, rindu, cinta dan sayang semua ia tumpahkan lewat tangisan bahagia dalam dekapan kasih sayang sang suami.
Athar membiarkan Nada menangis dalam pelukannya, sehingga baju yang ia pakai basah sebagian terkena air mata istrinya.
Usapan serta elusan penuh kasih sayang yang Athar berikan pada punggung dan kepala Nada yang masih berbalut kain hijab yang sudah berantakan, mampu membuat hati Nada menemukan ketenangan.
Setelah merasa Nada sudah lebih tenang, Athar mencoba melepaskan pelukannya guna ingin menghapus sisa air mata Nada. Namun Nada sendiri masih enggan untuk melepas pelukannya pada pinggang suaminya. Malah semakin mengeratkan pelukannya itu.
"Nggak mau lepas, pengen begini aja dulu ...." lirih Nada namun masih di dengar oleh Athar. Alhasil Athar hanya bisa pasrah dan tersenyum gemas sama kelakuan Nada. Athar juga kembali mengusap-usap punggung Nada. Ia juga sesekali mengecup lama kepala sang istri dengan hijab yang masih di kenakannya meski kini tak serapi sebelumnya.
"Uhibbuki fillah, zaujati!" ungkap Athar yang kemudian kembali mengecup lama kening Nada.
Mendengar ungkapan tulus dari suaminya, Nada tersenyum bahagia.
"Ahabbakalladzi ahbabtani lahu (Semoga Allah mencintaimu karena kau telah mencintaiku karena-Nya)." balas Nada yang masih setia bersandar pada dada bidang sang suami.
Senyuman bahagia tersirat pada kedua bibir Athar setelah mendengar jawaban ungkapan dari Nada.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
__ADS_1
Terima kasih kakak ๐