
..."Jangan menyepelekan dosa terhadap sesama manusia. Dosa kita terhadap Allah swt. mudah dimintakan ampun dan Allah maha pengampun; tapi dosa terhadap manusia tak akan diampuni oleh Allah sebelum manusia yang disalahinya memaafkannya."...
...(Gus Mus)...
………………………………………………………………………………
Di kantin kampus...
"Eh... Denger-denger anak BEM FAI ada kajian lagi katanya." celetuk Nury di sela-sela mereka menikmati makanan.
"Yaelah... Udah biasa kali Nury, namanya juga fakultas religi!" sahut Kayra sambil memutar bola matanya.
"Eits... Jangan salah, ini beda loh, beb...." ucap Nury lagi.
"Apanya yang beda emang?" tanya Karya agak penasaran.
"Yang ngisi kajiannya itu lho beb yang beda." jawab Nury singkat.
"Oh ya...?"
Nada dan Athifa ikut mendengarkan Nury sambil makan. Lebih tepatnya untuk Athifa hanya mengaduk-aduk makanannya saja tanpa ada niat untuk makan.
"He'em... Katanya sih mereka masih muda gitu." jelasnya lagi.
"Wah... Asik ding klo masih muda-muda, emmm ganteng nggak?" tanya Kayra antusias.
"Ceileeeh nih anak, giliran denger yang muda-muda heboh amat lo!" Seru Nury.
"Ya dong, kan bisa cuci mata biar kembali cling..." Sergah Kayra.
"Helloooo emang si kak Zidanmu itu mau di kemanain....?" tukas Nury pada Kayra.
Kayra malah cengar-cengir.
"Gimana Nad, ikutan gak kita?" tanya Nury pada Nada.
"Emang kapan acara itu?" tanya Nada pada Nury.
"Lusa." jawab Nury singkat.
"Lusa kayaknya gak ada kelas deh kita. Udah Nad, ikutan aja kita. Gue kok jadi penasaran. berarti mereka gak sendirian dong" ujar Kayra antusias. Entah kenapa Kayra jadi seantusias itu. Seperti ada dorongan dalam hatinya untuk mengikuti kajian dari BEM FAI itu.
__ADS_1
"Emmm y udah deh, aku ok aja." jawab Nada menyetujui.
Kalo kamu gimana Fa?" tanya Nada pada Athifa. Yang di tanya tak menjawab, malah seperti sedang melamun sambil mengaduk-aduk makanannya yang masih utuh.
Nada, Nury maupun Kayra yang menoleh menjadi keheranan pada Athifa yang seperti itu. Kemudian mereka bertiga saling menoleh mempertanyakan Athifa. Dan ketiganya juga kompak mengkedikkan bahu mereka secara bersamaan tanda mereka juga tidak tahu ada apa dengan sahabatnya yang satu itu.
Nury yang ada di sebelah kiri Athifa melambai-lambaikan tangannya tepat di depan mata Athifa.
"Fa, hey Athifa.. Hellooo..." ucap Nury dengan suara agak keras.
"Eh, ya, kenapa?" sahut Athifa kaget dengan suara Nury yang agak keras.
"Astaghfirullahal 'adzim.... Athifa, lo kenapa sih? Di panggil dari tadi juga gak ada nyahut-nyahut malah ngelamun!" gerutu Nury yang diangguki oleh Kayra membenarkan. Sementara Nada memperhatikan wajah Athifa yang tampak murung tak seperti biasanya.
"Enggak apa-apa kok, gue cuma lagi sedikit bad mood aja." jawab Athifa berusaha tersenyum.
"Yakin hanya itu?" tanya Nada memastikan. Dan Athifa hanya mengangguk dan tersenyum meyakinkan ketiga sahabatnya itu.
"Yakin dong... Udah, kalian tenang aja, gue gak papa kok, beneran deh." ucap Athifa berusaha menutupi masalahnya dari teman-temannya dengan senyuman manisnya.
Mereka hanya mengangguk tanda mengerti. Tapi tidak dengan Nada. Buat Nada senyuman Athifa itu mengandung sebuah beban yang entah itu apa.
"Ya udah kalo emang gak papa." Terpaksa Nada mempercayai untuk menghargai privasi Athifa.
"Terus gimana, lo mau ikutan kajian lusa nggak?" tanya Kayra lagi pada Athifa.
"Ya wes lah, gue ngikut kalian aja!" jawab Athifa pasrah sambil tersenyum pada ketiga sahabatnya itu.
***
Bros ukir nama yang digenggamnya sedari tadi itu ia pandangi begitu lama. Mengingatkan dirinya pada sosok seorang gadis kecil berumur sekitar 8 tahunan berwajah imut dalam balutan hijab.
"Masih kecil saja sudah pandai menutup auratnya, apalagi nanti kalau sudah besar." Begitu pikir laki-laki itu saat mereka masih sama-sama bocah dulu.
Wajah imut nan anggunnya, senyum manis nan teduhnya dan semuanya yang ada pada gadis kecilnya itu ia mengingatnya.
"Humairah kecilku yang imut, seperti apa dirimu sekarang? Apakah masih seimut dulu? Apa pipimu masih se-chubby dulu?" Lelaki itu tersenyum mengingatnya.
"Ah... Jadi kangen sama wajah semu merahmu! Apalagi saat aku menggodamu, jadi tambah merah tuh wajahmu. Oh... Masya Allah... Sungguh sangat gemes aku jadinya!" serunya sambil terus menatap bros ukir berinisial nama seseorang pada genggaman tangannya.
“Jarak bukanlah menjadi sebuah pemisah, namun hanyalah sebagai jeda agar kita saling memperbaiki diri kita masing–masing, agar kelak kau pantas untukku dan aku pun pantas menjadi milikmu.” Gumamnya dalam hati seraya memejamkan kedua mata teduhnya dan tersenyum pada bayang-bayang si khumairah kecilnya.
__ADS_1
Terdengar suara dari ponselnya yang berada diatas meja nakas. Lelaki itu meraihnya. ia tersenyum saat tahu siapa yang menelponnya.
Ummi is calling...
Lelaki berwajah tampan itu menggeser icon hijau dilayar ponselnya.
"Halo... Assalamu'alaikum Ummi." sapa lelaki itu pada sang ibu.
"Wa'alaikum salam... gimana kabarmu disana nak? Sehat?" sahut sang ibu disebrang sana.
"Alhamdulillah sehat Ummi. Ummi sendiri gimana? Sehat juga kan Ummi?" Lelaki itu menanyakan kabar sang ibunda.
"Ya, Alhamdulillah Ummi disini juga sehat wal afiat, Nak." jawab sang Ummi dengan suara lembutnya. Lelaki itu tersenyum dan menghela nafas lega.
"Terus Ummi lagi apa sekarang?"
"Ini Ummi lagi berkunjung ke rumah nenek Fatimah." jawab Ummi.
"Nenek Fatimah?" Gumam Lelaki itu sambil mengernyitkan keningnya.
"Siapa beliau Ummi?" tanya Lelaki itu penasaran.
"Oh, beliau ibu dari sahabat lama Ummi. Beberapa hari yang lalu ummy ketemu dengan beliau di jalan. " Lalu Ummi menceritakan pertemuannya dengan nenek Fatimah yang merupakan ibu dari sahabatnya dulu.
Ummi bertemu dengan nenek Fatimah di jalan saat hendak pulang. Ummi pun mengantarnya pulang. Di perjalanan pulang nenek Fatimah cerita pada ummi dan ternyata sahabatnya yang telah lama menghilang itu sudah lama meninggal.
Kini nenek Fatimah hanya tinggal berdua dengan cucunya dan cucunya itu tengah melanjutkan pendidikannya diluar kota.
Padahal ummi sangat ingin ketemu dengan cucu perempuan nenek Fatimah itu. Tak ada maksud apa-apa, dia hanya ingin tahu wajah putri dari sahabatnya yang sekarang, karena dulu wajahnya menuruni wajah sang ibu. Mungkin sekarang wajahnya sudah mirip dengan wajah mendiang sahabatnya itu.
Pria tampan itu hanya manggut-manggut mendengar cerita dari sang ibu meski jelas tak kan di ketahui karena mereka dalam panggilan biasa.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
__ADS_1
Terima kasih kakak 💗
Jangan lupa dijadikan favorit ya😘