
..."Ketika engkau bertekad kuat untuk menjadi orang yang lebih baik, disitulah pertolongan Allah swt. datang kepadamu dengan mengirimkan orang-orang yang baik untuk menemani langkahmu."...
...(Quote of Islam)...
………………………………………………………………………………
tetesanembuntsqn
tetesanembuntsqn "Jika namamu yang tertulis di Lauhul Mahfudz untuk diriku, niscaya rasa cinta itu akan Allah tanamkan dalam diri kita.
Tugasku bukan untuk mencari dirimu, tapi mensholehahkan diriku.
Jika aku disini menanti, ku harap disana kau menjaga.
Jika aku disini berdo'a, ku harap disana kau setia.
Aku berharap tak dipertemukan denganmu, tapi aku meminta tu dipersatukan denganmu dalam cinta–Nya."
Nada tengah membaca setiap komentar followersnya yang memenuhi setiap postingan pada blog privatenya. Kadang ia tersenyum bahkan tertawa jika ada komentar yang menurutnya lucu.
Saat menscroll ke bawah kolom komentar ada satu komentar dari sebuah akun yang menarik perhatiannya.
ambaraz_safil11_ Mencintai Allah adalah setinggi–tingginya cinta. Maka sempurnakanlah cintamu pada Allah sebelum engkau melabuhkan cintamu pada makhluk–Nya.
Nada reflek memegang dadanya. Entah kenapa jantungnya berdetak kencang setelah membaca komentar salah satu followernya.
"Ya Allah, ada apa ini? Kenapa tiba–tiba jantungku berdetak tak karuan seperti ini setelah membaca komentarnya? Siapa sebenarnya Ambaras Safil ini? Tak biasanya aku jadi penasaran seperti ini sama followers." Nada bertanya–tanya di antara kebingungan dan resah hati.
Nada memejamkan kedua matanya lalu menutup layar persegi yang sudah ia off-kan tadi di hadapannya seiring dengan helaan nafas panjangnya.
Nada menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang tengah ia duduki. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamarnya.
"Ya Allah Robbi ... Sesungguhnya saat ini hamba sedang meminta sesuatu dan hanya Engkaulah yang bisa mengabulkannya. Jagalah hati ini untuknya, jagalah hatinya untukku. Persatukan kami nanti dalam mihrab cinta yang Kau ridho'i. Kuatkan hati hamba untuk tetap sendiri hingga nanti bertemu dengannya, Aamiin." Nada kembali memejamkan matanya.
***
Nada yang mendapatkan kabar tidak mengenakkan tentang Kayra memutuskan untuk mengunjungi Kayra setelah pulang dari kampus bersama Nury dan Athifa.
__ADS_1
Memikirkan keadaan Kayra membuat ketiga gadis itu tidak fokus pada mata kuliahnya. Hati ketiganya diliputi rasa gelisah.
Sementara di taman belakang rumahnya, Kayra duduk termenung ditemani oleh Zidan dengan jarak yang agak jauh di antara keduanya. Tak jauh dari mereka ada tukang kebun dan seorang ART yang sedang berkebun sehingga mereka tidak berduaan saja.
"Kay lelah ... Kay udah lelah, Kak Zidan. Entah itu fisik atau mentalku. Kay ingin menangis keras. Kay udah lelah menahannya tapi tak mampu mengutarakannya." ungkap Kayra diiringi dengan tetesan air mata yang kini tumpah di pipinya. Sementara Zidan tak bersuara. Zidan ingin membiarkan Kayra meluapkan segala keluh kesahnya agar hatinya nanti bisa plong.
"Kay rasa–rasanya capeeeeek banget. Pengen rasanya ceritain semua yang Kay rasa tapi bingung mau cerita sama siapa? Nggak tahu mau curhat sama siapa. Semua terasa begitu melelahkan. Ingin Kay pendam sendiri tapi terlalu berat. Hampir saja Kay nyerah karna udah nggak kuat lagi." Kayra menunduk. bahunya bergetar tanda ia masih menangis.
"Kak Zidan tahu nggak, kenapa sampai saat ini Kay belum berhijab?" tanya Kayra tiba-tiba. Zidan hanya menggeleng kepala sebagai jawabannya.
"Almarhumah ibuku itu wanita berhijab, beliau istri yang baik, seorang istri yang sangat patuh dan penurut pada suaminya tapi tetap saja beliau dihianati, dicampakkan sama suaminya, bahkan difitnah sama orang-orang di sekeliling suaminya. Karna itulah Kay gak mau pake hijab. Kay gak mau ngalami hal yang sama seperti almarhumah ibu." ucap Kayra dengan nada serak. Sesekali ia mengusap air matanya meski selalu keluar lagi dari pelupuk matanya.
Zidan tersenyum. Setelah dirasa cukup Kayra meluapkan keluh kesahnya barulah ia bicara.
"Kay tahu nggak, siapa saja laki-laki yang akan terseret ke dalam api neraka jika seorang wanita tidak memakai hijab?" tanya Zidan setelah Kayra tak bersuara.
"Ya, Kay tahu kok. Ayah, suami, saudara laki-laki, dan anak laki-laki. Betul kan jawaban Kay?" jawab Kayra sekaligus bertanya memastikan.
"Yup, betul banget!" ucap Zidan membenarkan Kayra.
"Itu juga salah satu alasan kenapa Kay gak mau pake hijab. Biar aja suami penghianat almarhumah ibu itu diseret ke neraka!" seru Kayra enteng.
"Astaghfirullahal 'adzim ... Kay, gak boleh lho ngomong kayak gitu, gak baik." tegur Zidan pada Kayra namun Kayra menanggapi acuh tak acuh.
Zidan menghela nafas pajang lalu menghembuskannya perlahan sebelum kembali berucap.
"Hidup itu tidak ada yang sempurna, Kay. Rasa sedih dan bahagia akan selalu hadir menyapa kita, maka jadikan sabar dan syukur sebagai penyempurna dari semua rasa yang ada. Tak ada hidup tanpa masalah, tak ada perjuangan tanpa lelah, tetaplah menjadi wanita kuat yang bisa menerima semua ujian hidup. Bersabarlah agar mampu menghadapi situasi apapun dalam keadaan tenang. Tabahkan hatimu agar mampu menerima dengan ikhlas semua hal yang terjadi dalam hidupmu. Berusahalah tegar dan tersenyum walau banyak beban dalam hidupmu. Dan tetaplah menjadi wanita hebat dalam situasi apapun." ucapan serta nasehat panjang dari Zidan membuat hati Kayra tersentuh. Di pandangannya wajah rupawan pria yang kini sedang menundukkan pandangannya kebawah itu.
"Dia hanyalah laki-laki yang suka memakai baju koko, peci dan sarung, tetapi entah mengapa aku begitu mengaguminya. Dia yang tak bisa ku ceritakan lewat kata-kata, tapi dia sangat istimewa saat namanya ku ceritakan pada sang Kholiq di setiap do'aku. Semoga saja dia benar-benar jodohku" gumam Kayra dalam hati.
"Assalamu'alaikum ...."
Suara salam beberapa orang perempuan dari belakang mereka mengagetkan keduanya dan membuyarkan lamunan Kayra. Keduanya menoleh kebelakang.
"Wa'alaikum salam." jawab Zidan dan Kayra berbarengan.
Tampak Nada, Athifa dan Nury berdiri di belakang mereka sambil senyum-senyum melihat keduanya.
"Nada, Nury, Athifa, kalian kesini juga? Kenapa gak bilang-bilang kalau mau kesini?" tanya Kayra dengan wajah cerianya setelah melihat para sahabatnya. Kayra beranjak lalu berhambur ke pelukan para sahabatnya. Jadilah mereka berempat berpelukan layaknya teletubbise. Zidan tersenyum lalu ikut berdiri.
__ADS_1
"Ya Allah ... Kay, lo tuh ya bikin kita kuatir banget lho sepanjang hari, sampai-sampai kita-kita nggak ada yang fokus sama matkul tadi!" seru Athifa pada Kayra.
"Ya, eh yang di khawatirin ternyata lagi seneng-seneng berduaan sama si pujaan hati." ledek Nury sambil melirik pada Zidan. Ledekan Nury berhasil membuat Kayra tersipu sementara Zidan malah jadi salah tingkah.
"Iiiih, Nury apaan sih, siapa juga yang lagi berduaan, nggak kok, kami nggak berduaan. tuh lihat ada pak Mamat sama mbok Yem." sangkal Kayra sambil menunjuk ke arah tukang kebun dan ARTnya.
"Ehem ... Ya udah Kay, karena sudah ada mereka, aku pamit dulu ya." ucap Zidan pada Kayra.
"Oh, iya Kak, by the way ... makasih ya supportnya tadi." ucap Kayra tulus. Zidan tersenyum lalu mengangguk.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Zidan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan area taman belakang rumah Kayra.
"Ciyeee, kayaknya selangkah udah lebih maju nih lo sama ustadz Zidan." ucap Nury kembali menggoda Kayra. Yang di goda malah senyum-senyum membuat para sahabatnya geli.
"Eh, apaan tuh." ucap Athifa saat melihat sebuah kotak mirip kado yang tergeletak di kursi yang menjadi tempat duduk Zidan tadi. Membuat atensi semuanya teralihkan pada sesuatu yang di tunjuk Athifa.
Athifa melangkah lalu mengambil serta membolak balikkan kotak mirip kado itu. Kayra gelagapan. Ia pun mengambil kotak itu lalu memeluknya erat.
"Jangan dibuka Athifa. Ini tuh dari kak Zidan tadi buat gue!" cegat Kayra.
"Waah dari ustadz pujaan hati nich ... apa tuh isinya boleh tahu nih kita-kita ...." Nury kembali menggodanya.
"Nggak, nggak boleh. Ini punyaku!" Kayra memeluk kotak itu semakin erat sambil lari-lari. Akhirnya jadilah mereka berempat kini main kejar-kejaran sambil tertawa-tawa.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, Kau telah menghadirkan mereka para sahabatku sebagai pelipur laraku. Mereka mood boosterku. Bersama mereka hatiku damai." ucap Kayra dalam hati di tengah- tengah canda tawa mereka.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
__ADS_1
Terima kasih kakak 💗
Jangan lupa dijadikan favorit ya😘