
...“Mahkotai hati dengan keikhlasan. Karena akan menjadikan tetap bertahan dalam menghadapi rumitnya kehidupan.”...
...(Tinta Santri)...
………………………………………………………………………………
Pagi menyapa bumi dalam suasana yang cerah. Secerah wajah dua keluarga yang kini tengah berbahagia menyambut hari bahagia kedua putra putri mereka yang beberapa jam lagi akan menjadi sepasang suami istri.
Ya. Hari ini adalah hari akad sekaligus resepsi pernikahan antara Athifa dan Kevin. Akad nikah akan dilangsungkan nanti pada jam 08:30 pagi dan acara akan berlanjut nanti malam yaitu acara resepsi pernikahan Kevin dan Athifa.
Mereka yang berbahagia, namun ada hati yang entah mengapa merasa gelisah. Hati dan pikirannya seolah meragu dengan acara ini.
Gadis yang kini berbalut dengan kebaya putih pengantin lengkap dengan hijabnya baru saja selesai di make up oleh seorang MUA profesional pilihan sang calon ibu mertua.
Gadis cantik itu duduk di depan meja rias sambil menatap bayangan dirinya dalam cermin rias sambil termenung. Gadis itu tak lain adalah Athifa. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini.
"Ya Allah, mengapa hati dan pikiran hamba jadi gelisah seperti ini? Mengapa di saat-saat seperti ini hati hamba seolah meragu? Kemana rasa bahagia yang seharusnya hamba rasakan di hari bahagia ini seperti pengantin wanita pada umumnya?" Dalam lamunannya Athifa membatin.
Dalam kegundahannya tiba-tiba Athifa teringat akan satu ayat yang pernah sahabatnya, Nada bacakan.
"Di kala hati sedang gundah-gulana. Maka Ingatlah Allah! Karena dengan mengingat Allah, hati kita akan menjadi tenteram." - (QS. Ar-Ra’d:28).
"Astaghfirullahal Adzim ya Allah, ampuni hamba yang telah lalai melupakan kuasa-Mu. Yakinkan hati hamba. Mantapkan hati hamba akan pernikahan ini, ya Allah ... Beri keberkahan serta kebahagiaan dalam pernikahan kami nanti. Tuntun hamba menjadi istri sholihah untuk suami hamba nanti. Aamiin ya Robb!" Batin Athifa penuh harap.
Sementara di luar sana, para tamu undangan yang akan menyaksikan akad nikah Kevin dan Athifa sudah banyak yang datang.
Senyum bahagia terpancar di rona wajah Pak Irfan. Ayah Athifa. Pria paruh baya bersahaja itu sudah tidak sabar ingin menyaksikan putri semata wayangnya itu menjadi pengantin.
Walau di sudut hati terdalam ada rasa kesedihan karena sebentar lagi akan melepas tanggung jawabnya sebagai seorang ayah. Dan akan menyerahkan tanggung jawab itu kepada Kevin, sang calon menantu yang sebentar lagi akan berganti gelar menjadi suami sang putri tercinta. Athifa.
__ADS_1
Gelak tawa terdengar dari keluarga besar Dirgantara, yaitu keluarga Kevin Dhamarash Dirgantara. Ada Tuan besar Surya Willy Dirgantara selaku kakek dari Kevin. Ada Nyonya Dewi Arum Dirgantara selaku nenek Kevin. Ada pula Tuan Dhamar Dirgantara beserta istrinya Nyonya Marisa sang menantu keluarga Dirgantara yang tak lain mereka adalah Ayah dan ibunda Kevin sang mempelai pria.
Sementara Kevin sendiri, dia sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya. Termasuk Darren dan Exel. Kedua teman Kevin itu tidak tampak bersama kekasih masing-masing karena keduanya sedang pamit pergi ke toilet. Entah apa yang dilakukan kedua gadis itu di dalam toilet selama hampir tiga puluh menit.
Gelak tawa mereka terhenti saat mendengar ucapan salam dari seorang wanita paruh baya yang baru saja tiba di kediaman keluarga Dirgantara bersama dengan seorang pemuda di sampingnya.
"A-Ayunda, Ra-Raka ...." Lirih Tuan Surya dan Nyonya Dewi Arum berbarengan. Sepasang kakek nenek itu menatap nanar pada kedua orang yang telah lama mereka tak pernah melihatnya lagi kini sedang melangkah mendekat ke arah mereka.
Tuan Surya langsung memutus kontak mata dan berpaling muka dari kedua orang ibu dan anak itu. Sementara mata Nyonya Dewi Arum sudah mulai berkaca-kaca menatap ke arah Raka.
Ayunda menyalami dan mencium tangan kedua mertuanya dan diikuti oleh Raka setelahnya. Ayunda dan Raka juga menyapa serta menyalami keluarga dari Almarhum suaminya yang sebenarnya enggan untuk membalasnya.
Sedangkan Tuan Surya sendiri juga seakan enggan dan terpaksa menerima perlakuan manis dari Ayunda karena di sana ada beberapa tamu pentingnya. Apa jadinya jika ia menolak tindakan Ayunda dan Raka di depan para tamu pentingnya itu. Pastilah imagenya akan terlihat buruk di mata mereka.
Tak henti-hentinya Nyonya Dewi Arum memandang wajah Raka yang begitu mirip dengan almarhum putra pertamanya, Alvian Dirgantara. Putra pertama mereka yang terbuang dan dicoret dari daftar ahli waris bahkan dari Kartu Keluarga karena telah berani menolak menikah dengan gadis yang telah dijodohkan dengannya. Seorang gadis dari keluarga terhormat dan bahkan Almarhum Alvian malah lebih memilih menikah dengan gadis biasa seperti Rahma Ayunda Sekar, Ibunda dari Raka Putra Alvian.
"Sial! Aku pikir mereka tidak akan datang, ternyata berani juga mereka datang ke acara ini." ucap Marisa dalam hati sambil menatap benci tehadap Ayunda dan Raka.
Nada, Nury dan Kayra sedari tadi ikut menyaksikan ketegangan keluarga calon suami sahabat mereka. Mereka bertiga kaget serta heran saat melihat keberadaan pemuda yang sangat familiar bagi mereka yang tak lain adalah Raka.
Mereka juga tidak menyangka kalau Raka sebenarnya juga bagian dari keluarga Dirgantara.
Raka yang melihat Nada, Kayra dan Nury juga heran dengan keberadaan mereka bertiga. Namun sekilas ia tersenyum pada ketiga gadis itu dan dibalas juga dengan senyuman dari ketiganya.
"Mereka hanya bertiga, kemana yang satunya lagi?" Batin Raka karena tidak melihat keberadaan Atifa diantara ketiga gadis itu.
Waktu terus bergulir. Jam menunjukkan pukul 08:15 pagi. Sebentar lagi prosesi akad nikah akan segera dimulai. Atas permintaan Kevin, Athifa sang calon istri harus ada di sampingnya saat ijab qabul berlangsung.
Bergegas Nada, Kayra dan Nury beranjak untuk menjemput sang sahabat yang sangat mereka sayangi di salah satu ruangan di kediaman keluarga Dirgantara. Hal itu membuat Raka mengerutkan kening heran. Mengapa mereka bertiga yang beranjak?. Batinnya.
__ADS_1
Selang berapa detik ketiga gadis itu kembali keruangan yang akan dijadikan tempat acara ijab qabul diadakan. Kali ini mereka tidak bertiga lagi, tapi berempat dengan calon pengantin wanita. Semua yang hadir begitu takjub saat melihat kecantikan sang calon pengantin wanita yang terbalut kebaya pengantin putih yang dilengkapi dengan hijab menghiasi kepalanya.
Kini terjawab sudah pertanyaan Raka mengapa Athifa tidak ada di antara mereka bertiga, Nada, Kayra dan Nury.
"Ternyata gadis itu adalah calon istri Kevin." Batin Raka setelah melihat wajah sang calon istri saudara sepupunya itu.
Ada rasa gemuruh dalam hati Raka saat menatap wajah cantik yang terbingkai balutan hijab itu. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Namun segera ia berpaling seraya beristighfar, menepis segala rasa yang tiba-tiba menyelinap dari celah hatinya.
Athifa duduk di samping Kevin yang sedari tadi tak mengalihkan pandangannya dari wajah calon istrinya. Terpesona.
"Cantik!" gumamnya spontan.
Kevin tersadar saat Pak Penghulu mengintrupsinya untuk menjabat tangan Pak Irfan, sang calon mertua. Kevin menjadi salah tingkah.
Kedua tangan antara calon ayah mertua dan menantu pun berjabat.
"Saudara Kevin Dhamarash Dirgantara bin Dhamar Dirgantara, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putriku Athifa Kamelia binti Mohammad Irfan dengan maskawin seperangkat alat sholat dan dan satu set perhiasan senilai tiga puluh juta rupiah serta uang cash sebesar seratus juta rupiah dibayar tunai ... " Suara lantang Pak Irfan dalam mengucapkan ijab dengan mantap.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
Terima kasih kakak 💗
__ADS_1
Jangan lupa dijadikan favorit ya😘