
..."Dan berbahagialah orang yang selalu menerima takdir, menunggu setiap perlakuan pemegang takdir dan tidak mengingkari nikmat yang telah di takdirkan."...
...(Syeh Abdul Qodir Jailani)...
………………………………………………………………………………
Sesampainya di depan sebuah rumah minimalis 2 lantai. Rumah sederhana namun elegan dan mewah. Sebenarnya Athifa bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya rumah siapa yang ada di depannya itu. Mengapa Raka membawanya kesini?
Namun semua pertanyaannya itu ia simpan dalam hati. Ia tidak berani menanyakannya pada Raka maupun bunda Rahma.
Raka masuk kedalam rumah itu setelah membuka kunci rumah dan di ikuti oleh Bunda Rahma dan Athifa.
"Alhamdulillah ... akhirnya kita nyampe juga!" seru Raka sambil tersenyum.
"Bunda ke kamar dulu ya, Nak." Tanpa menoleh ke arah Raka Bunda Rahma melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar.
"Bunda ...." Cegah Raka membuat langkah Bunda Rahma terhenti.
"Ya sayang, ada apa?" tanya Bunda Rahma setelah menoleh pada Raka.
"Bunda tidak apa-apa?" tanya Raka kembali.
"Bunda tidak apa-apa kok, Nak. Kamu tenang saja. Bunda sudah ikhlasin semuanya. Ya udah kamu masuk gih, ajak Athifa untuk istirahat. Bunda ke kamar dulu ya .... " ucap Bunda Rahma berusaha tersenyum. Bunda Rahma berbalik lalu secepatnya melangkahkan kakinya kembali menuju sebuah kamar di lantai satu.
Raka menatap sendu pada ibunya yang kini melangkah menjauh. Ia tahu bagaimana keadaan hati ibunya saat ini. Tapi ia tak bisa menolak permintaan ibunya untuk menempati rumah peninggalan almarhum ayahnya itu.
"Ayo kita ke kamar?" ajak Raka pada Athifa.
"Maaf Ustadz, ini ... rumah siapa?" tanya Athifa pelan. Athifa sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya yang sejak tadi ia sembunyikan. Raka tersenyum pada Athifa membuat Athifa terpesona akan senyum manis suaminya itu. Namun segera ia menunduk karena salah tingkah.
"Ini rumah kita!" jawab Raka singkat.
"Rumah kita?" tanya Athifa lagi sambil mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti.
__ADS_1
"Ya, ini rumah kita. Kamar kita ada di lantai dua. Ayo kita masuk dulu ke kamar kita, nanti aku ceritakan di dalam." ucap Raka sambil meraih tangan Athifa agar mengikutinya menuju kamar mereka yang ada di lantai dua. Athifa terkesiap saat tangan Raka menyentuh tangannya. Meski ini bukan pertama kalinya tangan mereka bersentuhan melainkan kedua kalinya, tapi entah kenapa ada gelenyar rasa di hati Athifa. Begitu juga dengan Raka.
"Welcome di kamar kita, Zaujati ..." celetuk Raka tiba-tiba membuat Athifa tersenyum bahkan sampai terkekeh kecil karena merasa lucu dengan aksi Raka. Raka tercenung menatap wajah Athifa.
Baru kali ini ia melihat Athifa tertawa meskipun tertawa kecil. Di tatap seperti itu oleh suaminya membuat Athifa jadi salah tingkah lagi.
"Athifa, duduk sini dulu!" seru Raka setelah ia duduk di pinggir tempat tidur yang lumayan besar itu sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sisinya.
Dengan ragu-ragu Athifa duduk di samping Raka dengan perasaan canggung.
"Gimana? kamu suka dengan interior kamarnya?" tanya Raka pada pada Athifa sambil memperhatikan setiap sudut kamarnya. Athifa mengikuti Raka dengan memperhatikan keadaan kamarnya.
"Suka." jawab Athifa singkat. Ia masih mengontrol suasana hatinya yang sedari tadi berdegup kencang. Duduk berdekatan dengan suaminya membuat jantungnya berpacu tidak seperti biasanya.
"Rumah ini adalah peninggalan almarhum ayahku," ucap Raka memulai ceritanya.
"Rumah ayah?" tanya Athifa memastikan. Raka mengangguk.
"Ya, dulu Rumah ini adalah rumah kontrakan kecil yang ayah beli untuk bunda setelah genap satu tahun usia pernikahan mereka. Ayah membeli rumah ini pada pemilik kontrakan dengan cara mencicil karena saat itu pekerjaan ayah yang hanya pegawai biasa, jadi ayah mampunya ya segitu." jelas Raka pada Athifa. Athifa mendengar cerita Raka dengan seksama.
"Dulu rumah ini memang kecil seperti rumah kontrakan kecil pada umumnya dan hanya satu lantai. Tapi seiring berjalannya waktu, karena pekerjaan ayah yang semakin bagus sehingga Ayah mencoba memperluas rumah ini. Bunda pernah cerita kalau dulu Ayah juga berkeinginan membuat rumah ini menjadi dua lantai. Tapi belum sempat keinginannya tercapai, ayah keburu meninggal pada saat usiaku masih empat tahun." jelas Raka panjang lebar yang di akhiri dengan suara yang lirih.
"Innalillahi wainna ilaihi roji'un ... " lirih Athifa tapi masih di dengar oleh Raka.
"Setelah aku tahu keinginan ayah itu, aku pun bertekad untuk mewujudkan keinginan almarhum ayah, sehingga jadilah rumah ini menjadi rumah dua lantai sesuai dengan keinginan ayah. Tapi sayangnya bunda tidak mau menempati rumah ini, katanya selalu teringat dengan ayah." sambung Raka lagi.
"Kalo bunda tidak tinggal di sini, terus selama ini bunda tinggal di mana, Ustadz?" tanya Athifa heran dan penasaran.
"Setelah beberapa bulan kepergian ayah, bunda membawaku dan memutuskan untuk tinggal di kampung halamannya sendiri tepatnya di Surabaya." jawab Raka.
"Oh berarti selama ini Ustadz besar di Surabaya ya?" tanya Athifa lagi dan dijawab gelengan oleh Raka yang membuat Athifa jadi bingung.
"Aku besar di pesantren. Waktu itu tepatnya saat usiaku menginjak 8 tahun, bunda dapat panggilan kerja jadi tkw di kalimantan, jadi bunda menitipkan aku di pesantren Jombang karena tidak mungkin juga beliau membawaku kesana, aku terlalu kecil waktu itu." jelas Raka membuat Athifa terkejut.
__ADS_1
"Ya Allah ... bunda pernah jadi tkw?" tanya Athifa tak percaya dan dijawab anggukan oleh Raka.
"Tapi setelah tiga tahun disana bunda pulang, bunda mulai tidak betah karena terus kepikiran dan teringat padaku. Meskipun Bunda pulang dari Kalimantan tapi beliau tidak lantas memberhentikan pendidikanku di Pesantren. Beliau tetap memondokkanku di Pesantren hingga aku lulus sekolah. Terus kalo kuliahnya aku dapat beasiswa dari Pesantren." sambung Raka lagi.
"Emang Ustadz dulu kuliahnya di Surabaya atau tetap di Jombang?" Athifa tak habis-habisnya untuk bertanya tentang suaminya itu, karena merasa semakin penasaran.
"Tidak keduanya. Aku dapat beasiswa ke Kairo." jawab Raka membuat Athifa melongo lucu. Reaksi Athifa yang lucu membuat Raka terkekeh-kekeh.
"Kairo? Mesir? Masya Allah ... keren banget sih Ustadz bisa kuliah di Mesir?" Athifa tak henti-hentinya merasa takjub.
"Ada yang lebih keren lagi dari aku, si Athar lebih keren lagi," ucap Raka membuat Athifa mengernyitkan keningnya.
"Emangnya dimana?" tanya Athifa penasaran.
"Universitas Ummul Quro, Mekkah!" jawab Raka singkat.
"WHAT??!" teriak Athifa agak keras membuat Raka kaget.
"Ma— maaf Ustadz, saya reflek." ucap Athifa sambil nyengir canggung.
"Gak papa. Athar emang anak yang pintar dan cerdas, saking cerdasnya bahkan di Ummul Quro dia ambil 2 jurusan sekaligus. Jurusan Dakwah dan Manajemen Bisnis. Anak itu memang genius." Raka tersenyum mengingat sahabat geniusnya itu.
"Genius?" tanya Athifa yang diiringi dengan senyuman dan jentikan jari.
"Pas sekali!" celetuk Athifa tiba--tiba membuat Raka mengernyitkan dahinya.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
__ADS_1
Terima kasih kakak 💗
Jangan lupa dijadikan favorit ya😘