JOMBLO FII SABILILLAH

JOMBLO FII SABILILLAH
43. PEMILIK HATI YANG SEBENARNYA


__ADS_3

..."Cinta terbaik adalah di saat engkau mencintai seseorang yang membuat akhlakmu semakin baik. Jiwamu semakin damai dan hatimu semakin bijak."...


...(Habib Umar bin Hafidz)...


………………………………………………………………………………


"Ih, kok Daddy sih, gak mau ah. Baby akan panggil kamu papa. ya, Papa Erik, hallo Papa Erik ...." ucap Radha dengan menirukan suara


anak kecil.


"Ya, ya terserah kamu saja lah." sahut Erik pasrah. Ibu Amalia tertawa melihat tingkah pasutri itu.


"Sepertinya aku harus menemui lawyer pribadiku, ya aku harus mengubah ulang berkas-berkas ahli warisku." gumam Ibu Amalia dalam hati.


"Emmm, Radha, Nak Erik. Tante pergi dulu ya, tante ada urusan. Dan soal baby Kayra, Tante pasrahkan semuanya pada kalian berdua." ucap Ibu Amalia berpamitan.


"Ya, Tante. Sekali lagi makasih atas semuanya, Tante. Hati-hati di jalan!" ucap Radha sambil tersenyum.


Setelah berpamitan pada sepasang suami istri itu, Ibu Amalia bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.


Sampai di kantor pengacara pribadinya Ibu Amalia menyampaikan maksud kedatangannya yang ingin mengubah kembali surat wasiat serta berkas-berkas ahli warisnya.


***


Beberapa hari kemudian setelah urusannya dengan pengacara pribadinya selesai.


"Ibu mau kemana? Kenapa bawa-bawa koper besar segala Bu?" tanya Firman saat melihat ibunya menyeret dua koper yang lumayan besar. Hatinya mulai tidak tenang.


"Ibu akan pergi dari rumah ini." jawab Ibu Amalia singkat.


"Apa? Tidak, Ibu tidak boleh pergi dari sini. Ini rumah Ibu, kalau Ibu pergi terus bagaimana dengan Firman Bu. Ibu tetap disini ya sama Firman." ucap Firman memohon pada ibunya.


"Ibu tidak sudi tinggal bersama orang jahat yang sudah membuat cucu Ibu kehilangan ibunya, gara-gara ulah perempuan itu, Zafira menantu ibu yang malang harus pergi setelah melahirkan putrinya!" ucap Ibu Amalia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Deg!


Mendengar kabar tentang Zafira yang sudah tiada, Firman shock. Hatinya hancur merasa kehilangan seseorang yang sebenarnya masih sangat berarti dalam hidupnya hingga saat ini. Hatinya sakit mendengar kenyataan ini.


"Za–Zafira ... kapan ...?"


"Tepat di hari kamu menghancurkan hati dan seluruh hidupnya. Di mana kamu menodai pernikahan suci kalian dengan cara yang menyakitkan. Zafira berjuang diantara hidup dan matinya demi melahirkan puteri kalian. Menantuku yang malang itu mengorbankan nyawanya sendiri demi agar putri kalian tetap hidup. Sementara kamu, kamu malah berbahagia pergi menikmati bulan madu dengan wanita jahat itu." ucap Ibu Amalia sambil menangis senggugukan.


Tes!


Air mata menetes dari pelupuk mata Firman.


"Ibu kecewa sama kamu Firman!" keluh Ibu Amalia sambil mengusap air matanya.


"Ke–kenapa Ibu baru kasih tahu Firman sekarang, Bu?" tanya Firman dengan tatapan kosong kedepan.


Ibu tersenyum sinis mendengar pertanyaan putranya.

__ADS_1


"Apa peduli kamu? Bukankah kamu sudah mencampakkan menantuku?" sindir Ibu Amalia membuat Firman bungkam.


Ibu Amalia hendak melangkah tapi Firman mencegahnya.


"Bu, tolong jangan pergi, Ibu mau kemana? Tetap disini ya, Bu sama Firman" Firman berusaha mencegah ibunya agar tidak pergi, namun ibunya tetap dengan keputusannya.


"Buat apa Ibu tinggal disini lagi Firman, toh menantu yang sangat Ibu sayangi tak lagi ada disini. Ibu akan pergi dan tinggal di suatu tempat yang membuat hati Ibu tenang. Tolong jangan halangi Ibu. Oh ya, Ibu tidak akan memaksa kamu untuk mengakui puteri kandungmu sendiri, tapi tolong jangan pernah sekalipun kamu sakiti cucu kesayangan Ibu karena dia adalah cucu Ibu satu-satunya yang akan mewarisi seluruh harta Ibu dan juga almarhum bapak, termasuk perusahaan. Ingat pesan Ibu, jangan ganggu dan sakiti cucu Ibu! Ibu pamit, Assalamu'alaikum." ucap Ibu Amalia panjang lebar kemudian melangkah pergi meninggalkan rumah dan putera semata wayangnya yang diam mematung.


"Wa'alaikum salam"


Firman tak lagi bisa mencegah ibunya untuk pergi meninggalkan dirinya dan rumah peninggalan almarhum bapaknya.


Flashback Off


Firman memejamkan matanya sesaat ia membuka lagi menatap bingkai foto pernikahan dirinya dan Zafira yang ia pegang. Setelah itu ia kembali menyimpannya di dalam laci meja kantornya.


***


"Sayang ... kamu dimana?" teriak Raka sambil mencari-cari Athifa di setiap sudut rumahnya yang tak kunjung ketemu.


"Athifa kemana sih?" gumam Raka sambil terus mencari istrinya.


Sementara Athifa kini sedang bersantai menikmati udara pagi yang sejuk di taman belakang rumahnya ditemani secangkir teh dan cemilan.


Sudah dua hari setelah pertemuannya dengan Kevin di mall Athifa memikirkan sesuatu yang membuatnya bingung. Ucapan suaminya pada Kevin yang membuat Athifa terus memikirkannya.


Terimakasih juga karena anda telah mengembalikan berlian berharga ini pada pemilik yang sebenarnya.


"Ck, tahu ah pusing!" cetus Athifa kemudian.


"Pusing kenapa, sayang?" tanya Raka yang kini duduk di sebelah Athifa.


"Astaghfirullahal 'adzim!" seru Athifa terlonjak kaget. "Iiih Mas ngagetin aku aja!" gerutu Athifa sambil menepuk keras paha Raka.


"Aduh, jangan ditepuk sayang, tapi dicium. ucap Raka sambil terkekeh.


"Yeee itu sih maunya kamu."


"Habisnya aku cari-cari kamu dari tadi gak ketemu-ketemu. Eh tak tahunya kamu malah santai-santai disini, tega banget sih sama suami." gerutu Raka sambil merengut membuat Athifa gemes melihat ekspresi wajah suaminya.


"Emang ada apa Mas cari aku? Kangen ya sama aku ...." goda Athifa.


"Banget." jawab Raka sambil memeluk erat tubuh istrinya.


"Oh ya sayang, besok Mas ada kajian lagi di kampusmu lho." ucap Raka pada istrinya.


"Oh ya, emang jadi kontraknya?" tanya Athifa antusias.


"Ya, sayang. Awalnya si Fikri itu iseng lho merekom kami ke pak dekannya. Mas pun tak menyangka jika pak dekan itu malah menyambut antusias keisengan Fikri. Kami dikontrak selama satu tahun ke depan oleh pak dekannya." tutur Raka menjelaskan.


"Waaah congrats Mas Ustadz ...."

__ADS_1


"Thanks istrinya Mas Ustadz ...."


Keduanya tertawa bersama dengan kekonyolan mereka sendiri.


Athifa merogoh ponselnya lalu mengetik sesuatu.


"Mau ngapain?" tanya Raka sambil mengernyitkan keningnya.


"Mau kasih tahu Nada dan yang lainnya, pasti mereka senang. Apalagi si Kayra tuh, pasti besok dia hadir terdepan buat lihat pujaan hatinya." jawab Athifa sambil mengetik-ngetik sesuatu pada ponselnya. Raka hanya geleng-geleng sambil tersenyum.


"Oya Mas, aku boleh nanya nggak?" tanya Athifa setelah selesai dengan ponselnya.


"Ya boleh banget dong."


"Emmm ...." Athifa malah ragu untuk melanjutkan pertanyaannya.


"Lho kok diam? Katanya mau tanya sesuatu, emang mau tanya apa sih sayang?" tanya Raka penasaran dan bingung.


"Mas, kemarin saat ketemu sama bang Kevin, Mas bilang 'Terimakasih juga karena anda telah mengembalikan berlian berharga ini pada pemilik yang sebenarnya'.Maksud dari pemilik yang sebenarnya itu apa sih, Mas?" tanya Athifa ragu-ragu.


Raka tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. Diraihnya tangan istrinya lalu mengecup sayang.


"Dua minggu setelah pernikahan kita, bunda cerita kalau sebenarnya yang mau dijodohkan dengan kamu itu bukanlah Kevin, tapi aku." tutur Raka sambil menatap Athifa.


"Hah, masa sih, mas?" tanya Athifa tak percaya.


"Ya sayang. Kata bunda dulu perjanjian antara pak Surya dan kakek kamu adalah menjodohkan kamu dengan cucu pertama dari anak laki-laki pertama pak Surya. Sedangkan Ayahku adalah putra pertama dari pak Surya. Terus aku putra satu-satunya ayah. Otomatis akulah yang sebenarnya yang akan dijodohkan dengan kamu." jelas Raka.


"Oh, gitu, tapi kenapa mereka malah mau menikahkan aku dengan bang Kevin? Apa maksud Mereka?" tanya Athifa bingung.


"Itu karena mereka memang tidak menganggapku ada. Tapi ternyata Allah malah mentakdirkan kamu tetap menjadi milikku. Jodoh memang tak pernah tertukar. Sekarang kamu paham kan kalau akulah pemilik hatimu yang sebenarnya?" ucap Raka yang kemudian merangkul Athifa dan membawanya ke dalam pelukannya. Athifa mengangguk dalam pelukan suaminya.


"Percayalah sayang, apa yang terjadi di hari itu pasti ada hikmah yang indah yang Allah berikan untuk kita. Makasih sudah bersedia jadi istriku meski aku seperti ini adanya. " Raka mengecup lama kening Athifa


Athifa tersenyum mendengar tutur kata dari suaminya.


“Aku tidak membutuhkan pahlawan super. Aku tidak membutuhkan karakter dari sebuah novel romantis. Aku tidak butuh seorang pangeran dari cerita dongeng. Mengapa aku harus berharap untuk mereka sementara aku memiliki mereka semua terbungkus dalam satu? yaitu kamu, suamiku tersayang. Aku sangat mencintaimu." ungkap Athifa sambil semakin memeluk erat suaminya. Sungguh hati Raka menghangat mendengar kata-kata yang diungkapkan istrinya.


"Masya Allah ... Istriku sangat luar biasa. Aku juga mencintaimu, zaujati." puji Raka dengan penuh haru.


To be continue


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamu'alaikum...


Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...


Salam sayang dari author.


Terima kasih kakak 💗

__ADS_1


__ADS_2