
..."Ya Allah, Engkau tahu hati ini terikat suka akan indahnya seorang insan ciptaan-Mu. Tapi aku takut cinta yang belum waktunya menjadi penghalangku mencium surga-Mu. Berikanlah aku kekuatan menjaga cinta ini sampai tiba waktunya. Andai Engkau mempertemukan aku dengannya kelak, berikan aku kekuatan untuk melupakannya sejenak. Bukan karena aku tidak mencintainya, justru aku sangat mencintainya."...
...(Ali bin Abi Thalib)...
………………………………………………………………………………
Gadis itu berdiri di depan meja riasnya, memperhatikan wajah cantik dalam balutan hijab warna peach bayangan dirinya pada pantulan cermin. Ia melebarkan senyuman menampilkan kedua lesung pipitnya yang membuat wajahnya bertambah cantik dan manis.
Ia juga berputar-putar sambil memperhatikan bayangan dirinya sendiri yang memakai gamis dalam pantulan cermin.
"Masyaa Allah ... benar kata dia, ternyata gue lebih cocok pake gamis gini." gumam gadis itu sambil terus tersenyum menerbitkan kedua lesung pipitnya membuat wajah putihnya tambah manis.
Tingkahnya yang lucu saat ini tak luput dari perhatian dari seorang perempuan paruh baya di balik pintu kamarnya. Perempuan paruh baya itu tersenyum sambil kedua tangannya tertumpu di dadanya.
"Nury putriku ..." lirihnya seraya terus menatap wajah sang putri.
Ya, gadis yang kini masih betah berdiri dan memperhatikan bayangan dirinya sendiri di depan cermin itu adalah Nury Khadeejah, salah satu sahabat kesayangan Nada.
Tapi detik berikutnya ia mengerutkan keningnya kala melihat perubahan di wajah Nury.
"Tapi ... sayangnya Derry nggak suka kalo gue pake beginian, huffft!" gumamnya lagi dalam hati. Lalu Nury melepas kembali hijabnya.
Sementara sang ibu yang penasaran terhadap perubahan wajah putrinya pun melangkahkan kakinya menghampirinya.
"Sayang ..." sapa sang ibu seraya merangkul kedua pundak Nury.
"Eh, Ibu." sahut Nury sedikit kaget dengan kedatangan ibunya, namun setelahnya ia tersenyum pada ibunya.
"Kenapa dilepas hijabnya, Nak? Padahal putri Ibu ini cantik lho, kalo pake jilbab kayak tadi." ucap sang ibu memuji Nury membuat yang dipuji tersenyum malu-malu.
__ADS_1
"Ah, Ibu bisa aja deh ngomongnya." ucap Nury tersenyum malu.
"Lha, emang benar kok putri Ibu yang satu ini cantik banget apalagi kalo pake jilbab begini, woahh cantiknya jadi semakin bertambah!" ucap Ibu semakin memuji dan membuat Nury menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa gak diterusin aja pake jilbabnya, sayang, hmm?" pertanyaan sang Ibu membuat senyum Nury sedikit-sedikit menyusut dan berubah cemberut.
"Sebenarnya pengennya sih gitu, Bu. Nury juga pengen berhijab kaya Nada dan juga Athifa, tapi gimana dengan Derry, Bu? Ntar dia pasti marah-marah sama Nury, dia kan gak suka kalo Nury berpakaian tertutup, ntar kalo Nury diputusin sama Derry gimana dong, Bu?" mendengar jawaban Nury, Ibu menghela nafas panjang lalu membuangnya perlahan.
"Ya, kalo kamu sampai diputusin gak papa dong. Tinggal cari aja yang lain yang lebih baik lagi. Kamu kan cantik, pasti masih banyak laki-laki di luaran sana yang mau sama kamu, atau ntar biar Ibu sama bapak aja deh yang nyariin kamu jodoh, seorang ustadz misalnya." si Ibu malah menggoda Nury diiringi dengan kekehan, membuat Nury memanyunkan bibirnya.
"Ih, Ibu kok malah ngomong gitu sih, gak lucu tahu, Bu ...." protes Nury pada ibunya. Ibunya pun tertawa kecil melihat ekspresi Nury.
"Udah, udah. Ibu mau siap-siap dulu ini, Ibu mau ke butik sebentar. Kamu hari ini dirumah aja ya, temenin Ibu aja dirumah."
"Lha, gimana ceritanya? Ibu kan pengen ke butik, kok malah minta ditemenin diem dirumah sama Nury?"
Ibu beranjak dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Nury.
Sementara Nury kembali menghadap pada kaca riasnya. Ia mencoba kembali hijab yang telah ia lepas tadi. Hal itu tak luput dari penglihatan sang ibu yang sempat menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya kebelakang tanpa memutar balikkan badannya.
Ibu Nury menggelengkan kepalanya dan tersenyum kembali melihat tingkah putrinya.
"Ibu berharap secepatnya kamu sadar dan menggunakan hijabmu secara istiqomah tanpa harus memikirkan ucapan seseorang yang gak baik seperti pacar kamu, nak. Dan Ibu juga berharap semoga kamu cepet sadar bahwa laki-laki seperti nak Derry itu tidaklah baik buat kamu sayang. Bukannya apa, Ibu hanya ingin putri Ibu tidak salah pilih pasangan. Ibu ingin kamu mendapatkan pendamping yang sholeh yang baik akhlak serta agamanya." ucap ibu Nury dalam hati penuh harap.
***
Dalam keheningan malam yang di hiasi dengan gemerlap bintang-bintang dan juga sang dewi malam, duduk seorang lelaki diatas sajadah tengah melantunkan kalam suci. Sesekali ia memejamkan mata bila sesuatu tengah mengganggu pikirannya beberapa bulan ini.
Kini bayangan seseorang tengah berseliweran di benaknya. Ia terdiam sejenak sambil memejamkan kedua matanya guna menetralkan degub jantungnya yang kian berirama indah.
__ADS_1
Kalimat dzikir serta istighfar tak lepas ia lantunkan di setiap detiknya.
"Allahu Robbi ... kenapa harus dia yang selalu hadir di setiap sholat istikharahku? Sedangkan dia sudah memiliki kekasih? Apa aku bisa memilikinya suatu saat nanti? Jika memang benar dia adalah jodohku, lancarkanlah dan dekatkan kami tanpa harus aku merebut dirinya dari laki-laki itu. Karena aku tak ingin ada yang tersakiti diantara kami." lirih sang pemuda itu yang masih setia diatas sajadahnya. Menumpahkan keluh kesahnya pada sang Maha Cinta.
"Ya Rahman ... Engkau yang maha kuasa, Engkau yang maha membolak-balikkan hati manusia. Hamba tak bisa berbuat lebih jauh lagi. Hamba terlalu takut. Hanya ini yang bisa hamba lakukan. Mengadu kepada–Mu, mendo'akan kebaikan untuk dirinya sebagai rasa cinta dalam diamku dan menikungnya di setiap sepertiga malamku." kembali ia memejamkan mata hingga bayangan dan senyuman gadis berlesung pipit itu kembali menguasai benaknya.
"Sehatkan dia ya Allah. Lindungi hatinya untukku. Semoga suatu saat nanti hamba bisa menghalalkannya atas nama–Mu. Biidznillah ya Robb ... biidznillah jadikan dia sebagai bidadari surgaku kelak, aamiin ...."
Usai mengucap kalimat-kalimat pinta lelaki itu menutup Al-Qur'an dan mengembalikan ketempat semula.
Lantas ia berdiri menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya untuk melakukan takbiratul ihram.
Ya, pemuda itu kembali melanjutkan sholat malamnya. Sebenarnya tadi ia sudah selesai melaksanakan sholat malam sebelum membaca Al-Qur'an.
Namun kini ia kembali melakukan sholat malam berharap hatinya kembali tenang tanpa memikirkan urusan duniawi.
Selesai sholat malam ia juga melanjutkan dengan dzikir, berusaha menemukan kekhusukan kembali hingga terdengar suara adzan subuh dari salah satu mesjid terdekat.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang . Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
Terima kasih kakak 💗
__ADS_1