JOMBLO FII SABILILLAH

JOMBLO FII SABILILLAH
24. AKU BUKAN ANAK HARAM


__ADS_3

..."Menikahlah dengan seseorang yang takut kepada Allah, maka dia akan memperlakukan kamu dengan benar karena rasa takutnya kepada Allah."...


...(Tinta Santri)...


………………………………………………………………………………


"TUNGGU!!!"


Suara lantang seorang pemuda tampan yang tak lain adalah Raka membuat seluruh atensi tertuju padanya dan membuat langkah rombongan Pak Irfan terhenti seketika. Mereka kembali membalikkan tubuh mereka.


"Ustadz Sahabat Fillah ...." Lirih Nada, Nury dan Kayra bersamaan.


Sedangkan Athifa tertegun melihat keberadaan Raka di sana.


"Dia kan Ustadz Raka ... Kenapa dia ada di sini? Apa dia juga diundang oleh mereka? Berarti dia kenal dengan keluarga Dirgantara," Athifa membatin seraya terus menatap ke arah Raka dengan tatapan sendu. Sejenak mata keduanya saling beradu. Namun Raka langsung memutus kontak mata karena selain tak pantas ia juga tidak sanggup menatap mata indah yang terbalut sendu itu.


"Raka ...." Lirih Oma Dewi Arum seraya menatap wajah sang cucu yang tak pernah dianggap oleh keluarga besar Dirgantara.


"Mau ngapain sih anak sialan itu?" Batin Marisa dengan tatapan kebencian.


"Ada apa anak muda? Kenapa kau menghentikan langkah mereka?" tanya Tuan Surya tanpa memandang wajah Raka sedikit pun.


Sakit rasanya hati Raka mendengar nada ucapan Tuan Surya yang menunjukkan kalau memang dirinya bukanlah siapa-siapa di hati sang Opa.


Bunda Rahma atau Ayunda yang tahu akan perasaan putranya hanya mengelus punggung sang putra seraya memberikan senyuman tulus yang penuh kasih sayang agar ia tetap kuat dan bersabar akan sikap yang ditunjukkan oleh Tuan Surya.


"Ah, Bunda memang selalu mengerti akan perasaanku." Lirih Raka dalam hati sambil membalas senyum tulus Bunda Rahma.


"Ehem .... Op- maksud saya, Tuan Dirgantara, begini Tuan ... saya rasa sangat di sayangkan jika pernikahan ini dibatalkan. Dan sesuai dengan keinginan istri anda, Nyonya Dewi Arum pernikahan ini akan tetap berlanjut." ucap Raka dengan santai.


Nyonya Dewi Arum menatap nanar pada Raka. Ada seonggok daging dalam tubuh rentanya yang merasakan sakit saat Raka menyebutnya nyonya.


"Hey anak haram!!" Bentak Kevin pada Raka.

__ADS_1


Mendengar kata anak haram yang dilontarkan oleh Kevin, membuat mereka terkejut dan ada beberapa hati yang merasa sakit seolah tidak terima ucapan Kevin. Mereka adalah Raka, Bunda Rahma, Oma Dewi Arum dan bahkan Tuan Dhamar sendiri.


Lalu bagaimana dengan Tuan besar Surya Willy Dirgantara? Entah bagaimana suasana hatinya yang jelas saat ini beliau tak bergeming berdiam diri di tempat.


"Apa maksud lo?! Jangan sok ngatur di keluarga gue. Siapa lo yang dengan beraninya bicara agar pernikahan ini berlanjut ... Denger ya ANAK HARAM ... gue, KEVIN DHAMARASH DIRGANTARA, gak akan sudi menikah dengan perempuan yang jelas-jelas sudah jadi BEKAS laki-laki lain seperti DIA!!!" Dengan segala emosi Kevin lontarkan kata-kata kasar dan tudingan untuk Raka dan Athifa.


"Astaghfirullahal 'Adzim ... " Lirih Nada sambil memegang dadanya. Diikuti oleh Nury dan Kayra.


"CUKUP!!" Teriak Athifa yang kini mulai angkat bicara. "Sudah cukup anda menghina kami Tuan muda Dirgantara. Jangan pikir karena anda orang kaya seenaknya memandang rendah kami. Saya pun juga tidak sudi menikah dengan lelaki sombong seperti anda. Malah saya sangat bersyukur karena Allah telah menunjukkan seperti apa anda yang sebenarnya sebelum anda menjadi suami saya!!!" ucap Athifa tegas namun dengan suaranya tang masih terdengar gemetar. Nada tak henti-hentinya mengusap punggung Athifa agar bisa lebih bersabar menahan emosi.


"Siapa bilang kamu yang akan menikah dengannya?" ucap Raka pada Kevin.


"Terus siapa ...?" tanya Kevin mencibir.


"Aku!"


"What ...? Lo ...?!" Kevin tak percaya.


"Ya, aku yang akan menikahi dia dan menggantikan pria yang tak bertanggung jawab sepertimu!" suara lantang berisi pernyataan Raka membuat semua orang terkejut, termasuk Tuan Surya yang sedari tadi berpaling muka kini reflek menoleh ke arah Raka.


"Jangan asal bicara anak muda!" sarkas Tuan Surya pada Raka.


"Saya sama sekali tidak asal bicara Tuan Dirgantara yang terhormat. Bukankah Istri anda tidak ingin kehilangan calon cucu kesayangannya seperti gadis Sholihah seperti dia?" sahut Raka dengan nada tenang.


"Bicara itu jangan ngelantur kemana-mana, dasar anak tidak tahu diri!" ucap Marisa ketus dengan tatapan sinis penuh kebencian pada Raka.


"Putraku tidak ngelantur Marisa. Putraku berkata apa adanya." ucap Bunda Rahma yang sudah tidak tahan lagi. Sebagai seorang ibu, ia pun tidak rela jika anaknya terus-terusan dihina apalagi dicap sebagai anak haram.


"Tuan dan Nyonya Dirgantara, meskipun kalian tak pernah menganggap putraku sebagai cucu kalian, tapi tak dapat dipungkiri kalau dalam tubuh Putraku ini juga mengalir darah keluarga Dirgantara melalui almarhum suami saya." ungkap Bunda Rahma dengan tegas membuat semua keluarga dirgantara bungkam karena apa yang diucapkan Bunda Rahma itu benar adanya. Namun ego mereka lebih tinggi sehingga mereka tetap mengelak.


"Oleh karena itu, dengan Raka menikahi Athifa maka anda, Nyonya Dirgantara yang terhormat tidak akan lagi kehilangan cucu menantu kesayangan anda, meski anda belum dan tidak akan pernah menerima kehadiran Raka seumur hidup anda." sambung Bunda Rahma lagi.


"Benar apa yang dikatakan Bundaku. Tuan dan Nyonya Dirgantara, izinkan saya menikahi Athifa. Anggap saja untuk menebus kesalahan almarhum ayah saya di masa lampau yang kalian anggap salah karena lebih memilih menikahi Bunda Rahma dari pada Nyonya Marisa, wanita pilihan kalian." Sambung Raka tegas dan berwibawa.

__ADS_1


"Hhh, jangan gila kamu anak muda, mau kau kasih makan apa Athifa jika menjadi istrimu sementara kamu lelaki yang-"


"Pengangguran dan tidak jelas pekerjaannya. Begitu kan maksud anda Tuan Dirgantara ...." Raka memotong ucapan Tuan Surya.


"Rejeki itu sudah ada yang ngatur Tuan, jadi anda tidak perlu khawatir masalah itu, insya Allah saya masih bisa untuk menafkahi istri saya nanti meski saya tak bergelimang harta seperti anda." sambung Raka lagi membuat lelaki renta itu terdiam.


"Dan ingatlah, Putraku bukan anak haram seperti yang kalian sebut selama ini. Putraku terlahir dari orang tua yang pernikahannya sah di mata Agama dan Negara!" Bunda Rahma menambahkan.


Pak Irfan yang sedari tadi menahan rasa sakit di kepalanya, tiba-tiba merasa sakit juga di area jantungnya. Beliau *******-***** menekan dadanya yang terasa sesak dan akhirnya beliau tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Beliau ambruk tepat di samping Athifa membuat Athifa dan yang lainnya terkejut.


"AYAH!!!" pekik Athifa lalu meluruhkan tubuhnya di dekat Pak Irfan sambil menangis dan diikuti juga ketiga sahabatnya. Bunda Rahma dan Raka yang sama-sama terkejut ikut menghampiri Pak Irfan


"Ayah, Ayah kenapa? Ayah ...." Tangis Athifa terdengar sendu.


"A-Athi-fa-" Suara Pak Irfan terbata-bata, belum juga melanjutkan ucapannya tangan yang tadi terulur membeli wajah sang putri kini terjatuh pertanda beliau tak sadarkan diri.


"Ayaaah bangun Yah ... jangan tinggalin Athifa Yah, bangun ...!!!" Jerit tangis Athifa menggema menyayat hati. Bunda Rahma segera merangkul dan membawa Athifa ke dalam pelukannya.


"Tolong di antara kalian panggilkan taksi ya, kita harus bawa Paman Irfan secepatnya ke rumah sakit, saya yang akan membantu memapah Paman Irfan," Pinta Raka pada ketiga sahabat Athifa dan dijawab dengan anggukan oleh mereka bertiga.


Bergegas Nury berlari keluar untuk memanggil taksi. Sedangkan Raka dan yang lainnya membopong tubuh lemah Pak Irfan


To be continue


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamu'alaikum...


Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...


Salam sayang dari author.


Terima kasih kakak 💗

__ADS_1


Jangan lupa dijadikan favorit ya😘


__ADS_2