
..."Kecantikan yang abadi terletak pada adab dan ketinggian ilmu seseorang. Bukan terletak pada wajah dan pakaiannya."...
...(Buya Hamka)....
………………………………………………………………………………
Di kampus...
"Nada!" Seru Devan memanggil Nada yang tengah melangkah sendirian.
Nada yang baru saja dari toilet dan akan ke kantin menyusul Athifa dan yang lainnya menghentikan langkahnya karena mendengar seseorang yang memanggil namanya. Ia menoleh ke arah orang yang memanggil namanya itu.
"Kak Devan." Gumamnya setelah tahu siapa yang memanggil dirinya tadi.
Devan melangkah menghampiri Nada.
"Hai Nad..." Sapa Devan pada gadis berhijab yang kini tengah menundukkan kepalanya.
"Assalamu'alaikum kak Devan." Salam Nada dengan tetap menundukkan kepalanya.
"Oh, ya. Sorry. Wa'alaikum salam Nada." Jawab salam Devan kikuk dengan tangan kanan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Malu.
Nada tersenyum tipis menanggapinya. Hening.
"Emmm, ada apa kak Devan?" Tanya Nada pelan pada sosok pria tampan di hadapannya itu.
"Ah, i...ya, emmm gak ada apa-apa, sekedar mau nyapa kamu aja." Sahut Devan gugup.
Nada ber oh saja sambil manggut-manggut kepala.
"Ya udah saya ke kantin dulu ya kalo gitu... Assalamu'alaikum..." Pamit Nada sambil ucap salam.
"Ya, eh Nad tunggu dulu!" Cegah Devan pada Nada yang hendak membalikkan badannya. Nada pun mengurungkan langkahnya.
"Ya kak, kenapa?" Tanya Nada bingung.
"Emmm... Nanti malam ada acara nggak?" Tanya Devan dengan hati berdebar.
"Emang kenapa kak?" Bukannya menjawab tapi malah balik nanya si Nada.
"Kalo kamu nggak ada acara aku pengen ngajakin kamu jalan-jalan." Jawab Devan yang hatinya semakin berdebar.
"Jalan-jalan? Kemana?"
__ADS_1
"Ya... Kemana aja terserah kamu, kamu mau kemana pun nanti aku temenin kamu, kamu mau makan-makan di resto, ke mall, nonton atau sekedar ngopi di kafe misalnya, aku bakal temenin kamu." Ucap Devan penuh harap.
"Maaf ya kak, bukannya saya mau nolak atau tidak menghargai ajakan kak Devan, tapi saya tidak bisa dan tidak biasa keluar malam seperti itu apalagi kalau bukan dengan mahram saya.?" Ucap Nada pelan dan hati-hati karena tidak enak hati.
"Mahram?" Ucap Devan sambil mengerutkan keningnya. Nada menganggukkan kepala.
"Ya udah ya kak, sekali lagi, maaf ya, saya permisi dulu. Assalamu'alaikum..." Pamit Nada lagi.
"Wa'alaikum salam..." Jawab Devan pelan seraya terus memandang punggung gadis cantik berhijab itu berlalu hingga hilang dari pandangannya.
"Nada... Kamu memang gadis yang berbeda. Tapi kenapa sih Nad, kenapa sesulit ini aku untuk mendekati kamu? Aku hanya ingin kau tahu dengan perasaan aku ke kamu, Nada. Perasaan yang hanya ingin memilikimu." Gumam Devan dalam hati.
"Tapi aku tak akan menyerah, Nad. Aku tak akan menyerah untuk mendapatkan hati kamu. Aku yakin suatu saat kamu jadi milik aku." Lanjutnya lagi dalam hati.
"Devan." Sapa Vello pada Devan sambil menepuk bahu Devan. Membuat Devan kaget.
"Eh, Vel..." Sahut Devan setelah menoleh ke belakang. "Ada apa?" Lanjutnya bertanya.
"Nggak, gue cuma heran aja ngapain lo berdiri disini sendirian?" Tanya Vello heran.
"Oh tadi gue habis ngobrol sama Nada disini." Jawab Devan singkat.
"Hah, Nada?" Mendengar nama Nada hatinya malah kesal. "Emang ngobrol apaan lo sama dia?" Tanya Vello tak senang.
"Ngobrol seperti biasa aja sih, ya cuma gue tadi ngajakin si Nada jalan-jalan nanti malam. Tapi ya gitu deh, gak mau dia." Tutur Devan pada Vello.
"Emmm, emangnya kenapa dia gak mau?" Tanya Vello setelah menormalkan emosi hatinya.
"Gak biasa katanya. Padahal gue lagi butuh temen buat ngilangin suntuk gue." Ujar Devan lesu.
"Ya udah, ntar malem jalan-jalannya bareng gue aja ya Van." Tawar Vello tiba-tiba.
"Hah? Bareng lo?"
"He'em."
"Tapi Vel..."
"Ayolah Devan, mau ya jalan-jalan bareng gue ntar malem. Lagian gue juga lagi suntuk nih, butuh hiburan juga. Please ya Van...." Vello memaksa.
Devan berfikir sejenak. Tidak ada salahnya kan pergi sama gadis cantik yang kini sedang memegang lengan kanannya. Pikirnya.
"Devan...?"
__ADS_1
"Emmm ok lah." Jawab Devan sambil menganggukkan kepalanya. Hal itu membuat gadis yang berpakaian seksi itu tersenyum senang.
"Beneran ini Van, lo mau pergi sama gue nanti malem? Ah... Thank you Devan..." Ucap Vello girang dan dengan spontan memeluk Devan erat. Sedangkan Devan merasa kaget sekaligus risih dengan pelukan gadis yang berpakaian mini dress di atas lutut itu.
"Ups, sorry. Gue reflek." Ucap Vello sambil tersenyum setelah melepaskan diri dari tubuh Devan yang ia peluk tadi . Devan hanya tersenyum dan mengangguk. Mungkin memang reflek saking senangnya. Begitu pikirnya.
***
Di resto...
"Gimana? Udah selesai?" Tanya Winda pada Fera dan Sintia sudah tidak sabar.
Ya. Kini mereka bertiga sedang berada di sebuah resto. Sambil makan siang mereka tengah merencanakan sesuatu yang bisa membuat rencana pernikahan Kevin dan Athifa batal. Entah rencana apa itu hanya mereka bertiga yang tahu.
Fera dan Sintia memang tidak suka pada hubungan Kevin dan Athifa. Entah mungkin karena penampilan Athifa yang menurut mereka kampungan itu yang jadi masalah ketidak sukaan mereka berdua. Sehingga mereka mau-mau saja menyambut dan membantu untuk melancarkan rencana yang telah Winda susun.
"Hampir selesai Win." Jawab Sintia santai.
"Ckk, lo dari kemarin-kemarin hampir selesai terus jawabnya. Gue tuh pengen yang real tahu nggak sih." Decih Winda kesal.
"Lo sabaran dikit napa sih Win, bentar lagi selesai dan lo tinggal lihat hasilnya aja ntar." Sahut Fera tak kalah kesalnya.
"Gue emang gak sabaran buat nyingkirin cewek kampungan itu dari hidupnya Kevin, you know..." Ucap Winda kali ini santai tapi penuh penekanan. Fera dan Sintia hanya mengangguk saja.
"Tapi inget ya, jangan sampai rencana ini ada yang tahu terutama si Kevin. Dan gue gak mau tahu gimana pun caranya rencana ini jangan sampai bocor. Winda memperingati Sintia dan Fera.
"Ok beb!" Sahut keduanya serentak.
"Good!"
Ketiga gadis seksi itu tersenyum menyeringai.
"Gue bakal pastiin rencana pernikahan Kevin dan cewek sialan itu gak akan pernah terjadi. Tinggal satu langkah lagi gue bakal berhasil singkirin cewek kampung itu dari sisi Kevin. Dan Kevin akan kembali jatuh ke pelukan gue. Kevin bakal jadi milik gue seutuhnya." Ucap Winda dalam hati
To be continue to
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
__ADS_1
Terima kasih kakak 💗
Jangan lupa dijadikan favorit ya😘