
..."I'ndamaa tuhibbu syakhson bilaa sabab, kun mutayaqqinan bi annaa laa alfa sabab qodirun ala naz’ihi min qolbika."...
...(Tatkala engkau mencintai seseorang tanpa sebab, saat itu pula yakinlah bahwa seribu sebab sekalipun tidak akan bisa mencabutnya dari hatimu)...
...(Pearl or Love)....
………………………………………………………………………………
Eh, ya Mas, kenapa?" tanya Nada seperti orang yang gelagapan. Athar pun tersenyum teduh.
"Nggak, aku tadi cuma nanya kamu lagi mikirin apa? Dan dari tadi aku manggil-manggil kamu, tapi kamu gak ngejawab sama sekali. Sepertinya kamu lagi mikirin sesuatu yang sulit ... boleh aku tahu?" terang Athar sekaligus bertanya.
Mendapat pertanyaan itu dari Athar membuat Nada kembali terdiam. Ia memikirkan apakah ia memberi tahu Athar saja apa yang ia pikirkan dari tadi.
Melihat Nada yang kembali terdiam, Athar pun juga kembali bertanya.
"Hei, kok malah diam lagi? kenapa sih? Cerita dong, kita itu suami istri, dan sudah seharusnya kan suami istri itu saling terbuka satu sama lain, termasuk kita." ucap Athar dengan suara lembutnya sambil menyetir. Sesekali ia menoleh sebentar ke arah Nada.
"Emmm, Mas ... habis ini, aku ...." Nada tampak ragu untuk mengatakannya.
"Ngomong aja, gak papa!" seru Athar lembut.
"Habis ini, aku mau tinggal dimana ...." Nada semakin melirihkan ucapannya. Sedangkan Athar yang masih mendengarnya menerbitkan senyuman indah sehingga membuat kadar ketampanannya bertambah berlipat-lipat dan membuat Nada kembali semakin terpesona. Karena tidak tahan menahan degub jantungnya yang kian berdetak kencang Nada pun berpaling dari wajah Athar dan mengarahkan pandangannya ke luar jendela.
"Udah, kamu tenang dulu, sekarang aku akan bawa kamu ke suatu tempat." ujar Athar dengan suara khasnya.
Nada hanya menanggapinya dengan deheman.
***
"Tempat ini kan ....". lirih Nada dalam hati saat Athar menghentikan laju mobilnya di suatu tempat dan berseru sudah sampai.
"Kok malah bengong? Ayo turun, kita sudah sampai!" seru Athar lagi membuat Nada tersadar lalu tersenyum kikuk.
Athar turun terlebih dahulu lalu membukakan pintu mobil untuk Nada. Ia juga mengulurkan tangannya untuk Nada. Dengan wajah tersipu Nada menyambut uluran tangan Athar hingga betul-betul keluar dari mobil.
Deg!
Nada terkejut. Ia juga tertegun saat terpampang jelas di hadapannya sebuah rumah berlantai dua minimalis namun terkesan mewah dan elegan
__ADS_1
"Ya Allah ... tempat ini ... ru–rumah ini ..." suatu ingatan tiba-tiba bermunculan dan terputar dalam benaknya seperti kaset
film.
"Kalau udah besar nanti kamu pengen punya rumah seperti apa?"
"Emmm rumah impianku kayak gini..."
Gadis kecil berhijab itu menggambar sebuah kerangka rumah yang sesuai dengan imajinasinya sendiri pada tanah menggunakan ranting kayu, kemudian memperlihatkannya pada seorang anak laki-laki yang mungkin usianya beda sekitar 4 tahunan di atasnya.
"Dua lantai tapi kok kecil?" ucap seorang anak laki-laki sambil memotret gambar kerangka rumah itu dengan kamera yang ia bawa.
"Ya dong, kan aku anaknya kecil imut lagi, hihihi" gadis kecil nan imut itu cekikikan dengan ucapannya sendiri.
Sementara anak laki-laki itu tersenyum senang. Ia ikut merasa bahagia kala melihat gadis kecil di sampingnya itu gembira.
"Humaira kecil ...." ucapnya pelan seraya menatap gadis kecil itu.
Gadis kecil itu berhenti tertawa dan reflek menoleh ke arah laki-laki kecil itu. Kemudian menghela nafas.
"Kemarin ukhti kecil, sekarang lain lagi, humaira kecil. Kok malah berubah-ubah sih panggilannya." protes gadis kecil itu sambil mengerucutkan bibirnya cemberut, membuat lelaki itu semakin gemas melihatnya.
Jika dibolehkan, ingin sekali ia mencubitnya pipi chubby–nya, tapi ia tak cukup berani untuk melakukan hal itu. Ia takut gadis kecil imut itu marah karena disentuh sembarangan.
"Eh, ya kenapa?"
"Kenapa malah bengong lagi? Ayo kita masuk!" ajaknya pada Nada yang baru sadar dari lamunannya.
Nada masih terdiam karena agak ragu.
"Ke–kenapa Mas Athar bawa aku kesini? Emang rumah ini rumah siapa?" tanya Nada penasaran. Mendengar pertanyaan Nada, Athar pun tersenyum.
"Ini rumah kita!" jawab Athar singkat.
"Hah, ru–rumah kita?" tanya Nada tak percaya.
"Ya, ini rumah kita. Dan kau tahu kenapa kemarin-kemarin Mas sibuk dan jarang hubungi kamu?" tanya Athar seraya memandang rumah dan wajah Nada secara bergantian. Nada hanya menggelengkan kepalanya karena memang tidak tahu.
"Inilah alasannya!"
"Rumah?"
__ADS_1
"Ya, Mas sibuk, jarang temui dan hubungi kamu karena Mas ngurus kelanjutan pembangunan rumah kita ini agar secepatnya selesai biar kita segera punya tempat tinggal. Dan akhirnya hari ini juga kita bisa menempatinya. Sekarang kamu tak perlu lagi tinggal di tempat kost, kita tak perlu lagi tinggal terpisah, karena kita sudah punya tempat tinggal sendiri." jelas Athar seraya tersenyum menatap wajah Nada.
Terharu. Nada sangat terharu mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari suaminya. Ia tak menyangka jika Athar melakukan sesuatu untuknya. Ia juga merasa bersalah karena sudah menyangka Athar yang tidak-tidak dan sempat negative thinking pada Athar. Kini kedua mata indahnya mulai berkaca-kaca dan itu membuat Athar terkesiap.
"Nada, kenapa nangis? Apa ada ucapanku yang salah dan menyinggung hati kamu? Atau kamu nggak suka sama rumah–" ucapan Athar terpotong karena tiba-tiba Nada berhambur ke dalam pelukannya. Hal itu pun sukses membuat Athar tertegun.
Athar terdiam mematung.Untuk pertama kalinya Nada memeluknya dengan kemauannya sendiri tanpa ia menyuruh atau membawa Nada ke dalam pelukannya.
Sedetik kemudian Athar terkesiap dari ketertegunannya saat mendengar isak tangis Nada dalam pelukannya. Ditambah pelukan Nada semakin erat.
Athar membalas pelukan sang istri dengan pelukan hangat dan lembut. Ia juga membelai lembut kepala Nada yang masih dalam balutan hijabnya.
"Maaf." ucap Nada pelan namun masih di dengar oleh Athar. Athar yang tidak mengerti menangkup wajah Istrinya sehingga Nada mendongak
"Maaf? Untuk ...?"
"Maaf karena aku sempat berpikir buruk tentang Mas Athar, padahal Mas Athar sudah bilang kalau Mas lagi sibuk, dan saat kejadian di rumah panti itu aku jadi beranggapan kalo Mas Athar sibuk dengan ...." Nada tak melanjutkan ucapannya. Dia malah menundukkan wajahnya.
"Dengan apa? Hemm? " tanya Athar sambil tersenyum.
Bukannya menjawab Nada malah berhambur kembali ke dalam pelukan Athar. Ia selalu melisankan kata maaf, maaf dan maaf dalam pelukan Athar sambil menangis. Sungguh ia merasa bersalah pada Athar. Betapa teganya ia saat sempat berfikir buruk tentang suaminya.
"Aku istri yang buruk, aku istri tak berakhlak terhadap suamiku sendiri. Aku benar-benar minta maaf sama kamu Mas Athar, aku salah." ucap Nada dalam isak tangisnya dan masih dalam pelukan Athar.
Athar mendekap hangat tubuh Nada sambil mengusap-usap punggung sang istri.
"Ssstt, sudah-sudah, gak usah minta maaf terus. Mas ngerti sama perasaan kamu. Udah ya, gak usah nangis lagi. Dari pada nangis disini mending kita masuk kedalam yuk!" ajak Athar sambil mengusap air mata Nada di wajah Nada.
"Tapi Mas udah maafin aku, kan? Aku gak mau masuk ke dalam sebelum Mas Athar maafin aku." Athar terkekeh mendengar ucapan istrinya.
"Ya, ya. Mas udah maafin kamu. Udah ayo kita masuk!" ucap Athar sambil menarik lembut tangan sang istri sementara tangan satunya menyandang tas ransel yang berisi semua pakaian Nada. Sementara kardus besar yang berisi barang-barang Nada masih ada di dalam mobil.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang . Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
__ADS_1
Terima kasih kakak 💗