JOMBLO FII SABILILLAH

JOMBLO FII SABILILLAH
71. SQUARE BOX


__ADS_3

..."Menikahi orang yang kita cintai itu adalah 'HARAPAN' tapi mencintai orang yang kita nikahi adalah 'KEWAJIBAN'."...


...(Ustadz Adi Hidayat)...


………………………………………………………………………………


Hampir satu jam berkutat didepan layar datarnya, namun pikiran Athar tidak benar-benar fokus. Sesuatu yang mengganjal dalam hatinya kini juga memenuhi pikirannya. Akhirnya, mau tidak mau ia menghentikan pekerjaannya.


Kalimat istighfar ia ucapkan beberapa kali seiring dengan suara helaan nafasnya. Ia juga memejamkan mata sejenak sambil memijit-mijit pangkal hidungnya.


"Ini tidak bisa dibiarkan gitu aja. Aku tidak boleh terjebak dengan situasi seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu." gumam Athar sambil menutup layar datar di hadapannya setelah tadi meng-off -kannya. Kemudian ia segera meraih ponselnya yang sedari tadi tergeletak di dekat layar datar tersebut.


Dengan segera ia kembali membuka salah satu aplikasi sosmednya dan mulai berselancar di sana. Mencari-cari sebuah akun. Setelah ketemu dengan hati berdebar ia pun mengklik nama akun tetesanembuntsqn.


Athar memicingkan kedua matanya melihat gambar pada postingan terakhir dari akun tersebut. Seketika ia tertegun setelah mengenali gambar pada postingan terakhir dari akun tersebut. Apalagi pas ia baca captionnya.


tetesanembuntsqn



tetesanembuntsqn "new round of my life" dimana aku dan kamu menjadi KITA dalam ikatan sakral PERNIKAHAN.


"Masya Allah ... i–ini kan ...." lirih Athar yang entah mengapa membuat kedua mata teduhnya berkaca-kaca.


Athar mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya seraya menggumamkan kalimat istighfar dan takbir berkali-kali.


"Ya Allah ... Nada, ya aku harus pulang dan aku harus bertemu istriku Nada." lirih Athar sambil membereskan sisa-sisa pekerjaannya yang ada pada meja kerjanya. Setelah mengambil ponsel dan kunci mobilnya, ia bergegas keluar dari ruang kerjanya hendak pulang untuk menemui sang istri yang mungkin saat ini tengah berdiam di rumah.


***


Nada menurunkan koper yang ada di atas lemari kamarnya dengan susah payah. Lalu menyeretnya ke atas kasur. Setelah koper dibuka, terlihat sebuah kotak persegi yang terbuat dari kayu tanpa ukiran apapun.


Nada ambil kotak persegi yang terbuat dari kayu tanpa ukiran itu ke atas pangkuannya. Perlahan ia membukanya.


Tampaklah beberapa benda disana. Beberapa benda yang terdiri dari sebuah recorder jadul, sapu tangan berwarna dark gray, gelang tasbih couple berwarna hitam yang terbuat dari kaukah dengan liontin separuh hati.


Dipandanginya semua benda yang ada di dalam kotak kayu itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Nada sentuh satu persatu, lalu dengan segera ia menutup kembali kotak kayu tersebut sambil memejamkan matanya.


Sesuai dengan janjinya pada dirinya sendiri bahwa Nada akan menghapus semua jejak yang berhubungan dengan seseorang di masa kecilnya dulu. Mungkin dengan cara seperti itu ia bisa melupakan dan mengikhlaskan semuanya.

__ADS_1


Semua Nada lakukan demi kebaikan rumah tangganya bersama sang suami yang kini ia cintai. Nada ingin hidup tenang bersama Athar tanpa bayang-bayang masa kecilnya. Nada berharap seseorang di masa kecilnya kini juga mendapat dan merasakan kebahagiaan lain walau tak bersama dengannya.


Nada mulai beranjak dari tempat tidurnya. Ia membuka laci nakas dan mengambil sesuatu disana. Kemudian Nada meraih dan membawa kotak kayu itu ke dalam dekapannya.


"Bismillahirohmanirrohim, semoga ini yang terbaik ya Allah..." lirihnya sambil memejamkan mata. "Aku harus cepat-cepat sebelum mas Athar pulang, aku hanya ingin menjaga perasaan suamiku." lanjutnya.


Dengan langkah tergesa-gesa Nada membawa kotak kayu persegi itu keluar kamarnya. Namun saat hampir mencapai pintu kamarnya, ada yang terlebih dahulu membuka pintu kamarnya dan saking tergesa-gesanya Nada tak menyadari hal itu sehingga tubuhnya terbentur dengan tubuh Athar yang baru saja masuk.


Bruukk.


Kotak persegi itu terlepas dari dekapan Nada dan jatuh sehingga semua isinya berserakan di lantai.


Deg!


Terkejut? Ya, mereka berdua sama-sama terkejutnya. Mereka berdua saling tatap dengan waktu yang cukup lama lalu pandangan mereka sama-sama teralihkan pada barang-barang yang sudah berserakan di lantai.


"M–mas Athar ...." ucap Nada gugup


Melihat semua benda-benda yang berserakan di lantai tersebut, membuat kedua mata teduh Athar berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak.


"Ya Allah ...." lirihnya dalam hati.


Dengan kedua tangan yang gemetar Athar ingin meraih barang-barang itu yang masih setia di lantai. Namun sebelum tangannya sampai, Nada sudah terlebih dahulu meraih dan memasukkan kembali semuanya ke dalam kotak persegi tersebut.


Mereka berdua kembali saling tatap.


"Nada–"


"M–Mas Athar, ma–maaf. I–ini tidak seperti yang Mas pikirkan kok. A–aku, aku ...." ucap Nada gugup.


"Nada, bisa Mas pinjam dan lihat barang-barangnya?" pinta Athar pada Nada sambil mengulurkan tangan kanannya.


Nada tersentak mendengar permintaan Athar. Ia semakin gugup. Hatinya berdebar gelisah. Nada hanya menggeleng kepala sebagai jawabannya.


"Nada tolong kasih ke Mas kotak itu. Mas pengen lihat sebentar."


Nada tetap menggelengkan kepalanya. "Nggak. Jangan Mas. Mas gak boleh lihat!"


"Lho, kenapa?"

__ADS_1


"Pokoknya gak boleh, gak penting!"


"Nada please!"


Nada semakin gugup. Matanya mulai berkaca-kaca.Ia hanya takut dan khawatir jika Athar melihatnya malah membuat hati sang suami kecewa terhadapnya.


"Na–"


Ucapan Athar terpotong saat Nada berhambur ke pelukannya.


"Hiks .... maafkan aku ya, mas. Tolong jangan marah. Semua barang-barang ini tidak penting lagi kok. Ini hanya benda masa kecil aku. Tapi mas tenang aja, aku akan membuangnya sekarang juga, tolong jangan salah paham dulu dan percayalah sama aku ya mas. Please, jangan marah! Aku gak sanggup lihat mas Athar marah." Nada malah terisak dalam pelukan suaminya. Rasa takut, kalut, gugup dan gelisah benar-benar menghantui hati dan pikirannya saat ini.


Mendengar isak tangis sang istri dalam pelukannya, membuat Athar tidak tega. Athar pun membalas pelukan Nada dengan tak kalah eratnya seraya menghirup dalam aroma vanila yang berasal dari tubuh sang istri yang akhir-akhir ini telah menjadi candu baginya.


Athar mengelus-elus punggung Nada agar istrinya itu tenang kembali. Setelah merasa sang istri lebih tenang, Athar merelai pelukannya lalu menuntun Nada duduk di atas sofa dalam kamar mereka.


Athar menggenggam kedua tangan Nada dengan lembut.


"Boleh ya, Mas lihat kotak itu?"


"Tap–tapi ...."


"Please... bentar aja, Mas cuma ingin memastikan aja!" ucap Athar penuh pinta.


Melihat wajah memelas Athar membuat Nada jadi tidak tega dan hatinya pun luluh. Nada memejamkan matanya sejenak lalu menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda bahwa ia mengizinkan sang suami untuk melihat isi dari kotak persegi tersebut.


Athar tersenyum melihatnya."Syukron ya habibati."


Blush.


To be continue


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Assalamu'alaikum...


Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang . Minta like n sarannya ya...


Salam sayang dari author.

__ADS_1


Terima kasih kakak 💗


__ADS_2