
..."Apa yang menjadi milikmu akan kamu temukan dengan sendirinya. Yang pasti harus kamu tahu, semua hal yang memang sudah ditakdirkan menjadi milikmu pada akhirnya akan kamu miliki atau dengan kata lain rezeki takkan pernah tertukar."...
...(Ali bin Abi Tholib)...
………………………………………………………………………………
Athar termenung dalam kamarnya. Ia memikirkan kembali pembicaraannya tadi siang bersama ibunya.
Ya, Athar saat ini telah berada di kampung halamannya sekaligus tanah kelahirannya, kota Surabaya.
Ibundanya tercinta membicarakan tentang wasiat almarhumah nenek Fatimah yang menitipkan cucu perempuan satu-satunya yang kini hanya hidup sebatang kara kepada Ummi Khayra untuk di jaga dan dilindungi dari Juragan Karta, seorang lelaki tua yang selama ini terus menerus mengincarnya untuk dijadikan istri mudanya. Padahal ia sudah memiliki tiga istri di rumahnya.
Sehingga Ummi Khayra meminta Athar untuk menjaga dan melindungi Nada, cucu perempuan almarhumah nenek Fatimah. Kini Athar menjadi bingung. Hatinya bimbang dan dilema. Haruskah ia menjaga perempuan yang bukan mahramnya dan sama sekali tidak mengenalnya dengan cara ia menghalalkannya?
Sementara ia telah memiliki sebuah janji dan impian untuk bersanding dengan seseorang sewaktu ia masih kecil. Ia sudah berjanji untuk menjemputnya di suatu tempat.
Namun ridho ibu adalah ridho Allah Swt. Tentu saja Athar lebih memilih berbakti pada orang tua yang kini hanya tinggal sang ibu seorang. Ibu yang telah merawat dan membesarkannya seorang diri karena sang ayah telah berpulang saat ia masih bayi hingga ia dewasa dan menjadi seperti sekarang.
Tapi bagaimana dengan janjinya pada seseorang yang mungkin saat ini ia sedang menunggu kedatangannya? Apakah ia harus merelakan dan meminta maaf jika suatu hari nanti mereka bertemu? Sungguh hati Athar menjadi dilema.
"Nada ... sepertinya aku pernah mendengar nama itu?" pikir Athar dalam hati.
Suara gaduh dari depan rumah membuat Athar tersentak. Ia terkejut sekaligus penasaran. Siapa orang yang bertamu di waktu sore begini? Karena penasaran Ia beranjak dari tempat tidurnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
"Mbak Rahma? Ada apa, Mbak? Kenapa Mbak Rahma seperti habis lari-lari?" tanya Ummi Khayra heran. Rahma tak langsung menjawab. Ia sedang mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan karena habis lari-lari dari rumahnya .
Khayra memberikan segelas air putih pada Rahma dan Rahma meminum air putih itu yang sebelumnya membaca basmalah terlebih dahulu hingga habis setengahnya. Setelah itu baru ia bicara.
"Khayra, gawat, Ra, gawat!" ucap Rahma setelah berhasil mengatur nafasnya lagi.
"Apanya yang gawat, Bude?" tanya Athar yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Athar ... kebetulan sekali ada kamu di sini." nafas Rahma masih naik turun.
"Ada apa sih, mbak?" tanya Khayra tak sabar sekaligus penasaran.
__ADS_1
"Itu, Ra. Si Nada dipaksa nikah sama juragan Karta!" jawab Rahma dengan sekali tarikan nafas.
APA?!"
"Ya, dan bahkan pernikahannya itu besok." tutur Rahma lagi.
"Kamu tahu dari mana, Mbak?"
"Tahu dari orang-orang kampung sebelah, Ra. Mereka pada rame membicarakan pernikahan juragan Karta dan Nada besok." jelas Rahma pada Khayra.
"Ya, Allah!" Tubuh Khayra melemas hingga ia ambruk.
"Ummi!" Reflek Athar menangkap tubuh ibunya sebelum mendarat di lantai.
"Astaghfirullahal 'adzim Khayra!" pekik Rahma. Perasaan cemas dan khawatir menyerang hatinya kala melihat Khayra, sahabatnya tak sadarkan diri dalam pangkuan Athar.
"Athar, ayo cepat angkat tubuh Ummimu, kita baringkan dulu di sofa!" seru Rahma masih panik.
"I–iya bude." Athar mengangkat tubuh ibunya dan membaringkan di sofa.
"Ya, sebentar Bude, Athar ambil dulu!" Athar bergegas menuju laci yang ada di ruang keluarga. Ia kembali lagi dengan membawa botol minyak kayu putih lalu memberikannya pada Rahma.
Rahma mengarahkan minyak kayu putih itu ke arah hidung Khayra. Perlahan Khayra menggerakkan kepalanya dan membuka matanya.
"Aduh ...." Khayra mengaduh sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Alhamdulillah." Rahma lega.
"Ummi, alhamdulillah Ummi sudah sadar. Ummi nggak papa kan, Ummi? Dimana yang sakit, Ummi?" tanya athar pada ibunya yang baru saja sadar dari pingsannya.
"Athar anakku, tolong Ummi, Nak!" Khayra meraih tangan putranya. "Tolong selamatkan Nada dari pernikahannya dengan juragan Karta. Ummi mohon, sayang. Kamu mau kan mengabulkan permintaan Ummi?" Derai air mata membasahi wajah pucat ibunya.
Athar terdiam. Rasanya tidak tega melihat ibunya meneteskan air mata. Selama ia hidup baru kali ini ia melihat sang ibu menangis sampai tersedu-sedu karena memikirkan nasib seseorang yang bahkan tidak ada hubungan darah sama sekali dengannya. Bahkan sampai-sampai ibunya memohon-mohon padanya. Sepeduli itukah? Sesayang itukah ibunya pada gadis yang telah diamanahkan kepadanya? Haruskah ia mengorbankan hatinya demi baktinya pada sang ibunda tercinta?
"Nak, tolong ... Ummi meminta kesediaanmu serta keikhlasanmu untuk menikah dengan Nada." sekali lagi Khayra meminta pada sang putra.
__ADS_1
Athar memejamkan matanya sejenak. "Mungkin inilah jalan takdirku. Ya Allah, demi baktiku pada Ummi dan demi ridhonya untuk hidupku, hamba mohon ikhlaskan hati ini untuk menerima takdir darimu." lirih Athar dalam hati.
Athar menatap wajah teduh ibunya yang masih terlihat pucat. Ia tersenyum lalu mengangguk dengan hati yang ikhlas.
"Ya, Ummi. Athar ikhlas dan siap menjalankan amanah ini." ucap Athar mantap. Hal itu membuat Rahma dan Khayra tersenyum senang.
"Alhamdulillah, masya Allah ... kamu serius, sayang? Kamu ikhlas?" Binar mata Khayra memancarkan kebahagiaan kala sang putra bersedia mengabulkan permintaannya.
"Ya, Ummi. Athar ikhlas asal Ummi bahagia dan meridhoi Athar." jawab Athar membuat hati Ummi terharu.
"Masya Allah anakku, makin kesini kamu mirip abimu, Nak." Khayra bangkit lalu memeluk anak semata wayangnya.
"Athar, kita harus bergerak cepat. Kamu harus menikahi Nada sebelum juragan Karta datang. Dan hari ini juga kamu harus mengurus berkas-berkas pernikahan kamu dengan Nada ke KUA, Nak." ucap Rahma yang sedari tadi menyaksikan drama ibu dan anak itu.
"Tapi gimana caranya, Bude? Pasti juragan Karta lebih dulu sudah mengurus berkas-berkas itu untuk dirinya, Bude." ucap Athar bingung.
"Kamu tenang saja, Thar. Juragan Karta belum mengurus itu semua karena dia mau menikahi Nada secara sirri." tutur Rahma.
"Berkas persyaratan untuk daftar ke KUA kamu ada disini kan, Nak?" tanya Khayra pada Athar.
"Alhamdulillah punya Athar ada, Mi. Tapi masalahnya yang punyanya Nada yang kita gak punya. Terus ini acaranya kan besok, apa ini tidak kepepet ya, apa pihak KUA akan bersedia mengurusnya dalam jangka waktu kurang dari 24 jam?" perkataan dan pertanyaan Athar membuat kedua wanita paruh baya yang masih terlihat garis kecantikannya itu terdiam bingung. Mereka sama-sama berfikir mencari sebuah solusi.
"Biar kami yang melakukannya!"
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
Terima kasih kakak 💗
__ADS_1
Jangan lupa dijadikan favorit ya😘