
..."Istri yang paling beruntung ialah dia yang dikaruniai oleh Allah seorang suami yang penyabar dan penyayang, penuh dengan kehangatan dan kelembutan, suka menolong dan berhati tulus. Bila ia pergi istri selalu merindukan, jika ia pergi istri selalu ingin berdekatan."...
...(Dr. Malik Al Qasim)...
………………………………………………………………………………
Suara isak tangis terdengar samar-samar dalam ruangan hotel. Athar yang sedang berdzikir sejenak menghentikan dzikirnya beberapa saat. Lalu melanjutkan kembali bacaan dzikirnya.
Di atas ranjang Nada menelungkupkan kepalanya sambil memeluk kedua lututnya. Bahunya bergetar karena isak tangisnya yang kian terdengar.
Sedetik kemudian ia merasakan kasurnya bergerak menandakan adanya seseorang yang tengah duduk di kasur yang sama.
Nada tahu itu siapa. Siapa lagi kalau bukan Athar, suaminya. Namun ia tidak ada niat untuk menengok. Ia merasa sangat malu pada suaminya itu. Malu untuk bertatap muka dengan suaminya setelah apa yang terjadi belakangan ini dengan hubungan mereka dan terlebih kejadian tadi malam tentunya.
Athar menyentuh bahu Nada yang masih terguncang. Tapi Nada tetap tidak mau mengangkat kepalanya. Tanpa aba-aba Athar meraih lalu merengkuh tubuh Nada, membawanya kedalam dekapannya. Nada terkesiap dengan apa yang dilakukan Athar.
"Menangislah jika itu membuat hatimu bisa lega. Tumpahkan semuanya disini, denganku!" seru Athar dengan suara lembut yang menenangkan. Air mata Nada semakin deras. Kedua tangan Nada terulur membalas pelukan Athar dengan erat. Ia tergugu menumpahkan tangis sesalnya di sana, di dalam pelukan sang suami.
Athar mencoba menenangkan Nada dengan mengusap-usap punggung Nada yang kini sudah kembali memakai pakaian yang ia pakai tadi malam. Hanya rambutnya yang ia biarkan tak tertutup.
"Maaf, maafkan aku. Selama beberapa hari ini aku–aku mengabaikanmu, mengabaikan telepon dan pesan darimu. Maafin aku yang sudah berburuk sangka terhadapmu. Maafin aku juga yang tanpa seizinmu keluar rumah malam-malam karena memenuhi ajakan makan malam teman kampus. Seharusnya, seharusnya aku izin dulu sama kamu, Mas. Tapi aku malah bertingkah seolah aku ini perempuan yang masih sendiri, aku lupa diri. Aku sangat berdosa sama kamu, Mas. Mungkin Allah marah sama aku karena aku mengabaikan suamiku sendiri, Allah menegurku seperti tadi malam aku dijebak sama teman kampusku sehingga aku hampir kehilangan kehormatanku dan masa depanku. Aku mohon maafin aku yang tidak bisa menjadi istri yang baik buat kamu, Mas Athar." ungkap Nada di sela-sela isak tangisnya. Athar tersenyum dengan tangannya yang masih mengusap-usap punggung Nada.
"Tapi Allah masih melindungiku. Saat di toilet aku selalu ingat sama kamu, Mas. Pikiranku selalu tertuju padamu, dan Allah masih mengabulkan pintaku. Kamu datang di saat yang tepat, di saat aku membutuhkanmu." imbuhnya.
"Masya Allah, ternyata benar apa yang dikatakan pak Ridwan kalau aku dan Nada mempunyai ikatan batin yang kuat, sehingga aku bisa merasakan bahwa istriku sedang dalam keadaan tidak baik-baki saja dan sangat membutuhkan kehadiranku." gumam Athar dalam hati.
Karena tak ada respond dari Athar, Nada mendongakkan kepalanya. Athar pun terkesiap.
"Kenapa kamu diam, Mas? Apa ... kamu gak mau maafin aku?" tanya Nada sendu.
__ADS_1
Athar tersenyum teduh pada Nada lalu menghapus sisa air mata Nada pada wajah istrinya itu.
"Aku udah maafin kamu kok. Jadi stop gak usah nangis lagi, ok ...."
Nada mengulas senyum manis lalu mengangguk.
"Ya udah, bentar lagi adzan subuh, kamu lekas mandi gih, nanti kita sholat subuh berjamaah ya." ucapan Athar yang menyuruhnya mandi membuat wajah Nada bersemu merah, mengingatkannya pada moment indah yang telah ia lewatkan bersama sang suami sepanjang malam yang mungkin tidak akan pernah dilupakannya.
Athar mengulum senyum melihat raut wajah merona istrinya yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.
"Oh ya, dalam paper bag itu ada baju ganti untuk kamu pakai!" ucap Athar sambil menunjuk ke arah paper bag di atas nakas. Membuat Nada menjadi salah tingkah. Lekas ia menyambar paper bag itu dan secepat kilat berlari masuk ke kamar mandi. Athar terkekeh melihat tingkah istrinya yang benar-benar menggemaskan menurutnya.
Pandangan Athar tak sengaja teralihkan pada bercak noda merah di atas kasur dimana tadi Nada berada. Athar tersenyum bahagia. Ia merasa menjadi laki-laki yang paling beruntung karena ia merupakan lelaki yang pertama untuk istrinya.
Athar beranjak dari duduknya lalu membereskan tempat tidurnya serta mengganti sprey yang kotor dengan yang baru. Ia tak mau istrinya bertambah malu lagi jika melihat noda merah itu.
Lima belas menit berlalu Nada sudah menyelesaikan mandinya. Adzan subuh pun sudah terdengar.
Rasa bahagia menyelinap di ruang hati Nada dan Athar. Inilah kali pertama mereka sholat berjamaah berdua setelah menjadi pasangan suami istri.
Usai sholat berjamaah pasangan suami istri itu melanjutkan kegiatan mereka berdua dengan dzikir bersama, berdo'a bersama serta bermorottal bersama. Sungguh awal pagi yang indah.
Inilah yang diinginkan oleh Nada sejak dulu, jika ia kelak sudah menikah, maka siapapun yang akan menjadi suaminya ia ingin melakukan hal seperti yang ia lakukan sekarang bersama-sama dengan sang suami. Dan sekarang keinginannya tersebut telah terkabulkan. Tanpa Nada ketahui bahwa suaminya itu juga menginginkan hal yang sama seperti keinginan dirinya. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan.
***
Pagi harinya masih di tempat yang sama.
Athar baru saja masuk ke dalam kamar hotel yang sejak semalam ia tempati bersama Nada dengan menenteng beberapa plastik. Ia celingukan mencari keberadaan Nada. Terlihat pintu balkon terbuka dan ia pun tahu pasti disana lah istrinya berada.
__ADS_1
Athar meletakkan beberapa tentengannya di atas meja lalu melangkahkan kakinya menuju balkon kamar hotel.
Dilihatnya sang istri tengah duduk di kursi yang memang sudah tersedia disana. Pandangan matanya memandang lepas ke alam bebas. Sepertinya istrinya itu sedang melamun, sehingga tidak menyadari kedatangan dirinya.
Athar melangkah menghampiri Nada lalu duduk di kursi yang sama tepat di sebelah Nada. Ditatapnya wajah cerah sang istri dengan tatapan penuh cinta. Mumpung Nada lagi melamun ia nikmati saja pemandangan indah yang tersuguh di depannya secara bebas. Toh juga sudah halal, dapat pahala malah.
"Maha Suci Engkau ya Allah yang telah menciptakan sosok terindah seperti yang ada di hadapanku ini. Dia istriku dan aku sangat menyayanginya. Jadikanlah dia bidadari surgaku di saat ini hingga kelak di Jannah–Mu." ucap Athar dalam hati. Ia terus memandang wajah sang istri yang terbalut rapi dengan hijabnya.
Setelah cukup lama Athar menikmati pemandangan indah yaitu wajah istrinya, ia mencoba menyadarkan istrinya dari lamunannya dengan menyentuh lembut bahu sang istri.
Nada terkesiap kaget. Ia reflek menoleh ke arah samping dimana suaminya berada. Seperkian detik Nada tertegun menatap wajah teduh sang suami yang sedang tersenyum manis padanya.
"Sudah waktunya sarapan, ayo kita sarapan dulu. Aku sudah belikan sarapan untuk kita berdua." ucap Athar dengan suara lembutnya. Nada sadar dari ketertegunannya. Ia mengangguk cepat lalu beranjak mengikuti langkah suaminya menuju ke dalam kamar hotel.
Mereka pun akhirnya sarapan berdua setelah sebelumnya sama-sama menyiapkan sarapan mereka di sofa dalam kamar hotel tersebut.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
__ADS_1
Terima kasih kakak 💗
Jangan lupa dijadikan favorit ya😘