
..."Wanita itu ibarat bunga, mereka harus diperlakukan dengan lembut, baik hati, dan dengan penuh kasih sayang."...
...(Ali bin Abi Thalib)....
………………………………………………………………………………
Sore hari menjelang maghrib Athar tiba di rumah. Terlihat dari wajahnya yang tampak capek dan letih menandakan bahwa pekerjaannya seharian ini begitu menguras tenaganya. Untunglah hari ini ia dan kawan-kawannya tidak ada jadwal ceramah ataupun mengisi kajian Islami.
Tanpa mengetok pintu terlebih dahulu Athar membuka pintu lalu masuk ke dalam rumahnya sembari mengucap salam.
"Assalamu'alaikum ...."
Namun tak ada jawaban sama sekali dari sang istri. Hal itu membuat Athar keheranan karena sang istri tidak menyambut ia pulang seperti biasanya.
Athar mengulang salamnya yang kedua dan bahkan yang ketiga kalinya pun tetap tidak ada sahutan dari sang istri.
"Apa mungkin ketiduran di kamar kali ya?" gumam Athar pelan.
Tanpa pikir panjang Athar mempercepat langkahnya menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Sampai di anak tangga pertama secara reflek Athar menghentikan langkahnya karena samar-samar terdengar suara seseorang yang sedang bersenandung ria dari arah dapur.
"Wahdanaa dan daana wahdana daana, wahdana wah..dana wahdana wahdana wahdan ...."
Athar mengurungkan niatnya untuk melangkah ke kamarnya. Ia beralih melangkahkan kakinya ke arah dapur. Semakin dekat semakin jelas suara merdu itu bersenandung.
"Wahdanaa dan daana wahdana daana, wahdana wah..dana wahdana wahdana wahdan."
Sampai di pintu dapur ia menghentikan langkahnya. Kini tampaklah di depan kedua matanya sang istri yang sedang memasak sambil bernyanyi dan bersenandung ria di depan kompor.
" 'Aadif 'alaina layaalil jamiilah, bainal qomaar wal huduudu walhuduudil asliyah ...."
__ADS_1
Athar tersenyum kala mendengar suara merdu sang istri."Masyaa Allah ... istriku ternyata memiliki suara yang indah dan merdu! Adem nih rasanya hati saat dengar suara istriku yang merdu. Ahh, jadi hilang deh rasa capeknya! " seru Athar dalam hati
"Wal ghoomi wal haana 'asfan jamiilah, sarrot fuaadii wa ansaa bihaa farhaan ...."
Kini Athar berdiri bersandar di ambang pintu dapur dengan kedua tangan yang ia lipat di dadanya sambil tersenyum teduh memperhatikan serta menikmati suara indah sang istri yang masih bersenandung merdu di depan kompor.
"Wal ghoomi wal haana 'asfan jamiilah, sarrot fuaadii wa ansaa bihaa farhaan."
"Haduh, jadi tambah meleleh nih hatiku kalo tiap hari disambut gini terus sama istri... masyaa Allah banget dong hari-hariku, rasa capekku juga bakal langsung hilang!" seru Athar lagi dalam hati sambil terus menikmati suara indah Nada, sang istri tercinta.
"Hem hemm hem hemm hem heehem hem heem hem hemm hem, hemm hem hemm hem hem hem hem hem hem hem hemm hem hem hem hemm ...."
Nada menghentikan nyanyiannya saat mencicipi masakannya sendiri setelah merasa masakannya sudah matang.
"Eh, kayaknya rasanya sudah pas nih, sudah mateng juga masakan aku! Tinggal nunggu mas Athar pulang." ucap Nada sambil mematikan kompor.
Dan pada saat berbalik ia malah mematung ditempat karena melihat seseorang yang ia tunggu-tunggu sedari tadi kini sedang bersandar pada tembok dekat pintu dapur dengan kedua tangannya yang dilipat di dadanya sedang memandang dirinya. Sosok lelaki tampan berwajah teduh dengan senyumannya yang menawan yang selalu membuat hati seorang Nada meleleh tiap harinya.
Athar mengangkat sebelah alisnya sambil terus menatap ke arah Nada. Dan jangan lupa dengan sebuah senyuman yang selalu menghiasi wajah teduhnya, membuat kadar ketampanannya naik berkali lipat. Sehingga membuat Nada semakin dan semakin jatuh cinta pada sang suami setiap hari.
"Mas kapan pulangnya? Sejak kapan di situ?" Nada berusaha mengontrol hatinya agar tidak terlalu gugup lagi. Bukannya menjawab Athar malah semakin tersenyum lalu melangkahkan kakinya mendekat ke arah sang istri. Meraih dan mengecup kedua tangan istrinya, mengecup kedua pipi istrinya, mendekap tubuh ramping istrinya lalu mengecup puncak kepala sang istri dengan cukup lama.
Rona merah pada wajah Nada pun tak dapat dielak lagi. Hatinya yang kaget sekaligus senang mendapat perlakuan manis seperti itu dari Athar. Senyum manis pun kini menghiasi wajah ayunya. Nada mendongak menatap wajah Athar.
"Kenapa sih, kok tiba-tiba gini? Kesambet ya? Kesambet di mana?" tanya Nada sambil menyentuh kening suaminya dengan salah satu punggung tangannya. Nada begitu karena ingin menutupi kegugupannya. Bukannya marah Athar malah semakin tersenyum gemes pada istrinya.
"Ya, Mas kesambet sama cintamu dan kesambetnya itu ya di hatimu, zaujati" Nada membelalakkan matanya mendengar ucapan Athar yang menurutnya agak sedikit garing.
"Maa syaa Allah ... si Ustadz suami sudah mulai bisa ngegombal ya sekarang, belajar dimana Ustadz?"
"Lah, kok malah di bilang gombal sih ... ini aku serius lho ngucapnya tulus dari hati yang paling dalam." tutur Athar sambil membelai pipi Nada yang sedari tadi merona akibat kelakuannya. Nada tersenyum simpul mendengarnya.
__ADS_1
"Eh, ya. By the way ... kok Mas baru tahu ya, kalo ternyata istriku yang cantik ini punya suara yang sangat indah, merdu lagi." ucap Athar yang tiba-tiba membuat Nada melongo membulatkan kedua matanya.
"Maa syaa Allah ... jadi tadi mas Athar denger aku nyanyi dong ... waduh, malu banget kan aku jadinya!" gumam Nada dalam hati.
"Eh, kok malah bengong sih, bikin tambah gemes tahu nggak." tegur Athar sambil mencubit hidung mungil Nada
"Iiih, kok Mas Athar malah denger sih, aku kan jadi malu, pasti jelek ya suara aku ...." rengek Nada sambil menyembunyikan wajah merahnya di dada Athar karena bena-benar malu pada sang suami.
Sementara Athar terkekeh mendengar rengekan manja Nada yang kini masih menyembunyikan wajahnya dalam dada bidangnya.
"Malu kenapa sih, sama suami sendiri juga. Lagian siapa bilang suaramu jelek. Kamu tahu nggak sih, suaramu itu bikin aku tambah candu tahu, hhh kalo tiap hari kayak gini terus, rasanya Mas jadi pengen cepet-cepet pulang nih dari kerja." celetuk Athar yang membuat Nada kembali mendongakkan kepalanya menatap sang suami.
"Kenapa gitu?"
"Ya pengen dengerin suara kamu lah, zaujati, habibati. Soalnya suara indahmu itu adalah candaku." ucap Athar yang kemudian mengecup kening sang istri. Sementara Nada tersenyum manis mendengar tutur kata dari sang suami yang selalu membuat hatinya senang bahagia.
"Udah ah ngobrolnya. Sekarang izinin aku ke kamar atas ya, aku mau nyiapin air dulu buat Mas mandi, setelah itu Mas harus mandi lalu bersiap-siap untuk sholat maghrib, ok zauji ..."
"Ok, siap zaujati ... barengan yuk ke atasnya!" ajak Athar pada Nada. Nada tersenyum lalu mengangguk tanda setuju atas ajakan suaminya.
Mereka berdua pun melangkahkan kaki bersama dengan saling merangkul menuju kamar mereka untuk bersih-bersih dan setelah itu akan dilanjutkan dengan ibadah sholat maghrib berjama'ah di kamar mereka berdua.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
Salam sayang dari author.
__ADS_1
Terima kasih kakak 💗