
...“Pada saat hikmah cinta menusuk ke kalbu, berangkat dari suatu niat yang mulia karena Allah, niscaya keajaiban yang hakiki tidak akan lenyap dari jiwa orang-orang yang beriman selamanya.”...
...(Pearl of Love)...
………………………………………………………………………………
Semua perdebatan mereka dari tadi tak luput dari perhatian sepasang mata yang sedari tadi melihat semua perdebatan mereka.
"*Subhanallah, diakah suamiku yang sudah ku abaikan semenjak awal pernikahan? Suamiku yang begitu sabar dan sangat peduli denganku. Sungguh mulia hatinya. Rasanya tak pantas jika aku terus-menerus mengabaikannya hanya karena aku masih berkabung atas kematian ayah*." gumam Athifa dalam hati menatap haru pada pemuda yang telah menjadi suaminya beberapa hari yang lalu
"Athifa ...." ucap Nyonya Dewi Arum pelan saat melihat Athifa berdiri tak jauh dari mereka, membuat semua mata tertuju pada Athifa termasuk Raka.
Bunda Rahma ingin menghampiri Athifa tapi diurungkannya karena keduluan Nyonya Dewi Arum yang kini tengah menghampiri Athifa.
"Gimana kabar kamu, Nak? Oma turut berduka cita ya atas kematian ayah kamu," tanya Nyonya Dewi Arum seraya membelai pipi Athifa.
"Athifa baik-baik saja kok, Oma." jawab Athifa sambil tersenyum tipis.
"Ya udah, yuk kita kesana. Kita duduk dan ngobrol dengan yang lainnya." Ajak Nyonya Dewi Arum sambil menggiring Athifa untuk mengikutinya. Saat Nyonya Dewi Arum duduk Athifa tidak ikut duduk. Dia menatap suaminya yang sedang menundukkan wajahnya. Athifa tersenyum tipis.
"Emmm, Oma ...." panggil Athifa pelan.
"Ya sayang, ayo duduk sini!" ucap Nyonya Dewi Arum sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya agar Athifa duduk di sana.
"Maaf Oma, boleh Athifa duduk di samping suamiku?" tanya Athifa pelan-pelan. Nyonya Dewi Arum menyurutkan senyumnya mendengar ucapan Athifa, namun sejenak ia kembali tersenyum sambil mengangguk.
Namun langkah Athifa terhenti saat Raka mengajak Bunda Rahma pergi.
"Ayo Bunda, kita pergi dari sini. Di sini bukan tempat orang miskin seperti kita!" Ajak Raka pada Rahma. Sang ibu hanya mengangguk menyetujui ajakan Raka. Raka dan ibunya beranjak dari duduknya lalu keduanya melangkah.
__ADS_1
Saat Raka melewati Athifa, langkahnya terhenti karena tiba-tiba tangannya tergenggam dengan tangan Athifa. Raka menoleh pada Athifa. Kedua pasang mata itu bertemu. Athifa tersenyum pada suaminya lalu berkata...
"Saya akan ikut Ustadz dan Bunda Rahma." ucap Athifa membuat semua orang terkejut. Terlebih Raka yang tidak menyangka akan keputusan istrinya itu.
"Jangan terburu-buru mengambil keputusan Athifa. Rumah ini terlalu banyak kenangan yang telah kamu lewati bersama ayahmu. Apa kamu tidak kepikiran nantinya? Jangan hanya karena anak muda ini kamu malah melupakan segala kenanganmu bersama ayah yang selama ini sudah mengurusmu hingga kamu bisa menjadi seperti sekarang." Tuan Surya mencoba membujuk Athifa.
"Opa, sekarang Athifa bukan perempuan single lagi, Athifa adalah perempuan bersuami, jadi sudah kewajibanku untuk mengikuti kemanapun suamiku pergi." ucap Athifa sambil terus menautkan tangannya pada tangan Raka.
Raka yang tidak ingin melewati kesempatan itu dan idak ingin Athifa terpengaruh dengan ucapan Tuan Surya, maka secepatnya ia membawa Athifa pergi dari rumah itu.
"Emmm... sebentar ya Ustadz, Bunda, saya mau ambil barang-barang saya dulu di kamar," ucap Athifa saat mereka hampir sampai di depan pintu yang dijawab anggukan oleh Raka dan Bunda Rahma.
Sudah beberapa detik tapi Athifa tidak juga beranjak ke kamarnya membuat Raka dan ibunya keheranan.
"Athifa, katanya mau ambil barang, kok masih disini, Nak?" Tanya Rahma heran.
"Emmm ... maaf, tangan saya ...." ucap Athifa pelan sambil menatap tangannya yang masih digenggaman tangan Raka. Raka dan Bunda Rahma mengikuti arah pandang Athifa. Raka membelalakkan matanya karena kaget bercampur malu. Ia pun melepaskan tangan Athifa lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena salah tingkah. Sementara Bunda Rahma tersenyum-senyum melihat wajah salah tingkah putranya itu.
"Apa sih Bunda, pake ngeledek Raka segala!" Protes Raka yang semakin salah tingkah membuat ibunya terkekeh kecil.
"Bunda, Raka bingung mau bawa Athifa kemana?" celetuk Raka tiba-tiba.
"Lho, kenapa harus bingung, Nak?" tanya Bunda Rahma sambil tersenyum
"Ya masa Raka bawa istri tinggal di kostan? Di sana tempat kostan para pria yang sudah jelas-jelas bukan tempat yang layak buat istriku. Jadi kasihan nanti istri Raka, Bun." jelas Raka sambil berfikir.
"Kenapa mesti bingung, kamu bawa saja istri kamu kerumah kenangan." ujar Bunda Rahma membuat Raka menoleh ke arah ibunya yang tersenyum. Namun di balik senyuman itu ada rasa sendu yang Bunda Rahma sembunyikan. Dan Raka tahu akan hal itu.
"Nggak, Bun. Raka tidak akan bawa Athifa kesana, Raka tidak mau Bunda sampai sedih lagi." Tolak Raka sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Raka. Bunda tidak apa-apa. Bunda sudah ikhlas kok. Sudah saatnya kamu menempati rumah itu. Sesuai dengan keinginan almarhum ayah kamu, nak. Lagian kamu sekarang sudah beristri. Dan sesuai dengan janji kamu waktu itu bahwa kamu akan menempati rumah itu saat kamu sudah menikah." ucap Bunda Rahma berusaha meyakinkan Raka.
"Beneran Bunda tidak apa-apa?" tanya Raka memastikan.
"Yakin." jawab Bunda Rahma singkat sambil mengangguk dan tersenyum. Walaupun Raka merasa was-was, tapi ia berusaha mengerti. Ia tersenyum menyetujui keinginan ibunya.
Tak lama dari itu, Athifa kembali muncul di hadapan Raka dan ibunya dengan membawa satu koper besar yang berisi barang-barang miliknya.
Raka meraih koper Athifa lalu membawanya keluar dari rumah Athifa.
"Pikirkan kembali keputusanmu itu Athifa. Jangan kecewakan almarhum ayahmu karena telah meninggalkan segala kenangan di rumah ini demi laki-laki itu yang bahkan kenal pun kamu tidak lama." Tuan Surya mencoba membujuk Athifa lagi.
"Keputusanku sudah bulat, Opa. Saya harus mengikuti kemana pun suami saya pergi, karena suamiku adalah surgaku saat ini. Dan saya rasa almarhum ayah tidak akan kecewa hanya karena saya ikut Suami saya. Justru almarhum ayah pasti akan sangat senang dengan keputusan yang saya ambil ini, karena Ustadz Raka adalah suami pilihan ayah sendiri. Dan ayah lah yang langsung menikahkan kami berdua di saat-saat terakhirnya." ujar Athifa panjang lebar. Raka dan Bunda Rahma terharu mendengar semua ucapan Athifa yang tegas.
"Subhanallah ... inikah istriku yang sholihah? Beruntung sekali aku memilikinya." gumam Raka dalam hati.
"Kamu yakin tidak akan menyesal nantinya?" tanya Tuan Surya lagi.
"Sangat yakin!" jawab Athifa singkat namun tegas. Senyum manis tersungging di bibir Raka mendengar jawaban istrinya.
Tanpa memikirkan apa lagi Athifa pamit pada Tuan Surya dan keluarganya. Tentu saja Raka tidak menyia-nyiakan hal itu. Sebelum Tuan Surya memprofokasi Athifa lagi, sebelum Athifa berubah pikiran, maka secepatnya Raka membawa istrinya pergi dari hadapan Tuan Surya beserta keluarganya.
To be continue
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum...
Haaai kakak... ketemu lagi di karyaku yang kedua. Minta like n sarannya ya...
__ADS_1
Salam sayang dari author.
Terima kasih kakak 💗