
Huaaaaammmm
Kayla menggeliat dibawah selimut, sesekali menguap menandakan kantuk yang belum hilang.
gadis itu mendongak, cahaya terang di kamar nya melalui sela tirai jendela menandakan hari sudah beranjak siang.
Gadis itu kehilangan mood nya walaupun masih sepagi ini, akhir pekan ini rencana akan di habiskan bersama dengan abang dan papa nya dengan kumpul seharian dirumah.
Tapi papa nya yang super sibuk itu tiba tiba harus kedatangan Client penting dari luar negeri, dan kehadiran papanya tidak bisa diwakilkan pada siapapun.
Membuat Kayla lagi lagi harus menelan kekecewaan karena papa nya yang super sibuk, sejak kecil Kayla memang sudah terbiasa hanya bertemu papa nya dalam seminggu mungkin sekali. Selebihnya komunikasi mereka hanya via telephone.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, Kayla tau pasti siapa itu. Siapa lagi orang yang berani membuka pintu kamar sebelum mendapat izin dari nya selain Ian.
Kayla kembali menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya, memutuskan untuk pura pura tidur saja. Cari aman dari amukan Ian.
" Hey! bangun " Sudah berdiri di ranjang besar adik nya, Ian melihat jelas tadi Kayla bergerak menutupi tubuh nya dengan selimut.
Tidak terdengar jawaban dari dalam selimut, membuat Ian menghembus nafas panjang menahan amarah, matahari hampir di atas kepala tapi gadis kecil ini bahkan masih bergelung dengan selimut, dia bahkan melewatkan sarapan nya pikir Ian.
" Kayla.. bangun dek " Dengan nada datar, jika abang nya sudah menggunakan nada ini saat bicara artinya sudah menahan kesal.
Perlahan menggeliat sambil mengaum panjang berekting seolah baru bangun tidur.
" Abang kenapa disini?, ah udah siang ya? " bertanya sambil mengangkat kedua tangan merenggangkan otot.
Ian duduk di sisi ranjang dan mengelus rambut adik nya, dia tau Kayla kecewa karena lagi lagi gagal kumpul bersama papa nya. Ian membayang kan entah bagaimana Kayla menjalani hidup disini selama dia diluar negeri. Rasa bersalah kembali menghujam dadanya, merasa bersalah pada adik satu satu nya yang tidak pernah mendapat perhatian dan kasih sayang.
" Dek.. " menunduk demi melihat wajah Kayla yang terdunduk juga.
" Maafin abang.. " Adik nya malah tertunduk semakin dalam saat mendengar ucapannya barusan.
Ian menggapai bahu adik nya, lalu memegang erat. " Liat abang, dek" lalu meraih dagu Kayla agar gadis itu menatapnya.
Ian memalingkan wajah saat melihat wajah adik nya yang kemerahan menahan tangis.
" Kayla.. denger abang.. " berusaha menahan emosi nya saat melihat raut kesedihan dimata Kayla.
" Kay udah besar kan, pasti paham kan kalau papa sibuk. Papa sebenernya juga nggak mau ninggalin Kayla, tapi papa kan harus kerja dek. Kerja buat keluarga kita, buat Kayla dan buat abang juga. Kamu bisa kan ngerti posisi papa, semua ini buat masadepan abang sama kamu kok...
__ADS_1
Supaya kedepan nya hidup kita nggak susah, papa cuma mau menjamin supaya anak nya hidup nyaman dan nggak kekurangan apapun kok dek.." Ian berhenti bicara saat Kayla mulai terisak lirih dibalik selimut yang menutupinya.
Ian meraih Kayla lalu mendekapnya erat, tangisan gadis itu semakin kencang dalam dekapan abang nya. Rasa kesepian nya selama 2 tahun ini membuat Kayla benar benar merindukan sosok abang nya.
" Aku kangen abang, janji ya jangan tinggalin aku lagi bang " Kayla mendongak menatap wajah abang nya, disambut kecupan hangat di kening dari sang abang.
" Abang nggak kemana mana dek.." menepuk sayang punggung adik nya.
" Kayla kangen mama..
deeg!!
Tuhan, sakit sekali hati Ian mendengar rintihan kesedihan adik nya. Dia membayangkan, disaat anak lain seumuran Kayla masih merengek manja dan bermain bersama kedua orang tua nya. menceritakan yang dialami nya seharian, bagaimana masa pertumbuhan dan proses sosialisasi dengan lingkungan nya. Lalu saat malam hari mendengarkan dongeng pengantar tidur dari sang mama, lalu ucapan selamat malam dari kedua orang tua.
Lain hal nya dengan Kayla, gadis kecil itu masih berusia 9 tahun saat sang mama pergi meninggalkan dunia dan kembali pada sang Pencipta abadinya. Gadis yang seharus nya masih bermain dan menghabiskan waktu bersama teman sebaya nya itu malah sudah berkutat dengam buku tebal ratusan halaman dipenuhi rumus yang menegangkan otak.
Sebagai anak dari pemilik perusahaan besar, menuntut kesempurnaan bagi Ian dan Kayla di segala sisi kehidupan, mulai dari pemikiran, tata krama, busana sampai hal mendetail lain nya harus selalu sempurna.
Disaat anak lain nya menghabiskan waktu akhir pekan dengan berkumpul keluarga, dan bermain bersama keluarga.
Kayla, gadis itu akan menghabiskan hari libur nya bersama para pelayan dan pengawal yang akan menemani nya bermain seharian.
Dimana papa nya? tentu saja seorang Tuan Wijaya akan sibuk mengurusi kerajaan bisnis nya. Sedangkan Ian, saat itu Ian masih duduk di bangku SMP masih seorang remaja yang mencari arti hidup, tidak peduli dengan lingkungan dan orang lain.
Masa muda nya yang menggiurkan membuat nya lupa bahwa dia memiliki adik kecil yang masih haus akan perhatian dan kasih sayang, gadis kecil yang makin hari makin kurus bak tak terurus. Gadis yang tawa ceria nya sirna saat kepergian sang mama, gadis yang hari hari nya dihabiskan dengan buku dan buku mengejar kesempurnaan yang diminta sang papa.
Hingga hari demi hari, bulan berganti dan tahun berlalu begitu saja tanpa disadari gadis kecil itu perlahan beranjak remaja. Menjadi seorang gadis remaja sempurna, dengan paras cantik, kekayaan dan juga otak cerdas yang tak diragukan. Berbagai perlombaan dan olimpiade mulai tingkat nasional bahkan internasional, semua kelebihan itu membuat Kayla menjadi pribadi yang cendrung arogan dan bersikap semaunya. Semasa SMA dia membully hampir seluruh anak disekolah, entah darimana datang nya sifat itu. Ian yang tak pernah berkomunikasi dengan adik nya, bahkan tak percaya bahwa Kayla tumbuh menjadi seorang gadis arogant.
Dan puncak nya, saat dua tahun lalu berawal dari hubungan Ian dengan kekasih nya yang di tentang Tuan Wijaya. mengharuskan Ian meninggalkan kekasih nya da negara ini, benar benar membuat Kayla merasa hanya hidup seorang diri disini.
" Kangen mama bang.. " Isak tangis Kayla menyadarkan Ian dari lamunan panjang nya tentang perjalanan masalalu.
" Papa benci ya sama Kayla, bang? sampai papa nggak pernah mau bagi waktu nya buat Kayla? "
" Nggak gitu dek, abang kan udah bilang papa kerja begitu buat kamu sama abang. Biar Kayla bisa belanja, kamu kan suka belanja dek. Buat penuhin isi lemari kamu, buat mobil kamu yang ganti ganti terus. Papa kan harus kerja kalau mau kasih kamu uang banyak dek haha " Berusaha menghibur sambil tersenyum ceria.
" Bang!! " Kayla melepas pelukan nya lalu menatap Ian penuh arti, Ian diam mendengarkan apa yang akan dikatakan adik nya.
" Aku nggak cuma butuh uang bang! " Berteriak marah, membuat Ian tertunduk tak sanggup menatap adik nya.
" Aku butuh waktu, perhatian dan kasih sayang kalian! kenapa kalian bisa berfikir aku cuma butuh uang dalam hidup? Selama hidup aku nggak pernah kekurangan uang, bahkan mungkin uang yang dikasih papa buat aku jauh lebih banyak dari uang buat abang, kalian kasih aku mobil, perhiasan, baju, tas, segala hal mewah.
__ADS_1
Tapi kalian lupa satu hal, aku butuh perhatian dan kasih sayang.
Papa selalu menuntut kesempurnaan, tapi setelah aku punya kesempurnaan itu apa papa pernah sekali aja kasih penghargaan untuk pencapaian itu bang? ...
bukan hadiah yang aku mau, papa tersenyum bangga atas keberhasilan itu udah lebih dari cukup buat aku bang. Apa kalian segitu membenci ku, karna dulu mama cuma sibuk mengurus aku dan lupa sama abang dan papa.
Jadi saat mama pergi kalian balas dendam dan nggak pernah peduli sama aku?..
Apa abang tau gimana rasa nya, setiap kali merayakan ulangtahun tanpa kehadiran keluarga?
Apa abang pernah tau gimana rasa nya setiap sarapan, makan siang bahkan makan malam di meja sebesar itu sendirian?! "
Kayla menjeda kalimat panjang nya, isak tangis nya tidak tertahan lagi. sesunggukan gadis itu mengeluarkan beban di hatinya yang sudah terpendam bertahun tahun ini.
" Aku merasa asing bang, Aku asing tinggal dirumah sebesar ini sendirian. Aku nggak kenal siapa pun disini. papa dan abang yang aku punya, Mereka sibuk sama tujuan dan dunia mereka masing masing.
apa Kayla salah bang, kalau Kayla minta sedikit aja waktu berharga yang papa dan abang punya untuk bisa di bagi sama Kayla?.
Abang tau, dulu di sekolah anak anak di kelas ku selalu cerita apa yang mereka lakuin saat bersama keluarga. Mereka bilang, mereka kesel kalau mama papa nya melarang mereka keluar waktu libur cuma untuk menghabiskan waktu bersama seharian.
haha, mereka bahkan nggak tau gimana rasa nya seorang anak yang liburan sendirian, kemana mana sendirian, bahkan hidup pun sendirian. Kayla punya keluarga tapi berasa nggak punya, lebih parah nya lagi Kayla nggak pernah punya temen bang.."
Ian masih menunduk di hadapan Kayla yang dari tadi berbicara panjang lebar sambil menangis, sungguh Ian merasa hancur saat mengetahui betapa menderitanya adik nya selama ini. Uang dan segala kemewahan yang didambakan semua orang ternyata tidak membuat adik nya merasa bahagia.
Jauh dari itu, Kayla hanya menginginkan sebuah kesederhanaan kasih sayang dan perhatian dari keluarga nya.
Kayla memang memiliki segalanya, tapi satu hal yang mustahil dia dapatkan adalah kasih sayang orang terdekatnya.
" Apa salah, kalau Kayla benci bang Ian sama papa? "
Ian mendongak, menatap dalam mata adik nya. tergambar jelas kesedihan dan beban berat yang selama ini disembunyikan Kayla.
segera Ian menarik tubuh adik nya kedalam pelukan, memberikan sentuhan hangat yang selama ini selalu dirindukan adik nya..
Ian dan Kayla menangis sambil berpelukan, meluapkan perasaan mereka masing masing.
Mereka tak menyadari, bahwa sejak tadi ada seseorang yang berdiri di depan pintu kamar dan mendengarkan semua nya.
Dia tuan Wijaya, berdiri di balik pintu mendengar anak gadis nya mengungkapkan kesedihan dan kekecewaan dihatinya yang terpendam sekian tahun.
kelebatan wajah mendiang istri nya menghinggap di kepala.
__ADS_1
" maafkan papa, ma. Papa gagal menjadi ayah yang baik untuk anak kita, papa terlalu sibuk memberi mereka uang sampai lupa untuk memberi mereka kasih sayang juga " lirih nya di sela tangis yang coba ia tahan