Kampus Love Story

Kampus Love Story
Alasan


__ADS_3

Viona duduk di sebuah sofa ruang tamu, tempat ini sangat asing baginya.


Tadi sore Rayhan memaksanya untuk ikut ke apartemen Kayla karena ada keperluan, awalnya Viona menolak tapi kalau sudah berurusan dengan Rayhan tidak ada jalan keluar lain selain mengikuti kemauan pria itu.


15 menit Viona menunggu dengan sabar sambil bermain ponsel di sofa. Gadis itu tak beranjak sedikitpun dari sofa, bahkan mengubah posisi pun tidak.


Suara pintu terbuka membuat Viona merasa lega, sejak tadi dia merasa tidak nyaman berada disini sendirian. segera gadis itu berdiri untuk menyambut Rayhan dengan omelan, tapi setelah berdiri dan melihat sosok pria di ambang pintu bukan membuat nya mengomel justru membeku.


Apa maksud nya ini?! Viona bergumam sambil membuang muka dari pria itu.


Ian juga sedang membeku di ambang pintu, menatap gadis yang baru beranjak dari sofa dan melihat nya, Ian mengernyit heran. Bukankah tadi adik nya yang meminta agar dia datang? Tapi kenapa malah ada Viona disini.


Jadi ada apa ini?


Ian berjalan mendekati Viona, gadis itu tampak gelagapan dan ketakutan.


" Kamu disini juga? " sapa Ian dengan santai, berdiri dengan jarak dua meter dari gadis itu.


" sa.. saya, hanya memenuhi undangan adik anda " Gadis itu tertunduk, tak berniat menatap lawan bicara.


" Maaf, permisi. Saya pergi dulu " Gadis itu berjalan melewati Ian tanpa menoleh sedikitpun. Tidak melihat raut wajah Ian yang sedari tadi di tekuk menahan amarah.


" stop bersikap sok formal Viona! " Ian berbalik badan, sedangkan Viona. Gadis itu berhenti tapi tak menoleh Ian.


Gadis itu menghela nafas dalam, harus kembali bertemu dengan Ian membuat luka di hati nya kembali menganga lebar. Seberapa jauh dia berlari, tetap tak bisa keluar dari perasaan menyakitkan itu.


" Dan bisakah anda berhenti bersikap seolah mengenal saya, tuan? " suara nya sedikit bergetar, sungguh dia tak punya keberanian untuk bicara lebih jauh dengan Ian. Dibalik sifat Ian yang tenang dalam setiap situasi, tapi pria itu selalu tegas. Terbukti saat kuliah dulu saat menjabat anggota BEM, dan Viona rasa semua masih ada sampai saat ini.

__ADS_1


flashback on


Ian berjalan cepat menuruni tangga dirumah besar nya, penampilan nya nyaris sempurna dari atas hingga bawah. Hanya satu kekurangan nya, seseorang untuk mendampinginya.


Tapi sebelum keluar dari rumah utama, sekretaris Hendra lebih dulu memanggil nya, menyampaikan pesan Tuan Wijaya agar Ian segera ke ruang kerjanya. Ian melirik jam tangan, masih ada waktu sekitar 1 jam lagi.


" Mau kemana kamu? " Tanya tuan Wijaya saat anak nya sudah duduk di hadapan nya.


" Ian ada urusan sebentar pa, ada apa tumben papa suruh Ian masuk kesini? " Ian bertanya heran. Pasal nya, papa nya tidak akan memanggilnya keruang kerja jika bukan untuk hal penting.


Tuan Wijaya mengeluarkan sesuatu dari dalam laci, lalu melemparkan ke atas meja. Ian terlonjak kaget, dengan tangan yang gemetaran mengambil beberapa foto, sedangkan Tuan Wijaya hanya diam dan menatap penuh kekecewaan pada anak sulungnya.


" Papa kecolongan, bagaimana bisa papa nggak tau apa yang kamu lakukan diluar sana, bahkan sudah sejauh ini Ian!


Tinggalkan gadis itu, kamu sudah bertunangan dengan anak dari rekan kerja papa! " sentak Tuan Wijaya.


" Tapi pa, Ian mencintai Viona.. dia gadis baik, papa juga pasti suka kalau kenal Viona nanti. Dia mencintai Ian apa ada nya pa, dia bahkan nggak tau kalau Ian sebenarnya anak papa " Suara nya bergetar menahan gugup, ini kali pertama bagi Ian berdebat dengan papa nya.


" Tidak! Papa tidak akan mengizinkan kamu berhubungan apapun dengan wanita tidak jelas itu Ian, bagaimana kalau dia hanya seorang rubah betina yang hanya menginginkan uang kita?! asal usul nya saja kamu tidak tahu kan? Gadis itu besar di panti asuhan, bahkan orang tua nya saja tidak jelas siapa! "


Ian bungkam saat mendengar ucapan papa nya, tidak menyangka Tuan Wijaya akan tahu sejauh ini tentang Viona. Padahal selama ini Ian selalu berusaha menutupi hubungan nya dengan Viona dari papa nya, Ian hanya membutuhkan waktu yang tepat untuk jujur dengan papa nya dan juga Viona.


" Tapi pa!.. Viona gadis baik baik, Ian kenal siapa dia.Papa harus kenal dulu sama dia, Ian yakin nanti pasti papa juga suka sama dia " Ian kekeuh mempertahankan yang menurutnya benar.


" Ian.. " Tuan Wijaya menjeda kalimat nya, berdebat dengan Ian bukan lah jalan keluar yang baik pikir nya, dia tau bahwa anak sulung nya hanya akan menerima sesuatu yang logis menurut pemikiran nya. Bukan lah hal yang mudah untuk mengubah pendirian Ian.


" Tinggalkan dia.. Atau gadis itu yang akan menanggung akibat dari perbuatan mu ini Ian, jangan lupakan bahwa papa adalah orang yang akan mendukung apapun yang kamu lakukan selama itu baik, dan papa juga adalah orang yang akan menghancurkan semua yang menjadi penghalang bagi kehidupan kamu! "

__ADS_1


" Tinggalkan dia! " sekali lagi mempertegas ucapan nya. " atau papa sendiri yang akan menghancurkan hidup nya! Jangan lupa kalau papa adalah donatur utama di panti asuhan itu, dan kamu pasti tahu apa yang akan terjadi kalau papa mencabut dana dari sana. Tinggalkan dia, Ian. Gadis itu tidak pantas untuk kamu!.. "


" sejak kapan papa menilai seseorang dari status sosial nya? bukan nya papa yang selalu mengajarkan Ian sama Kayla untuk menghormati seseorang tanpa memandang status, pa " Ian setengah berteriak dan beranjak dari tempat duduk nya.


Tuan Wijaya tetap tenang di tempat duduk nya sambil tersenyum melihat Ian, Lalu mengeluarkan sesuatu lagi dari dalam laci. Ian madih berdiri di tempat nya, menahan segala emosi yang hampir mencapai ubun-ubun nya.


"Papa kasih waktu 5 menit untuk memikirkan"


Tuan Wijaya menaruh beberapa dokumen, Pasport, visa, dan beberapa dokumen penting disisi kanan nya. Ian mengernyit heran, sedangkan disebelah kiri nya sudah ada sebuah foto berukuran kecil. Menampakkan seorang gadis yang sedang tersenyum jenaka. Cantik, cantik sekali. Menurut sudut pandang Ian sebagai seorang laki laki.


Tapi bukan itu masalah nya, Ian belum mengerti apa maksud dan tujuan semua benda itu ada di atas meja.


" Pergi keluar negeri, dan lanjutkan pendidikan kamu disana.. " Tuan Wijaya memajukan beberapa dokumen itu dengan tangan kanan.


" Atau bertunangan dengan gadis ini? " Dan tangan kiri nya juga memajukan sebuah foto yang sempat dilirik Ian.


flashback off


" Aku nggak akan cari alasan yang bisa membenarkan kesalahan ku dulu, karena apapun alasan nya aku tetap salah sama kamu. Maaf Viona.. " Lirih Ian sambil menatap Viona yang duduk di depannya.


Viona. Gadis itu tertunduk setelah mendengar cerita panjang lebar Ian, tentang masalalu yang memisahkan mereka sampai saat ini.


" Vio... Aku lebih memilih, kamu kehilangan aku daripada kamu harus kehilangan keluarga, tempat tinggal, dan masadepan kamu. Aku mohon jangan membenci atau menyalahkan papa aku untuk semua yang terjadi "


" Stop! cukup Ian! " Viona bangkit dari tempat duduk nya, Ian terkejut, dia mengira Viona akan pergi lagi tanpa mendengar semua permintaan maaf nya.


Ian berdiri, hendak menyusul Viona. Tapi gadis itu lebih dulu menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan Ian.

__ADS_1


__ADS_2