
Derisan angin pantai yang menyejukkan. Terik matahari tak membuat ramai nya pengunjung pantai ini berkurang. Pasir putih yang membentang di sepanjang pantai, dan juga deburan ombak yang sesekali sampai menutupi mata kaki.
Sungguh, pantai menjadi salah satu bukti, betapa besarnya kekuasaan Tuhan dalam menciptakan segala sesuatu nya.
Cahaya matahari di atas kepala, memantul pada langit biru nan luas di depan sana. Membuat siapa saja yang memandang, akan merasa nyaman untuk berlama lama di tempat ini.
" Lo kenapa, sampe hampir nambrak tadi? Abis minum lo? " Tanya Roland bercanda, namun wajah nya terlihat khawatir.
Kayla terkekeh ringan, sibuk membenahi rambut yang menutupi wajah nya karena terpaan angin.
" Biasa kak, udah lama nggak main main. " Menoleh sekilas pada Roland. " Ternyata seru juga haha, udah lama nggak kaya tadi. "
" Lo ini gimana, hal kaya gitu lo bilang main main? " Roland tersulut emosi mendengar ucapan Kayla.
Bagaimana tidak, tadi Kayla hampir saja membuat nyawa seseorang melayang bahkan hampir membuat dirinya sendiri dalam bahaya. Saat sebuah mobil yang Roland kenal, melaju dengan kecepatan maksimal dan berakhir di atas trotoar hampir menabrak sebuah pohon besar.
Roland sempat berteriak histeris tadi, hampir kehilangan kesadaran saking kaget nya.
Tapi Roland lebih di buat tak bisa berkata kata saat Kayla keluar dengan tampang biasa bahkan malah tertawa terbahak melihat bagian depan mobil nya yang lecet lecet.
Bener bener, cewek gila! Umpat Roland sambil menghampiri Kayla. Dan saat Roland berniat mengantarnya kerumah sakit, Kayla malah lebih ingin pergi ke pantai.
Dan karena itulah saat ini mereka ada di pantai ini.
" Lo tau nggak, Lo bisa aja bunuh orang itu kalo terlambat ngerem dan banting setir. Dan lo, bisa aja bahayain diri lo sendiri Kayla!. " Roland memijit kening nya, tak habis pikir dengan jalan pikiran Kayla.
__ADS_1
Sedangkan gadis itu, sibuk bermain dengan pasir putih tidak mendengarkan ucapan Roland.
" Haaahh!! " Roland melenguh panjang, membuang emosi yang hampir membludak. Lalu menarik tangan Kayla agar gadis itu menghadap padanya. Sejak tadi, ramai nya orang yang berlalu lalang dan deru ombak yang bersahutan selalu berhasil mengalihkan atensi Kayla dari Roland.
" Lo mikir nggak sih, gimana perasaan bokap sama abang lo kalo tadi sampai lo terluka? Lo nggak mikir gimana perasaan gue?! " Ucap Roland sambil menatap tajam Kayla.
" Lo mikir, gimana reaksi Rayhan kalo ada sesuatu yang terjadi sama lo! "
" Maaf kak.. " Lirih Kayla sambil menatap Roland, sedangkan pria itu masih menatap tajam. Tak habis pikir dengan Kayla, bagaimana bisa gadis itu dengan enteng nya bermain main dengan nyawa yang bisa membahayakan orang lain juga.
" Dengerin gue baik baik, lo kalo ada masalah itu di selesain bukan di hindari kaya gini. Lo udah dewasa Kay, udah nggak bisa lari dari masalah kaya tadi. Lo udah punya tanggung jawab atas diri lo sendiri!. Jujur, gue kecewa sama lo Kay!. " Kata kata Roland seperti tamparan keras untuk Kayla, gadis itu menunduk menahan air mata nya agar tak jatuh dihadapan Roland.
" Banyak orang yang sayang sama lo, tapi lo malah bersikap kaya nggak punya siapa siapa?! Lo masih punya gue yang... " Ucapan Roland terhenti saat gadis itu langsung memeluk erat tubuh nya. Roland menghela nafas frustasi, belum membalas pelukan Kayla.
Jantung nya kembali berdetak kencang saat merasakan pelukan gadis kecil itu, gadis kecil yang sangat dia sayangi. Sampai saat ini pun Roland masih ragu apakah sudah rela melepaskan Kayla sepenuh nya.
" Lo boleh nangis Kay, jangan pernah di tahan. Kadang lo butuh orang lain untuk berbagi beban.. " Setelah mendegar ucapan Roland, isak tangis gadis itu perlahan mengeras.
Membuat orang orang yang ada disekitar mereka menatap heran. Roland memutuskan untuk tidak peduli, dan membalas pelukan Kayla untuk menenangkan gadis itu.
" Kayla capek kak.. " Gadis itu sesenggukan dibalik pelukan Roland.
" Aku capek.. Selalu di tinggalin kak, aku nggak mau kaya gini terus. Aku nggak mau hidup sendirian lagi, nggak mau jauh dari orang orang yang aku sayang.. nggak mau kak. " Sesekali gadis itu memukul dada Roland untuk meluapkan semua emosi nya. Kayla sedikit kecewa juga, disaat keadaan nya sedang terpuruk begini. Kenapa bukan Rayhan yang menemani nya, padahal hanya dia yang dibutuhkan Kayla saat ini.
" Dulu mama, abis itu bang Ian. Habis ini siapa lagi yang akan ninggalin Kayla? Aku nggak mau pergi kak, nggak mau.. "
__ADS_1
Roland sedikit bingung dengan ucapan Kayla, dia sama sekali tidak mengerti masalah apa yang dimiliki Kayla. Tapi Roland memutuskan diam saja, membiarkan Kayla menumpahkan semua beban di hatinya.
* * * * * * * *
Disisi lain, Rayhan tengah berdiri di dekat pohon kelapa yang menjulang tinggi. Dia sedang memperhatikan dua yang yang tengah berpelukan di kejauhan sana. Ya, dia melihat semua nya. Bagaimana Kayla menangis di pelukan Roland, dan bagaimana Roland menenangkan gadis itu.
Tadi saat berjalan di parkiran, dia mendapat telfon dari Roland. Dia mengatakan bahwa Kayla sedang bersamanya di pantai, dan Kayla sempat mengalami kecelakaan kecil. Membuat Rayhan kalut dan langsung menyusul gadis itu untuk memastikan keadaan nya.
Rayhan masih melihat adegan itu tanpa berkedip, dia tidak bisa mendengar apa yang di ucapka dua orang yang sedang berpelukan itu. Tapi yang jelas, dia bisa melihat Kayla sedang menumpahkan semua beban hidup nya pada Roland.
Rayhan tidak cemburu, sama sekali tidak. Dia justru merasa bersalah, disaat saat seperti ini seharus nya dia lah yang menjadi sandaran untuk Kayla. Tapi dengan egois nya, tadi Rayhan malah menolak ajakan nya tanpa mendengar alasan lebih dulu.
" Udah lega? " Roland menyeka air mata di pipi Kayla, gadis itu tersenyum sekilas sambil mengangguk. " tunggu disini sebentar, gue pergi dulu ya. "
" Kak Roland mau kemana?. " Kayla bertanya sambil berdiri, mengikuti gerakan Roland.
Roland tersenyum. " Ada orang yang lebih pantas untuk lo, yang lebih ngerti gimana perasaan lo. " mengacak rambut gadis itu, masih dengan senyuman nya. " Gue pergi dulu, jangan kemana mana. Sebentar lagi dia dateng, gue yakin dia lebih bisa bikin lo tenang. Gue pamit ya, jangan pernah merasa sendiri. Karena gue, masih di tempat sama. Di tempat seharus nya gue berada. Kalo lo cari gue, lo paham kan harus cari gue kemana? " Roland mundur beberapa langkah, masih menghadap Kayla.
" Gue disini.. " Tersenyum sambil menyentuh dada nya. " Masih disini, untuk lo. Kapan pun dan dimana pun. Gue pergi dulu, Kayla. " Roland melambaikan tangan nya, lalu berbalik dan melangkah cepat meninggalkan Kayla. Bahkan sebelum mendengar jawaban gadis itu.
Kayla menghela nafas panjang, menghadapkan diri nya pada lautan luas yang membentang di depan sana. Merentangkan kedua tangan lalu memejamkan mata serapat mungkin.
Terpaan angin, sesekali membuat rambut nya menutupi wajah. Gadis itu masih setia menutup mata, tidak perduli dengan rambut yang menutupi wajah nya.
Saat sebuah tangan melingkar erat di pinggang nya, membuat gadis itu langsung membuka mata nya. Belum sempat bergerak untuk melepaskan diri, dia mendengar suara seseorang.
__ADS_1
" Maaf.. " Lirih nya, membuat Kayla langsung mengenali orang tersebut.