
Terlihat Harraz selalu menggandeng tangan Bia sungguh membuat hati Laila semakin lama menjadi semakin ingin merebut Harraz dari sisi Bia.Apalagi Bia yang terlihat di puja setelah berani menjadi pembicara dalam acara yang besar membuat Laila tak ingin kalah dengan Bia.
"Assalamualaikum Gus Arraz." ucap Ning Laila saat Gus Arraz dan Bia akan masuk ke ndalem.
"Wa'alaikumsalam,ada yang bisa di bantu Ning?"tanya Harraz dengan menundukkan pandangannya.
"Boleh saya matur sebentar,ada yang sesuatu yang ingin saya sampaikan pada Gus Arraz."ucap Ning Laila
"Bang Umay,tolong aturaaken Abah Yai dan juga Bu Nyai kalau Ning Laila akan bicara dengan Gus Arraz."ucap Bia pada Umay.
"Dawuh Ning,"ucap Umay dan langsung pergi untuk memberitahukan kepada Kyai Said dan Umi Kalsum tentang Ning Laila.
"Ning Laila monggo tenggo dateng pendopo ke mawon (Ning Laila silahkan tunggu di pendopo saja.) ." ucap Bia dengan bahasa yang halus.
Laila pun tidak menjawab namun, tetap ikut dengan perkataan Bia.
"Dek, la po mbok di kon mlebu pendopo sih..( Dek,kenapa suruh masuk pendopo sih) ," protes Harraz pada sang istri.
"A'a, wes tah menengo wae..saiki njenengan ayok n'dang rono bean cepet pungkas masalahe ( A'a sudah diem saja sekarang kamu cepat kesana biar cepat selesai masalahnya)." ucap Bia menarik sang suami ikut ke pendopo.
__ADS_1
.
.
.
"' Ning Laila,nya po jare ini seng penting arep di aturaken ( Ning Laila kenapa katanya ada hal penting yang mau disampaikan)." ucap Kyai Said pada Laila.
"Nggeh Yai,Laila masih ingin berjuang untuk mendapatkan jawaban dari lamaran Laila atas Gus Arraz." ucap Laila dengan melirik Harraz yang santai menghisap rokok nya.
"Jawaban apa,Lamaran apa,Ning Laila maaf..bukan saya tidak sopan pada Ning..saya hanya manusia biasa,saya banyak kekurangan,istri saya saja belum bisa saya bahagiakan.Saya sampai saat ini dan Insyaallah seterusnya seumur hidup saya..tidak akan berpoligami,walaupun memang tidak dilarang dalam agama.Saya sadar perasaan seorang istri , walau pun dia sudah ada di posisi menerima tapi, saya tidak bisa dan menurut apa yang saya dengan istri saya pun sudah menegaskan tidak memberikan ijinnya untuk saya berpoligami.Istri saya tahu kalau saya tidak akan sanggup untuk adil maka dari itu dengan segenap hati saya dengan tulus saya minta maaf pada Ning,saya nggak bisa menerima pinangan Ning Laila.Bukan karena kurang nya Ning Laila namun,saya tidak akan berpoligami..istri saya hanya Abia Kiradzki Mahardika."ucap Harraz tegas.
"Maaf ning, Alhamdulillah saat istri saya mengatakan hal tersebut saya sudah melakukan istikharah dan jawabannya saya tidak bisa menjalankan poligami."ucap Harraz.
" Kenapa,saya yakin..Gus Harraz tidak seperti Abah Kyai yang...
"Cukup,anda sudah lancang Ning Laila..ini keinginan anda dan saya tidak bisa.Jadi,saya harap and menjaga marwah anda sebagai wanita dan sebagai seorang anak Kyai besar.Semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan masalalu Abah saya. Assalamu'alaikum."ucap Harraz langsung beranjak dari tempat duduk nya dan masuk ke dalam kamar.
Kyai Said dan yang lain tentu saja terkejut dengan ucapan Laila yang lancang apalagi mengingat masalalu Kyai Said itu membuat Bulu Nyai sangat tidak suka.
__ADS_1
"Maaf Kyai Sidik tolong ajarkan anak Kyai tentang adab dan juga sopan santun.Mana ada Ning yang katanya punya kepintaran dalam ilmu agama tapi, tidak bisa menjaga lisannya.Harap ingat Ning,seorang wanita kodratnya itu di pilih bukan memilih dan soal jodoh bukan berarti latar belakang ku yang seorang Ning sejak kecil yang pantas untuk mendampingi anak saya tapi, di dalam hati kamu hanya ada rasa sombong dan juga jumawa.Menantu saya memang tidak berasal dari pesantren tapi, Bia masih mau belajar dan dia didik dengan baik walaupun latar belakang keluarga nya jauh dari kata hidup di pesantren."ucap Umi Kalsum pada Laila dengan panjang lebar dengan wajah kecewa karena mendengar ucapan Laila yang sudah lancang menyinggung perasaan Kyai Said dan juga Harraz.
Kyai Sidik pun meminta maaf kepada Kyai Said atas apa yang di lakukan oleh Laila dan langsung berpamitan undur diri.
Setelah kepergian Kyai Sidik dengan keluarganya.Bia melihat sosok Abah mertuanya yang terlihat sedih karena aib nya yang sudah dia tutup rapat kini sudah di ketahui menantunya.
"Umi ,Abah ..Bia undur diri kekamar dulu."ucap Bia.
Bia khawatir dengan suaminya saat ini.
Bia masuk dalam kamar mereka dan terlihat pintu teras kamar terbuka terlihat Harraz duduk dengan menghisap rokok nya.
"A'a..minum tehnya,"ucap Bia meletakkan cangkir teh ke atas meja kecil yang ada di sana lalu Bia duduk di sebrang kursi dekat Harraz.
"Hemmm.."jawab Harraz dengan menyesap rokok nya dan menghembuskan asap ya ke udara seperti mengeluarkan beban yang ada di dadanya
"Bintang nya banyak,Bia jadi ingat Daddy..dulu masa kecil Bia ada di kota ini sampai umur Bia hampir lima belas tahun.Setiap hari hanya ada Bullyan karena Bia nggak punya Daddy, sementara mama waktu Bia kecil mama sibuk sekolah perawat di Surabaya.Jadilah Bia berdua sama eyang uti di rumah itu.Setiap seminggu sekali mama pulang,kalau Bia ingat saat di bully itu nggak enak.Kata mama Daddy ada tapi, ilang entah kemana.Sampai akhirnya,Bia SMP kelas tiga mama di mutasi ke Jakarta.Bia hidup berdua dengan mama di kontrakan,tanpa Daddy sampai akhirnya Bia ketemu sama Daddy namun,saat itu Bia belum tahu Daddy adalah suami mama ,ternyata banyak peristiwa yang Bia nggak tahu.Ternyata dulu Daddy tanpa sengaja ninggalin mama ke Amsterdam dan di tak bisa berbuat apa-apa karena di cekal oleh Oma uyut yang jahat.Mama butuh waktu lama untuk menerima daddy kembali sampai sedikit demi sedikit rahasia yang sebenarnya terungkap.Daddy dan mama bisa sama-sama lagi dan akhirnya aku punya daddy. Makanya Daddy merasa tidak terima kalau aku terlalu cepat menikah tapi, mama selalu bilang..mereka harus siap dengan segala ketentuan Allah. Daddy bilang, aku harus memperlakukan Aa lebih dari apa yang mama lakukan untuk Daddy.Karena Daddy dan mama menikahpun karena sebuah kesalahan besar namun,cinta menyatukan mereka dengan sebuah pengorbanan tentunya."ungkap Bia panjang lebar
"Jadii ....
__ADS_1
"Jadi, masalalu aku pun pahit a' bukan kamu saja yang pernah merasa kecewa karena keadaan.Aku nggak akan pernah memaksa Aa untuk cerita tapi, kapan pun Aa mau cerita aku siap dengar ,kalau soal masalalu aku itu hanya ringkasan saja.Suatu saat Aa akan tahu semuanya tentang Bia."ucap Bia dengan menatap wajah suaminya dengan tatapan matanya yang terlihat adem.