
Bia sampai di rumah pukul dua siang.Karena hari ini tak ada mertuanya jadi,rumah terasa sepi karena biasanya ada saja tamu Abah Kyai yang datang atau Umi yang kadang menerima ibu-ibu warga di sekitar pesantren untuk mengaji.
"Ning Bia,mau Wati siapin makanan sekarang?"tanya Wati kodam Bia di pondok.
"Nggak usah mbak Wati, saya sudah makan.Saya mau Istirahat saja,nanti tolong bangunin saya satu jam lagi ."pesan Bia.
"Baik ning,kalau nggak ada yang di bantu lagi saya mau ke pondok dulu."pamit Wati.
"Pergi saja mba,nggak papa."ucap Bia.
Setelah melihat Wati pergi,Bia pun masuk kamar dan naik ke ranjang nya dan memejamkan matanya.Tak lama dia sudah terlelap tidur.
Harraz yang buru-buru pulang dari kantor nya pun langsung masuk dalam rumah dan menuju kamarnya.Dia sudah melihat mobil istrinya sudah terparkir di garasi,itu artinya Bia sudah pulang.Saat ini misinya untuk mendapatkan maaf dari istri nya itu.
Harraz pun baru tahu jika memang benar adanya Bia yang terlihat cuek dan kekanakan kalau sudah kesal atau marah sangat susah untuk di ajak berdamai.Pesan dari ayah mertuanya pun kembali terngiang dalam pikiran Harraz.
Harraz masuk ke dalam kamarnya.Melihat Bia yang sedang tertidur pulas disana membuat dirinya pun ikut berbaring di samping istrinya.
Wajah cantik tanpa riasan selalu membuat Harraz tersenyum."Maafin Aa yah,jangan marah lagi.Aa nggak sanggup kalau lihat kau marah."ucap Harraz lirih dengan mengecup kening istrinya.
Untung Bia yang terlihat sama sekali tidak terganggu dengan tindakan Harraz barusan.
Kumandang adzan Ashar pun sudah terdengar.Wati yang mendapatkan amanah pun sudah berkali-kali berusaha mengetuk pintu kamar sang Ning namun,tak ada respon apapun.
"Wati,koen neng ngopo bolak-balik neng ngarep kamare Gus Arraz?" tanya Umay yang muncul dari dapur.
(Wati,kamu ngapain bolak-balik di depan kamar Gus Arraz).
"Astaghfirullahal'adzim Gus Umay ngagetin wae to,Wati cuma mau bangunin Ning Bia Gus,soalnya tadi Ning Bia yang dhawuh buat minta bangunin."jelas Wati.
"Ya sudah, kamu bisa lanjut kerja.Biar saya yang bangunin Ning Bia sama Gus Arraz."ujar Umay pada Wati
"Oke,Wati kebelakang dulu kalau gitu Gus."ucap Wati dengan tetap menjaga pandangannya dari Umay.
.
.
Sementara di dalam kamar,Bia yang mendengar ribut-ribut pun akhirnya membuka matanya perlahan dan betapa kagetnya ketika dia membuka mata hal pertama yang pertama Bia lihat itu sosok suaminya yang tidur dengan jarak yang begitu dekat dengannya.Bahkan hembusan nafasnya pun terasa di wajah Bia.
__ADS_1
Bia melihat tangan kekar Harraz yang sedang memeluknya erat.Membuat dadanya bergemuruh.Bia berusaha melepaskan pelukan suaminya itu namun dia di kejutkan dengan suara suaminya.
"Sebentar saja sayang, aku masih ingin begini."ucap Harraz dengan suara seraknya.
"Bisa nggak Aa jangan begini,Aa nggak inget kalau aku lagi marah sama Aa.Ngeselin tahu nggak sih, bisa lepasin tangan nya ." ucap Bia dengan tatapan dinginnya.
Harraz yang terlihat tatapan mata istrinya hanya bisa menelan ludah,begitu marahnya sang istri saat Harraz mengusir Bia dan Nayla dari kelas.
Dengan terpaksa Harraz melepaskan pelukannya,dengan cepat Bia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Brakkk..
Pintu yang di tutup dengan keras oleh Bia membuat Harraz terkejut dengan tingkah laku istrinya yang sedang marah itu.
"Astaghfirullahal'adzim,dek..segitu marahnya kamu sama Aa."gumam Harraz dengan mengelus dada nya yang sempat kaget dengan tingkah bar-bar istrinya.
.
.
Sampai magrib tiba Bia masih mendiamkan suaminya,walaupun Harraz sudah meminta maaf namun,Bia masih enggan untuk memaafkan suaminya itu.
"Kenapa kakak Ukhti diem aja ,lagi marahan?" tanya Umay pada Harraz dengan posisi berbisik.
Mendengar pertanyaan saudara nya Harraz menatap horror ke arah Umay.
"Oke,oke..keep deh.." ucap Umay dengan gerakan mengunci mulutnya.
.
.
.
"Dek, lagi apa kamu ?" tanya Harraz saat ada di kamar mereka setelah selesai makan malam.
"Lagi buat rangkuman materi pelajaran dosen killer.." sindir Bia tanpa menoleh sedikitpun pada suaminya.
"Maafin Aa yaa,Aa cuma ingin di kelas semuanya fokus ."ucap Harraz
__ADS_1
Prakk...
Bia meletakan pulpennya dengan sedikit membantingnya lalu melihat suaminya dengan tatapan mata yang tajam.
"Aa tahu nggak salah A'a apa?" tanya Bia dengan menatap sinis suaminya
"Apa yang Aa lakukan itu nggak baik.Harusnya Aa tanya dulu dan bahkan cari tahu dulu apa yang buat aku sama Nayla masih ngobrol saat Aa datang.Sekarang Aa inget saat Bia sama Nayla ngobrol,bahkan Ada belum mulai materi kan,setidaknya Aa lebih peka sama mahasiswa Aa.Kelakuan Aa buat aku kesel tahu nggak,Aa tahu aku sama Nayla masih ngobrol itu juga ada alasannya .Tadi Nayla sempat ngeluh karena Nayla sempat merasa sakit perut dan aku ngasih obat buat dia."ujar Bia dengan wajah di tekuk.
"Iya maaf yaaa..,besok Aa nggak akan galak-galak gitu lagi." ucap Harraz dengan berlutut di hadapan Bia.
Dor dor dor..
Suara gedoran pintu kamar Harraz membuat Bia dan Harraz saling pandang sesaat.Lalu dengan cepat Harraz membuka pintu dan ternyata Umay yang terlihat ngos ngosan.
"Ada apa Adek Bro, ngos-ngosan gitu?" tanya Harraz menatap heran sepupunya.
"Maaf Aa bro,si Badil..sepupu nya Ning Laila buat keributan."ucap Umay dengan wajah cemas.
Bagaimana pun memang Badil adalah terkenal dengan kelompok preman yang tak segan-segan menghabisi nyawa orang lain.
"Ada apa A, ?" tanya Bia yang muncul di belakang Batas yang sudah memakai niqabnya.
"Nggak apa-apa,kamu tetap di dalam kamar apapun yang terjadi jangan pernah keluar."ujar Harraz memikirkan keselamatan istrinya.
"Ada apa sih sebenarnya,jawab nggak?!!" desak Bia dengan suara yang tak bisa di bilang pelan lagi.
"Ini mungkin buntut dari penolakan Aa soal lamaran Laila, sepupunya kayaknya nggak terima kalau Laila di tolak."terang Harraz
"Terus dia mau ngapain,mau maksa Aa nikahin Laila,enak aja..nggak akan aku biarin.Dia harus lawan aku kalau mau sama Aa ."ujar Bia kesal mendengar sifat Laila yang memiliki sifat yang sangat jarang di lihat dari seorang Ning.
" Sayang, sampai kapan pun Aa nggak akan nikah sama Laila."ucap Harraz dengan memberikan pengertian pada istrinya.
"Adek Bro,amankan semuanya para santri juga gerbang pembatas tutup,kita temui Badil ."ucap Harraz dengan wajah yang terlihat sangat menahan amarahnya.
Bia tidak mungkin akan tinggal diam,dia melihat ke arah luar dari jendela.Ada sekitar dua puluh orang yang di bawa preman itu.
Bia pun mengetik pesan ke salah satu nomor.
Bersambung
__ADS_1