
Siang menjelang jam satu siang pintu Paviliun di ketuk lumayan keras membuat tidur Harraz terusik.
Harraz yang melihat Bia yang tidur pulas di sampingnya tentu membuat dirinya tak tega mengusiknya apalagi mengingat dirinya yang sudah membuat Bia terkapar lemas.
Harraz melangkah menuju pintu masuk dengan kaos dan polos dan celana kolornya
Ceklek
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam enin,maaf Harraz sama Bia ketiduran tadi,ada apa Nin?"tanya Harraz dengan senyum kikuk.
"Nggak apa-apa enin paham,enin mau ngasih makan siang buat kalian sama ini kasih ke Bia.Jangan terlalu di forsir cucu enin yaa..hehhee,ya sudah enin mau pulang aki juga baru pulang dari ladang."ujar sang enin membuat Harraz salah tingkah di buatnya karena enin meledeknya.
"Iya nin, terima kasih nin..maaf Harraz sudah repotin nin juga aki." ucap Harraz dengan wajah merasa bersalah nya.
"Sudah,jangan di pikirkan yang penting kalian bahagia."ucap sang nin dan langsung pergi meninggalkan paviliun.
Sebagai orang tua tentu dia paham dengan tabiat pengantin baru apalagi suasananya Cakung ( Cuaca mendukung) pastinya kudanil yang sudah sekali nyebut kolam akan ketagihan pengen nambah..π
Harraz membawa nampan yang di berikan enin pada nya dan ada segelas jamu yang akan Bia minum.
Harraz masuk ke dalam kamar dan melihat sang istri yang masih tergulung selimut tebal.
"Sayang, bangun dulu yuk..sudah mau habis waktu Dzuhur nya.Makan siang ,nanti bisa tidur lagi."ucap Harraz membelai rambut sang istri.
Bia membuka matanya perlahan dan menutupnya kembali.Rasanya berat sekali merasakan kantuk yang melandanya.
"Jam berapa A'?" tanya nya dengan suara serak khas orang bangun tidur
"Sudah hampir jam dua siang."jawab Harraz dengan mendudukkan Bia agar matanya terbuka
"Badan ku lemes banget Aa'.." ucapnya manja dengan memeluk tubuh Harraz.
__ADS_1
"Baiklah ,biar Aa gendong kamu.Kita sholat dulu habis itu kita makan siang.Nin sudah bawain kita makan siang terus,itu ada minuman buat kamu biar tenaga kamu pilih lagi."jelas Harraz dengan tersenyum melihat tingkah istrinya.
Memang semua karena ulahnya karena menggempur Bia dengan demikian habis tenaganya.
Harraz mengendong Bia sampai di kamar mandi dan mendudukkan nya di pinggiran buthube dengan perlahan dia membantu melepaskan baju sang istri.Dengan sekuat tenaga dia menahan gejolak yang tidak bisa dia tahan sebelumnya.
Beberapa kali berusaha bertahan untuk tidak menyentuh istrinya diawal pernikahan dia sudah lakukan.Namun,setelah merasakan bagaimana kudanil nya nyemplung ke dalam kolam surgawi tentu membuat dia ketagihan dan ingin terus mengulang nya berkali kali.
Rasa sempit dan susah payah masuk pun menjadi drama keduanya apalagi keduanya baru kali ini melakukan yang seharusnya mereka lakukan tiga bulan lalu.
Setelah susah payang membantu istrinya untuk membersihkan diri dan Bia pun sudah tersadar dari kantuknya dia pun beranjak wudhu setelah mereka selesai langsung melaksanakan sholat dzuhur mereka yang hampir habis.
Mereka pun setelah selesai sholat langsung makan siang dengan menu yang di berikan oleh enin.
"Ya Allah,maafin Bia yah A' karena memang Bia rasanya lelah banget sampai tak larat buat makan siang." ucap Bia dengan wajah sedihnya.
"Sudahlah,kamu begitu juga karena Aa yang terlalu memforsir diri kamu buat layanin Aa. Maafin Aa yaah...Aa terlalu egois."ucap Harraz merasa bersalah karena memang sampai sekarang Bia masih merasakan perih di bagian intinya.
Bia hanya membalas dengan senyuman dan akhirnya mereka makan dengan lahap untuk mengembalikan tenaga .Bia pun akhirnya dengan terpaksa meminum ramuan yang di berikan eninnya .
Setelah drama kelelahan itu kini Bia dan Harraz mengunjunginya keluarga Harraz yang masih ada di sekitar tempat tinggal Enin Darmi dan Aki Sapto.
"Assalamualaikum.."ucap Bia dan Harraz saat mereka sampai di rumah megah khas Villa keluarga yang terletak di perbukitan dan sekeliling nya ada perkebunan teh.
"Wa'alaikumsalam, akhirnya kalian datang juga..cucu mantu nenek."ucap nenek Harraz langsung memeluk cucu menantunya.
"Nenek nggak kangen Ayyaz nih ,ada cucu mantu datang cucu sendiri kalian cuekin." ucap Harraz dengan mode merajuknya.
Nenek dan kakek Harraz hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya.
"Kalau kamu kan sudah hidup sama kami puluhan tahun,kalau Bia kan baru kemarin."ucap sang kakek membuat Harraz mencebikkan bibirnya.
"Sudah,jangan ngambek gitu..sudah punya istri cantik masih saja suka ngambek.Ayo masuk dulu.Nenek sudah siapkan makan siang buat kita semua.Sebentar lagi Bibi mu juga akan datang."ucap nenek yang langsung menggandeng tangan Bia untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Namun,saat mereka akan masuk rumah tiba-tiba ada mobil yang masuk ke pekarangan rumah itu.
Tak lama kemudian ada seorang gadis berhijab turun dari mobil itu dan berlari menuju teras.
"Kak Arraz..!!" teriak nya dan langsung menuju Arraz yang masih berdiri dan memeluknya.
"Astaghfirullahal'adzim Dini,kamu apa-apaan sih..?!" ucap Harraz langsung mendorong gadis bernama Dini untuk menjauh darinya.
"Kak Arraz kenapa sih, biasa aja kali kak..biasanya juga begitu.Kita dari kecil kan memang sudah dekat.Kenapa sekarang kakak jual mahal gitu?!" ucap Dini dengan nada tak terima.
Harraz menghembuskan nafas kasar dan menatap Bia yang terlihat diam.
"Dini,jaga batasan mu.Kakek sudah peringatkan jangan sembarangan peluk atau sentuh Harraz kalian buka muhrim."ucap sang kakek menatap tajam kearah Dini.
"Papa ini kenapa sih,namanya saja anak muda,lihat orang yang dekat dengan nya spontan meluk bahkan cipika cipiki."ucap seorang wanita dengan dandanan medok dan balutan pasmina.
" Mami ini gimana,bukanya minta maaf malah belain anak kamu yang salah,adab itu perlu di junjung tinggi."ucap Laki-laki yang ada di samping wanita itu.
"Sudah-sudah jangan ribut,mama sama papa undang kalian kesini untuk kumpul sama Harraz juga istrinya.Bia kenalkan ini Om nya Harraz namanya Diki dan ini Tante Iin dan ini anak mereka Dini.Kalian perlu tahu ini Bia istri Harraz."terang nenek dengan wajah penuh bahagia memperkenalkan Bia pada Diki anak angkatnya.
"Hahh..mama nggak salah,wanita ninja ini sudah jadi istri Harraz.Owhhh..No..Bibi nggak nyangka kalau kamu kuliah jauh-jauh buat milih istri malah modelan gini." ucap Iin dengan wajah sinis.
"Bibi nggak berhak menilai istri saya ,lagi pula aku bahagia bisa menikah dengan Bia."ucap Harraz dengan menatap tajam sang Bibi.
"Aku sih sependapat sama mama,kenapa kak Harraz milih wanita ninja gini sih, nggak gaul banget."ucap Dini dengan nada sinis.
"Maksudnya apa yah,dari tadi saya diam bukan nggak berani untuk melawan jahatnya mulut kalian.Kamu,kamu bilang nggak gaul..nggak gaul bagaimana,yang suka main ke club' atau yang suka di pegang sana sini sama orang yang bukan muhrim." ucap Bia begitu menusuk di hati Dini.
Deg.
Apa baiknya istri sepupu nya itu.Dia terlihat diam namun,sekali ngomong ngena di hati Dini.
Bersambung
__ADS_1
Para readers malam ini Insyaallah author mulai up cerita baru.Simak dan jangan lupa Like comment juga vote yaa