
Terdengar suara isakan yang jelas di telinga Bia.Akhirnya Bia pun mencoba untuk membalikkan tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan.Terlihat jelas sosok dingin,killer dulu sudah sirna kini di depannya hanya seorang laki-laki yang begitu lembut hatinya.
"Aa kenapa nangis?" tanya Bia dengan menangkupkan kedua tangannya di pipi suaminya dan menghapus jejak air mata di pelupuk mata suaminya.
Harraz memandang wajah istrinya dengan sayu.Tak menjawab pertanyaan istrinya dia langsung memeluk tubuh istrinya lagi.
"Aku nggak sanggup kehilangan kamu, walaupun kita menikah dengan keadaan belum saling mencintai tapi,aku ingin hidup bahagia dengan mu hanya dengan kamu dek,aku takut saat kamu bersikap seperti kemarin.Aku salah,iya aku salah..aku ingin kamu kasih aku kesempatan kedua untuk membuktikan jika aku cinta dan sayang sama kamu begitu mudah bukan karena kamu gadis yang sudah mencuri hati ku dulu."ucap Harraz dengan masih memeluk Bia dengan erat.
"Bia sayang sama A'a,Bia takut kalau Aa akan ninggalin Bia.Maafin Bia yang childish,nggak bisa mahamin Aa.Maaf A'.." ucap Bia mengeratkan pelukannya.
Harraz membelai punggung istrinya berusaha saling menenangkan.Mereka pun merenggangkan pelukan mereka.
"Jangan ngambek lagi yaa..dua malam Aa nggak bisa tidur nyenyak karena nggak ada kamu yang,Aa kangen sama kamu."ucap Hararz dengan membuka niqab istrinya.
"Habisnya Aa nyebelin banget kenapa harus suka sama Bia yang itu sih," protes Bia mencubit perut rata suaminya.
"Aaaustttt..sakit yang,Aa lebih suka kamu yang sekarang,dulu terlalu lugu kalau yang sekarang sudah pinter godain suami,sudah suka nawarin diri untuk menyenangkan suami.Bodoh banget kalau Aa nolak istri secantik dan sexy kamu.."ucap Harraz dengan senyum genitnya.
Bia yang mendengar ucapan suaminya sontak membuat dirinya merona."Terus kenapa nggak pernah mau,apa A'a Arraz belum yakin sama Bia ?"
"Sini sayang.." Harraz mengarahkan istrinya untuk duduk di pangkuannya.
Bia pun menurut dan mengalungkan tangannya di leher Harraz." Bukan menolak, Aa cuma takut kamu akan kecewa.Aa ingin bilang soal yang kemarin,benar kan kamu kesel sama A'a,walaupun kamu tahu itu kamu sendiri.Aa berfikir jika gadis itu bukan kamu,Aa ingin kamu memberikan Aa kesempatan untuk berjuang bersama sampai kita sama-sama punya satu tujuan dan satu rasa.Aa ingin ngelakuin semuanya bukan sekedar kewajiban ataupun nafsu.Aa ingin keridhoan dari hati kamu.Laki-laki mungkin bisa melakukan tanpa Cinta kalau sekedar menuruti nafsu dan kebutuhan biologis.Tapi kamu,apa akan ikhlas jika suami kamu tak memiliki rasa namun,hanya menuntaskan hasrat nya saja,"
Ungkap Harraz dengan panjang lebar
"Aku ngerasa berjuang sendiri A',selama ini kamu PHP sama aku." ucap Bia menundukkan kepalanya
"Heiii..lihat Aa,kalau Aa nggak punya rasa sama kamu,mana mungkin Aa sentuh ini,hemm".ucap Harraz dengan membelai bibir Bia.
Memang Harraz sadar jika dia sudah memiliki perasaan sayang pada Bia, walaupun saat itu masih ragu.Namun,tiga hari tak bersama istrinya ada rasa yang kosong dalam hatinya.Akhirnya dia pun selalu melaksanakan sholat malam dan meyakinkan dirinya ternyata memang hatinya sudah tumbuh rasa cinta pada Bia.
Bukan sekedar Bia yang sebagaingadis di masa lalunya.
Bia yang mendapatkan sentuhan di bibirnya tentu terkejut,apalagi begitu matanya menatap kabut di mata Harraz mengisyaratkan agar dia mulai waspada.
"Aa kenapa lihat Bia gitu?"
"Kenapa,apa nggak boleh lihat istri sendiri ?" tanya Harraz dengan suara yang terdengar serak menahan rasa sesuatu yang sudah timbul."Jangankan lihat kamu,nyentuh kamu,apapun tentang kamu aku berhak sayang,"
__ADS_1
Bia melotot mendengar ucapan suaminya barusan.Terasa horror bagi Bia.
"Aa jangan macem-macem,ini masih siang !!"
Peringatan Bia membuat Harraz terkekeh apalagi melihat ekspresi wajah istrinya yang seperti ketakutan.
"Berarti kalau malam boleh,hemm?" goda Harraz dengan mengedipkan mata genitnya.
Bugh
"Ihhhh dasar mesum !!" umpat Bia dengan memukul lengan Harraz.
"Hahahaha.."
Tawa Harraz pun pecah karena tak tahan dengan melihat ekspresi wajah istrinya yang sungguh menggemaskan.
"Sayang,Aa lapar tau," ucap Harraz dengan menyandarkan kepalanya di bahu Bia dan tangannya masih melingkar di pinggang nya.
"Kaciannn suami ku ini,terus tadi rantangnya dari teteh - teteh itu mana?"
"Hahh..mana berani Aa ambil sayang, apalagi lihat istri Aa yang cemburuan ini,lagu pundung sama Aa.Lebih baik kelaparan dari pada nggak bisa meluk gini."
Bia pun bangkit dari pangkuan Harraz namun, pergerakan nya di tahan oleh Harraz.
"Kenapa,katanya laper,Bia ambil dulu di rumah."ucap Bia dengan melepaskan diri dari pelukan Harraz.
"Jangan Lama,nanti Aa kangennn," ucap Harraz manja.
"Helehhh..Aa ini kok sekarang jadi manja gini,nggak ada killer nya lagi.Tunggu sebentar yaa,"
Bia dengan cepat dengan sedikit berlari ke luar paviliun yang punya satu kamar dengan kamar mandi dan dapur kecil disana.
Paviliun yang letaknya agak jauh dari rumah utama namun masih satu kesatuan dengan bangunan sederhana di depannya.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka dan menampakkan sosok Bia yang menyeret koper kecilnya dan sebuah piring yang terlihat penuh dengan nasi dan lauk.
"Aa makan dulu yaa,"
Bia meletakkan piring di meja bulat dekat dengan dapur.Disana ada dua kursi sebagai tempat makan.Bia pun menaruh kopernya di kamar lalu dia kembali ke meja makan menuangkan air putih ke dalam gelas.
__ADS_1
"Aa,sini..!!'
Seruan Bia pun membuat Harraz tersenyum dan langsung menghampiri sang istri.
"Suapin dong yanggg..," manja Harraz pada Bia.
"Bismillahirrahmanirrahim.."
Melihat kelakuan tak biasa suaminya membuat Bia terkekeh.Dengan senang hati Bia melakukannya.Dengan telaten dia masukkan makanan ke mulut suaminya dia pun sama memasukkan makanan ke mulutnya.
"Alhamdulillah.."
Keduanya sama-sama tersenyum,marasa perut Harraz di manjakan dengan suapan dari tangan istrinya.
"Aa tidur sini kan?" tanya Bia setelah selesai membersihkan piring bekas makan nya.
"Iya,kenapa?"
Tanya Harraz dengan menerima segelas jus dari tangan Bia.
"Pakaian Aa dimana?"
"Owwhhh soal itu,nanti akan ada orang yang anterin." jawab Harraz,dengan menguap karena ngantuk.
"Aa ngantuk,tidur di dalam gih.."
"Sama kamu yah,Aa kangen bobo sama kamu.Dua malam nggak nyenyak tidur nya."
Bia tersenyum mendengar pengakuan suaminya.Dengan cepat Bia pun mengangguk mengiyakan permintaan Harraz.
Mereka akhirnya masuk kamar dan langsung merebahkan diri.Tidak lupa Harraz memeluk tubuh istrinya dengan erat dengan bertelan*ang dada.
Mereka pun akhirnya dengan cepat melalang buana ke negri mimpi.
Bersambung.
Yuk ayukk...
Ramaikan yuk cerita ini nanti akan ada GA di akhir cerita.Cukup kalian like setiap episode nya dan juga kasih vote ya,jangan lupa subscribe lapak author.
__ADS_1
Untuk 2 Orang pembaca yang beruntung akan dapatkan sedikit tanda terimakasih untuk kalian.