
Di ruang ICU di Rumah Sakit yang sama di mana Bia dirawat kini Hilya di rawat secara intensif disana.
Dia belum juga sadar lehernya di pasang Cervical Collar ( Penyangga leher) karena tulang leher Hilya mengalami penggeseran dan pita suara Hilya pun bermasalah.
Di luar ruangan ICU terdapat dua orang tua Hilya yang terlihat sedih karena putrinya mendapatkan musibah itu.
Rasanya seperti hati mereka di tikam dengan belati.Rasanya sakit karena itu buah dari apa yang di lakukan Hilya karena kejahatannya.
Harraz sudah bertemu dengan orang tua Hilya dan menceritakan tentang apa yang terjadi sebenarnya.Apa yang sudah di lakukan Hilya sampai di mengalami kejadian seperti itu.
Di pesantren Al-Furqon berita yang menimpa Hilya dan Bia tentu saja membuat terkejut dan membuat heboh seiisi pesantren.
"Aduh aku kok khawatir sama Ning Bia sih Ustadzah," ucap Wati dengan wajah yang terlihat cemas.
" Aku juga khawatir Wati,tapi..gimana lagi namanya musibah." ucap Jihan.
"Ehhh itu ustadz Umay pulang dari Rumah Sakit.Kita tanya saja sama Ustadz Umay." ucap Wati memberikan ide pada Jihan untuk bertanya pada Umay.
Akhirnya keduanya sama-sama melangkah mendekati Umay yang baru saja keluar dari mobil nya.
"Assalamualaikum ustadz," ucap dua wanita itu.
"Ahh.. Astaghfirullahal'adzim,kaget aku. Wa'alaikumsalam.. Ustadzah Jihan,Wati,kalian ngagetin saya saja.Tapi, kebetulan ada kalian.Tolongin saya buat siapin pakaian ganti Gus Arraz,Ning Bia sama Ustadzah Hilya." ucap Umay pada keduanya.
"Buat ustadzah Hilya juga Ustadz?" tanya Wati.
"Iya ,saya sholat ashar dulu nanti kalian siapin yaa..habis sholat saya balik lagi ke Rumah Sakit.Biar yang lainya pulang dan istirahat." ujar Umay.
"Baiklah.." jawab Jihan dan Wati.
__ADS_1
Umay akhirnya menuju ndalem dan masuk ke kamarnya yang ada di ndalem dan sementara Wati dan Jihan masuk ke dalam kamar Bia dan Harraz.
Saat masuk ke dalam kamar Harraz dan Bia kedua gadis itu segera menyiapkan apa yang di butuhkan untuk Bia dan Harraz selama di Rumah Sakit.Hanya tiga stel baju yang mereka masukkan dalam tas untuk masing-masing dan tak lupa memasukkan niqab untuk Bia.
Setelah selesai menyiapkan keperluan Bia dan Harraz mereka berdua pun akhirnya masuk ke kamar dimana Jihan dan Hilya jadi Patner kamar.
"Itu lemari Ustadzah Hilya." ucap Jihan yang sedang mengganti hijab longgar nya dengan bergo agar lebih mudah dan terlihat santai.
Wati pun akhirnya membuka pintu lemari dengan perlahan dan betapa kagetnya Wati melihat isi lemari Hilya.
"Astaghfirullahal'adzim.. Ustadzah !!" teriak Wati saat melihat isi dalam lemari Hilya.
"Wati,ada apa sih..kamu buat aku kaget saja," protes Jihan yang mendekat ke arah Wati yang masih terpaku di depan lemari baju Hilya.
Tak beda jauh dengan respon Wati yang kaget dengan apa yang dia lihat Jihan beristighfar kala melihat isi lemari Hilya.
"Ya Allah aku nggak nyangka kalau Ustadzah Hilya begitu terobsesi nya dengan Gus Arraz." ucap Wati melihat isi dalam lemari Hilya.
"Astaghfirullahal'adzim..ini kan foto yang diambil rame-rame dan dia potong-potong sampai terlihat mereka hanya foto berdua dan ini juga terlibat foto-foto ini diambil dengan sembunyi-sembunyi.Apalagi ini, Astaghfirullahal'adzim..ini posisinya Gus Arraz ada di depan jendela kamarnya dan sedang dalam keadaan seperti ini ,Ya Allah ustadzah Hilya.Aku nggak nyangka banget lho.. apalagi aku sama dia satu kamar hebatnya sampai aku nggak tahu." cerocos Jihan saat melihat beberapa foto yang diambil oleh Hilya.
Apalagi ada foto yang menunjukkan bahwa Harraz yang berdiri di balkon kamar nya dengan bertelan*ang dada dan dengan pakai celana pendek dan posisi balkon kamar tidur Harraz padahal terbilang tersembunyi ada di belakang yang langsung menghadap ke sungai buatan dan pemandangan alam di belakang pesantren.
Ada juga foto Bia yang di coret-coret dan di tulisi " Target ". Sungguh pemandangan itu membuat dua gadis itu syok dan tak percaya Sampai Jihan berinisiatif untuk memfoto apa yang dia lihat bersama Wati.
Setelah selesai menyiapkan keperluan yang diminta Umay kedua gadis itu kembali bertemu dengan Umay dan menyerahkan dua tas sedang pada Umay.Namun,sebelum Umay benar-benar pergi Jihan memberitahu kan apa yang mereka lihat di lemari Hilya.Tak beda jauh dengan respon dua gadis itu Umay pun tak menyangka dan sekaligus geram dengan aksi Hilya yang menurutnya nekad.
...****************...
Di Rumah Sakit Harraz dengan penuh kebahagiaan walaupun sebelumnya mengalami musibah yang menurutnya sangat tidak pernah dia sangka tapi di balik itu dia bersyukur karena istri dan calon anaknya apa -apa.
__ADS_1
Dia juga berpikir jika ular itu benar-benar membuat istrinya celaka pastinya dia tak akan pernah mengampuni Hilya sama sekali.
Setelah beberapa saat lalu Umay datang dan memberikan perlengkapan gantinya dan juga Bia sementara itu semua keluarga pun sudah kembali ke pesantren.
Saat Harraz sedang duduk dan menendangi wajah istrinya tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar rawat Bia.Dengan segera dia buka dan ternyata ada mak Leha dan Afif juga Nia.
"Assalamualaikum Yaz,gimana keadaan Bia?" tanya Mak Leha pada cucu menantunya itu.
"Wa'alaikumsalam uti, om, tante, Alhamdulillah sedang istirahat,silahkan." ucap Harraz menyalami Afif dan dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada pada mak Leha dan Nia.
"Syukurlah,kita lihat boleh?" tanya Nia
"Boleh tante, silahkan..pastinya dia akan senang kalau tahu kalian datang." ucap Harraz.
Walaupun Arraz tahu untuk beberapa waktu lalu hubungan istrinya dengan Afif kurang harmonis namun,paling tidak mereka tak punya niatan untuk memutuskan silaturahmi.
Saat Nia dan Mak Leha menengok ke Bia ternyata Bia mulai bangun dari tidurnya.Mak Leha bersyukur karena cucu nya tak apa-apa serta Nia pun bersyukur karena keponakannya tak apa-apa.Tak lupa Bia mengatakan jika dia saat ini sedang mengandung.Walaupun rasanya tak enakkarena tante dan om nya yang Qodarallah belum mendapatkan momongan.
"Itu seneng banget denger kamu hamil,mama kamu sudah tahu soal ini?" tanya Mak Leha pada cucunya.
"Belum uti, nanti saja kalau mereka sudah sampai sini.Kata Aa Ayyaz mereka lagi di jalan mau kesini."ujar Bia
"Tante Nia ,are you okey?" tanya Bia saat melihat tantenya yang sedikit pendiam.
"I'm okey sayang.." jawab Nia dengan senyuman tak selepas biasanya.
Terdengar ketukan pintu ruangan itu lagi dan dengan cepat Harraz membuka pintu kamar itu lagi.
Deg.
__ADS_1
Bersambung