
"Bia,sudah tiga hari kamu di sini dan suami kamu di rumah keluarga nya, apa kamu nggak kangen?" tanya nin Darmi pada cucu nya di sela-sela mereka sarapan.
Bia yang mendapatkan pertanyaan itu pun mengalihkan pandangannya ke arah Nin nya.
"Mungkin lagi sibuk nin.."jawab Bia sekenanya.
"Kamu kenapa nggak kesana nengokin suami kamu?"tanya nin Darmi
"Nin nggak suka kalau Bia di rumah ini,kalau...
"Ee..ee,bukan begitu..non cuma mau kasih tahu eneng,kalau marah sama suami lama-lama nggak boleh neng,kamu mau nggak dapet Ridho dari suami,dosa lho neng.."potong nin Darmi.
"Entahlah nin, kayaknya Bia ngerasa kalau Bia terlalu GR karena memang Bia cinta sama suami sendiri tapi, suaminya malah cinta sama si blegug Bia yang jahiliah."ucap Bia kesal.
"Kalau cinta,di perjuangkan bukan di diamkan."ucap aki Sapto yang sedari tadi sibuk dengan sarapannya.
"Nanti kalau hati Bia sudah adem Aki,nanti Bia keladang boleh yaa,"
"Tapi nggak boleh kayak dulu lagi,kelayapan sampe nggak liat ada jurang."ucap Aki Sapto yang tak mau lagi Bia kenapa-kenapa.
"Oke aku ku sayang !!" seru Bia.
...----------------...
Jam sebelas siang Bia ke ladang sambil membawa rantang untuk makan siang untuk aki Sapto.
"Akii !!" seru Bia saat melihat sang aki sibuk memberikan arahan.
Sapto yang mendengar suara familiar pun menoleh.Terlihat perempuan dengan celana kulot dan sweter dengan niqab nya berjalan menuju dirinya.
"Siapa itu Ki,serba ketutup begitu?"tanya salah satu karyawan ladangnya.
"Itu anak boss kalian,lagi liburan ke sini."ujar sang Aki.
"Lho bukannya anak bos itu neng Bia Ki,kok dia ketutup begitu."
"Itu biar nggak ada mata jelalatan kalian yang nakal."ucap aki Sapto menjawab dengan asal.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum.."ucap Bia saat ada di dekat para pekerja ladang.
"Wa'alaikumsalam.."sambut mereka semua.
"Kamu bawa apa neng?" tanya aki Sapto melihat rantang di tangan Bia.
"Ini makan siang buat aki, aku ijin keliling boleh kan Ki."ucap Bia
"Tapi jangan sembarangan yaa.."ucap Aki Sapto mengingatkan.
"Beresss !!"seru Bia mengacungkan jempol nya.
Bia pun berjalan menyusuri ladang yang subur penuh dengan tanaman kol,kentang ,dan juga ada wortel.
Walaupun sedikit terik namun,hawa di sana masih terasa sejuk.Namun,langkah nya terarah pada perkebunan teh yang ada di dekat kebun sayur miliknya.
"Den Harraz jangan nolak dong,ini Mimin buat khusus buat den Harraz,tolong di makan yah.Saya teh kasihan dari kemarin saya lihat Aden sibuk pantau perkebunan seharian."ucap gadis yang bernama Mimin.
"Terimakasih banyak teh Mimin, orang-orang disini sangat baik ini sudah rantang ke empat di hari ini yang saya terima."ucap Harraz dengan menerima rantang pemberian Mimin.
"Kalau gitu bawaan saya saja yang di makan,yang lain bisa kasih kesiapa gitu.."ucap Mimin dengan wajah malu-malu nya.
"Owwhhh jadinya ada yang sudah urusin makan minum kamu sekarang, baguslah kalau begitu.." ucap Bia yang tiba-tiba muncul dari persembunyiannya karena sudah tak tahan dengan dia dengar
Walaupun nyatanya disana suaminya tak berdua saja namun,ada banyak pekerja yang sedang sibuk memetik teh.
Setelah selesai bicara seperti itu Bia pun langsung melangkah kembali ke arah dimana sepedanya berada.
"Sayang ,Yang...tunggu !!" teriak Harraz panik karena tiba-tiba istrinya ada di tempat itu dan kali ini dia pasti tambah marah dengan kesalah pahaman.
Bua berjalan cepat sampul menggerutu mengumpat suaminya.
"Sial*n gue kira di mikirin apa yang gue lakuin,tapi bukannya mikir malah dia seneng-seneng di kebon ,dasar nyebelin.." umpatan -umpatan untuk suaminya pun masih lancar terucap dari bibir Bia.
"Sayang tunggu !!" seru Harraz yang berhasil meraih tangan istrinya.
"Lepas A' , mau kamu apa sih..?!" sentak Bia menatap suaminya dengan tajam.
__ADS_1
"Aa minta maaf,apa yang terjadi nggak kayak ada dalam otak kamu.Biar Aa jelasin,oke," ucap Harraz dengan masih ngos-ngosan karena mengejar Bia.
"Mau ngeles apa,kamu itu udah mempermainkan saya.Kamu kemarin usah bikin kesel saya,bukannya bujuk istri nya lagi kesel ini malah nyari teteh teteh di kebon,mau kamu apa sih,kalau kamu nggak mau sama saya kamu bisa..Cehhhtfhh..
Harraz membekap mulut Bia saat ingin melanjutkan perkataan yang pastinya buat Harraz ucapan istrinya semakin ngelantur.
"Jangan teruskan omongan ngelantur kamu dek,Aa nggak ngapa-ngapain.Aa lagi kontrol perkebunan saja,nggak lebih.Mereka ngasih makanan ke Aa juga cuma sekedar untuk ucapan terimakasih.Kamu jangan pernah berani ngomong kata sialan itu,aku nggak akan pernah bisa kehilangan kamu .."
"Karena aku gadis yang kamu tolong,karena aku gadis yang berikan kamu rasa penasaran atau apa ?' tanya Bia dengan menatap intens mata suaminya.
"Apa kamu akan percaya kalau aku mencintai kamu,bukan semata-mata karena kamu gadis yang sudah aku tolong dulu." ucap Harraz dengan membalas tatapan istrinya dengan dalam.
"Bohong..!!" seru Bia langsung mengalihkan pandangan.
Harraz pun merapatkan tubuhnya pada istrinya dan meraih wajahnya."Tatap mata aku ,coba kamu selami.Apa yang ada di hati kamu itu jawabannya."ucap Harraz lirih dengan mata teduhnya dia menatap mata istrinya.Mereka pun saling menyelami satu sama lain.Keduanya larut dalam tatapan bahasa jiwa mereka.
"Ini kalian lagi ngapain,kalian nggak malu jadi tontonan orang?!" seru aki Sapto pada cucu-
cucunya.
Keduanya sama-sama tersadar dan mengedarkan pandangan mereka.Benar saja ternyata banyak para pekerja melihat tingkah kedua orang yang sedang berantem di samping kebun sayur.
"Pulanglah,bicarakan dengan cara dewasa.Harraz bawa pulang Bia kerumah,bicarakan berdua.Bia bawa suami kamu ke paviliun lalu kalian bicarakan dengan baik-baik."ucap aki Sapto lagi
"Baik Ki,kami pamit Assalamualaikum.."ucap Harraz dengan menyalami aki Sapto begitu pun dengan Bia.
Para pekerja saat melihat kejadian itu pun saling berbisik.Ada apa cucu dari pemilik lahan Teh dekat-dekat dengan wanita asing yang bahkan wajahnya saja tak terlihat.
Harraz mengikuti Bia yang mengayuh sepeda sementara dirinya menaiki motor trail nya.
Tak lama kemudian mereka sampai di halaman rumah nin Darmi,Bia pun mengambil kunci paviliun yang sempat tadi pagi dia bersihkan.
Bia membuka pintu paviliun itu dan di ikuti oleh Harraz ikut masuk ke dalamnya.Tanpa basa basi lagi Harraz memeluk tubuh Istrinya dengan erat.
"Aa kangen sama kamu dek,jangan marah lagi sama A'a, please.." mohon Harraz
"Aku nggak sanggup melihat kesedihan di mata kamu.."Ucap Harraz yang mempererat pelukannya dan Bia hanya bisa memejamkan matanya menikmati pelukan suaminya yang benar-benar dia rindukan.
__ADS_1
Bersambung