
Ceklek
"Aa sudah siap?" tanya Bia saat masuk kedalam kamarnya.
Mendengar pertanyaan istrinya Harraz menatap istrinya yang masih ada di dekat pintu.
"Lagi rapih-rapih sayang,kenapa ?" tanya Harraz balik.
Bia pun melangkah mendekati suaminya dan tiba-tiba memeluknya dari belakang membuat Harraz terkejut.Namun,sedetik kemudian dia tersenyum melihat tingkah istrinya yang random itu. Jari-jari lentik Bia mengusap dada bidang Harraz.Hal itu membuat Harraz memejamkan matanya dan menggeram mengeratkan giginya menahan rasa yang terasa geli menjalar di seluruh tubuhnya.
"Sayang,jangan nakal dong," ucap Harraz mencoba melepaskan tangan istrinya dan memutar tubuhnya sehingga kini berhadapan dengan Bia.
"Kiss ," ucap Bia dengan suara manjanya.
Mendengar ucapan Bia apalagi dengan nada yang manja membuat Harraz tersenyum dan menatap gemaz pada Bia.
"Jangan sekarang dong, Aa mau kerja.Nanti yang ada Aa telat.Tadi malam kan sudah,memangnya masih kurang,hemm,"
ucap Harraz dengan menarik hidung mancung Bia dengan gemas.
"Sedikiiiiit saja A, please..,"mohon Bia dengan wajah memelasnya.
" Nggak bisa sayang,yang ada nanti Aa kebablasan terus nggak jadi kerja.Hari ini ada meeting penting soalnya." ujar Harraz memberikan alasan pada istrinya.
Mendengar jawaban yang tidak sejalan dengan otaknya membuat Bia mengerucutkan bibirnya.Nggak nyangka juga Harraz menolaknya untuk mengulang kejadian semalam.
Rasanya dia ingin sekali mengulang kejadian semalam yang sukses membuat dirinya terbang melayang.
"Okelah kalo kamu nggak mau,aku tahu kalau aku ini nggak punya pengalaman sama sekali.Pasti kamu bosan kan sama aku."ucap Bia dengan kesal.
Melihat tingkah laku istrinya yang super duper ajaib membuat Harraz harus lebih memahami semua kerandoman sang istri.
Harraz pun melihat kearah istrinya dan mengecup kening nya lantas membawanya duduk di pinggir tempat tidur.
"Sayang,heii..jangan ngambek gitu dong..Aa bukan berniat untuk menolak kamu.Tapi, pagi ini ada meeting pagi.Kalau Aa ikutin mau adek,pastinya Aa akan telat nanti."ujar Harraz dengan lembut membelai kepala sang istri yang masih terbalut hijab instan.
__ADS_1
" Gini saja,nanti kalau Aa pulang saja yah," tawar Harraz akhirnya.
Melihat wajah Bia yang sudah terlihat Bete membuat Harraz kalang kabut.
"Nggak usah kalau gitu,Bia tahu kalau Aa nggak suka."ucap Bia membuat Harraz menelan ludah nya dengan kasar.
"Nggak suka apa?" tanya Harraz
"My Lips." jawab Bia dan berdiri mengambil dasi yang ada di atas meja rias.
Mendengar ucapan istrinya tentu Harraz makin si buat stress apalagi melihat wajah istrinya yang terlihat kesal .
Walaupun demikian Bia masih mau melakukan tugas nya dengan baik salah satunya memasangkan dasi suaminya.Lalu mengajak Harraz keluar untuk sarapan.
Ternyata di ruang makan sudah ada Abah dan umi yang baru pulang.Mereka sarapan dengan tenang.Bia tetap menjaga makan minum suaminya.Walaupun hatinya sedang dongkol karena Harraz.
Setelah selesai sarapan Bia kembali ke kamarnya mengambil niqab nya dan mengambil dompet milik Harraz.Namun ,saat akan keluar kamar ternyata Harraz malah masuk ke kamar lagi lalu memeluk tubuh istrinya.
"Jangan marah dong,aku suka sama semua yang ada dalam diri adek,siapa bilang Apa nggak suka ?" tanya Harraz dengan masih menatap lekat wajah Bia.
Harraz tersenyum tipis saat Bia mengomel dan juga terlihat kesal jika dirinya sendiri sudah buang rasa malunya untuk lebih agresif dan membuat dirinya makin dekat dengan Harraz.Namun,Harraz tolak begitu saja.
"Sayang,kalau Aa ngelakuin hal kayak semalam yang ada nanti ujung-ujungnya kita bikin dedek,emang kamu sudah siap buat hamil,hemm..?"
Bia menatap wajah suaminya dengan memicingkan matanya.
"Aa,mau kalau aku hamil ?" tanya Bia balik.
"Ya maulah,siapa sih yang nggak mau istrinya hamil.Tapi, apa kamu nggak akan kesulitan untuk kuliah,gini deh...kalau kamu mau Aa lakuin yang kayak semalam ada syaratnya." ucap Harraz
"Harus ada syaratnya tapi, Aa kan suami adek.Kenapa harus ada syaratnya,kalau cowok lain di suruh kiss itu dengan senang hati menerima.Bukan kayak Aa yang malah ngasih syarat ,aneh.." ucap Bia kesal.
"Kamu tahu nggak kalau bibi* kamu rasanya manis banget,ini sudah jadi candu aku yang.." ungkap Harraz jujur.
" Gimana kalau Aa kasih tantangan buat kamu,nanti malam kamu harus bisa setoran hafalan sama Aa, gimana?"
__ADS_1
Harraz bukan mau menolak keinginan istrinya namun, dia pun harus mulai melakukan tugasnya sebagai suami yang membimbing istrinya dengan background keluarga Harraz kini Bia harus bisa jadi orang yang lebih baik lagi.
"Surah apa?" tanya Bia. "Aku mau yang pendek-pendek dulu jangan kepanjangan,Lagian aku juga bakal minta kiss aja nanti malam,nggak ada yang plus-plus kok." ucap Bia lagi dengan ekspresi kesal.
Harraz tersenyum mendengar perkataan istrinya.
" Oke,gimana kalau surah An-Naba kayak nya pasti kamu bisa kan,itu juga pernah di ajarkan di sekolah juga kan," ucap Harraz pada sang istri.
Bia pun seperti berpikir dan akhirnya mengangguk." Oke,aku setuju.An-Naba. Insyaallah Bia bisa."ucap Bia dengan mantap.
"Baiklah istriku yang cantik,Aa berangkat.Kamu hati-hati dirumah.Kalau mau keliling Pesantren kamu bisa minta dampingi Wati atau Ustadzah Jihan yah.."ucap Harraz mengelus lembut pipi sang istri.
"Ide bagus ,aku mau minta ajarin Ustadzah Jihan kalau gitu.Sudah sana berangkat kerja.Cari uang yang banyak buat istrimu shopping nanti."ujar Bia dengan mendorong tubuh Harraz keluar dari kamar.
" Astaghfirullahal'adzim,tega banget ngusir suami." ucap Harraz dengan menyodorkan tangannya ke arah Bia.
Bia pun mencium tangan suaminya dengan takzim.Saat Harraz ingin mencium kening Bia tiba-tiba Bia mendorong tubuh Harraz menjauh dari dirinya." Ciumnya nanti malem saja, membuat reward aku setelah setor hafalan." ujar Bia dengan senyuman mengejek dan langsung berbalik berlari ke arah dapur.
Melihat tingkah istrinya sontak membuat dirinya geleng kepala.Serandom itukah istrinya?
Harraz pun akhirnya memilih berangkat kekantor bersama Umay yang sudah menunggu nya dengan wajah kesalnya.
"Nasib-nasib jomblo gini amat yah.." sindir Umay saat mereka berdua sudah ada keluar dari wilayah pesantren.
"Makanya cepet nikah,biar nggak ngenes."ucap Harraz dengan santai.
"Yaelahhh sombongnya,siapa yang waktu itu masih ogah-ogahan nikah sama cewek bar-bar,cewek yang aneh." sindir Umay
"Hahahaa, iya-iya..habisnya dia itu manis,apalagi bibirnya..uhhh bikin kangen hehehe." ucap Harraz dengan begitu frontal.
Mendengar ucapan sepupunya tentunya membuat Umay melotot.Tak biasanya sepupunya bicara frontal begitu.
Bersambung.
Besok lagi yaaa...π
__ADS_1