Karena CINTA Itu Ada

Karena CINTA Itu Ada
#Sekilas Masa Lalu


__ADS_3

"Kanfaaaa,jagan lari ...!!" teriak Bia mendengar ledekan sang adik,dia berniat mengejar Kanfa yang sekarang sudah kabur duluan.


Melihat tingkah istrinya dan adik iparnya tentu Harraz hanya bisa mengelus dada.


"Abia Kiradzki !!" teriak sang mama menghentikan langkah Bia dengan seketika.Sudah lama rumah itu tak terdengar suara teriakan Kiran memanggil nama Bia.


Bia pun membalikkan tubuhnya menghadap sang mama yang sudah berkacak pinggang dan memberikan tatapan mata yang tajam pada putrinya.


Abi yang paham dengan tabiat anak dan istrinya tentu ingin menghentikan drama dua wanita kesayangan nya itu.Apalagi saat ini ada menantu mereka disini.Pastinya Harraz akan merasa aneh bahkan mungkin ilfil melihat tingkah mertua dan istrinya.


"Sayang,sudah jangan marah-marah dong," ucap Abi pada Istrinya berusaha menenangkan hati sang istri.


Kiran mendengar omongan Abi yang terkesan membela sang putri pun akhirnya Kiran menatap suaminya dengan wajah kesal.


"Kamu mau bela anak kamu itu, kamu sadar nggak sih..ada Harraz disini menantu kamu,tapi anakmu tetap saja kayak bocah.Bia kamu tahu salah kamu apa ?"


Bia mengangguk sambil melirik mamanya sekilas.


"Sorry mom,"ucap Bia dengan menundukkan wajahnya kembali.


" Kamu jangan kaget dengan drama keluarga mertua kamu,ini baru sedikit.Kamu harus jaga kesehatan jantung kamu." bisik Opa Beni menepuk bahu Harraz yang memang sedikit syok.


Harraz akhir nya duduk di sofa ruang keluarga sambil melihat drama istri dan mertua nya.


Penuturan Opa Beni membuat Harraz sedikit tercengang plus mulai memikirkan bagaimana memberikan pengertian pada istrinya supaya lebih bersikap baik.


"Lihat suami kamu,apa pantas kamu seperti ini.Gimana nanti kalau kamu membawa sifat urakan kamu ke dalam pesantren,Hahh..?!" bentak Kiran pada putrinya.


" Sayang sudah,sekarang sudah saatnya Harraz mendidik anak kita .Biar dia kasih tahu mana yang baik dan mana yang tidak supaya tidak lagi seperti ini,sudah yaa.." ucap Abi dengan penuh kelembutan mengusap punggung sang istri.


" Kamu kenapa dari dulu selalu membelanya,jadinya seperti ini kan.Sudahlah memang susah kalau ngomong sama kalian berdua." ucap Kiran pasrah akhirnya dia pun melangkah ke kamarnya yang memang sudah ada dilantai bawah.


Melihat istrinya sudah masuk kamar mereka Abi menatap putrinya." Ajak Harraz istirahat,kamu juga kurangi sifat keras kamu Bi,Kanfa mandi sekarang..!!" ucap Abi pada ke dua anaknya dengan nada tegas.


Kedua anaknya pun mengangguk mengiyakan perintah sang daddy.


"Istirahat lah ,nanti magrib kita sholat jama'ah di musholla belakang."ucap Oma Fitri pada Harraz dan Bia.

__ADS_1


" Iya Oma." ucap Harraz dan Bia hampir bersamaan.


Oma dan Opa pun masuk kekamar guna membersihkan diri dan mempersiapkan diri untuk sholat berjamaah.


"Ayo A' kita ke kamar."ajak Bia menyodorkan tangannya pada suaminya.


Harraz pun mengangguk dan menyambut tangan Bia lalu menggenggam tangan istrinya dengan erat.


Mereka naik ke lantai tiga dengan menggunakan lift.Yah, kamar Bia ada di lantai tiga.Bia membuka kamarnya yang sudah lama dia tinggalkan.


Ceklek.


Pintu kamar Bia pun terbuka lebar.Bia masuk ke dalam kamar itu dengan menggandeng tangan suaminya.


Harraz menilik keliling kamar istrinya yang terlihat mewah.Jauh dari kamar yang biasa dia tempati dengan Bia di ndalem pikir Harraz.


"Ini kamar kamu dek?"


Pertanyaan itu akhirnya terlontar dari mulut Harraz juga.


"Mewah banget,jauh dari tempat kita biasa tempati."jawab Harraz dengan senyum tipis.


Bia mendekati suaminya dan menggiring tubuh suaminya ke sofa yang ada di kamar itu." Maksud dari kata-kata Aa apa,A'a jangan sampai insecure, nggak baik." ucap Bia.


" Aa lihat adek jangan dari apa yang Aa lihat hari ini.Semua ini titipan,aku dengan Daddy juga mama pindah kesini karena wasiat uyut Mahardika.Sebelum disini aku juga kedua orangtua ku tinggal di apartement milik Daddy, apartement yang di beli dari jerih payahnya daddy dari hasil kerja keras Daddy dari jaman SMA." ungkap Bia dengan lembut.


" Jaman SMA?" tanya Harraz tak paham.


"Jadi,dulu mama sama daddy menikah karena kesalahan satu malam.Walaupun dari kejadian itu mama nggak hamil,Daddy langsung menikahi mama saat mereka masih kelas 12SMA.Daddy dan tiga sahabatnya mempunyai usaha show room mobil dan juga bengkel,Daddy juga mencoba keberuntungan nya dari bermain saham makanya bisa membeli sebuah apartement mewah hasil keringatnya sendiri tanpa meminta dari keluarganya."ungkap Bia mengenai perjuangan sang daddy.


"Kebidupan Daddy dan mama nggak jauh beda.Daddy diasingkan dari keluarga nya dan biang kerok nya adalah Oma Hanum,dia di asuh oleh ART keluarga Mahardika.Sementara mama ditinggal kedua orangtuanya meninggal saat SMA karena kecelakaan dan mama hidup bersama keluarga tante Nia ." terang Bia .


"Dulu mereka pernah menyiksa mama.Bukan dengan kekerasan fisik tapi mental.Mama bekerja part time untuk kebutuhan keluarga tantenya " ucap Bia lagi.


" Ya Allah ,ternyata bukan aku saja yang hidup jauh dari orang tua." bayi Harraz


"Kehidupan Rumah Tangga mama dan Daddy awalnya tanpa cinta.Dulu Daddy malah punya pacar, namun saat sama mama dia mulai berubah.Namun,saat hari kelulusan Daddy di jemput paksa oleh Orang suruhan Oma Hanum.Mereka mengabarkan Oma Hanum sakit di Belanda lalu, pengasuhnya Daddy pun di bawa pergi kesana sampai mama kalang kabut mencari Daddy.Para sahabatnya pun nggak tahu dimana Daddy berada.Sampai akhirnya mama tahu kalau sedang mengandung aku." ungkap Bia dengan wajah sedihnya.

__ADS_1


Harraz menggeram tangan istrinya dan mengecupnya berkali-kali.


" Mama ketemu sama Eyang Leha dan membawa mama ke Malang tempat eyang saat ini dan aku ketemu Daddy saat umurku 15th." ucap Bia dengan senyuman kecutnya.


"Pasti kamu seneng banget dong sayang." ucap Harraz.


"Kamu tahu,aku sedari kecil nggak tahu rupa Daddy ku bahkan namanya pun aku nggak tahu ,sampai umur ku 15th baru tahu nama dan rupa Daddy." ucap Bia dengan tertawa getir.


Harraz tahu kesakitan yang dialami istrinya.Keriduan akan seseorang pun pernah dia rasakan saat masih di Bandung.


...----------------...


Abi dan keluarganya selesai menunaikan ibadah shalat magrib dan spesialnya yang menjadi imam kali ini adalah menantu dari Abi Mahardika.Harraz tak lupa mengajak semua ART ikut berjamaah,Abi pun tak keberatan dengan permintaan sang menantu.


Selesai sholat Harraz membaca doa tak lupa Harraz pun menyelipkan doa untuk Oma Hanum. Walaupun kini dia tahu semua kekacauan hidup istri dan mertuanya berawal dari wanita sepuh itu Harraz sebisa mungkin untuk membimbing istrinya untuk mencoba berdamai.


"Dek,masih inget janji adek ke Aa?" tanya Harraz saat orang-orang mulai melipat sajadah mereka.


Bia beringsut maju ke depan suaminya dan seperti biasa Bia menyalami tangan suaminya dengan takzim Harraz pun memberikan kecupan mesra di pucuk kepala istrinya.


Semua yang di lakukan Harraz dan Bia tak luput dari pandangan Abi dan keluarganya.Mereka tersenyum senang melihat kemesraan anak mereka.


"Adek inget,setoran yang adek janjikan sama A'a." ucap Bia memastikan apa maksud suaminya.


"Kakak sama abang ngapain lagi?" tanya Kanfa yang masih melihat kakak dan suaminya masih duduk di musholla.


Mendengar pertanyaan adik iparnya membuat Harraz tersenyum." Kanfa sini,kita ngaji yuk.." ujar Harraz memanggil adik kecilnya.


" Kakak juga mau ngaji,emang bisa?" pertanyaan Kanfa membuat Harraz dan yang lain tersenyum sementara Bia sudah menatap wajah adiknya dengan garang.


Harraz melihat respon istrinya tentu tahu kalau istrinya kesal dengan ucapan sang adik.


" Sabar sayang,jangan kamu gitu mukanya.Nanti berkurang pahalanya ." ucap Harraz dengan sedikit berbisik.


Mendengar Harraz mau mengaji sontak membuat hati Abi mencelos, selama ini dia terlalu sibuk dengan urusan dunia.Soal agama dia paham namun banyak lalainya,sehari kecil dia didik dengan pendidikan agama oleh bi Darmi dan mang Sapto tentu dia tahu.Namun,melihat putrinya sekarang dia menyesal karena saat kecil bukan dia yang membimbing anak dan istrinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2